Santri Famiglia

Santri Famiglia
Syarat Pertama


__ADS_3

"Oke-oke! Aku akan bekerjasama denganmu!" Akhirnya Abrizar dengan sedikit terpaksa luluh juga.


"Sungguh?" Sanubari menyambutnya dengan senyuman lebar penuh keriangan.


"Tetapi dengan dua syarat."


"Apa itu?" tanya Sanubari sangat antusias.


"Akan kuberi tahu besok. Sekarang, keluar dari kamarku dan jangan ganggu aku!"


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Aku sibuk. Cepat keluar atau perjanjian kita batal!"


"Baiklah-baiklAah." Sanubari mengalah.


Ia beranjak keluar dari kamar Abrizar menuju kamarnya sendiri Dalam hati, Sanubari bersorak. Langkah pertamanya untuk merubah dunia berhasil.


Sementara itu, Abrizar menghela napas kesal. Gangguan telah pergi dari kamarnya, tetapi sambungan dengan Aeneas terputus. Padahal mereka sedang berada di tengah-tengah negosiasi.


Tidak hanya itu, gara-gara keributan tadi, programmer BGA berhasil menendangnya dari sistem. Malam ini Abrizar gagal total. Ia kehilangan mood untuk mengulang dari awal.


Di lain tempat masih dalam satu negara.

__ADS_1


"Kami berhasil melumpuhkan Frosty Sky. Semuanya aman. Tidak ada data yang hilang maupun dicuri," lapor salah seorang peretas dari seberang telepon.


"Bagus! Tetap siaga! Tidak biasanya serangan Frosty Sky sesingkat ini," balas Kelana yang kemudian menutup telepon.


Ini terlalu dini untuk merasa tenang. Biasanya serangan Frosty Sky sulit dikendalikan, tidak akan berhenti sebelum ia mendapat apa yang diinginkannya.


Sementara itu, Aeneas duduk termenung di kursi kerjanya, memikirkan isi pembicaraannya dengan Frosty Sky. Bukan masalah penghentian penyelundupan senjata dan miras yang menjadi fokusnya, tetapi permintaan peretas itu untuk melepaskan Sanubari.


"Apa hubungan Sanu dengan Frosty Sky?" Gumam Aeneas dalam hati.


Sambungan mendadak terputus saat ia hendak menanyakan perihal ini. Dari cara Frosty Sky meminta, Aeneas bisa tahu bahwa Sanubari tidak bersamanya sebagai Sandra. Kemudian, ia teringat bahwa Sanubari sekarang sedang berada di rumah seorang tuna netra.


"Lan!" panggil Aeneas yang kemudian mengangkat kepala, menatap Kelana.


"Saya baru saja menghubungi Damiyan. Tuan muda Sanu masih di rumah itu. Aman," jawab Kelana yang seolah bisa membaca pikiran Aeneas.


"Entahlah," Kelana mengedikkan bahu, "dia tidak terdengar seperti memanfaatkan tuan muda untuk mengancam Anda, Tuan Aeneas. Saya pun tidak tahu bagaimana bisa Frosty Sky mengetahui tentang tuan muda. Mungkinkah dia sengaja menipu kita untuk mengorek informasi lebih dalam tentang tuan muda? Saya tidak yakin apa pastinya."


Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Kelana yang ikut mendengarkan percakapan Aeneas dengan Frosty Sky sebelumnya turut pusing memikirkan masalah ini. Sama halnya dengan Aeneas, ia juga khawatir terjadi apa-apa dengan Sanubari. Mereka terdiam di meja masing-masing.


*****


Pagi berikutnya, Sanubari sangat bersemangat menyantap sarapannya. Ia sampai memaksa Abrizar memakan nasi goreng buatannya, padahal pria itu tidak terbiasa sarapan dengan nasi.

__ADS_1


"Ini nasi goreng apa orak-arik telur sih?" gumam Abrizar begitu mengunyah makanan yang katanya nasi goreng, tetapi dominan telurnya.


"Nasi goreng spesiallah."


"Kok isinya cuma telur?"


"Telurnya dua puluh butir, nasinya dua piring." Sanubari tertawa cengengesan.


"Astaga! Anak ini suka sekali mengosongkan isi kulkas," batin Abrizar setengah terperanjat.


Seumur-umur dirinya belum pernah memakan lebih dari dua telur ayam dalam sehari. Sanubari telah membantunya memecahkan rekor hidup. Rekor sarapan dengan nasi untuk pertama kali, rekor memakan dua puluh telur dalam sekali makan. Lebih tepatnya sepuluh karena makanan tersebut dibagi dua porsi. Entah rekor apa lagi yang akan dia pecahkan gara-gara rekan serumahnya ini.


"Jadi, syarat apa yang Kakak bilang kemarin malam?" tanya Sanubari sambil menjilati sisa bumbu di piring dengan jari.


"Habiskan dulu makananmu! Setelah ini kita lakukan."


"Sudah!" Sanubari mengangkat piringnya yang licin tanpa menyisakan nasi dan remah barang sebutir pun, menunjukkannya ke wajah Abrizar. Sepertinya ia lupa lagi kenyataan bahwa Abrizar tidak bisa melihat.


Usai mencuci bekas sarapan, Abrizar mengajak Sanubari ke halaman belakang rumah. Ia meraba-raba meja yang terdapat di teras belakang. Begitu ketemu, dilipatnya tongkat yang membantunya berjalan lalu ia letakkan tongkat ke atas meja. Setelahnya, Abrizar berjalan ke tanah berumput tanpa alas kaki.


"Kemarilah!" perintah Abrizar yang sudah berdiri di halaman cukup lapang.


Terlihat beberapa kali Abrizar menghentakkan kaki kanan dengan tumit terangkat. Setiap bunyi sampai yang terlirih tidak luput dari telinga pemuda itu. Pendengarannya memindai kondisi sekitar dengan seksama.

__ADS_1


"Masih sama," lirik Abrizar.


Sanubari tidak mengerti mengapa Abrizar mengajaknya ke halaman belakang. Tidak ada apa pun di sini, kecuali pepohonan rindang dan tanaman pagar yang mengitari halaman. Sanubari menghampiri Abrizar sembari bertanya, "Apa Kakak ingin aku membersihkan halaman ini setiap hari sebagai syarat pertama? Ini sih gampang. Aku suka berkebun! Kalau boleh, aku mau tanam singkong juga supaya halaman luas Kakak ini lebih bermanfaat!"


__ADS_2