
Udara di pelabuhan cukup dingin. Angin yang berembus dari laut memberantakkan rambut Damiyan. Lelaki itu merapatkan jaketnya, berjalan dengan kedua tangan tersembunyi dalam saku jaket.
Dia telah menunjukkan wajah pada Sanubari dan kawan-kawannya. Tentu, dia harus lebih berhati-hati lagi saat bergerak. Dia baru bisa mendekati pelabuhan sekitar dua jam setelah kapal berlayar. Tepat ketika jam tangannya menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Pelabuhan tampak sepi. Meiwa Spirit menjadi satu-satunya kapal kargo yang mengarungi lautan dari Nagoya Port dini hari itu. Damiyan langsung menuju ke sebuah gedung.
Dia sudah pernah ke sini sebelumnya—ketika membuntuti Sanubari pada misi percobaan pertama sebagai anggota Onyoudan. Langkahnya terayun pasti, menuju sumber informasi akurat menurut prediksinya.
Sepuluh menit berjalan, dia sampai ke gedung yang dicarinya—gedung yang pernah dijadikan lokasi penyekapan Kouhei sebelumnya. Dilihat dari permukaan, gedung tersebut tampak seperti gedung biasa.
Gedung sepuluh lantai dengan tambahan dua lantai bawah tanah yang bisa diakses umum. Lantai dua bawah tanah merupakan stasiun. Sementara lantai satu bawah tanah hingga lima merupakan fasilitas umum. Termasuk pusat perbelanjaan, restoran, permainan, dan lainnya. Dua lantai teratas dan dua terbawah merupakan area terlarang untuk orang awam.
Kali ini, Damiya tidak mengunjungi area terlarang tersebut. Dia memasuki pusat informasi yang ada di lantai satu. Hanya satu itu yang masih menyala terang di antara kios-kios yang masih dalam waktu istirahat. Dia berdiri tepat di depan meja layanan.
"Irasshaimase! Douzo osuwari kudasai!" Karyawati menyambutnya dengan ramah, mempersilakannya menempati kursi kosong.
Damiyan tidak mengerti makna bahasa Jepang itu, tetapi dia duduk sesuai perintah. Otaknya menalar apa yang ada di hadapan. Meja yang cukup rendah, kursi yang disediakan, serta wanita yang duduk, itu artinya dirinya juga harus duduk.
Ketika karyawati itu bertanya tentang apa yang bisa dibantu pun Damiyan tidak mengerti. Namun, dia bertanya sebagai jawaban, "Ke mana tujuan kapal tadi berlayar?"
"Kapal yang mana?"
"Yang berangkat sekitar pukul setengah dua tadi."
"Maaf, tidak ada kapal yang berlayar malam ini." Karyawati itu tampak tenang.
"Aku tahu ada yang berlayar petang tadi. Aku dan saudaraku berencana menumpang, tetapi aku terlambat. Untuk menyusulnya, aku harus tahu pasti tujuan kapal tadi."
Karyawati itu tampak memperhatikan keseriusan Damiyan. Dia tidak boleh membocorkan informasi sembarangan. Sejenak, dia melirik ke sekitar.
"Apa Anda berniat untuk menjadi imigran gelap?" Dia ingin memastikan dugaannya guna menghilangkan keraguan.
Damiyan mengangguk sebagai tanggapan. Meski bukan itu tujuannya, yang penting dia mendapatkan informasi.
__ADS_1
"Perusahaan kami memang melayani jasa seperti itu, tapi tidak ada kapal kargo lain yang akan berlayar malam ini. Satu lagi dijadwalkan ke tujuan yang sama Minggu depan." Karyawati itu dengan cekatan mengoperasikan komputer. Layar di hadapannya langsung menampilkan jadwal pelayaran.
"Katakan saja ke mana tujuannya! Aku akan mencari cara lain untuk menyusul. Aku tidak bisa menunggu selama itu."
"Setiap informasi kecil dari perusahan kami berharga sepuluh ribu Yen." Karyawati itu tersenyum dan bergegas mematikan komputer.
Damiyan merasa kesal dalam hati. Tidak disangka, dia akan menjadi korban pemerasan. Namun, dia memilih untuk menurut demi memperoleh informasi lebih cepat.
Selembar uang kertas diserahkannya pada karyawati itu. Tidak masalah kehilangan uang sekitar satu juta rupiah lebih. Toh, jika perbekalannya habis, dia bisa meminta lagi kepada Aeneas.
"Kapal kargo Meiwa Spirit yang berangkat dini hari tadi berlayar menuju Cina." Karyawati itu tersenyum. Dia menyimpan uang dari Damiyan.
"Cina?" Dahi Damiyan berkerut-kerut, memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Benar." Karyawati itu mengangguk.
"Apa kalian tidak salah? Mengirim kapal ke Cina dalam kondisi seperti ini?" Damiyan menggebrak meja. Intonasinya meninggi.
Ayunan kakinya sangat cepat. Dia berlari sambil memikirkan Cara menyusul Sanubari dengan cepat. Pikirannya membuncah.
"Sial! Kuharap perang dingin itu belum ber-revolusi menjadi lebih ganas!"
Sanubari dalam bahaya. Negeri Panda itu tidak sedang dalam kondisi aman. Akan sangat berbahaya berkunjung dalam waktu dekat.
Kemungkinan besar penerbangan pun pasti ditiadakan untuk sementara waktu. Andaipun ada pesawat konvensional yang terbang ke sana, itu akan sangat berisiko. Damiyan kebingungan.
Tidak lama kemudian, dia sampai ke lokasi mobilnya terparkir kembali. Dia mengatur napas sejenak.
"Apa boleh buat. Aku harus melaporkan ini kepada Bos Aeneas." Damiyan mengacak rambutnya.
Dia mengambil ponsel, melakukan panggilan grup yang hanya berisi tiga orang. Dalam dua deringan, telepon tersambung.
"Bagaimana keadaan Sanubari di sana?" Begitulah pertanyaan pertama Aeneas ketika melihat Damiyan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pula salam.
__ADS_1
"Gawat!" Damiyan mendesah pasrah.
"Apa maksudmu?"
"Dia menuju ke Cina. Aku tidak bisa satu kapal dengannya karena kami sudah saling kenal. Akan terlihat mencurigakan bila kani bertemu tanpa sengaja berturut-turut."
"Ini benar-benar bahaya, Tuan Aeneas! Bukankah Cina dan Mongolia sedang berkonflik? Tuan muda Sanu masih sangat muda. Saya khawatir tuan muda tidak tahu harus berbuat apa bila terjebak dalam kondisi seperti itu."
"Kenapa kau biarkan dia pergi ke sana?" Aeneas murka.
"Di Jepang sendiri konflik internal mulai pecah'. Mereka menumpang kapal kargo keluar Jepang untuk menghindari kekacauan di sini," jelas Damiyan berdasarkan hasil curi dengarnya.
"Kirimkan lokasi tuan muda! Kami akan mengirim pasukan untuk menjemputnya." Kelana mengambil inisiatif.
Nyawa tuan mudanya sedang dipertaruhkan. Kelana yakin Aeneas sebagai ayah pun akan menyetujui rencananya.
"Tidak perlu sejauh itu, Paman!"
"Tuan muda sedang dalam bahaya. Tentu kita harus melakukan ini. Kudengar, dua hari yang lalu mereka mulai mengangkat senjata." Kelana cukup tahu informasi ini.
Laporan transaksi BGA biasanya disampaikan padanya untuk diteruskan kepada Aeneas. Dari laporan tersebut, Kelana tahu bahwa BGA memasok senjata pada kedua belah pihak yang sedang berkonflik.
"Di Hokkaido ada pangkalan militer Amerika. Kurasa, itu bantuan terdekat yang bisa kita peroleh. Hubungkan aku dengan mereka bila Paman berhasil meminta bantuan mereka!"
Saran Damiyan itu menjadi akhir dari diskusi. Kelana dan Aeneas memutus sambungan.
Langit mulai tampak kekuningan. Damiyan memilih untuk memejamkan mata sejenak. Misinya mungkin akan membuatnya jarang tidur. Dia harus pandai mencuri waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Bantuan mungkin akan tiba sekitar tiga atau empat jam lagi. Itu waktu yang cukup untuk memejamkan mata sejenak.
Lebih singkat dari dugaan Damiyan. Dalam dua jam, jet tempur telah mendarat di bandar udara. Damiyan hanya beristirahat satu jam. Setelahnya, dia harus memacu mobil ke bandara.
Kini, dia telah berada dalam jet tempur yang siap mengudara kembali. Dia membawa seluruh barangnya yang hanya satu ransel.
__ADS_1