
"Apa? Membuat mereka bangkrut dan kehabisan uang?" sentak Sanubari begitu mendengar hasil tindakannya tadi.
Sanubari masih bisa bersikap biasa ketika mendengarkan penjelasan tentang programming yang rumit. Reaksinya baru berubah ketika tindakan isengnya bisa merugikan orang lain. Tindakan itu bisa jadi membuat seseorang terancam mengalami kemiskinan.
"Anu, apa tidak bisa uang yang tanpa sengaja terambil tadi dikembalikan saja kepada mereka?" tanya Sanubari dengan nada pelan.
Raut muka Abrizar langsung berubah masam. Ia tersenyum kecut sebelum akhirnya menjawab, Aku tidak akan mengembalikan uang ini kepada mereka."
"Tetapi mencuri itu tidak baik."
"Kau ini masih terlalu polos."
"Aku tahu kalau aku ini masih belum memiliki banyak pengalaman, tetapi aku bisa membedakan kok mana yang disebut mencuri dan bukan. Apa pun bentuknya, entah itu secara langsung maupun melewati dunia digital, yang namanya mengambil barang orang lain tanpa izin ya tetap disebut mencuri."
"Aku tidak mencuri. Aku hanya mengambil sesuatu yang memang bukan hak mereka dan akan kuberikan kepada mereka yang lebih berhak."
Angan Abrizar menerawang jauh saat mengatakannya. Ini bukan sekadar masalah uang atau curi mencuri. Bahkan uang ini tidak bisa mengembalikan apa yang telah terambil.
"Apa maksud Kakak?"
Sanubari semakin tidak mengerti dengan pembicaraan ini. Ia memandangi nominal pada monitor yang sesekali bertambah. Yang artinya, tabungan seseorang terus berkurang, berpindah pada akun digital milik Abrizar.
"Kau tahu perusahaan apa yang baru saja tanpa sengaja kau hancurkan?" Abrizar malah balik bertanya dan menekan-nekan tombol panah.
Sanubari menggeleng sambil memperhatikan air muka Abrizar. Lelaki yang lebih tua enam tahun itu terlihat tidak senang. "Kenapa kakak sepertinya sangat menginginkan kebangkrutannya? Memang apa salahnya membangun agensi musik yang juga memasarkan berbagai macam produk? Apakah menjual suara itu pekerjaan yang tercela?"
Sanubari tidak tahu perusahaan apa SM itu. Ia hanya membaca profil perusahaan di layar laptop yang baru saja dibuka oleh Abrizar. Di sebelah keterangan perusahaan, berjajar foto-foto dengan nama di bawahnya. Barisan paling atas ada tiga nama Kim—Kim Jong Hyun, Kim Hyun Jo dan Kim Jae Hyun. Di bawahnya lebih banyak nama lagi dengan nama depan yang lebih bervariasi. Sanubari tidak mengerti mengapa Abrizar mendadak membuka itu.
"Ada banyak jawaban untuk pertanyaanmu itu. Haram atau halalnya suara itu tergantung pada beberapa hal. Aku hanya akan menjawab yang berkaitan dengan SM saja ...."
Di permukaan, SM terlihat seperti perusahaan biasa. Produk kosmetik, alat musik, elektronik dan makanan instannya selalu laris dan terkenal. Apalagi idol dalam naungannya. Namun di balik semua itu, SM merupakan agen perbudakan terselubung.
Mereka melakukan transaksi jual beli manusia. Termasuk organ dalam manusia. Abrizar dan ibunya pernah menjadi korban. Abrizar tumbuh dalam jeruji. Sesekali ibunya meninggalkannya.
Abrizar yang berusia tiga tahun hanya bisa terdiam menanti kepulangan sang ibu. Ia merasa telah terbiasa dengan kondisi ini meskipun ingatan di usia sebelumnya tidak ada sama sekali. Yang ia tahu hanyalah rasa bosan menangis karena rutinitas yang terlalu sering. Satu hal yang ia takutkan—ibunya tidak akan pernah kembali.
Dunianya sudah gelap sejak lahir. Ia tidak ingin hidupnya menjadi lebih gulita tanpa kehadiran sang ibu. Dari ibunya, Abrizar bisa mendengar bagaimana indahnya dunia luar meskipun matanya tidak bisa melihat.
__ADS_1
"엄마, 산책 좀 하고 싶어요. 또 갈 때 같이 갈까요? 여기 맨날 심심해요. 제 귀로 세상 소리 듣고 싶어요."
(Ibu, aku ingin jalan-jalan. Bolehkah aku ikut kalau nanti ibu pergi lagi? Aku ingin mendengar dunia dengan telingaku sendiri. Aku bosan di sini terus)
Kala itu, Abrizar tidak tahu apa-apa. Ia hanya sering mendengar orang-orang histeris, mengeluhkan hidup, meminta pembebasan dan sesekali tercium aroma tidak sedap.
Ibu Abrizar hanya mengelus pipinya lembut lalu menjawab, "najung-e ttaega doemyeon."
(Nanti jika saatnya tiba.)
Hanya jawaban sama yang Abrizar dapat ketika ia menanyakannya lagi di lain waktu. Meskipun tahun telah berganti, jawaban sang ibu tetap sama. Abidzar masih belum paham dengan keadaannya. Hingga suatu ketika seseorang bernama Kim datang.
"yeogie wae kkomaeng-iga issji? geunyang palji anh-eullae? jeoleon eolgullo jal pallil geos gat-a."
(Kenapa ada anak kecil di sini? Kenapa tidak dijual saja? Kurasa dia akan segera laku dengan wajahnya seperti itu.)
"사장님 죄송합니다. 이 아이는 장님입니다. 장애인 아이를 사고 싶어할 사람은 없을 것 같아요."
(Maaf, Bos. Anak ini buta. Saya rasa tidak ada yang mau membeli anak cacat.)
"geunyang boyug-won-eulo olmgiseyo! nugungaga geugeos-eul sageona choesohan jang-giga pil-yohanji nuga algessseubnikka?"
"gim ssi, butaghabnida! jeowa je adeul-eul bunlihaji maseyo!"
(Tuan Kim, Saya mohon, jangan pisahkan saya dari anak saya!)
Ibu Abrizar terus meminta. Namun, Abrizar tetap dipindahkan ke ruangan lain pada akhirnya. Setiap hari Abrizar mendengar anak-anak yang lebih tua darinya menangis, meminta dipulangkan, memanggil nama orang tuanya, ada pula yang meracau dengan bahasa aneh.
Abrizar tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain terkecuali ibunya. Di tengah kebingungannya, ia beranikan diri untuk berinteraksi. Banyak yang mengaku bahwa mereka diculik orang jahat, ada pula yang mengaku diambil paksa dari keluarganya. Pengetahuan baru ini membuat Abrizar bertanya-tanya mungkinkah dirinya mengalami hal yang sama.
Tahun berikutnya, bunyi Senapan menggelegar, membuat anak-anak menangis ketakutan. Beberapa tentara dengan seragam keamanan lengkap memasuki ruangan. Para pria dewasa itu membuka kunci kurungan dan mencoba menenangkan para bocah yang histeris.
Tidak mudah mengevakuasi anak-anak yang terguncang. Terdengar seorang tentara bernama Dana berusaha mengakrabkan diri dengan kalimat ramahnya supaya mereka mau ikut secara teratur. Beberapa patah kata kemudian, anak-anak pun mulai tenang. Mereka mau bergerak mengikuti para petugas.
Abrizar terdiam di sudut ruangan. Ia memang mendengar Dana berkata bahwa ia akan membantu setiap anak kembali ke keluarga masing-masing. Namun, Abrizar meragukannya. Dana yang melihat Abrizar tidak bergerak pun mendekatinya.
"wae ajigdo yeogi iss-eo, dongsaeng?"
__ADS_1
(Kenapa kau masih di sini, Adik Kecil?)
Abrizar dengan ragu-ragu membalas, "ajeossiga jeongmal eomma mannaneun geol dowajulkka?"
(Apakah Paman benar-benar akan membantuku bertemu ibu?)
"dang-yeonhaji. yeong-ung-eun yagsog-eul eogiji anhneunda. immuneun kkeutkkaji wansuhaeya handa. ne, geuleohjiyo? ja, eoseo gaja!"
(Tentu saja! Seorang pahlawan tidak pernah mengingkari janjinya. Sudah seharusnya misi dilaksanakan sampai tuntas. Sekarang, ayo susul yang lainnya!)
Dana Menggendong Abrizar. Seperti perkataan Dana, Abrizar kembali bersama ibunya. Tanpa disangka-sangka, abdi negara yang mempertemukan dirinya dengan ibunya menjadi ayah Sambung baginya.
Setelah Dana resmi menjadi ayahnya, mereka pindah ke Indonesia mengikuti dinas Dana. Abrizar mulai belajar berbicara dengan bahasa Indonesia. Pria itu memfasilitasi pendidikan Abrizar dan menyayanginya setulus hati. Abrizar pun memiliki adik perempuan. Sayang, adiknya diculik saat masih di rumah sakit. Tanpa sengaja, Abrizar mendengar dalang dari penculikan beberapa bayi di rumah sakit tempat ibu melahirkan berasal dari kelompok yang sama dengan kelompok yang pernah disergap tim gabungan dimana Dana ikut serta. Selang beberapa hari kemudian, Abrizar tanpa sengaja mendengar suara yang mirip dengan suara Kim yang memisahkan dirinya dengan sang ibu di acara televisi. Ia pun memutuskan untuk mendengarkan acara tersebut sampai selesai karena penasaran.
"Ibu, yang nyanyi itu siapa?" tanya Abrizar kala itu.
"Kim Jong Hyun—aktor sekaligus penyanyi yang terkenal. Ibu suka dia. Sayang, dia memutuskan untuk berhenti dari panggung hiburan. Padahal dia berbakat banget loh. Sayang banget, kan? Dan ini adalah konser terakhirnya." jelas ibu Abrizar dengan nada dibuat-buat sedih.
"Kok ibu suka sama orang jahat?"
"Jahat bagaimana? Jong Hyun ini sering bagi-bagi dan membantu orang susah."
"Dia 'kan yang pernah memisahkan kita. Masak Ibu lupa?"
"Memisahkan kita?"
"Iya, sebelum kita dipertemukan lagi oleh ayah. Mungkin waktu aku berusia lima tahun. Aku ingat waktu itu ibu dan orang-orang itu memanggilnya Kim."
"Oh, itu. Di dunia ini, banyak yang namanya sama. Ibu yakin tuan Kim itu bukan Kim Jong Hyun ini."
"Bukannya ibu lihat tuan Kim waktu itu?"
"Tuan Kim selalu memakai topeng setiap kali muncul. Sudahlah! Untuk apa dipikirkan? Itu 'kan sudah berlalu." Ibu Abrizar mengacak-ngacak rambut Abrizar.
Namun, Anbrizar kekeh dengan pemikirannya sendiri. Seolah mendapatkan petunjuk, Abrizar menyelidiki semua tentang Kim Jong Hyun dengan kemampuannya sendiri. Tidak mudah mendapatkan informasi tentang pria itu karena tindakan Dunia bawah tidak semua bisa ditelusuri melalui jejak digital. Pada akhirnya, kerja kerasnya membuahkan hasil.
Abrizar menemukan fakta-fakta mencengangkan. Kim Jong Hyun—mantan idol yang mendirikan SM ternyata terlibat dalam sindikat perdagangan manusia. Sejak saat itu, Abrizar bertekad untuk melumpuhkan SM dan membebaskan para korban yang terus bertambah. Rupanya operasi tim gabungan kala itu hanya meringkus salah satu cabangnya saja. Sedangkan gembong pusat yang lebih besar belum terciduk.
__ADS_1
"... aku tidak mau ada yang menderita lagi karena ulah mereka," pungkas Abrizar mengakhiri ceritanya.