
Dua bab sebelum ini sudah diganti dengan isi bab yang baru.
204 : Pelepasan Anki
205 : Semua Bergerak
Silakan kembali membuka dua bab tambahan yang tanpa sengaja terunggah kemarin sebelum membaca bab ini!
Saya tidak tahu ada eror pada sistem yang menyebabkan penerbitan ganda. Tanpa pemberitahuan dari kalian, mungkin saya tidak akan sadar ada kesalahan karena saya tidak memeriksa ulang laman penulis setelah menyerahkan bab.
Terima kasih atas laporannya, sehingga kesalahan bisa cepat ditangani. Terakhir, mohon maaf atas ketidak nyamanannya.
Selamat membaca!
•
Sanubari melihat pistol di tangannya. Dia melempar pistol itu. Pistol pun berputar dan tepat terjepit di tengah pintu. Elevator terbuka kembali.
Sanubari mempercepat laju dan melompat seiring berdentangnya pistol. Pria bermasker menjulurkan kaki, menekan tombol supaya segera tertutup kembali.
Mereka yang mengejar tidak sempat mencegah pintu yang tertutup. Mereka tertinggal. Salah satu dari mereka langsung menghubungi pusat keamanan gedung.
"Matikan elevator sampai ke lantai dasar! Jangan buka pintunya sampai regu pengepung tiba!"
Setelah itu, dia menyampaikan pesan ke pasukan lainnya. Tanpa berhenti, mereka bergegas menuju lantai berikutnya.
Di sisi lain, Jong Hyun dan pengawalnya tiba di depan kamar khusus Anki. Pria berambut kemerahan itu berjalan melewati seorang bawahan yang pingsan. Satu dari mereka membangunkan pria yang pingsan itu, sementara satu lainnya mengikuti Jong Hyun.
"Cerdas juga mereka." Jong Hyun tersenyum kecut memandang potongan rantai.
Jebakan kurungan bahkan sama sekali tidak aktif. Yang artinya, mereka tidak menyentuh bagian borgol sedikit pun.
"Panggil ketua kalian! Suruh dia mengaktifkan pelacak untuk menemukan gadis itu bila kehilangan jejaknya!" titahnya kemudian
Sementara tubuh Sanubari meluncur, mendorong tubuh Anki hingga menggencet pria bermasker yang berada di belakangnya. Mata Belo Anki kian melebar. Andai tidak ada tangan pria bermasker yang menutup mulutnya, mungkin bibir Sanubari sudah mendarat ke bibirnya sekarang.
__ADS_1
"Adududuh!" Spontan, Sanubari berjongkok sambil menutup mulut dengan tangan. Tabrakan itu membuat giginya ngilu.
Pipinya merona. Daripada tersipu, lebih ke perasaan tidak enak hati yang dirasakan Sanubari sekarang. Dia merasa bersalah karena membuat Anki merasakan sakit seperti yang dialaminya.
Saat berbenturan tadi, kening mereka sempat bersentuhan. Anki bisa merasakan panas yang dihantarkan tubuh Sanubari. Itu berbeda dengan hangat tangan yang membekapnya sekarang, juga telapak tangan Eiji yang tertaut padanya.
"Lepaskan adikku, Pria Aneh!" bentak Eiji berusaha melepaskan tangan pria itu dari Anki.
"Sudah kubilang dari tadi, aku ini bukan musuh. Akan kubantu kalian keluar dari sini," ucap pria itu yang terpaksa melepas bekapannya. Dia mengangkat tangan untuk menghalangi tangan Eiji yang mendadak hendak membuka maskernya.
Dia tidak bisa membiarkan itu. Jika itu terjadi, kesalahpahaman mungkin akan timbul.
"Memangnya kau ini siapa? Untuk apa aku harus mempercayai orang asing sepertimu?" Eiji masih berkeras hati.
"Aku hanya orang baik yang kebetulan lewat. Terkadang, orang asing yang baru kau temui pun bisa diandalkan. Percayalah! Tidak semua orang asing itu buruk, Kawan!" Dia masih saja beradu tangan dengan Eiji.
"Kalau kau memang orang baik-baik, maka tunjukkan wajahmu!" Eiji masih saja memberikan tatapan penuh selidiknya.
Pria berambut kemerahan dengan kacamata ini sangat mencurigakan di mata Eiji. Bagaimana bisa seorang yang baru saja muncul dari elevator tahu bahwa dia dan adiknya sedang berada dalam masalah—itu sangat di luar nalar.
"Wajahku bukan sesuatu yang bisa kau terima. Ada baiknya kau tidak mengetahuinya." Pria bermasker itu masih berusaha mangkir dari permintaan Eiji.
Anki sudah lebih tenang sejak bertemu kakaknya. Meski mereka belum sepenuhnya aman, setidaknya kehadiran Eiji membuatnya merasa lebih aman. Entah mengapa, dia pun mpercayai begitu saja bisikan orang asing ini padanya.
Berada di tengah-tengah dua pria yang saling bersilat lidah, Anki tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya sendiri masih dalam masa pemulihan mental pasca insiden penyekapan ini.
Sedangkan Eiji yang belum mengurangi kecurigaannya satu persen pun melontarkan tuduhannya lagi. "Alasan macam apa itu? Apa kau orang-orang mereka yang menyamar untuk mengelabuiku?"
Tempat ini tidak cukup luas untuk berkelahi. Eiji tidak ingin tanpa sengaja melukai Anki, atau terpojok ketika pintu mendadak terbuka. Berada dalam elevator sungguh tidak menguntungkan menurut Eiji. Dia hanya bisa diam-diam berharap orang ini benar-benar bisa dipercaya seperti jawabannya.
"Aku yakin kau cukup cerdas untuk mengetahui orang seperti apa saja yang wajahnya tak ingin diumbar ke publik."
Selagi Eiji dan pria itu berdebat, Anki merasakan sensasi hangat menetes ke punggung kakinya. Gadis itu menunduk, menatap Sanubari yang juga menunduk.
Sanubari terbelalak ketika bercak-bercak merah menodai kulit putih Anki. Bercak itu mengalir, membasahi lantai. Tidak lain, tidak bukan, aliran itu berasal dari hidung Sanubari.
__ADS_1
"Maafkan aku! Sanubari terbata-bata.
Dia mengelap tetesan darah di kaki Anki dengan lengan panjang kemejanya. Dia juga menggunakan lengan satunya lagi untuk menutupi lubang hidung. Untung kemejanya abu-abu. Jadi, warna merah yang menempel pada kain tidak terlalu kentara.
"Sanu, kau tidak apa-apa?" tanya Anki cemas.
Dia melepaskan pegangan dari kakaknya. Anki ingin membantu Sanubari yang sepertinya mimisan. Meskipun tertutup kepala Sanubari yang menunduk, Anki bisa melihat sedikit ceceran darah yang menetes.
"Aku baik-baik saja," jawab Sanubari masih dengan menutup hidung, membuat suaranya terdengar bindeng.
Dia berdiri. Namun, Sanubari membelakangi Anki. Dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang mungkin tampak menjijikkan sekarang.
Tiba-tiba, elevator berhenti, tetapi pintu tidak terbuka. Mereka bisa merasakan kenihilan pergerakan pada kotak yang mereka tumpangi.
"Ada apa ini? Kenapa pintunya tidak terbuka?" tanya Eiji yang langsung mendongak. Angka indikator masih menunjukkan bahwa mereka berada di lantai empat.
"Kau, menjauh dari belakang!" Pria bermasker itu menyenggol kaki Eiji dengan kakinya.
"Apa?" Menoleh pada pria itu, Eiji mengerutkan persimpangan alis.
"Merapatlah pada bocah bermata hijau ini!" Pria bermasker itu menggerakkan kepala, memberi kode.
Akan tetapi, titahnya berbalas tatapan tajam dari Eiji.
Sanubari bingung dengan perkataan pria bermasker itu. Kendati demikian, dia beranggapan orang ini tidak berbahaya. Andaikan pria bermasker ini memang jahat, mungkin dirinya dan Eiji sudah terluka. Begitulah jalan pikiran Sanubari.
Dia tidak ingin sedikit-sedikit berburuk sangka. Sedangkan Anki saat ini lebih mencemaskan keadaan Sanubari.
Tanpa muluk-muluk lagi, pria bermasker itu pun mendorong Anki maju, lalu mendorong Eiji. Anki menabrak Sanubari. Kulit mereka terhalang kain, tetapi suhu panas tubuh Sanubari dapat dirasakan Anki. Pertanyaan demi pertanyaan pun bertunas dalam hati gadis itu. Sementara Eiji menabrak dinding.
selanjutnya, pria bermasker itu meninju tombol darurat. Bagian belakang elevator seketika terangkat, menampilkan jurang kegelapan yang menakutkan.
Di kala Eiji tercengang dengan pemandangan di hadapannya, pria bermasker merogoh saku dalam jasnya. Dia melingkarkan pelukan ke pinggang Ani. Setelah satu bunyi klik, dia melempar gadis itu keluar kotak. Sementara tangan kirinya dengan sigap menggebrak dinding elevator di sebelahnya.
"Hah?" Anki terbelalak tanpa sempat berkata-kata. Tubuhnya terjun bebas dari ketinggian.
__ADS_1
"Anki!" teriak Eiji yang tak sempat meraih tangan adiknya.