
Sanubari tidak hanya meminjam uang, tetapi juga bahan makanan dan rantang. Damiyan sampai terheran-heran. Lebih dari itu, Sanubari menangguhkan ajakan latihan Damiyan, lalu pergi dengan wajah berseri-seri.
"Paman Alfred, kenapa meminjamkan uang padanya?" tanya Damiyan selepas kepergian Sanubari.
Damiyan senang Sanubari pulang membawa banyak makanan. Itu artinya, dia bisa makan enak, lebih enak dari masakan Sumiati malah. Beberapa hari tinggal bersama Sanubari, tentu Damiyan tidak melewatkan kesempatan mencicipi masakan Sanubari. Sanubari sungguh berbakat dalam satu hal itu. Damiyan sampai kecanduan. Sejak pertama kali merasakan masakan Sanubari, Damiyan selalu mengajak Sanubari pulang di setiap kesempatan. Kemudian, dia akan menunggu Sanubari menghangatkan atau membuat hidangan baru.
Akan tetapi, nominal uang yang Sanubari minta membuatnya curiga. Meski Sanubari bilang untuk membeli singkong, Damiyan tetap curiga.
"Tapi, tunggu dulu! Ke mana Sanubari akan membeli?" batinnya.
"Tuan Sanu hanya pinjam untuk membeli bibit tanaman. Mungkin Tuan Sanu hanya ingin menghemat biaya konsumsi. Lagi pula, Anda hanya melarang untuk meminjamkan uang padanya bila digunakan untuk pulang. Jadi, saya pikir tidak masalah kalau begini."
Alfred menjadi tidak enak hati.
"Lain kali, jangan berikan apa pun alasannya!" Usai berkata demikian, Damiyan pamit.
Dia harus memastikan Sanubari tidak merencanakan sesuatu. Langkahnya tergesa. Ketika sampai rumah, Damiyan mendengar gelak tawa.
Suara itu tidak hanya satu. Ada suara lain yang menyelingi suara Sanubari. Damiyan melangkah ke dapur.
"Kak Dami, maaf makanan belum siap!" Sanubari mengangkat kepala. Dia memegang pisau dan kentang. Tangannya terus mengupas kentang selagi mata melihat Damiyan sambil tersenyum. "Duduklah sebentar! Oh, iya, ini Kakek Ansel!"
Damiyan melihat pria berpakaian putih yang duduk memunggungi. Damiyan berjalan mendekat. Si pria berpakaian putih sedang makan. Dia menoleh pada Damiyan yang mengambil kursi kosong.
"Salam kenal, Nak! Jadi, kau saudara laki-laki Sanu?" Anselmus tersenyum.
Sanubari lekas menyahut, "Saudara perjalanan. Kami tidak memiliki ikatan darah, tapi aku akan senang bila menambah saudara seperti Kak Dami."
"Wah, aku baru tahu kau menganggapku seperti itu Sanu. Selama ini, aku tidak tahu kita ini apa. Hm, tapi, bolehlah, kuterima tawaranmu menjadi saudara." Damiyan tersenyum mengeluarkan ponsel.
Dia akan menganggap ini sebagai istirahat makan siang. Selain itu, dia bisa menyusun laporan untuk Aeneas sambil menunggu makanan jadi. Damiyan menerbangkan Mosan. Dia mulai merekam momen diam-diam.
"Wah, kalau begitu, biar aku yang menjadi kakek kalian!"
"Yay! Kakek baru! Kakekku sudah meninggal. Senang rasanya punya kakek baru!" Sanubari mencuci kentang.
Yang dimaksud Sanubari tentu ayah Sanum. Sanubari tidak begitu mengenal keluarga Aeneas. Yang dia tahu dari pihak Aeneas hanyalah seorang nenek.
"Ngomong-ngomong, berapa usiamu, Kek?" tanya Damiyan.
"Kalian pasti tidak akan percaya bila kukatakan yang sesungguhnya." Anselmus tersenyum misterius.
Tidak peduli berapa kali pun Sanubari dan Damiyan membujuk, Anselmus enggan berterus terang. Akhirnya, mereka menyerah, lalu menyantap hidangan dengan tenang. Setelahnya, Anselmus pergi membawa semua makanan yang tersisa.
"Malam nanti, apa menu kita, Sanu?" Damiyan mengirimkan laporan sembari menunggu Sanubari selesai mencuci.
__ADS_1
"Kita makan di rumah Kakek Fang saja."
"Kenapa tidak masak sendiri?"
"Kita kehabisan bahan makanan."
"Belilah kalau begitu!"
"Tidak punya uang. Semua uangku sudah kuberikan pada Kakek Ansel." Sanubari menyengir tanpa dosa. Dia mengelap tangan yang basah
"Sanu, kau sungguh terlalu! Kau berikan semua makanan, uang dari berutang, lalu uangmu sendiri pada orang yang baru kau kenal?" Damiyan mendengkus, "aku akan bilang pada Kakek Fang untuk tidak mengizinkanmu makan di rumahnya jika kau masih saja gagal hari ini."
Damiyan meninggalkan Sanubari. Entah mengapa, Damiyan kesal. Dengan Sanubari yang seperti itu, Damiyan memang bisa lebih mudah mendekati Sanubari. Di saat yang bersamaan, itu mengkhawatirkannya.
"Bagaimana bila suatu saat dia bertemu orang yang mengaku-aku sebagai kenalan ayahnya, lalu mengatakan bahwa Aeneas bukanlah ayah kandungnya, melainkan penculik yang berpura-pura menjadi ayahnya dan membunuh ayah kandungnya?" Damiyan harap skenario semacam itu tidak akan pernah terjadi, "anak itu sungguh mudah diadu domba dan memiliki banyak celah."
Jika itu benar-benar terjadi, Damiyan pun bisa-bsa turut dimusuhi. Damiyan menarik napas dalam dan menutup mata. PR-nya sungguh banyak. Dia seperti sepotong empal di tengah-tengah roti burger. Kalau dia sampai gagal mengurus Sanubari, Aeneas akan **********. Posisinya bisa enak, bisa pula tidak menyenangkan.
Sementara itu di rumah, Sanubari mematung. "Memang apa salahnya dengan berbuat baik,? Lagi pula, yang seribu dolar juga tidak kuberikan cuma-cuma kok."
Sanubari tidak mengerti mengapa Damiyan mendadak marah. Namun, setelah merenung lama, pemikirannya bermuara pada kesimpulan. "Aku mengerti. Kak Dami pasti iri dengan Kakek Ansel yang bisa menghabiskan dan membawa banyak makanan kami. Sedangkan selama ini, kami harus menghemat makanan karena gajiku yang kecil. Kalau gaji sudah terkumpul, aku harus mentraktir Kak Dami untuk menebus kesalahan."
Sanubari mengangguk. Dia sangat yakin spekulasinya tepat. Kemudian, dia berlari menuju ruang olahraga bawah tanah.
Fang dan Damiyan tlah menunggu. Tanpa basa-basi, Sanubari mulai latihan rutinnya. Tiga jam berlalu, tapi lagi-lagi kegagalan yang diperolehnya.
Sanubari duduk di lantai bersandar sofa, beristirahat sejenak. "Aku sudah bisa memukul bola tiga kali berturut-turut. Itu kemajuan yang luar biasa!"
"Tiga bola dan kau anggap itu luar biasa?" Damiyan tertawa mengejek.
"Ini susah tahu! Memangnya, siapa yang bisa memukul 10 bola lebih yang dilontarkan hampir bersamaan dengan kecepatan tinggi?"
"Ayahmu bisa, Sanu," jawab Fang.
"Setelah kupikir-pikir, Kakek Fang pasti bohong, kan?"
"Aku serius. Ayahmu bahkan bisa menghentikan laju peluru hanya dengan nampan atau pisau."
"Mana mungkin ada manusia yang secepat itu?"
Penyangkalan Sanubari membuat Damiyan semakin kesal. Ketika didekati dengan kebaikan atau kemelasan, mudah sekali Sanubari mempercayai orang lain. Tapi, ketika disuruh belajar, ada saja alasan untuk mangkir atau memperoleh keringanan.
"Akan kutunjukkan jika kau tidak percaya." Damiyan berdiri.
"Kak Dami bisa?"
__ADS_1
"Ayo ikut aku!" ajak Damiyan.
Mereka masuk ruangan. Damiyan mengambil pemukul, lalu menunjuk satu arah dengan pemukul.
"Kau berdiri di sana! Perhatikan aku baik-baik!" Damiyan maju. Dia berada di depan Sanubari sedikit menyerong. Kakek Fang, aku siap!"
Bola menyembur dari seberang, sebagian mengarah ke Sanubari. Namun, tak satupun mengenainya. Bunyi berkelotak mengudara tiada henti.
"Ini lebih lambat dari laju peluru." Damiyan bergerak sangat cepat.
Bola-bola memantul. Mata Sanubari terbuka lebar penuh kekaguman. Tatapan itu hampir serupa dengan tatapan Damiyan ketika pertama kali melihat Aeneas menangkis peluru dengan pedang.
"Yang perlu kau lakukan adalah melihat jalan bola. Dengan begitu, kau akan tahu bola mana yang akan tiba lebih dahulu. Arahkan pemukul ke arah sana terlebih dahulu! Selanjutnya, tingkatkan kecepatan untuk mengejar bola berikutnya! Kau tidak akan pernah bisa memukul dengan benar bila terus-terusan bergerak asal."
Damiyan terus berbicara sambil memukul. Kendati demikian, tiada satu pun pukulannya yang meleset.
"Cukup!" Fang menghentikan tembakan bola. "Kalian berdua, keluarlah! Waktunya makan."
Sanubari mengikuti Damiyan dalam diam. Sumiati berdiri bersama Fang di luar ruangan. Gadis itu baru saja menyampaikan bahwa makan malam telah siap. Ketika berada di hadapan mereka, Sanubari berkata, "aku di sini saja."
"Bukannya kau sudah tidak punya bahan makanan di rumah?" Fang mengernyit.
"Hari ini, aku gagal lagi." Sanubari tertunduk.
"Oh, abaikan saja perkataan Iyan. Kau perlu makan untuk melanjutkan latihan dan bekerja besok. Jadi, aku akan berbaik hati padamu karena aku sendiri butuh tenagamu." Fang terkekeh merangkul Sanubari.
Namun, Sanubari menggeleng. "Aku ingin di sini, berlatih sedikit lebih lama. Kalian pergilah!"
Fang menoleh pada Sanubari. Sebenarnya, dia kasihan. Dia juga tidak ingin mengeksploitasi tenaga orang tanpa memberikan makanan. Namun, dia juga tidak ingin kembali ketergantungan terhadap bantuannya karena terbiasa.
Itu hanya akan melemahkan mental Sanubari. Fang paham akan konsekuensi itu. Kelembutan harus ditarik ulur supaya tidak terkesan memanjakan. Segalanya akan baik bila pada porsinya. Jadi, Fang tidak memaksa lebih jauh.
"Baiklah kalau itu maumu." Fang melepaskan rangkulan.
Dia pergi bersama Damiyan dan Sumiati. Selepas makan, Damiyan berbincang dengan Fang. Dia pulang agak larut. Namun, Sanubari belum juga pulang. Kamarnya masih kosong. Di ruangan lain pun juga tidak ada.
Damiyan mandi. Ketika baru saja membaringkan tubuh ke kasur, ponselnya berbunyi. Dengan malas, dia mengangkat.
"Halo!"
"Dami, ada sedikit tugas untukmu. Bawa Kakek beralis panjang yang makan siang bersama kalian tadi siang ke depan Tuan Aeneas!"
"Maksud paman, Kakek Ansel?"
"Iya, bawa dia kemari! Jangan sampai kabur di tengah jalan!"
__ADS_1
"Paman Kelana, bagaimana aku bisa membawanya pada kalian, sedangkan dia saja sudah pergi dari rumah kami?"