Santri Famiglia

Santri Famiglia
Terowongan Manhole


__ADS_3

"Jangan khawatir! Kita berlari ke arah yang benar!" balas Mitsuki dengan volume dikeraskan.


Dia tahu ini rencana yang konyol. Mitsuki hanya berharap dalam hati agar mereka bisa tiba tepat waktu. Mati sekarang bukanlah agendanya.


Mata gelapnya terus menatap titik merah pada ponsel. Napas mereka beradu dengan deru mesin yang berbunyi nyaring. Satu menit tiga puluh detik kemudian, mereka berhenti. Mitsuki menggigit ponselnya. Kedua tangannya sibuk meraba dan memegang benda melingkar yang menempel pada dinding.


Minimnya pencahayaan tidak membuat Sanubari kesulitan mengenali benda merah berpadu hitam itu. Ingatannya kembali ke malam berbadai ketika dirinya berusaha mengejar pria bertopeng.


Mitsuki membuka benda itu, lalu memegang ponsel dengan tangan supaya bisa berbicara, "Anki, ABRI, Sanu, masuklah cepat! Waktu kita terbatas," perintah Mitsuki seraya menyorotkan senter ponsel ke gorong-gorong.


Anki masuk terlebih dahulu, disusul Abrizar yang dibantu Mitsuki. Kemudian, dia menepuk Sanubari. "Ayo masuk! Jangan bengong!"


Sanubari tersadar dari lamunannya. Dia lekas mengikuti Abrizar. Mitsuki masuk terakhir kali. Dia berhasil menutup manhole satu detik sebelum kereta melintas. Tempat yang mereka duduki terasa bergetar.


"Di mana ini? Gelap sekali? Aku tidak bisa melihat apa pun," celetuk Anki yang duduk bersandar.


Sanubari mengangkat tangan. Atap tempat ini sangat rendah. Tangannya bahkan tertekuk delapan puluh derajat saat digunakan untuk menyentuh dalam posisi duduk.


"Ini saluran bawah tanah. Dengan menelusuri saluran ini, kita bisa menemukan jalan keluar," balas Mitsuki.


"Saluran bawah tanah? Bagaimana kamu tahu ada tempat seperti ini di sekitar sini?" tanya Anki penasaran. Abrizar dan Sanubari pun sama penasarannya.


"Kamu tahu sendiri, bukan? Aku ini pekerja paruh waktu serabutan. Hampir semua pekerjaan pernah kulakukan. Termasuk terlibat dalam pembangunan saluran ini dan menjadi pengontrol sanitasi."


Jawaban itu terdengar masuk akal. Namun, Abrizar belum bisa menghilangkan prasangka buruknya meski dugaannya sebelum ini meleset. Sejauh ini, Mitsuki terlihat seperti kawan. Kendati demikian, Abrizar tak henti-hentinya menebak-nebak maksud terselubung dari sikap ramah dan bersahabat Mitsuki.


Di sisi lain, Sanubari menggugurkan prasangkanya ketika mendengar keterangan Mitsuki. Dia membatin, "Mungkin lambang dan penutup jalan waktu itu memang tidak ada hubungannya. Mungkin kak ABRI waktu itu benar. Dia hanya petugas yang memeriksa saluran air."


"Waktunya jalan lagi. Aku ingin segera sampai ke rumah dan beristirahat," ucap Mitsuki dengan nada senang, "akhirnya, kita bisa berjalan santai."


Mitsuki tertawa kecil di akhir kalimatnya. Anki mengernyit dalam kegelapan. Nasib mereka dalam terowongan saja belum jelas, bisa-bisanya satu pria itu terdengar bahagia.


"Kenapa kamu malah tertawa? Apa bagusnya terjebak dalam terowongan gelap seperti ini?" gerutu Anki menoleh pada cahaya yang menerabas melewati tubuh Sanubari dan Abrizar.


"Setidaknya tempat ini aman. Orang-orang itu tidak akan tahu kita ada di sini," balas Mitsuki santai.


"Itu artinya kita akan terjebak di sini selamanya?" Anki membelalakkan mata.


"Jangan pesimis seperti itu! Kita akan benar-benar terjebak bila hanya berdiam diri. Ayo cepat jalan!" tutur Mitsuki.

__ADS_1


"Ke mana?" tanya Anki lagi.


"Maju ke sana!" Mitsuki mencari celah, menyorotkan senter ke depan, "kamu yang terdepan Anki!"


Mereka merangkak menjauhi tutup saluran. Luasnya terowongan tidak memungkinkan bagi mereka untuk berdiri dan berjalan normal.


"Kenapa ada saluran kering di dinding terowongan kereta bawah tanah?" Abrizar menyuarakan keganjilan yang dirasakannya.


"Dulu, tempat ini memang saluran air sebelum terowongan kereta itu dibangun. Rekonstruksi besar-besaran membuat sebagian pipa drainase dialihkan," terang Mitsuki yang terdengar sangat meyakinkan


Di depan, Anki berhenti. Tangannya meraba-raba permukaan, terentang ke kanan dan kiri, lalu ke atas. Dia menggeleng.


"Tidak ada lagi pijakan. Terowongan ke atas dan samping pun tidak ada," lapornya kemudian.


"Lompat turun! Kita sudah sampai ujung. Terowongan ini satu meterdari lantai di jalan berikutnya," jelas Mitsuki lagi.


Semuanya turun. Namun, tempat itu masih sangat gelap. Ke mana pun mata memandang, hanya hitam pekat yang mampu ditangkap mata. Cahaya dari ponsel Mitsuki menjadi satu-satunya penerangan yang bersinar.


"Ke arah sini! Jangan sampai terpisah bila tidak ingin tersesat." Mitsuki mengambil jalan ke kiri setelah keluar terowongan.


Kali ini, mereka bisa berdiri biasa. Ruangan bawah tanah ini lebih luas. Anki memanggil Abrizar dan Sanubari untuk memastikan keberadaan mereka, lalu menggandeng keduanya.


"Rumah kakekmu, Anki."


"Bagaimana kamu bisa menemukan arahnha dari jalan bawah tanah gelap gulita seperti ini?"


"GPS." Mitsuki mengangkat ponselnya.


Tiga puluh menit menyusuri jalan bawah tanah, mereka sampai di sebuah manhole lain yang berada di langit-langit. Mitsuki menaiki tangga, membuka satu per satu penutup. Setelah manhole ketiga, barulah mereka benar-benar muncul ke permukaan.


Bintang gemintang menemani rembulan memberikan sinar lembut pada jalanan. Mitsuki mengulurkan tangan, membantu Anki dan yang lain memanjat melewati lubang.


Lagi-lagi Sanubari memperhatikan penutup lubang yang dipasang kembali seperti semula oleh Mitsuki. Warna dan desainnya sama seperti yang malam itu dia lihat di tempat yang berbeda.


Selesai memasang, Mitsuki berdiri di atasnya. "Sepertinya kita harus berpisah di sini. Sampai ketemu lagi, Anki, Sanu, ABRI!"


Lelaki itu melambaikan tangan, lalu berlari ke lawan arah. Anki menghela napas lega. Dia bisa menghirup udara luar lagi


"Kalian kalau mau pulang juga tidak apa. Rumahku sudah dekat." Anki memandang Sanubari dan Abrizar.

__ADS_1


"Kami harus memastikan kamu sampai ke rumah kakekmu," balas Abrizar.


"Aku tidak berencana ke rumah kakek. Ini terlalu larut untuk bertamu."


"Setelah kejadian tadi, sebaiknya kamu menginap di rumah kakekmu. Kurasa itu akan lebih aman. Apalagi Eiji saat ini tidak di rumah, kan?"


Anki memikirkan saran Abrizar itu. Tak lama berselang, Anki pun menurut. Manhole yang mereka lewati benar-benar berada di dekat rumah kakek Anki. Hanya satu belokan dalam sepuluh langkah, mereka sudah tiba di depan gerbang. Anki memencet bel dan berbicara melalui interkom, menunggu didampingi Abrizar dan Sanubari.


"Anki!" panggil Sanubari teringat sesuatu. Dia hampir lupa menyerahkannya.


"Iya." Anki menoleh.


Sanubari merogoh tasnya. Dia mengambil kotak kayu kecil. "Ini dari kak Eiji."


Anki menerimanya dan tersenyum. "Aku tidak sedang ulang tahun. Tapi, terima kasih."


"Buka dan pakailah!"


"Nanti akan kupakai."


Sanubari menggeleng. "Kamu harus memakainya sekarang dan jangan pernah melepasnya. Aku harus melihatmu memakainya sebelum pergi. Kak Eiji berpesan seperti itu padaku."


"Nanti pasti kulihat. Bilang saja kalau aku sudah menerimanya andai kak Eiji menanyakannya!"


Sanubari menggeleng lagi. "Aku tidak ingin menjadi orang yang mengingkari amanah.


Anki memandang Sanubari sejenak, lalu menurunkan pandangan pada kotak kecil di tangan. "Dasar Kakak! Memangnya apa sih yang ada di sini? Kenapa dia memaksa sekali."


Gadis itu membuka kotak kecil. Kalung emas putih berliontin kristal bening. Kuncup dan bunga sakura yang telah mekar sempurna terjebak di dalamnya. Ukurannya tiga kali lebih kecil dari bunga aslinya, sehingga tidak terlalu besar untuk dijadikan bandul.


Anki tersenyum. Waktu kecil, dia pernah meminta kalung bunga es abadi kepada sang kakak, "Kakak benar-benar menepati janjinya. Dia berhasil menciptakan mini sakura."


"Anki!"


Suara pria tua memanggil dari balik pintu yang terbuka. Sanubari dan Anki menoleh. Pria tua itu berjalan mendekat. Sepertinya, pria tua itu hendak menyuruh Anki masuk. Gadis itu kembali memandang kalung, kemudian mengambilnya.


"Ini sangat cantik. Hm, baiklah. Akan kupakai sekarang juga supaya kamu bisa melihatnya."


Kristal bening berkilat lembut memantulkan cahaya lampu jalan. Desain sederhana itu memancarkan keindahan maksimal saat melekat pada Anki. Baju putih yang telah lusuh pun tidak mengurangi kecantikannya.

__ADS_1


Baru beberapa saat yang lalu mereka terperangkap dalam ketegangan. Kini, gurat kelegaan tergambar pada mereka, meski masih ada hal lain yang mengganjal Sanubari.


__ADS_2