Santri Famiglia

Santri Famiglia
Berlayar


__ADS_3

Sepuluh pria menghampiri Sai. Satu di antara mereka memanggul kera. Tangan kera itu berpegangan pada rambut si pria sambbil menunjuk-nunjuk mobil Sai dengan satu tangan.


Satu orang mengetuk kaca mobil Sai. Perlahan, kaca diturunkan. Sai menyambut mereka dengan senyuman.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kena pa kau malam-malam ada di sini?"


"Hanya ingin wisata untuk menyegarkan pikiran."


"Tidak masuk akal."


"Apa yang tidak masuk akal? Mau jalan-jalan siang atau malam itu terserah siapa pun, kan?" balas Sai.


"Periksa dia!" perintah pria yang membawa kera.


"Turun!" perintah pria yang berdiri di sebelah pintu.


Mereka menggeledah Sai dan mobil. Navigasi telah Sai matikan. Mereka tidak menemukan apa pun kecuali ponsel, peralatan yang sewajarnya ada di mobil, dan kubus-kubus kecil yang tampak seperti mainan serta sebuah rubik.


"Tidak ada yang mencurigakan di sini," kata seorang yang sudah memeriksa sampai ke bagian belakang mobil.


Pria yang membawa kera melangkah mendekati Sai. Dia bertanya, apa yang kau cari di sini?"


"Kesegaran." Sai mempertahankan konsistensi jawabannya sambil tersenyum.


"Lalu, kenapa rekanmu mengendap-endap seperti maling?"


Pertanyaan itu membuat Sai bisa menebak apa yang terjadi. Orang-orang ini telah menangkap Sanubari. Mereka mungkin ada kaitannya dengan Kyai Samad. Begitu pikir Sai.


"Kenapa diam?"


"Itu hanya kebiasaannya ketika berjalan dalam kegelapan. Dia sedang mencari orang untuk bertanya jalan. Kami tersesat. Kami seharusnya tiba di hotel yang kami pesan. Tapi, kami malah tiba di tempat sepi ini saat mengikuti peta."


Mereka terdiam mendengarkan alibi Sai. Kalimatnya tersusun rapi. Tiada getar ketakutan maupun keraguan yang mereka rasa.


"Kita tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Tangkap dan bawa dia!" titah pria yang membawa kera.


Mereka mengeluarkan senjata. Dengan ancaman, mereka menyuruh Sai melangkah mengikuti mereka.

__ADS_1


Sai membiarkan dirinya ditangkap. Sinyal dari Sanubari menghilang beberapa saat yang lalu. Hanya itu cara yang bisa dilakukan Sai untuk mengetahui lokasi Sanubari.


Segera setelah Sanubari pergi, Sai mengirimkan salinan hasil penyelidikan pada Abrizar. File-file itu diatur supaya bisa langsung terhapus begitu terkirim ke alamat tujuan. Kemudian, dia menyadap ponsel Sanubari untuk menghapus pesan dari Abrizar.


Saat mengetahui Sanubari menghilang dari radar, Sai buru-buru menyelipkan silet ke sol sepatu dan memasukkan kubus yang dijadikannya balok pipih ke bawah lidah sepatu. Benda itu terasa mengganjal, tetapi Sai bersikap biasa.


Tidak jauh dari tangga yang menghubungkan kapal dengan dermaga, berdiri Samad bersama Fahri dan seorang pria lain serta seekor kera. Primata itu meloncat ke sana kemari. Saat melihat segerombol orang berjalan, kera itu berlari menguik pada tuannya.


"Satu orang asing lagi akan datang, Tuan Samad. Perhatikan baik-baik!" katanya.


"Kera itu yang mengatakannya?" tanya Samad.


"Ya."


"Hebat! Bagaimana Anda bisa berbicara dengan hewan?"


"Tentu dengan latihan membiasakan diri."


Sesuai perkataan si master kera, Sai muncul dari gang dikawal beberapa orang. Gerombolan itu berjalan lurus, melewati Samad atas perintah pria pemanggul kera, lalu berbelok. Mereka membawa Sai berjalan melewati tangga kapal yang berlabuh. Hanya si pembawa kera yang berhenti.


"Selamat malam, Tuan Samad!" sapanya.


Sementara Kyai Samad menjawab, "Malam."


"Anda melihat pria yang baru lewat tadi, kan?"


Si pembawa kera menatap ke arah Sai yang telah sampai ke geladak. Orang-orang itu terus menyeret Sai menuju kabin.


"Sandra kalian yang seperti orang Jepang itu?" Kyai Samad melihat ke arah yang Sama.


"Apa Anda mengenalnya?"


"Tidak. Kalian hari ini aneh sekali? Berapa orang yang akan kalian sodorkan padaku untuk dikenali? Tadi pemuda pingsan. Sekarang pria Jepang. Setelah ini, siapa lagi?"


Kyai Samad merasa peristiwa hari ini tidak biasa. Pengamananya pun agak berlebihan. Saat baru tiba tadi, anak buah mereka membawanya ke ruangan khusus.


Tiba-tiba, alarm berbunyi begitu mereka melewati gawang pintu. Sesuatu berdenting. Suasana mendadak menegang. Seketika itu juga, Samad dan Fahri digeledah.


"Maaf, Tuan! Ini terpaksa kami lakukan. Belakangan, kami mendapatkan kabar bahwa kepolisian membeli aifka generasi terbaru. Meski transaksi kita hari ini juga dilindungi oknum polisi, tapi kami tidak ingin ambil risiko. Harap Anda bisa mengerti!" kata master kera.

__ADS_1


Kera kecil berkeliaran di sekitar mereka. Matanya menyisir lantai. Ketika melihat lebahh terkapar, ia mendekatinya. Dicoleknya lebah itu. Makhluk kecil itu tidak bergerak.


Ia mencoba membantingnya. Itu bisa menimbulkan dentingan.


"Lebah yang aneh," pikirnya.


Ketika semua orang melihatnya, kera itu menguik-nguik girang. Ia telah memperoleh pencerahan. Dentingan yang mereka dengar tadi pastilah berasal dari lebah ini. Ia menunjukkan bangkai lebah di tangan pada si tuan.


"Mungkin ini penyebab alarm berbunyi tadi. Serangga ini sangat keras."


Master kera memencet-mencet lebah itu. Transaksi dilakukan dengan cepat tanpa basa-basi. Setelahnya, mereka keluar. Tidak lama setelah Kyai Samad mengamati anak buah kapal yang menggotong peti-peti, dua pria datang membawa pemuda berdarah.


Kepala pemuda itu mengucurkan darah, tetapi masih hidup. Dia dihadapkan pada Kyai Samad. Wajahnya tidak bisa dikenali Kyai Samad. Setelahnya, pemuda itu dibawa ke kapal.


Sampai peti-peti selesai diturunkan, Kyai Samad tetap berdiri di sana. Master kera melarangnya untuk pergi. Hingga akhirnya, satu master kera lain datang membawa pria Jepang.


Dua master kera itu kembar. Andai keduanya memakai baju yang sama, Kyai Samad tidak akan bisa mengenali mereka. Beberapa kali melakukan transaksi, Kyai Samad memahami peran mereka. Sekarang, mereka berdua bersamanya.


"Hanya ada dua penyusup hari ini. Lebih berhati-hatilah lain kali!" kata si pria pembawa kera menepuk pundak Kyai Samad.


"Kapten! Semua barang sudah diturunkan," lapor si anak buah kapal.


"Suruh semua awak naik! Kita berlayar malam ini juga.


"Kenapa terburu-buru, Kapten Pier?" tanya Samad basa-basi.


Master kera di hadapannya adalah Pierro sang kapten kapal. Sementara master kera lain bernama Savier sang penguasa daratan.


"Dua penyusup tadi menandakan bahwa kami harus segera pergi. Kau juga, Savier! Sebaiknya, segera bereskan urusan di sini sebelum hal merepotkan terjadi," kata Pierro pada satu pria lain yang juga membawa kera seperti dirinya.


Kera-kera berjabat tangan, melakukan salam ala mereka. Kapten Pierro bersama anak buahnya naik ke kapal. Tangga dinaikkan. Kapal kargo berlayar menjauhi dermaga.


Langit malam tampak cerah. Bulan dan bintang terlihat jelas. Angin berembus kencang. Pierro berdiri di depan haluan. Pada saat itu, seorang awak kapal menghampirinya.


Bertanyalah awak itu, "Kapten, kita apakan para tawanan itu?"


Pierro berpikir sejenak. Meminta tebusan bukanlah gayanya. Itu hal yang sangat ingin dihindarinya. Terlebih lagi setelah banyaknya kasus peminta tebusan yang balik ditipu oleh pihak penebus. Itu tragedi yang konyol.


Maka, dia pun berkata, "Kita jual di pasar gelap setibanya di Amerika nanti. Jadi, pastikan mereka tidak mati sebelum itu! Lumayan untuk pemasukan tambahan."

__ADS_1


"Siap, Kapten!"


__ADS_2