
Sai, Renji, dan Sanubari ikut menatap Abrizar. Lelaki berkacamata hitam tersebut mendadak menjadi pusat perhatian. Entah mengapa, Sanubari seakan ingin menangis setelah mendengar dugaan Eiji. Ada yang terasa aneh di dadanya, tetapi dia tidak tahu apa.
"Kami hanya berteman," jawab serempak Anki dan Abrizar.
"Teman? Tapi kalian terlihat mesra. Pegang-pegang tangan," cecar Eiji masih melihat ke tangan Anki dan Abrizar.
Anki menarik tangannya, lalu menjelaskan, "Kak ABRI ini tidak bisa melihat. Aku hanya membantunya supaya tidak kesulitan mengambil sendiri. Dia juga teman Sanu. Ah, benar juga. Kalian berdua belum berkenalan dengan benar, bukan? Ayo kenalan dulu!"
Eiji dan Abrizar pun melakukan perkenalan singkat. Hanya menyebutkan nama panggilan masing-masing tanpa tambahan apa pun. Selanjutnya, Eiji kembali bertanya, "Kalian berdua tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"
"Tentu tidak. Kami serius hanya berteman. Hm, supaya adil, aku akan memotong kan kue untuk kalian semua," tegas Anki mulai mengambil pisau kue. Dia memotong kue yang tersisa menjadi beberapa potong. Setelah diambil delapan potong seukuran, masih ada setengah yang tersisa.
"Baguslah kalian tidak ada hubungan lebih. Itu artinya aku masih ada kesempatan. Iya 'kan, Anki Chan?" goda Renji mengedipkan sebelah mata.
"Kak Ren bukan tipeku," tolak Anki sembari menunjuk lelaki itu dengan garpu kuenya.
"Aw, sakit rasanya ditolak mentah-mentah," balas Renji mendramatisasi keadaan.
Kouhei tertawa. Dengan penuh percaya diri, dia menimpali, "Tentu saja dia menolakmu karena Anki sudah diam-diam menyukaiku."
"Kalian berdua sama saja. Aku tidak suka perayu seperti kalian," sanggah Anki.
Sanubari diam menikmati kuenya. Sesekali dia menggerakkan kursi putar yang didudukinya di sebelah Anki. Remaja itu memikirkan Abrizar dan Anki. Keduanya memiliki waktu bersama lebih banyak dibandingkan dirinya. Tidak mustahil bila suatu saat mereka menjadi saling suka.
Untuk maengalihkan pikiran, Sanubari memilih untuk meresapi rasa kue, lalu berkomentar, "Ini enak. Lembut, tidak terlalu manis, ada sedikit rasa pahit juga. Kombinasi yang sangat pas."
Gumaman itu terdengar oleh Anki yang sedang bercanda dengan yang lain. Gadis itu pun menoleh dan menanggapi, "Itu selera Kak Eiji. Dia suka dark cokelat. Semua masakan hari ini pun kesukaan kak Eiji."
Anki meletakkan piring kue yang tinggal menyisakan remah. Dibantu Sai, dia membongkar tumpukan kotak, menjajarkan ya di meja. Labu krispi goreng, karaage, udang goreng tepung, saling bersandingan dengan nasi.
"Lain kali, buatkan juga kesukaanku!" pinta Kouhei.
__ADS_1
*****
Selesai makan bersama, Eiji menyuruh Sanubari untuk mengantar Anki pulang. Eiji tidak pernah membiarkan Anki pulang sendirian tiap kali dari Onyoudan. Biasanya, dia menyuruh Sai untuk menemani adiknya.
Berhubung sekarang ada Sanubari yang tidak akan terlalu membantu bila tetap di kantor, Eiji memilih Sanubari untuk keluar. Setidaknya, kemampuan beladiri Sanubari akan lebih berguna untuk melindungi Anki.
Sanubari, Anki, dan Abrizar berjalan kaki menuju stasiun bawah tanah bersama-sama. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak banyak penumpang dalam kereta Tsurumai Line. Hanya ada mereka bertiga, dua pria duduk tak jauh dari mereka, dan seorang wanita.
"Kalian yakin mau ikut turun bersamaku?"
"Tentu saja. Itu mandat kak Eiji. Kami harus memastikan kau sampai ke rumah dengan aman," jawab Sanubari gang memandang lurus pada bayangan ketiganya di kaca kereta.
[Mamonaku Sonae Doori. Sonae Doori. Odeguchi wa ....]
Pengumuman kereta akan segera tiba di stasiun Sonaedoori terdengar. Ketiganya bersiap-siap. Lima orang turun begitu kereta berhenti sempurna.
Mereka masih harus berjalan kaki selama tiga belas menit untuk sampai ke rumah Anki. Sanubari dan Abrizar pergi setelah Anki masuk rumah dan mengunci pintu. Dua pria berdiri di depan pagar setelah Sanubari dan Abrizar meninggalkan tempatnya.
Mereka memperhatikan plakat nama sejenak, lalu mengambil gambar. Keduanya saling pandang dan mengangguk sebelum pergi.
*****
"Tumben Tuan Muda Berdua ada di sini," ucap Eiji yang duduk di hadapan keduanya.
"Aku hanya ikut otousan. Tidak kusangka aku bisa menemukan hal menarik di sini," jawab Kouhei enteng sambil menyeringai.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan perampokan satu Minggu lalu?" tanya Kyouhei mengalihkan pembicaraan.
Eiji menggeleng. "Kami belum bisa menemukan apa pun. Hari itu badai besar terjadi. Anehnya, hanya ruangan brankas saja yang becek. Tidak mungkin pencuri itu meluangkan waktu untuk mengepel wilayah lain. Ini sulit."
"Kupikir kau kemari karena Anki," potong Kouhei.
__ADS_1
"Anki? Oh, jadi kali ini Anki juga mengundang Tuan Muda Kyou?" timpal Eiji.
"Tidak. Tapi itu ...."
"Ini sudah terlalu malam. Sepertinya kami harus pergi supaya tidak mengganggu pekerjaan kalian."
Kyouhei dengan segera menyela. Dia berpamitan dan menyeret Kouhei keluar. Tinggal tersisa tiga orang dalam ruangan.
"Sempai!" panggil Sai setelah suasqna sepi.
"Apa?"
"Tadi tuan Shima datang. Beliau menyuruhmu menemuinya besok pagi jam tujuh di rumahnya."
"Untuk apa?"
"Tidak tahu."
———©———
Google maps sekarang praktis, ya! Mau naik kendaraan pun ada detailnya.
Kalian kalau mau tahu bagaimana lingkungan kerja dan tempat tinggal Eiji kunjungi saja Osu! Hehehe.
Osu itu salah satu pusat perbelanjaan. Kalian bisa menemukan beraneka ragam makanan mulai dari santapan lokal sampai mancanegara. Ada es serut ala Jepang. Ada pula kebab Turki yang dagingnya banyak banget.
Sementara rumah Anki ada di Inou Chou, dekatnya kuil. Kuilnya ada beneran. Di sana ada patung anjing lucu. Tempat Sanubari pertama kali melihat Anki juga ada sungguhan. Termasuk pondok kecil tempat Abrizar dan Sanubari beristirahat setelah mengejar Anki.
Tapi, jangan sekali-sekali mencari Onyoudan di Nagoya ketika kalian berpariwisata ke sana! Soalnya, Onyoudan itu hanya karangan. Pendeta di kuil sebenarnya pun bukan keluarga Shiragami loh, ya! Saya cuma pinjam tempat untuk latar cerita. Hahaha.
__ADS_1
Terima kasih selalu mendukung cerita ini sampai pisode terbaru.
Petualangan Sanubari dilanjut besok, ya!