Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mata Porselen


__ADS_3

Malam kian larut. Kapal kargo BGA melaju dengan kecepatan stabil, mengarungi Samudra Pasifik.


Di salah satu kabin kapal mahabesar itu, Mikki duduk di atas ranjang, membaca sebuah novel. Ranjang di sebelahnya berkeriut. Dia menoleh. Rekan sekamarnya belum tidur.


"Aku baru tahu kau hobi mengoleksi bola mata." Pandangan Mikki terarah pada bulatan di tangan Lance.


"Itu bukan hobiku." Lance bangkit. Dia mengocok-ngocok bola mata di samping telinga.


"Tidak perlu malu mengakuinya." Mikki bisa maklum itu. Terlebih lagi, Lance adalah dokter yang mengambil spesialisasi forensik dan dalam masa magang di kepolisian. Bergelut dengan tubuh manusia pasti sudah menjadi hal lumrah bagi si dokter.


"Sudah kubilang bukan!" tegas Lance, berhenti mengguncang bola mata.


Dia kembali memperhatikan bola mata dalam genggaman. Tidak ada bunyi apa pun dari mata tersebut. Jempol Lance mengusap bagian hijau bola mata. Bagian itu halus. Sama sekali tidak ada cacat pada mata yang telah keluar dari rongganya itu.


"Itu bukan hal yang memalukan kok," kata Mikki lagi, kembali membaca buku.


"Aku hanya penasaran dengan bola mata ini. Aku mencoba membedahnya tadi, tapi sama sekali tidak bisa digores," ungkap Lance. Bola mata di tangan bak sebutir misteri di mata Lance.


Mikki tertawa. "Makanya, rajinlah mengasah pisau bedahmu supaya tidak tumpul!"


"Aku serius!"


"Mana mungkin mata itu sekeras itu! Jarum bius Liunaa saja bisa menembusnya." Mikki semakin tergelak.


"Tidak ada bekas tusukan. Kau periksa sendiri saja jika tidak percaya!" Lance mengulurkan mata pada Mikki.


Begitu bola mata didekatkan, aroma timun tercium hidung Mikki dengan jelas. Dia mengendus bola mata tersebut. Kesegaran timun menguar kuat dari organ itu.


"Pantas saja dari tadi ada aroma timun," pikirnya, padahal tidak ada timun di kabin yang mereka tempati saat ini.

__ADS_1


Kali ini, giliran Lance yang tergelak menertawakan Mikki. "Hobimu bahkan lebih aneh, Mikki! Aku baru tahu kalau kau punya Fetis menciumi bola mata manusia."


Mikki menggeleng. "Itu karena mata ini memiliki aroma lain, bukan karena hobi. Kau mencucinya dengan sabun timun?"


Bola mata Sanubari sungguh licin. Permukaannya selicin porselen. Mikki memutar-mutarnya. Bekas tusukan sebelumnya sungguh tiada.


Tatapan Mikki memicing. Dia melihat sendiri bahwa jarum bius benar-benar menancap. Itu pula yang menyebabkan mata Sanubari berdarah, lalu copot dari tempatnya. Anehnya, pada bola mata yang dikenalinya sebagai milik Sanubari ini sekarang, jangankan goresan, lubang sekecil ujung jarum saja tidak ada.


"Itu aroma alami setelah kucuci dengan air keran tanpa sabun. Aneh, kan? Seharusnya, itu berbau amis, tapi kenyataannya tidak sama sekali," terang Lance.


Mikki mengembalikan mata pada Lance. "Ini pasti akal-akalanmu!"


"Akal-akalan apa?"


" Ini pasti hanya mata manekin yang kau semprot pewangi," sangkal Mikki. Kejadian mata melompat sudah cukup di luar nalar baginya. Logikanya seakan enggan menerima fakta yang lebih abnormal.


"Kalau memang kebal, lalu kenapa matanya bisa berdarah-darah seperti tadi?"


"Itu pertanyaannya." Lance membuang napas panjang, "andai aku tahu polanya ... dia bisa saja menjadi perisai tangguh bila dilatih dengan benar. Berbicara soal itu, apa kau tidak berminat menariknya masuk menjadi anggota?"


Mikki merebahkan tubuh ke kasur. Dia meletakkan buku ke atas dada.


Sementara itu di kabin tawanan, Sanubari dan Sai melipir ke bagian terdalam, bersandar pada dinding lambung. Kepala Sanubari tidak nyaman dibaringkan. Matanya tidak berdarah lagi, tetapi masih berdenyut nyeri, menjalar ke dalam sampai menyebabkan pening.


Mereka saling diam. Tangan Sai telah diikat lagi. Salah satu tawanan membantunya mengikat dengan tali putus yang sudah disambung.


Semalaman, Sanubari merenungkan perkataan Sai. Benarkah dirinya seperti itu? Sanubari membayangkan diri sendiri selama ini. Perlahan, dia menyadari betapa manjanya dirinya selama ini. Keberaniannya hanya muncul musiman, seperti ketika harus menjalani ujian masuk Onyoudan. Itu pun karena desakan Abrizar dan Eiji.


Selebihnya, Sanubari hanya bertingkah selayaknya anak kecil yang berani karena menganggap semua sebagai permainan dan kesenangan. Sanubari mengakui itu. Namun, Sanubari tidak bisa membuang sisi itu. Sanubari masih butuh jiwa bebas anak-anak yang bisa mengambbil langkah tanpa gentar dan terbebani kekhawatiran berlebih.

__ADS_1


Yang perlu Sanubari buang jiwa penakutnya. Dia hanya kehilangan sebelah mata. Sanubari berusaha menanamkan bahwa itu bukan apa-apa dibandingkan yang masih dimilikinya saat ini. Yang lebih utama, Sanubari masih hidup, dirinya masih punya kaki dan tangan yang bebas bergerak, mata kanan pun masih bisa melihat dengan jelas.


Kendati demikian, rasa was-was belum bisa Sanubari lenyapkan sepenuhnya. Dia mencemaskan bagaimana masa depannya. Dia juga semakin takut saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk.


Tanpa terasa, malam pun berlalu. Langit hitam telah kembali menjadi biru. Lance, Mikki, dan seorang anggota pembawa makanan berjalan nenyusuri koridor.


Mikki ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri keanehan yang dimaksud Lance. Oleh karena itu, dia mengikuti Lance yang akan mengganti perban Sanubari.


Darah Sanubari terlampau banyak hari sebelumnya. Dalam kondisi seperti itu, perban harus sering diganti. Lance sendiri penasaran Sanubari masih hidup atau tidak. Pasalnya, darah yang menggenang hari sebelumnya tidak main banyaknya.


Tidak seberapa lama, mereka sampai ke tujuan. Lance membukakan pintu. Si pembawa makanan masuk terlebih dahulu, disusul Mikki, lalu Lance.


Ketika makanan dan minuman dibagikan, Lance duduk di sebelah Sanubari. Peralatan diletakkan tidak jauh darinya. Dia melepaskan perban dan plester. Mikki berdiri, memperhatikan keduanya.


Saat penutup mata berlumur darah terlepas sepenuhnya dan kelopak mata Sanubari terbuka, Lance mematung. Mikki pun tercengang.


Sanubari berusaha membuka-tutup kelopak matanya. Itu terasa lengket. Sanubari paham itu kemungkinan karena darah yang mengering. Namun, ada hal lain yang Sanubari sadari. Pandangannya meluas.


Sanubari lantas memejamkan mata kanan. Dia tetap bisa melihat. Dia mengulanginya. Hasilnya, dia tetap bisa melihat.


"Mataku kembali?" Sanubari tertawa ragu.


Sementara Mikki dan Lance merasa seperti baru saja diempaskan logika. Pendarahan Sanubari berhenti total. Normalnya, mata setelah operasi akan kemerahan. Namun, mata Sanubari begitu jernih. Bekas tusukan peluru bius yang ditembakkan Liuna pun tidak tampak.


Walau Mikki berpikir bisa saja Lance yang telah menjahit mata itu pada tempatnya, rasa-rasanya mustahil Sanubari bisa pulih secepat itu. Kedua mata beriris hijau itu tampak tanpa cacat.


Yang lebih terguncang logikanya adalah Lance. Dia yang merawat Sanubari. Dia pula yang mengambil mata Sanubari. Rongga mata itu seharusnya kosong. Lance ingat bahwa bola mata yang menggelinding di hari sebelumnya disimpannya di laci kamar.


Otak Lance terasa seperti barusaja diputar-putar. Kepalanya mendadak pening. Dia berdiri, melangkah pergi tanpa membawa peralatan. Saking terburu-burunya dan setengah melamun, Lance sampai menabrak dinding. Bunyinya cukup keras. Semua orang sampai memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2