Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rindu


__ADS_3

Mereka mengangkut hasil panen sampai sore. Kegiatan yang lumayan melelahkan. Sanubari berbaring di teras dengan keringat bercucuran. Bajunya sampai basah kuyup seperti baru saja terjebur ke sungai.


Iris hijau mata Sanubari memandang langit lepas. Pupilnya menangkap pancaran cahaya di langit cerah. Langit jingga telah merata. Binatang-binatang malam pun mulai bersuara. Suasananya cukup menenangkan hati.


Sanubari selalu penasaran mengapa hewan sekecil mereka bisa memiliki suara yang sangat keras. Begitu kerasnya sampai manusia yang berkali-kali lipat besarnya pun bisa menangkap suara yang mereka hasilkan. Andaikan serangga seperti jangkrik dan tonggeret sebesar manusia, pastilah manusia bisa tuli seketika kala mereka mulai bernyanyi.


Sepertinya Sanubari terlalu senggang. Sampai hl sedetail itu pun dipikirkan. Baik di Indonesia, Italia maupun tempat ini, alam selalu menghantarkan positivitas yang sama meskipun nuansanya berbeda. Sanubari tetap menyukainya.


Mengingat tentang alam membuatnya menyadari satu hal. Ia sama sekali tidak tahu nama tempatnya berada sekarang dari pertama kali menjejakkan kaki sampai saat ini. Semenjak bisa melihat kembali, Sanubari hanya tahu bahwa rumah yang ia tinggali dikelilingi hutan belantara dan area persawahan. Tidak ada pemukiman sama sekali di sekitar rumah kakek Canda.


Senja berlalu dengan sangat cepat. Zunta telah memanggilnya untuk mandi duluan. Sanubari pun lekas masuk rumah. Seusai mandi, ia kembali keluar dan duduk di teras.


Ia masih ingin menikmati keindahan alam. Hatinya merindukan sosok-sosok yang telah lama tidak ia jumpai. Ia tidak tahu bagaimana kabar mereka. Ia tidak tahu apakah yang sedang mereka pikirkan dan lakukan.


Apakah mereka saat ini juga sedang memikirkan tentang dirinya sambil menatap langit berbintang, seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Apakah mereka masih mengingatnya atau malah sudah melupakannya karena telah lama menghilang dari sisi mereka. Sanubari tenggelam dalam angannya sendiri.


Sementara itu, Canda di dalam rumah hampir selesai menyiapkan makan malam. Zunta yang baru saja selesai mandi menghampiri Canda.


"SANu mana, Kek?"


Zunta dan Canda sering berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setelah Sanubari siuman hari itu. Bahasa Spanyol hanya Zunta gunakan ketika sedang mengikuti kelas daring saja.


"Mungkin sedang di luar. Panggil dia untuk makan!"


"Oh, oke!"


Zunta berlari ke teras belakang tetapi Sanubari tidak ada di sana. Ia pun berlari ke teras depan. Zunta melihat Sanubari yang duduk termenung. Gadis yang kini berusia tujuh tahun itu pun duduk di sebelah Sanubari.


"Sanu kenapa?"

__ADS_1


Sapaan Zuta itu membuyarkan lamunan Sanubari. Tanpa menoleh, Sanubari menjawab, "Aku merindukan papa dan mamak."


Zunta yang mendengarnya ikut sedih. Ia mengerti perasaan Sanubari karena dirinya sendiri pernah mengalami hal yang sama. Zunta tidak pernah mengenal sosok ayah dan ibu.


Sejak kecil ia dibesarkan oleh kakeknya. Canda adalah keluarga satu-satunya bagi Zunta. Awalnya, ia tidak mengerti peran orang tua dalam kehidupan karena ruang lingkup interaksinya terbatas. Ia juga tidak terlalu memedulikannya.


Namun, semenjak Sanubari hadir dalam kehidupan sederhananya bersama sang Kakek, Zunta sering mendengar Sanubari mengigau memanggil-manggil orang tuanya. Hampir setiap hari Sanubari seperti itu. Begitu seringnya kata papa dan mama disebut, sampai Zunta berpikir bahwa orang tua itu seperti pahlawan berharga yang selalu dikenang saja.


Karena penasaran, sekali lagi Zunta bertanya tentang kedua orang tuanya. Ia sering meminta Canda untuk menceritakan tentang orang tua yang tidak pernah ia temui sebelum tidur. Rasa penasaran Zunta itu pada akhirnya membimbing Zunta pada kerinduan.


Namun, rasa rindu Zunta mungkin berbeda dengan Sanubari. Zunta hanya merasakan sesaat karena memang tidak pernah tahu bagaimana rasanya tumbuh di tengah-tengah sosok ayah dan ibu. Kendati demikian, Zunta tetap mencoba memahami perasaan Sanubari.


"SANu mau bertemu mereka?"


"Um," Sanubari mengangguk, "aku ingin pulang."


Zunta semakin sedih mendengar kata 'pulang' dari mulut Sanubari. Ia sudah terbiasa dengan keberadaan Sanubari. Jika Sanubari pergi, mungkin ia akan merasakan kerinduan yang sebenarnya untuk pertama kali. Namun, ia tidak boleh menghalangi keinginan Sanubari.


"Aku sudah banyak merepotkan kalian. Tidak enak rasanya jika aku merepotkan lebih dari ini. Mungkin aku hanya akan bertanya jalan pulang lalu pergi sendiri. Tapi, sebelum itu aku ingin banyak-banyak membantu kakek Canda dulu," ujar Sanubari.


Karena Zunta tidak kunjung kembali, Canda pun menyusul. Ia melihat mereka berdua duduk berdampingan. Tidak mau mengusik obrolan mereka, Canda pun memutuskan untuk menuggu sejenak.


Canda yang berdiri di dekat pintu mendengar percakapan mereka. Ia merasa kasihan kepada Sanubari. Selama ini ia menyimpan rahasia yang belum diceritakan kepada Sanubari.


Canda takut Sanubari akan semakin depresi jika mengetahui kenyataannya. Tentu itu akan berdampak pada kesehatan fisik Sanubari. Sehingga, Canda lebih memilih bungkam untuk sementara waktu.


"Mungkinkah ini saatnya?" batin Canda.


Kesehatan Sanubari sudah bisa dibilang pulih secara keseluruhan. Mungkin tidak masalah jika ia memberitahukan kebenarannya sekarang. Ia pun memanggil mereka berdua.

__ADS_1


"Zunta, Sanu, makan malam sudah siap!"


"Oke, Kek!" jawab kompak Sanubari dan Zunta.


Selepas makan malam, Canda menahan Sanubari di ruang makan. Ia mengambil sesuatu di kamarnya lalu meletakkan benda tersebut ke depan Sanubari.


"Apa ini? Aku tidak ulang tahun hari ini, Kakek. Kenapa memberiku kado?" Sanubari tertawa melihat sebuah kotak kayu tidak terlalu besar di hadapannya.


"Buka saja! Yang akan kuceritakan berhubungan dengan itu."


"Baiklah."


Sanubari pun membukanya. Di dalam kotak terdapat dua pisau hitam legam yang sudah di beri sarung pisau khusus. Keduanya saling berjajar. Sanubari mengambil salah satu lalu menarik dari sarungnya. Benar-benar hitam legam dari ujung ke ujung.


"Pisau ini ...."


"Kau mengenalinya?"


"Um. Mirip sekali dengan pisau Aifka. Waktu aku berumur sepuluh tahun, ibuku pernah hampir masuk penjara gara-gara pisau semacam ini. Dia difitnah melakukan pembunuhan."


"Sayangnya, kedua orang tuamu terbunuh karena pisau itu."


"Apa?" seru Sanubari sambil menggebrak meja, "Tidak mungkin! Darimana Kakek tahu tentang orang tuaku? Sekalipun aku tidak pernah bercerita tentang mereka kepada Kakek."


"Aku turut berduka cita. Tapi seperti itulah kenyataannya. Kau harus menerima kepergian mereka dengan lapang dada."


"Mustahil! Kakek pasti hanya mengarang saja, iya 'kan?"


Sanubari menangis meraung-raung. Sudah dua tahun ia tidak bertemu dengan ayah dan ibunya. Kini ia malah mendengar kalimat tidak menyenangkan itu dari Canda. Mendadak ia teringat adiknya yang juga terbunuh karena tertembak.

__ADS_1


Jika dipikir-pikir, dirinya selalu saja mengalami peristiwa buruk dari lahir sampai sekarang. Sanubari mengeluhkan kehidupan peliknya dalam hati. Ia bahkan memprotes Sang Pemberi Kehidupan.


"Tenanglah Sanu! Masih ada kakek dan aku di sini." Zunta memeluk Sanubari, mencoba menenangkannya.


__ADS_2