Santri Famiglia

Santri Famiglia
Obor di Tengah Cawan Lautan


__ADS_3

"Siapa yang kalian maksud?"


"Shiragami Anki dan yang lain." Pria itu masih mengacungkan pistolnya.


"Tidak tahu," jawab Fukai lugas. Tidak ada keraguan sedikit pun baginya untuk membuat kebohongan demi kebohongan. Meskipun dirinya sedang terdesak sekalipun, Fukai menolak tunduk pada intimidasi dan ketakutan.


"Tidak perlu berpura-pura. Bukankah semalam kau bertemu dengannya?"


"Semalam? Oh, tentu aku menangani banyak pasien, dan aku tidak ingat siapa saja yang kuperiksa kemarin." Fukai menggerakkan bola matanya ke atas, seolah berpikir.


"Jangan banyak basa-basi! Cepat katakan di mana mereka!" bentak pria itu tidak sabar.


"Mungkin dia sudah pulang. Tidak semua pasien yang kuperiksa kemarin menjalani rawat inap. Itu saja yang kutahu. Boleh aku pulang sekarang? Aku ada janji dan sedang terburu-buru," balas Fukai asal-asalan.


Dua orang yang dikurung Fukai berhasil membobol pintu. Mereka berteriak untuk menangkap Fukai. Perkelahian pun pecah.


Fukai menghantamkan koper ke tangan penodong dan kepala lainnya. Dia menjegal orang-orang yang berusaha menyergapnya, lalu menekan tombol elevator.


Orang-orang Onyoudan bangkit. Mereka mengeluarkan pisau. Fukai berkelat-kelit menghindari hunusan mata pisau.


Dia menggunakan kopernya sebagai tameng sekaligus senjata. Sialnya, ketika elevator terbuka, anggota Onyoudan lainnya muncul. Fukai segera melempar seseorang ke dalam elevator. Dia mengincar bagian-bagian vital lawan untuk ditendang atau dipukul dengan koper.


Beberapa di antara mereka pun tersungkur. Fukai melarikan diri melalui tangga. Setibanya di lantai lain, dia berlagak santai dengan langkah cepatnya. Dia bersembunyi setiap kali berpapasan dengan anggota Onyoudan. Entah itu masuk toilet, ruangan lain, atau kamar pasien. Ketika melihat perawat pria mendorong kursi kosong, dia mencegatnya.


Mereka masuk kamar pasien terdekat. Fukai dengan cepat berganti pakaian. Dia duduk di kursi roda itu dan meminta masker perawat. Dengan didorong perawat itu, Fukai menuju elevator khusus difabel.


Setelah berusaha keras, akhirnya Fukai berhasil masuk elevator dengan membawa kursi roda. Hanya menghadapi segelintir orang, tetapi napasnya sudah terengah-engah.


"Sepertinya, aku butuh melatih ulang kebugaranku."


Sejenak dia memejamkan mata, meraup banyak oksigen untuk menormalkan deru napas, sampai bunyi berdenting terdengar. Pria itu membuka mata, mendorong kursi roda berpenumpang koper medis. Langkahnya panjang-panjang dan cepat.


Sesampainya di depan pintu, dia membukanya dengan kasar. Sontak semua orang menghadap ke sumber keberisikan. Tampak Fukai berjalan dengan muka masam.


Dia menghentikan kursi di sebelah sofa, lalu duduk di sebelah Eiji.


"Paman Fukai, habis maraton, ya?" celetuk Renji setengah mengejek.


"Mereka mengepung rumah sakit ini," tanpa membuka mata Fukai mengatakannya. Dia menyandarkan kepala dengan nyaman ke kursi. Walau tampaknya sedang beristirahat, tetapi sejatinya dia sedang memikirkan cara keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Mereka?" Eiji sudah bisa menebak. Namun, dia hanya ingin memastikan saja.


"Onyoudan," singkat Fukai. Dilepaskannya ransel yang terasa mengganjal, lalu diletakkannya ke samping—ke kursi roda.


"Kalau hanya empat atau lima, kami bisa menghadapi mereka." Renji begitu percaya diri. Meski harus melawan dengan tangan kosong, dia yakin tidak akan kalah.


"Kurasa lebih. Mereka ada di setiap lantai."


"Jadi, bagaimana sekarang? Apa kita harus menunggu sampai besok atau lusa?" Eiji mengedarkan pandangan.


Terlalu banyak tanggungan di matanya. Sanubari yang masih belum sadar, adiknya yang jelas kalah tenaga dari pria, Hana dan Hanan yang sepertinya tidak bisa bela diri, lalu Abrizar yang tidak bisa melihat. Tidak akan mudah baginya membawa mereka semua kabur.


Tentang Fukai sendiri, Eiji belum tahu seberapa jauh kemampuan bertarungnya. Yang bisa dia percaya saat ini hanya Sai dan Renji.


Sai bisa membaca kegelisahan yang dirasakan Eiji. Kegelisahan itu terpancar jelas dari raut mukanya.


"Kalian sudah lama di Onyoudan. Kurasa, kalian lebih tahu apa yang akan terjadi."


"Mereka akan tetap di sini, berjaga sampai beberapa waktu."


"Tepat sekali!" kalimat itu keluar dari mulut Fukai bersamaan dengan satu jentikan tangan kiri, "Kita ini manusia, butuh makan, butuh minum." Fukai menunjuk-nunjuk botol yang telah kosong dalam genggaman, "Cepat atau lambat, kita harus keluar juga, dan saat itulah kesempatan yang mereka nanti-nantikan."


Maka, tercetuslah sekali lagi ide untum mengelabui mata-mata Onyoudan dengan baju kurung. Mereka semua pun merangkapi baju masing-masing dengan setelan gamis milik Hana, kecuali Hanan. Saudara Hana itu hanya memakai masker biasa.


Kesembilannya berusaha setenang mungkin melewati elevator sambil mendorong Sanubari. Saat anggota Onyoudan mencegat mereka, Hana dan Hanan berbicara dengan bahasa Arab sesuai intruksi Abrizar.


Dahi anggota Onyoudan sampai berkerut-kerut. Mereka garuk-garuk kepala sendiri. Pada akhirnya, rombongan Eiji dibiarkan lewat karena mereka kesal tidak bisa berkomunikasi.


Jantung mereka berdegup kencang ketika melewati pasukan demi pasukan. Mereka menunduk tanpa sepatah kata. Namun, melangkah pasti menuju mobil yang diparkir Sai.


"Berhasil!" Renji tertawa konyol.


Gamis yang dipakainya tampak cingkrang, tetapi jilbabnya masih cukup besar untuk menutupi setengah badan.


"Tidak kusangka ada perempuan yang suka mengoleksi baju kedodoran. Baju ini saja sampai muat di tubuhku. Yah, meski panjangnya hanya setengah betis," celoteh Renji lagi.


"Yang longgar-longgar memang lebih nyaman," respons Hana malu-malu. Dia masih belum terbiasa dengan orang-orang baru di sekitarnya ini.


Mobil melaju santai ke pelabuhan Nagoya. Gamis masing-masing dilepas setelah sampai ke tempat tujuan.

__ADS_1


Mobil ditinggal begitu saja. Mereka bersembilan memasuki kapal kargo yang siap berlayar. Di malam tiada berbintang itu, kapal mengarungi lautan, menuju Cina.


Dua puluh jam pasca pelayaran, tiba-tiba sebuah rudal menghantam bagian depan kapal. Nahkoda tewas seketika.


Bagian depan hancur. Ledakan memicu terjadinya kebakaran. Gelombang-gelombang bergejolak terimbas daya ledak. Tempias air laut muncrat ke langit, sesaat menjadi hujan lokal.


Namun, rintiknya tidak mampu memadamkan api yang berkobar di lautan malam. Para awak kapal yang selamat kocar-kacir, menerobos api, menjeburkan diri ke lautan. Mereka mengamankan nyawa sendiri, berenang menjauhi kapal yang telah menjadi obor di atas cawan bahari.


Guncangan dahsyat menyebabkan rombongan Ankiterantuk benda di sekitarnya. Hanan, Hana, dan Anki menjerit keras. Jantung mereka seolah baru saja di bom.


"Ada apa ini?" Hana terisak panik. Tangannya sampai bergetar.


Bunyi gemelegar tadi sangat menyeramkan. Lampu di kabin pun berkedip-kedip. Sementara sirene tanda bahaya terus berbunyi. Fukai bangkit dari tempatnya. Dia berjalan ke arah pintu.


"Aku akan memeriksanya.


Api terus menjalar ke dalam lambung kapal, tertarik aroma bahan yang mudah terbakar, merambat, sampai menyentuh, granat, bubuk mesiu yang terdiam dalam peti-peti kayu. Ledakan berantai menyebabkan guncangan yang terasa seperti gempa tiada berkesudahan.


Betapa terkejutnya Fukai ketika menoleh ke kanan dan menjumpai lidah api menjilat-jilat nun jauh di sana.


"Kita harus pergi dari sini!" Dia lekas berbalik badan, menyambartas dan koper, membiarkan pintu yang setengah terbuka.


"Ada apa?" Raut muka Eiji tampak serius.


"Kapal ini terbakar."


"Sial!" Renji langsung meloncat.


"Ada di antara kalian yang bisa menggendong Sanu?" tanya Fukai.


Dalam kondisi saat ini, mustahil mereka mendorong kursi roda. Memapah pun akan sedikit sulit.


Tanpa menunggu lama, Abrizar maju. "Aku saja!"


Renji menepuk pundak Abrizar. "Berjalan saja pakai tongkat, bagaimana kau melakukannya? Aku yang akan melakukannya."


Sai dan Eiji membantu memindahkan Sanubari ke punggung Renji. Tubuh keduanya diikat dengan sarung.Tangan Sanubari pun diikat dengan kaos supaya tetap berpegangan pada Renji. Fukai menyuruh mereka membawa barang-barang yang penting saja agar mudah bergerak.


Fukai berjalan memimpin. Ketika pintu dibuka lebar, gelombang api menyambar di depan mata mereka layaknya air yang mengalir. Anki dan Hana langsung histeris.

__ADS_1


__ADS_2