
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," usul Sai yang masih menopang tubuh Sanubari.
"Kita pindahkan dulu tubuhnya. Kurasa, akan butuh sedikit waktu untuk memanggil taksi online."
Renji mendekati Sai, membantu pria itu mengangkat Sanubari. Mereka menggotongnya ke kamar. Setelah membaringkan Sanubari, Sai membongkar tas Sanubari. Hanya singlet yang bisa dia temukan sebagai pengganti kain lap.
Dengan kain seadanya, dia membersihkan darah Sanubari. Sementara itu, Renji mengambil ponsel. Dia hendak memesan taksi. Namun, dari kamar Sanubari Eiji berteriak.
"Ren, jangan pesan taksi ke rumah sakit dulu!"
"Apa?" teriak balik Renji dari ruang tamu.
Renji seakan tidak percaya. Rekannya sedang berdarah-darah. Ditambah lagi, sedang Ada wabah mematikan yang katanya Melanda negeri. Tentu itu membuatnya khawatir, tetapi Eiji malah melarangnya memanggil petugas medis.
Belum lagi, Sanubari memiliki riwayat sakit berbulan-bulan. Hal tersebut menambah kekhawatiran Renji.
Dia lekas kembali ke kamar yang berjarak hanya beberapa langkah. Bersandar pada gawang pintu, Renji berkata, "Di mana rasa empatimu, Ei? Apa kau tidak melihat? Kondisi bocah itu begitu memprihatinkan. Bagaimana jika dia ternyata terjangkit wabah itu? Kau tahu sendiri, kan? Tadi siang dia terlihat sangat bugar. Tiba-tiba jatuh seperti ini, rasanya aneh sekali."
Eiji membiarkan Renji berbicara sesuka hati. Dia sendiri sedang mengolah segala data yang ada dan mengaitkannya dengan peristiwa yang terjadi.
__ADS_1
"Aku akan tetap memanggil taksi sekalipun kau melarang," lanjut Renji kembali melihat pada ponsel.
"Lebih baik memesan mobil untuk ke bandara. Itu pun jikw kita bisa mendapatkan tiket kembali ke Italia segera. Aku tidak percaya dengan orang-orang di sini sekalipun mereka dokter," balas Eiji.
"Tidak percaya katamu? Kita saja baru tiba di sini. Kau juga belum mengenal mereka semua."
Renji menoleh pada Eiji yang berdiri dalam ruangan. Eiji menatap Sanubari.
"Bagaimana jika wabah ini ternyata hanyalah konspirasi ...."
Eiji mulai menjelaskan pendapatnya. Keterangan dari beberapa warga bahwa ada pihak yang ingin membeli lahan dengan harga rendah, biaya pengobatan yang cukup mahal, daftar nama yang ditemukan pada data base aifka—semua itu mengarahkan Eiji pada satu kesimpulan.
Wabah tidak ditularkan melalui udara. Melainkan, sengaja dimasukkan ke tubuh korban melalui suntikan aifka. Nama-nama berblok merah menandakan bahwa target telah sukses diinfeksi.
Eiji ingat dua orang yang gagal memperoleh tanah gara-gara Sanubari siang tadi. Salah satu dari mereka bisa jadi mengenali Sanubari, tetapi berlagak tidak tahu.
Jika dugaannya benar dan petugas medis terlibat di dalamnya, maka membawa Sanubari ke rumah sakit sama halnya dengan menyerahkan anak itu pada bahaya. Bukannya mendapatkan obat, bisa jadi mereka menyuntikkan virus dengan dosis lebih tinggi.
"Apa kau tidak terlalu berlebihan tentang ini?" tanya Renji.
__ADS_1
Dia refleks membatalkan pesanan. Dia tidak berpikir sejauh itu. Bahkan, gigitan capung siang tadi hanya dianggapnya peristiwa biasa.
"Masih ada setengah cairan dalam capung tadi. Mau coba?"
"Tidak, terima kasih. Aku masih sayang nyawa. Oke, aku akan mencari tahu tentang agen travel yang bisa mengantar Kita ke bandara sekarang juga."
Renji merinding. Senjata biologis adalah lawan yang paling sulit dihadapi. Renji tidak ingin coba-coba bila menyangkut hal semacam itu.
Sai pun mengakui hal yang sama. Senjata biologis merupakan satu-satunya musuh yang tidak bisa dia hadapi. Hanya takdir dan ketahanan tubuh yang akan menentukan kalah atau menang. Sai memandang Sanubari dengan tatapan mengiba.
"Itu akan makan waktu terlalu lama. Kau ingat peristiwa kapal terbakar yang pernah kita alami ketika dalam perjalanan ke Italia?"
Eiji menoleh pada Renji. Pertanyaan itu membuat Sai dan Renji terpancing untuk mengingat-ingat tragedi menegangkan di masa silam.
"Apa hubungannya dengan kejadian ini?" tanya Renji yang tidak bisa menebak arah pikiran Eiji.
"Kita harus melaporkan kejadian ini pada Paman Kelana. Aku yakin, keselamatan kita waktu itu merupakan campur tangan dari L'eterna Volonta. Aku tidak tahu bagaimana pastinya mereka bisa tahu kita mengalami kecelakaan. Tapi, tidak ada yang memiliki pesawat lebih cepat dari mereka," jelas Eiji.
Dia juga sudah memikirkan ini baik-baik. Orang-orang itu langsung pergi setelah menemukan mereka, seolah para penyelamat itu hadir hanya untuk mereka. Para penyelamat waktu itu bahkan tidak terlihat mencari korban lain yang masih terjebak di kapal.
__ADS_1
Dugaan itu muncul setelah Eiji mengetahui fakta tentang Sanubari. Dia hanya beruntung karena Sanubari bersamanya kala itu. Andaikan tidak, mungkin regu penyelamat tidak akan datang secepat itu.
"Tujuh hari. Kuharap Sanu hanya demam biasa," gumam Sai.