
Sanubari baru kembali dari tempat wisata sekitar dan belajar mengemudi ketika sekelompok orang berbuat keributan di depan gerbang area perumahannya. Mobil ditepikannya karena mustahil menerobos kerumunan. Dia dan yang lain berkerut dahi, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Nama Sanubari masih diseru-serukan bersama kata-kata tak pantas didengar. Risih telinga mereka menangkap semua itu. Berbagai tanya pun disuarakan.
"Kenapa ada orang-orang yang sepertinya marah pada Sanu?"
Anki merasa ngeri melihat para pia bersenjata. Tampang mereka tampak galak. Kata-katanya pun sungguh kasar.
"Entahlah."
Sanubari tidak bisa menjawab. Dia merasa tidak memiliki musuh, apalagi mengenali orang-orang itu. Kalaupun ada yang membencinya, kemungkinan adalah oknum yang menjebloskannya ke penjara. Sanubari tidak pernah berpikir bahwa kebebasannya dari jeruji akan berbuntut seperti ini.
Misi pertamanya bahkan belum dijalankan, tetapi musuh sudah muncul di depan mata. Sanubari menatap mereka dengan serius.
Di mobil lain, Sai dan Renji menatap heran pada pemandangan di depan. Mobil mereka berhenti di belakang mobil yang dikemudikan Sanubari dengan mesin masih menyala.
"Banyak juga musuh Sanu. Aku jadi penasaran apa yang dilakukan Sanu sebelum bertemu kita," ucap Renji.
Dia, Sai, dan Abrizar tidak tahu menahu tentang itu. Kehidupan mereka di Italia terlampau damai.
"Sanu dan yang lain tidak keluar. Haruskah putar balik untuk menghindari mereka?" tanya Juma.
"Menghadapi pun tidak masalah," jawab Renji. Keberadaan orang-orang asing itu sama sekali tidak membuatnya takut. Dia malah berpikir bisa melakukan sedikit peregangan bila perkelahian sungguh pecah di antara mereka.
Renji merindukan pekerjaan sesungguhnya. Misi-misi selama menjadi anggota Onyoudan terbayang. Itu seperti sudah sangat lama tidak dilakukannya. Dia menyeringai.
"Tapi, mereka bersenjata, sedangkan kita tidak," kata Juma. Dia khawatir parang akan lebih dahulu memenggal leher mereka, atau senjata api menembus tengkorak mereka begitu keluar mobil.
Tengkuknya meremang. Bagaimanapun, Juma hanyalah ilmuwan genetika. Keaghlian bertarung sama sekali tidak dimilikinya. Selama ini, dia hanya melakukan penelitian bersama Petamana di tempat tersembunyi untuk menghindari hal tidak diinginkan. Hanya sedikit dari anggota laboratoriumnya yang bisa berkelahi.
Oleh karena itu, pasukan Petahana bisa dengan mudah meringkus untuk membebaskan Sanubari dan yang lain. Dia bersyukur yang datang waktu itu adalah kelompok Petahana. Jika bukan, dirinya mungkin sudah tinggal nama yang terlupakan saat ini. Bisa dibilang, Juma adalah penumpang paling pengecut di antara orang dalam mobil yang disopiri Sai.
__ADS_1
Di sisi lain, Aldin mendengar bunyi mobil menderu. Kerumunan menghalangi pandangan. Akan tetapi, dia masih bisa melihat melalui celah-celah mereka. Kaca sedikit menyilaukan. Aldin bergerak ke posisi lain supaya bisa melihat dengan jelas. Diamatinya dua lelaki yang duduk di depan.
Itu dia yang Aldin cari. Aldin menyeringai, menatap pemuda yang duduk di belakang kemudi. Buruannya telah ditemukan.
"Kalian semua, hentikan! Yang kita cari ada di luar, di mobil itu!"
Aldin menunjuk satu arah. Mendengar suara Aldin, mereka tidak lagi menyerang gerbang. Pasukan dadakan yang dikumpulkan Aldin itu menghadap ke dua mobil yang berhenti. Motor-motor mereka memblokade jalan. Sehingga, mobil Sanubari tidak bisa maju.
"Paksa dia keluar, tapi jangan melukainya! Aku sendiri yang akan melakukan apa yang kuinginkan. Ingat itu!" imbuh Aldin.
Mereka semua menjawab, "Beres, Bos Muda!"
Kemudian, para pria bersenjata itu maju. Mereka menggedor kaca mobil Sanubari.
"Keluar, Sanu!" bentak salah satu dari mereka.
Sanubari gelisah. Dia ingin keluar, tetapi khawatir golok akan disabetkan padanya jika pintu dibuka. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Sanubari ingin juga melakukan itu. Namun, sisi lain dari dirinya menolak. Pelarian demi pelarian selalu berujung dengan masalah baru. Itu mengajarkan padanya bahwa masalah harus dikupas tuntas supaya tidak menumpuk dan menjadi kerak yang sulit dihilangkan.
Dengan menghadapi mereka, satu masalah mungkin bisa teratasi. Namun, dia bimbang, tidak tahu cara aman untuk menghadapi mereka yang tampak murka.
"Sanu, cepat jalankan mobilnya!"
Eiji ikut mendesak. Dia menyesal telah menyerahkan kemudi pada Sanubari. Andai dirinya yang memegang setir, pastilah sudah dibawanya mobil keluar dari pekarangan.
Bukannya takut atau tidak mampu menghadapi mereka, Eiji hanya tidak ingin melibatkan sang adik yang duduk di jok belakang. Dia tidak ingin Anki terluka. Cukup sekali saja Anki terjebak dalam penyerangan seperti terakhir kali mereka meninggalkan Jepang. Dia tidak ingin kejadian semacam itu terulang lagi pada Anki.
Akan tetapi, Sanubari bergeming. Pegangan pintu terus disentak. Kaca pun dipukul keras sampai retak. Semua itu hanya terjadi di sekitar kursi Sanubari. Mobil yang satu lagi pun sama sekali tidak disentuh.
Mobil yang ditumpangi Sai dan yang lain bisa saja pergi bila mau. Mereka lebih dari bebas untuk melakukan itu. Namun, mereka tetap bertahan. Meskipun mereka melihat mobil Sanubari dikepung, itu tidak membuat delapan puluh persen penumpangnya gentar.
__ADS_1
"Bagaimana? Mau keluar sekarang saja?" tanya Renji. Dia memainkan kuncian mobil, menimbulkan bunyi 'klik' berulang.
"Kita keluar kalau Sanu keluar, pergi kalau Sanu mundur," jawab Abrizar.
Pria difabel itu cukup santai. Dia tidak memiliki kebutuhan untuk melawan mereka. Akan tetapi, dia akan membantu bila Sanubari memutuskan untuk menghajar orang-orang bermulut kotor itu. Sebagai rasa setia kawan, Abrizar merasa perlu melakukannya.
Puluhan kali Abrizar beristighfar setiap kali umpatan masuk ke telinga. Itu membuatnya sungguh ingin meninggalkan tempat itu segera, atau para pria urakan itu yang pergi dari sana.
"Hm, baiklah. Mari kita tunggu sedikit lebih lama! Sanu itu memang lambat. Kita harus mengajarinya bertindak cepat setelah ini," cetus Renji tersenyum.
Aldin tidak menyadari sikap mereka itu. Dia tersenyum puas, beranggapan Sanubari ketakutan sampai tidak berani keluar dari mobil.
Tiba-tiba, Sanubari berkata, "Kita tidak bisa lari. Aku akan menghadapi mereka."
Eiji melotot. Dia menarik kerah baju Sanubari.
"Jangan konyol! Kita sedang bersama para perempuan. Orang-orang itu bisa melukai mereka bila pintu kaubuka."
Dua perempuan lain sama sekali tidak dipedulikan Eiji. Namun, keselamatan sang adik adalah segalanya. Dia sangat mencemaskan Anki.
Sanubari tersenyum. Dilepaskannya sabuk pengaman.
"Lekas kunci kembali begitu aku keluar! Kakak bawa yang lain pergi dari sini! Toh, yang mereka cari hanya aku, kan?"
Eiji tercengang mendengar jawaban Sanubari. Dia sama sekali tidak berpikir Sanubari akan mengatakan itu.
"Sanu, kau tidak boleh melakukan itu! Sanu, jangan! Sanu!"
Anki berteriak-teriak, tetapi diabaikan. Sanubari menepis tangan Eiji, lalu keluar. Pintu terbanting keras setelah Sanubari turun.
Eiji tidak menyentuh kunci. Benar kata Sanubari. Orang-orang itu tidak menyentuh mobil begitu Sanubari keluar. Eiji melihat Sanubari yang ditawan. Sebilah golok teracung pada leher pemuda beriris mata hijau itu.
__ADS_1