
Matilda melihat beberapa orang berjas hitam berdiri di halaman depan. Ia urung keluar melalui pintu utama. Berbalik badan, Matilda mengendap--endap menyusuri halaman belakang. Sial tak terelakkan, seorang pria yang berkeliling bertemu pandang dengannya.
"Fermo sul posto!"
(Berhenti di tempat!)
Pria itu mengacungkan pistol, perlahan mendekati Matilda yang terperanjat. Ia memandang wanita yang baru saja keluar rumah dengan seksama. Tidak salah lagi. Wanita ini pasti yang dimaksud Elfata.
"Sial! Sepertinya mereka benar-benar mencurigaiku." Matilda mengumpat dalam hati.
Karena ini jugalah Matilda pergi dari vila danau Garda, firasatnya mengatakan bahwa orang-orang Aeneas mulai mengendus trik kotor yang ia gunakan untuk membunuh Sanum. Berdiam diri di sana sama saja dengan menyerahkan diri.
Maka dari itu, ia putuskan untuk menginap di rumah Asia tanpa sepengetahuan siapa pun. Bukan tanpa alasan, tetapi karena ia berniat membunuh semua anak-anak Aeneas sebelum bersembunyi. Sayang, malam itu si bungsu rewel sampai dini hari. Matilda terpaksa menunggu sampai semua orang terlelap supaya tidak ketahuan. Namun, siapa sangka keputusannya menunggu malah membuat rencananya gagal.
"Sepertinya tidak mungkin lagi ada ruang di hati Aeneas untukku, ya?" mata Matilda sayu, ia menangis lalu secara tiba-tiba terbahak, "mungkin aku harus mencari cara lain untuk menjadikan diriku satu-satunya bagimu."
"Dasar wanita gila!" gumam pria yang mengacungkan pistol.
Tapa diduga-duga, Matilda lari. Pria itu tak berani melepaskan tembakan. Di rumah Asia ada bayi dan balita, ia takut akan membuat anak-anak itu menangis jika membuat keributan. Yang pastinya akan merepotkan sang bos dalam menjalankan evakuasi.
"Dia kabur melalui halaman belakang," ucap pria itu melalui alat komunikasi yang tersemat di telinga.
Semua orang langsung mengejar sesuai arahan rekan mereka. Para pria itu sempat kehilangan Matilda. Mereka berpencar dua-dua. Tak satupunn tempat berpotensi sebagai persembunyian mereka lewatkan.
"Seharusnya aku tidak menunda-nunda," rutuk Matilda menyesali kelengahannya, "padahal sedikit lagi kau menjadi milikku, tetapi kenapa? Kenapa jadi begini?"
Rahasia yang selama tujuh tahun tertutup rapat, pada akhirnya terbongkar juga. Sepanjang pelarian, Matilda terus memikirkan dan mengingat-ingat kesalahan kecil yang membuat kejahatannya terungkap. Ia selalu memakai masker dan rambut palsu ketika mencari orang untuk melaksanakan rencananya. Semua dia perhitungkan secara matang. Bahkan ia rela membuat rencana jangka panjang semata-mata supaya tidak mudah terlacak.
Matilda mulai kelelahan. Ia sudah berlari dari langit masih gelap hingga terang. Sejenak ia beristirahat di depan sebuah toko yang masih tutup, menoleh ke seberang jalan, sepasang netranya menangkap sebuah nama yang patut disalahkan atas peristiwa yang menimpanya saat ini.
"Sanubari," Matilda menatap papan nama sebuah kafe di di depannya, "ini semua gara-gara kau dan ibumu. Andaikan saja kalian tidak ke Italia ... andaikan kalian tidak pernah ada, aku pasti sudah hidup bahagia dengan Aeneas."
__ADS_1
Matilda mengepalkan telapak tangan. Obsesinya terhadap Aeneas terlalu berlebihan, sampai-sampai hatinya dibutakan. Kebutaan itu telah meracuni pikirannya.
Jalanan masih sangat lengang. Sayup-sayup terdengar derap langkah. Matilda menoleh. "Sial! Itu pasti anak buah Aeneas."
Matilda berlari kembali. Matilda tersenyum ketika mendekati tikungan. Ia bisa menghilangkan jejak jika berhasil mempercepat laju memasuki gang. Akan tetapi, rencananya tak semulus bayangan. Ia menabrak seseorang begitu berbelok.
"Ehi, stai attento quando giri!"
(Hei, hati-hati saat berbelok!)
Pria itu memeluk Matilda yang hampir jatuh akibat bertabrakan. Matilda melebarkan mata begitu melihat siapa yang ditabraknya. Jantungnya berdegup semakin kencang.
"Sa-sa-sanu?" ucapnya tergagap sambil menolah-noleh panik.
"Zia Ilda? Kenapa kelihatannya buru-buru sekali?"
"SANu, tolong aku, Sanu! Orang-orang ayahmu mengejarku. Aku takut." Matilda memeluk Sanubari.
"Kau tahu? Semenjak kepergianmu Aeneas sering menyiksa Sanum. Sampai akhirnya malam itu dia membunuhnya. Aeneas takut aku akan bersaksi pada kepolisian dan memberatkannya. Karena itu ia ingin melenyapkanku dan semua pekerja di vila." Matilda mengatakannya sambil terisak.
Sanubari geram mendengarnya. Sanubari tidak pernah berpikir ayahnya bisa bertindak sekejam itu. Sejauh ingatannya, Aeneas adalah sosok ayah yang hangat bak malaikat. Meskipun mereka jarang bertemu, tetapi Aeneas selalu memanjakannya saat mereka bersama.
Kini gambaran Aeneas sebagai sosok ayah sempurna telah hancur di benak Sanubari. Hatinya terlanjur kecewa semenjak melihat peristiwa pembunuhan malam itu. Keterangan dari Matilda semakin mengobarkan kebencian dalam dada Sanubari.
"Tuan Muda?" kata salah seorang pria yang baru saja sampai di tikungan.
Matilda terperanjat. Lekas ia berpindah ke belakang Sanubari. Berlagak menjadi wanita sok lemah, Matilda memohon, "Selamatkan aku, Sanu!"
"Jauhi wanita itu, Tuan Muda!" perintah salah seorang anak buah Aeneas.
"Wah, rupanya kalian sudah pandai berbahasa Indonesia. Selamat! Sepertinya aku harus menepati janjiku untuk mentraktir kalian singkong keju," Sanubari bertepuk tangan, tetapi ekspresinya mendadak berubah dalam sekejap, "ah, tapi aku tak tahu apakah aku harus menepati janji pada para penjahat. Seharusnya kalianlah yang menjauh dari sini, dasar Penjahat!"
__ADS_1
"Wanita itulah yang jahat."
"Jangan memutar balikkan fakta! Kalian pembunuh, tetapi seenaknya melimpahkan kesalahan pada orang lain," bentak Sanubari.
Tuduhan Sanubari itu tidak salah. Sebagai Mafioso, mereka memang pernah membunuh orang—khususnya oknum-oknum yang mengancam ketenangan Aeneas dan keluarganya. Mereka merasa tidak menjadi penjahat karena hanya melakukan kewajiban. Selain itu, Aeneas juga tidak sembarangan memberikan perintah penghilangan nyawa.
Aeneas biasanya akan memberikan kesempatan bagi mereka yang masih memiliki etika, tetapi tidak bagi orang-orang tidak bermoral yang berkali-kali melakukan pengkhianatan. Berbeda dengan mereka, pembunuhan tetaplah pembunuhan bagi Sanubari. Tidak ada yang namanya pembunuhan baik, apa pun alasannya.
"Tuan Muda, sebaiknya Anda ikut kami pulang dan biarkan kami menangkap wanita itu." Salah satu dari pria itu masih berusaha membujuk Sanubari.
Semua anak buah Aeneas sudah dikirimi foto terbaru Sanubari. Mereka diwajibkan menghafal wajah Sanubari dengan baik. Dimana pun dan kapan pun bertemu Sanubari, mereka harus melindungi remaja itu.
"Aku tidak akan membiarkan kalian membawa Zia Ilda."
"Jangan paksa kami menggunakan kekerasan!"
"Silakan saja! Aku akan dengan senang hati meladeni kalian!" tantang Sanubari sama sekali tidak gentar.
Sanubari masih ingat bagaimana sifat para bawahan Aeneas semasa ia masih kanak-kanak. Mereka tak pernah melukainya, meskipun membawa senjata. Mereka bahkan rela mengalah kepadanya yang hanya bocah berumur sepuluh tahun. Sanubari berharap itu tidak akan berubah.
Di belakang Sanubari, Matilda menyeringai. Ia senang orang-orang itu tidak berani menyentuhnya karena ada Sanubari. Diam-diam ia mengambil pisau Dari balik bajunya dan menusuk Sanubari.
"Dasar Bodoh!" kekeh Matilda yang kemudian berlari.
Samubari tidak bisa berkata-kata. Perutnya mendadak nyeri begitu saja. Jika itu pisau biasa, mungkin Sanubari akan tetap bisa bergerak. Namun, sepertinya ada sesuatu dengan pisau yang menusuknya dari samping. Sanubari merasa pusing dan terduduk lemas.
"Tuan Muda!" teriak serempak para anak buah Aeneas.
Dor. Dor.
Dua timah panas terlepas dari selongsongnya, menembus kepala Matilda. Wanita itu terkapar seketika. Mereka memang hanya diberi perintah unguk menangkap Matilda, tetapi wanita itu telah melukai sang tuan muda. Tindakan eksekusi Tampa perintah terpaksa dilakukan.
__ADS_1