
"Meskipun ini alam liar, sebaiknya tidak mengambil apa pun bila tidak terdesak. Bisa jadi ini semua sengaja ditanam oleh suku asli pedalaman. Itu sama artinya kita mencuri bila memetiknya tanpa izin, kan? Apalagi, kudengar dari Paman Fukai kalau tanaman-tanaman ini terawat," jelas Abrizar.
Sanubari cemberut, mendesah kecewa bercampur kesal, terus mengikuti Abrizar dengan bertelanjang kaki. Sepatu dibawanya di tangan kanan dan kiri. Kebun kiwano sangat luas. Lebih dari satu kilometer dari titik awal mereka, tanaman merambat itu masih membentang.
Pada kilometer berikutnya, sembilan akar-akar raksasa menyambut mereka. Ketiganya harus berhati-hati, menapaki jalinan akar yang menutupi tanah.
Sanubari dan Fukai mengernyit, menatap jalan di hadapan. Akan tetapi, Abrizar tetap maju dengan tertatih.
"Kak Abri, di depan jalan buntu," ucap Sanubari.
Dia pikir Abrizar tidak tahu karena tidak bisa melihat. Jadi, lelaki itu tetap bergerak maju. Padahal, di arah yang mereka tuju tidak ada apa-apa. Kecuali, batang pohon raksasa yang tak ubahnya dinding penghalang. Di kanan dan kiri mereka pun akar kian meninggi sampai-sampai bisa di jadikan untuk sembunyi.
Salah satu yang mendekati batang bahkan ada yang mencapai ketinggian tiga meter. Pohon itu benar-benar besar. Sanubari sampai berputar-putar mendongak. Tidak ada cahaya matahari yang bisa menyelusup di antara celah dedaunan. Tempat itu sangat teduh.
"Kita berjalan ke arah yang benar," balas Abrizar.
Sesuai navigasi pada ponsel, mereka sama sekali tidak melenceng. Titik itu makin dekat. Kurang dari sepuluh meter, mereka akan tepat tiba pada titik tujuan.
"Kami bisa melihatnya. Apa Kak Abri meragukan penglihatan kami? Di depan hanya ada batang pohon. Tidak ada jalan lagi. Tidak ada! Untuk apa tetap maju?"
Sanubari meninggikan suara. Dahinya kian mengkerut.
Fukai mengelap peluh dengan lengan baju. Tempat mereka sekarang memang cukup rindang. Namun, panas masih mengikuti karena mereka baru saja berjalan di bawah sengatan matahari.
"Sanu benar, Bri. Aku yakin ini bukan fatamorgana gara-gara panas-panasan seperti tadi. Tapi, di depan kita benar-benar buntu."
Beberapa langkah terlampaui, mereka akhirnya berhenti. Abrizar meraba tekstur kayu di hadapan.
"Apa kubilang, buntu, kan?" cibir Sanubari.
Abrizar mengabaikan itu. Dia memiliki pemikiran yang berbeda dari dua teman seperjalanannya. Dia terus bergerak ke kanan dan kiri sambil meraba batang.
__ADS_1
Lalu, pria tuna netra itu bertanya, "Apa di sini ada sesuatu yang terlihat seperti pintu?"
Abrizar membuang napas kasar. Jari-jarinya tidak bisa menemukan yang diharapkan. Dia lantas menempelkan daun telinga ke batang.
"Sejak kapan batang bisa memiliki pintu?"
Sanubari mengangkat alis. Itu terdengar seperti sebuah film fantasi. Pintu ajaib pada pohon di sebuah hutan. Kemudian, siapa pun yang melewatinya akan di bawa ke sebuah negeri tidak terduga. Imajinasi Sanubari bergerak liar.
"Ini benar. Ayo pergi ke sisi lain pohon! Pintunya mungkin ada di sana," ajak Abrizar.
Itu menarik Sanubari keluar dari dunia imajinasi. Pemuda itu melihat Abrizar yang berputar arah.
"Apa? Tidak mungkin! Tidak mungkin. Tidak mungkin pintu ajaib seperti itu ada di dunia modern seperti ini, kan?" seru Sanubari sembari mengekor di belakang Abrizar.
Pemuda itu tersenyum lebar, antusias pada sesuatu yang mustahil. Dia sangat berisik di dekat Abrizar, bersiul, memegang erat tali sepatu lalu memutar sepatu itu seperti kincir angin.
"Jangan bilang kalau ini sebenarnya adalah tempat wisata semacam itu!"
"Maaf mengecewakan harapan kalian. Tapi, tidak ada yang namanya portal ajaib ke dunia lain. Ini juga bukan studio film," jawab Abrizar.
Dia berjalan sambil meraba akar. Satu demi satu akar yang menghalangi pandangan terlewati. Matahari makin condong ke barat.
Sanubari agak kecewa dengan jawaban Abrizar. Dia mengikuti dengan tenang di menit-menit berikutnya. Sangat disayangkan keajaiban seperti dalam khayalannya itu gagal menjadi nyata. Padahal, Sanubari terlanjur berharap.
Tidak lama kemudian, mereka sampai ke tanah yang lebih bersih. Tidak ada lagi akar-akar yang menyembul berantakan. Namun, ladang kiwano tetap terlihat, mengelilingi pohon raksasa.
Sanubari tertegun. Di tengah hutan yang sangat luas itu, dia mendengar seseorang bersenandung.
"Apa telingaku sedang berfatamorgana?" tanya Sanubari sambil mengorek telinga.
Bagaimanapun juga, alam di sekitar mereka tampak lengang dan kosong. Rasanya, aneh sekali bisa mendengar suara manusia lain.
__ADS_1
"Mana ada fatamorgana untuk pendengaran? Fatamorgana itu tipuan optik," tegas Fukai, meski juga mendengar nyanyian itu.
Melihat ke kiri, langit telah menjadi jingga. Matahari agaknya telah sampai kebatas cakrawala. Bulu Roma Sanubari mendadak berdiri diterkam rasa was-was.
"Aku juga mendengarnya. Itu memang suara manusia," timpal Abrizar. Dia terus berjalan.
Menyadari senja akan segera digantikan malam, Sanubari sedikit merinding. Membayangkan bermalam di alam liar membuatnya bergidik ngeri. Dia tidak tahu binatang buas apa lagi yang akan aktif ketika langit gelap dan menyerang mereka. Dia pasti tidak akan bisa tidur dengan tenang.
Diterkam binatang buas saat sedang terlelap—itu sama sekali tidak menyenangkan. Sanubari lekas mengalihkan perhatian lagi.
Dia berlari ke sebelah Abrizar, lalu berbisik pelan, "Tunggu, Kak Abri! Kenapa malah mendekati sumber suara? Bagaimana jika itu hantu? Hantu alam liar pasti lebih ganas dan kuat. Sama seperti hewan aneh tadi siang."
"Itu hanya fantasimu," balas Abrizar acuh tak acuh.
"Kuharap tempat ini cukup aman bila kita terpaksa harus bermalam di sini," ucap Fukai.
Pandangannya terlempar jauh ke ujung lain hamparan ladang kiwano, asal mereka berjalan. Pagar besi itu tidak tampak. Pepohonan lebat menyembunyikannya dengan sempurna.
Kembali sekarang pun mereka akan sampai di pertengahan ketika langit telah gelap. Itu akan lebih berbahaya.
"Kiwano, kiwano, kiwano, jingga menyilaukan kulit masakmu. Terhampar liar di Afrika, kau menyegarkan. Belah-belahlah si oval orange ini, siapa pun! Dan kau akan menemukan mentimun hijau di dalamnya.
"Serat hijau berair, oh, sungguh menyegarkan. Pisang, lemon, markisa, mentimun, rasa apa yang bisa lidah kenali? Kiwano, oh, kiwano, kau ini apa? Melon, timun, pisang, markisa, jeruk?"
Begitulah lirik yang mereka dengar. Suara itu terdengar makin jelas. Ketika melewati satu akar lagi, Sanubari dan Fukai melihat sebuah kendaraan beroda seperti motor dengan gerobak.
Di tengah ladang kiwano, pria berpakaian serba hijau berjongkok. Caping menyerupai buah kiwano menutupi sebagian wajah. Di sampingnya, ada kereta tarik kecil seperti mainan anak. Beberapa kiwano matang tertumpuk di sana.
"Ah, sudah penuh, ya?" ucap pria itu sambil membopong kiwano yang baru dipetik.
Saat berdiri, dia melihat tiga orang asing tidak jauh darinya. Pria dua puluh tujuh tahun itu bergeming.
__ADS_1