
Sanubari tidak langsung mengikuti tes. Dia meminta kisi-kisi untuk belajar terlebih dahulu. Resepsionis pun memberikan buku panduan yang sengaja dijual untuk orang-orang yang ingin tahu tentang Onyoudan.
Begitu mendapatkan buku tersebut, Sanubari menuju rumah Anki. Dia sudah menghubungi Abrizar. Pria itu masih di rumah Anki.
Kurang dari setengah jam, Sanubari tiba di rumah Anki. Gadis itu mempersilakan masuk. Dia mengajak Sanubari ke ruang tengah dimana Abrizar berada.
"Kakak sudah selesai?"
"Barusan."
"Oh," Sanubari mengedarkan pandangan, "rumah ini sepi, ya."
"Kalimat yang sama dengan kak Abri waktu pertama kali masuk sini," sahut Anki yang sedang menuang susu di dapur sambil menunggu makanan di microwave.
"Iya, kah?" Sanubari menoleh ke belakang.
Dapur tepat berada di belakang tempatnya duduk, sedang di sebelah kanan ada area cukup luas untuk menonton televisi. Rumah ini minimalis dan sangat rapi.
"Iya, kak ABRI juga berkata seperti itu tadi." Anki membawakan segelas susu untuk Sanubari.
"Memang yang lain kemana?" Tanya Sanubari.
"Aku hanya tinggal berdua bersama kak Eiji di sini. Dia jarang pulang. Pulang biasanya hanya untuk mengambil baju ganti." Setelah meletakkan susu di depan meja Sanubari, Anki kembali ke dapur. Dia mengambil beberapa makanan yang sudah dihangatkan.
"Maaf, aku hanya bisa menyiapkan makanan instan untuk kalian hari ini. Mungkin lain waktu akan kubuatkan masakan rumahan," lanjut Anki duduk di seberang mereka setelah meletakkan set makanan untuk mereka dan dirinya sendiri.
"Ini saja sepertinya enak. Apa ini?" Sanubari mulai mengambil sumpitnya.
"Bento unagidon, takoyaki, dan singkong madu. Kupikir kau suka singkong. Jadi, kusiapkan ini untuk kalian."
Sanubari tersanjung mendengar penjelasan Anki. Tidak disangka gadis Jepang itu memperhatikan hal sedetail ini, padahal pertemuan mereka masih bisa dihitung dengan jari. Sanubari mendadak tersipu.
Dia menyuapkan sepotong singkong. "Manis."
"Tidak suka, ya?"
__ADS_1
"Enak kok."
"Maaf, ya. Di toserba hanya ada singkong madu. Aku sendiri tidak bisa membuatnya Andaikan bisa, mungkin sudah kusiapkan sesuai selera kalian." Anki tertawa kecil.
"Apa semua orang Jepang seramah ini, ya? Kami baru saling kenal, tetapi sambutannya sudah sebaik ini," batin Abrizar sambil melahap makanan.
Karena percakapan selalu didominasi Sanubari ketika sedang bertiga, Abrizar lebih sering diam. Dia hanya bersuara sesekali jika dibutuhkan.
"Aku bisa membuat olahan singkong lebih lezat dari ini. Mau kuajari?" celetuk Sanubari antusias, mengangkat kepala, menatap Anki dengan mata berbinar.
"Wah, sepertinya menyenangkan bisa membuatnya sendiri." Anki tersenyum.
Senyuman itu selalu saja membuat jantung Sanubari berisik. Bagaikan anak panah yang tepat melesat ke dada, Sanubari tak bisa berkutik karenanya. Sejenak Sanubari terdiam untuk mengendalikan diri.
"Akan kuajari, tapi bisakah kau membantuku mendapatkan kepercayaan kak Eiji?"
"Itu ...." Anki agak ragu untuk menjawabnya.
Terlepas dari dedikasi cintanya terhadap keluarga yang sangat besar, Eiji adalah sosok yang ulet dan sulit dirubah pendiriannya. Anki sangat mengenal watak kakaknya. Dia sendiri belum tentu bisa mempengaruhi sang kakak.
Obrolan dilanjutkan dengan candaan sampai Abrizar dan Sanubari pulang. Sanubari masih bisa tertawa riang kala bersama Anki. Namun, dia merengek, mengeluh setibanya di rumah Mohammad.
"Pakai penerjemah! Untuk apa punya ponsel pintar tapi tidak dimanfaatkan?" saran Abrizar yang sibuk dengan laptopnya.
"Ah, benar juga! Aku lupa ada fitur itu." Sanubari tertawa.
Dia mulai menerjemahkan lembar demi lembar. Dibacakannya hasil terjemahan dengan lantang. Ada beberapa tes yang harus dilalui setiap anggota baru
Tes tertulis, lisan, fisik, serta keahlian—masing-masing memiliki poin tersendiri untuk menentukan divisi. Onyoudan terdiri dari beberapa divisi. Calon anggota boleh memilih divisi sesuka hati atau membiarkan asosiasi menentukan penempatan berdasarkan hasil ujian.
"Itu artinya nilai komputermu harus tinggi untuk membuka peluang lebih besar satu tim dengan Eiji."
"Apa? Aku mana paham yang begituan? Apalagi pakai bahasa Jepang. Laptop kakak saja sudah ribet. Aku cuma tahu caranya ngetik." Sanubari cemberut, diletakkannya buku ke atas kepala.
Abrizar mengangkat tangan ke atas seolah sedang menangkap sesuatu. Diarahkannya kepalan tangan itu pada Sanubari. "Ini untukmu!"
__ADS_1
Sanubari mengambil sesuatu dari kepalan Abrizar. Benda lonjong sebesar lubang daya pengisi daya ponsel kini tergeletak di telapak tangan Sanubari. "Apa ini?"
"Itu nanoretas. Benda itu yang akan membantumu menyelesaikan semua ujian berkaitan dengan komputer. Kau cukup berpura-pura mengerjakannya, tapi jangan mengotak-atik apa pun! Hanya ini yang akan kubantu. Sisanya, selesaikan sendiri!"
*****
Keesokan paginya.
Di ruangan komputer, Sanubari berpura-pura menggerakkan tetikus dan menekan papan ketik. Segala soal dan permasalahan selesai dengan sendirinya. Itu semua berkat nanoretas yang dikendalikan Abrizar dari jauh. Secara tidak langsung, AbrizAarlah yang mengerjakan semuanya.
Setelah istirahat selama sepuluh menit, Sanubari digiring menuju Dojo. Ujian fisik bisa dilewatinya dengan mudah, meskipun belum banyak pengalaman. Sanubari bisa mengalahkan lawan tandingnya secara berturut-turut.
Dia mulai kesulitan ketika ujian menggunakan senjata. Dia belum pernah sekali pun memakai pedang, senjata api, dan senjata lainnya. Dia pun hanya asal-asalan.
Kian lama, ujian makin sulit. Sanubari tersendat dalam tes lisan yang mengharuskannya menerapkan bahasa sopan. Sanubari sama sekali tidak bisa. Ia bahkan kesulitan memahami bahasa tingkat tinggi itu.
Ujian terakhir adalah ujian tulis. Sanubari hanya memandang jajaran huruf aneh di hadapan. Sampai waktu berakhir, tidak ada satu pun soal yang dijawab. Kertas nama itu bersih. Bahkan nama pun tidak Sanubari isi.
Remaja itu keluar dari kantor Onyoudan dengan muka lesu. Ujian masuk organisasi tersebut ternyata terlalu sulit. Sanubari pesimis.
"Sepertinya aku harus mencari cara lain untuk mengenal kak Eiji," batin Sanubari berjalan melawan senja. Semburat jingga menyilaukan terlihat indah. Sanubari bagai berjalan menuju cahaya masa depan. Dia tersenyum, sejenak mengabadikan momen tersebut sebelum kembali berjalan.
Satu kebiasaan lama yang tak pernah berubah dari Sanubari sejak dahulu kala—alam selalu menjadi sahabat sejati baginya, pelipur lara, pengobat segala rasa. Dimana pun dan kapan pun, alam senantiasa memberikan kenyamanan yang serupa.
*****
Pukul dua dini hari, ponsel Sanubari sangat berisik. Berulang kali Sanubari mematikannya, tetap saja ponsel tersebut berdering. Mau tak mau, Sanubari harus menyibak selimut. Diraihnya ponsel. Terdapat panggilan dari nomor pribadi. Karena telepon itu selalu akan terulang jika diabaikan, Sanubari terpaksa mengangkatnya.
"Halo, siapa ini? Kenapa telepon malam-malam? Ngantuk nih ucap Sanubari malas sambil menguap, mata masih terasa berat.
"Ini aku Eiji dari Onyoudan."
"Apa? Eiji?" Spontan Sanubari berteriak, matanya membola, mendadak kesadaran penuh terkumpul.
"Ya, apa-apaan reaksiku itu?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Hanya tidak menyangka saja bisa mendapat telepon sedini ini dari Onyoudan." Sanubari berharap ini bukan nimpi akibat terlalu berekspektasi tinggi sebelumnya.
"Jangan banyak bicara! Misi uji cobamu dimulai hari ini. Jika tidak muncul, kuanggap kau gagal. Kutunggu kau di depan stasiun Honjin. Waktumu sepuluh menit dari sekarang," pungkas suara dari seberang yang langsung menutup panggilan.