
Tak ada penerbangan. Tak ada kereta ekspres. Sementara perjalanan dengan mobil atau bus akan memakan waktu lebih dari sepuluh jam. Sama saja dengan menunggu jadwal pesawat berikutnya. Eiji menurunkan tangan yang memegang ponsel.
Angin dingin yang menerpa, sama sekali diabaikannya. Dia sudah menduga ini. Bila dia ingin cepat sampai ke Osaka, maka hanya ada satu cara yang bisa dilakukannya.
Langkah pelan penuh keraguannya, dia pacu lebih cepat. Dia berlari membelah hening malam menuju markas pelatihan militer negara aliansi. Hanya berjarak lima menit dengan berlari, Eiji tiba di dekat gerbang masuk.
Eji bersembunyi di balik pohon besar. Ada satu masalah yang harus di hadapinya setelah ini. Seorang penjaga tengah siaga di gerbang. Dia tidak memiliki alat untuk melumpuhkan. Sementara jika harus bertarung, sudah pasti dirinya yang akan kalah melawan seorang tentara.
"Shouganai na. Are wo yatte miyou KA?" gumam Eiji. Dia tak punya pilihan selain mencoba melakukan cara itu.
Jarinya dengan cepat mengoperasikan ponsel. Senyuman tersungging ketika dia menemukan aifka di sekitar markas. Dia cukup beruntung karena pasukan militer ini memiliki aifka.
Dia meretas pusat kontrol, lalu menerbangkannya dengan hati-hati. Kemudian, lelaki itu mengacak-acak rambutnya.
Begitu aifka bertengger di posisi yang diinginkan, Eiji berlari sambil berteriak meminta tolong, "Tasukete! Tasukete!"
Sambil sesekali menoleh ke belakang, dia tertatih. Sesampainya di depan gerbang, dia mengguncang pintu terkunci tersebut. Letupan-letupan senpi menggelegar. Satu berdenting nyaring mengenai pagar besi tepat di sebelah Eiji.
"Wa! Dareka, onegai! Tasukete!" dengan suara parau, sontak Eiji berjongkok sambil menutup telinga. Mulutnya tak henti bergerak, menjerit, meminta siapa pun untuk menyelamatkannya.
Tentara yang menjaga gerbang itu menaikkan kewaspadaan. Dia mengambil kunci dan senjata yang diletakkannya. Dengan segera, dia membukakan gerbang, membantu Eiji yang terlihat ketakutan.
Satu kali lagi bunyi tembakan menggelegar. Peluru menghantam aspal di kiri Eiji. Gentara itu menyuruh Eiji masuk, berlindung di pos penjagaan, lalu mengunci kembali gerbang.
__ADS_1
Tentara itu mengedarkan pandangan. Namun, tidak ada orang mencurigakan yang bisa ditemukannya. Jalanan begitu lengang. Hanya ada gemerisik dedaunan yang digerakkan angin. Langit mendung menyapu bintang dan bulan. Kegelapan membuat jarak pandang terbatas, meskipun ada lampu jalan yang menerangi.
Karena belum memahami kondisi yang terjadi, sang tentara lebih memilih kembali ke pos jaga. Dia menerbangkan sebuah dron untuk menyisir jalanan di sekitar markas.
Sebelum ditanya lebih banyak, Eiji berkata, "Amo ... toire e ikitai ndes ga ...."
Eiji menoleh ke kanan dan kiri, menampakkan raut muka gelisah. Sang tentara memahami perasaan Eiji yang sedang dalam pelarian dan hampir mati tertembak. Dia mengantarnya menuju toilet.
"Mou anzen desu Yo! Daijoubu, daijoubu!" ucapnya meyakinkan bahwa Eiji sudah aman dan akan baik-baik saja.
Eiji tidak menjawab. Mereka berjalan tanpa percakapan lebih lanjut. Sang tentara sengaja memberi waktu pada Eiji yang sepertinya syok untuk menenangkan diri. Sementara Eiji memang tidak memiliki kepentingan untuk berbicara.
Tak lama kemudian, mereka tiba di toilet. Eiji memasuki salah satu bilik. Diam-diam, Eiji mengubah kendali otomatis aifka kembali ke manual. Dia menerbangkannya menghindari dron, menuju tempatnya berada. Dia ingin tersenyum atas kesuksesan aktingnya, tetapi tidak bisa. Keberhasilan rencananya baru saja akan ditentukan dari sini.
Setelah merasa aman, Eiji berlari mengendap-endap menuju anggar dengan bantuan ponselnya. Tujuh menit berselang, berderap-derap langkah terdengar mendekat. Eiji buru-buru mencari tempat sembunyi, menanti langkah-langkah tegas tersebut berlalu, kemudian berlari kembali.
Tak ada keraguan dan ketakutan dalam setiap langkahnya. Semua ini demi sang adik. Kegagalan adalah pantangan baginya.
Begitu sampai ke tempat tujuan, Eiji mengeluarkan senjata andalannya—gantungan kunci dengan alat serba guna. Dia menggunakan alat tersebut untuk membuka pintu hanggar.
Tampak delapan pesawat jet tempur berjajar begitu pintu terbuka sepenuhnya. Dia menaiki salah satunya, menyalakan mesin, dan dengan cekatan memasukkan kode-kode pada IQpots. Jantungnya berdebar kian cepat, berpacu dengan waktu.
Sebelum para tentara yang terbangun menyadari keberadaannya, dia harus berhasil keluar dari anggar. Karenanya, Eiji tidak mempunyai waktu untuk menunggu mesin pesawat cukup panas dan siap terbang. Terlebih lagi, beberapa tentara telah memasuki hanggar.
__ADS_1
Eiji menggerakkan roda jet, menaikkan ketinggian perlahan, dan dengan kecepatan tinggi mengarah ke Honshu. Radio pada kabin pilot menyala. Sebuah pengumuman terkumandangkan dari radio komunikasi.
"Peringatan kepada pilot Albatros V99, harap kembali ke markas!"
Peringatan tersebut disusul dengan bahasa Inggris dan Jepang. Karena Eiji tak menjawab, peringatan kedua pun dikumandangkan.
"Sekali lagi kami peringatkan kepada Pilot Albatros V99 untuk kembali. Harap acuhkan peringatan ini. Jika tidak, maka kami akan menganggapmu sebagai pencuri."
Namun, Eiji tetap mengabaikannya. Malam itu, markas militer dibuat gempar akibat ulah Eiji. Basis dimasuki penyusup yang belum ditemukan, dan salah satu jet dibawa kabur entah oleh orang sendiri atau penyusup.
Tiba-tiba, dua jet tempur mengapit jet yang dikendarai Eiji. Tanpa mengindahkan peringatan yang terus dilayangkan, Eiji melakukan manuver, menukik ke bawah, terbang lebih rendah, dan meningkatkan kecepatan untuk menghindari kejaran.
Memasuki Kantou, moncong jet tempur Eiji berpapasan dengan pesawat yang hendak mendarat di Narita. Dia bergegas menaikkan ketinggian. Dua bulatan merah masih tampak mendekat pada navigasi pesawat. Eiji berdecih. Dia menaikkan kecepatan hingga batas maksimal.
"Albatros V99 berhenti dan menyerahlah! Harap mendarat di lapangan atau bandara terdekat!"
Peringatan demi peringatan terus dilayangkan sampai melewati Chubu. Aksi kejar-kejaran di udara itu tak terelakkan. Dua jet tempur terus mengikuti ke mana pun Eiji berkelit. Mereka terbang lurus ke barat.
"Alba—"
Kalimat itu terhenti ketika Albatros V99 yang semula terbang sangat rendah dari permukaan air tiba-tiba naik tinggi, lalu sekonyong-konyong kembali menukik serta menghantam permukaan lautan Kansai dengan sangat keras. Para tentara pengejar yang berada di dua jet berbeda tercengang.
"Lapor dari Lightning L50 kepada pusat, Albatros V99 telah hancur dan tenggelam setelah jatuh di perairan Nishikinohama."
__ADS_1