Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ke Osaka


__ADS_3

Stasiun Nagoya tampak lebih luas dari stasiun yang biasa Sanubari lewati. Mungkin sama membingungkannya dengan stasiun di bandara kala itu bagi Sanubari yang belum terbiasa. Tanpa Eiji, bisa jadi Sanubari telah tersesat sekarang.


Kios-kios berjajar di mana-mana. Papan penunjuk arah terpasang di sana-sini. Sayangnya, itu tidak cukup memberi petunjuk pada Sanubari untuk mengarahkannya ke jalan yang benar.


"Jalan ini memusingkan. Bagaimana Kak Eiji bisa menuju ke tempat yang diinginkan dengan mudahnya?" tanya Sanubari asal hanya untuk mberjaga-jaga supaya tidak terpisah.


"Ini tidak akan sulit bila kau sudah beradaptasi dengan baik."


Mereka terus berjalan cepat sambil mengobrol. Tidak jauh dari gerbang tiket, Sai dan Renji telah menunggu.


"Pagi, Sanu! Bagaimana kencanmu kemarin?" Renji menyeringai menggoda ketika Sai membagikan tiket pada Sanubari dan Eiji.


"Kencan apanya? Kami berempat nyaris saja tertembak."


"Maksudmu, kau memiliki tiga saingan yang mengungkapkan perasaan pada Anki secara bersamaan? Kudengar menembak itu memiliki makna menyatakan perasaan dalam konteks tertentu," kelakar Renji.


"Hentikan omong kosong kalian! Tiket bisa hangus bila kita tidak segera masuk," tegur Eiji yang melangkah melewati gerbang terlebih dahulu diikuti Sai.


"Ketua kita itu memang terlalu menjunjung tinggi kedisiplinan," bisik Renji yang kemudian turut melangkah.


Tak lebih dari lima menit, Nozomi menutup pintunya. Pantas saja Eiji berjalan sangat cepat tadi. Sanubari baru mengerti.

__ADS_1


Sai dan Renji duduk berdampingan. Mereka memutar kursi, membuat posisi saling berhadapan dengan Eiji dan Sanubari yang bersebelahan.


"Ha, kenapa pak tua itu menyuruh kita menemuinya langsung sih? Padahal, cukup kirim ancaman virtual dan tada—semua beres!" Renji menjentikkan jari bersamaan dengan saat mengucapkan 'tada'. Dia protes entah pada siapa.


"Kita tidak hanya akan bernegosiasi. Ada pekerjaan tambahan yang harus kita lakukan," balas Eiji yang menunduk menatap layar ponsel.


"Tambahan?" Renji mengangkat alis. Dia belum diberi tahu tentang tugas susulan ini.


"Tuan Shima menyuruhku memperbaiki sistem keamanan ruangan di Abe no Harukas," jawab Eiji tanpa menatap Renji sama sekali. Dia masih sibuk dengan ponselnya.


"Museum kah?" timpal Sai.


Eiji menggeleng. "Salah satu kamar hotel. Kita akan berbagi tugas. Aku dan Renji akan pergi ke Abe no Harukas. Sementara kau Sai, pergi temui tuan Yang di Umeda Sky Building bersama Sanubari!"


Sanubari mengamati Sai, Renji, dan Eiji. Sai berpenampilan rapi sama seperti dirinya. Sedangkan Eiji dan Renji hanya mengenakan kaos. Keduanya tampak lebih santai. Kini, Sanubari paham mengapa Eiji menyuruhnya berpenampilan formal.


"Tidak perlu. Kalian berdua bisa jalan-jalan setelahnya," tegas Eiji.


"Enak sekali. Aku juga mau kalau jalan-jalan," protes Renji merasa iri.


Hampir di waktu yang bersamaan, Sanubari bersorak riang, "Hore!"

__ADS_1


Dia mengangkat kedua tangan. Ini cukup adil menurutnya. Goldenweek memang seharusnya dimanfaatkan untuk berlibur.


"Sanubari tidak akan membantu kalaupun datang. Lagi pula, dia sudah cukup bekerja keras di hari sebelumnya. Tak masalah jika dia hari ini sedikit bersantai," tambah Eiji.


Sebenarnya, Sanubari sedikit kesal dianggap tidak berguna. Namun, apa boleh buat. Faktanya memang seperti itu. Dia tidak tahu apa-apa tentang sistem keamanan super canggih.


Tahu begitu, lebih baik dia mengabaikan panggilan Eiji, lalu kembali tidur. Akan tetapi, ada baiknya juga dia tetap ikut. Setidaknya, dia bisa jalan-jalan gratis.


"Ini pengalaman bagus untukmu, Sanu. Pelajari baik-baik apa yang akan Sai lakukan!" tutur Eiji.


"Oke."


Sanubari menoleh pada Eiji. Dia memandang ke bawah, pada layar yang menampilkan video di ruangan staff. Terlihat dua pria. Salah satunya sedang berganti baju. Sanubari mendadak merasa malu. Dia sangat mengenal siapa yang menanggalkan baju dalam video.


"Kenapa adegan tadi direkam? Apa yang akan Kakak lakukan dengan video itu?" Sanubari tergagap panik, "Apa Kakak akan menggunakannya untuk mengancamku, atau jangan-jangan Kakak akan menjualnya? Aku mohon, jangan lakukan itu! Aku berjanji tidak akan macam-macam lagi."


Sanubari menyatukan kedua telapak tangan, membentuk gestur seperti orang yang meminta maaf. Kehormatannya sedang dipertaruhkan. Apa jadinya bila video ganti baju itu sampai dilihat Zunta, Embara, atau bahkan Anki.


Itu memalukan. Sangat memalukan. Dia bukan anak kecil lagi. Sanubari sangat memahami apa itu yang disebut rasa malu. Dia tidak ingin mendadak viral sebagai bintang 'film dewasa'.


"Kau ini bicara apa, Sanu?" Renji mengernyit heran.

__ADS_1


"Sudah kubilang aku akan menghapusnya. Jangan berpikir yang aneh-aneh!" tandas Eiji lugas.


Dia masih bisa berpura-pura tersenyum, tetapi sama sekali tidak mood untuk bercanda. Ada keresahan yang enggan meninggalkannya. Mengingat dirinya harus menjauh dari Nagoya untuk sementara waktu.


__ADS_2