
Enam belas menit setelah Eiji menelepon, sebuah mobil berhenti di depan masjid. Satu-satunya orang yang mengendarai turun, memasuki bangunan tersebut. Dari penampilannya, jelas sekali dia seorang pendeta Shinto.
Kimono putih dengan setelan hakama biru tinta—pakaian dinas yang sering digunakan pendeta saat bertugas, meski mereka tidak selalu memakainya. Terkadang orang biasa pun juga memakainya pada acara-acara tertentu. Namun, Eiji familiar dengan orang yang tersenyum padanya ini.
"Eiji san, koko e mukae ni kimashita," lelaki itu berkata setelah membungkuk hormat kepada Eiji
Dia datang atas perintah kepala pendeta yang tidak lain adalah kakek Eiji. Tugasnya adalah membawa pulang dua cucu kesayangan sang kepala pendeta.
"Anata wa isha desu ka?" tanya Eiji memastikan.
Dia tidak menyangka, kakeknya akan mengirim orang kuil. Padahal, dia meminta seorang dokter. Ketika datang ke kuil untuk menemui adik atau kakeknya, Eiji terkadang melihat orang ini. Mustahil seorang dokter pekerjaannya hanya di kuil. Pemikiran Eiji itu dibenarkan dengan keterangan sang pendeta berikutnya.
"Iie, chigaimasu. Isha san wa Ima sugu jinja e Kuru kamoshiremasen. Boku wa tada kkoko e mukae ni kita no desu Yo." Lelaki itu menggeleng dan mengibaskan tangannya. Dia menegaskan bahwa kedatangannya hanya untuk menjemput.
Sudah Eiji duga, orang ini bukan dokter. Pria itu mengangkat sebelah alis. Bisa-bisanya sang kakek menyuruh dokter datang ke kuil ketika dia memintanya untuk datang ke Honjin.
"Jinja?"
"Raiden sama wa sou iimashita ga ...." Pendeta itu mengangguk. Dia hanya menyampaikan apa yang dikatakan kakek Eiji. Tidak kurang dan tidak lebih.
Pendeta itu juga memberitahukan bahwa Anki harus dibawa serta. Sebenarnya, Eiji ingin kembali ke rumah dan menemui kakeknya sendiri nanti. Dia masih meragukan keamanan sekitar rumahnya.
Namun, setelah berpikir ulang, dia tak punya pilihan. Sanubari sedang sakit. Tidak ada yang bisa menjaga adiknya bila ditinggal. Walau hanya sebentar, tetap saja Eiji tidak bisa membiarkan Anki sendiri tanpa penjagaan.
Eiji memejamkan mata sesaat dan menghela napas. Dia memang berkata akan mendengarkan apa pun kata kakeknya. Namun, dibawa kembali dengan cara seperti ini sungguh di luar dugaan Eiji.
"Kakek benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan," batin Eiji sebelum berkata, "Shoganai Na."
Eiji terpaksa menurut. Mereka naik ke atas. Eiji lekas mengembalikan ponsel pada pemiliknya. Dibantu pendeta itu, Eiji menggotong Sanubari ke mobil.
__ADS_1
"Netsu ga deyou desu ne," celetuk pendeta muda itu saat mengangkat tubuh Sanubari. Dia bisa merasakan panas yang tidak biasa dari tubuhnya.
Remaja itu masih belum sadar juga. Eiji melirik wajah Sanubari yang pucat, lalu menanggapi, "Sou kamoshiremasen."
Suhu tubuh Sanubari yang tinggi itu pasti akan membuat semua orang mengiranya sedang demam. Sepertinya, kondisi Sanubari cukup parah. Eiji sempat melihat Sanubari mimisan waktu masih di ambulans. Lengan kemejanya pun penuh darah sebelum diganti dengan kaos bersih.
Eiji baru sadar kalau epistaksis itu sudah berhenti. Tidak ada noda darah di sekitar hidung Sanubari.
Sebagai penanggung jawab sekaligus wali, Abrizar ikut mereka. Dia memang tidak memiliki hubungan darah dengan Sanubari, tetapi seperti itulah yang dirasakannya. Abrizar mencemaskan Sanubari layaknya saudara sendiri.
Pun dengan Anki. Gadis itu ikut pulang. Dia duduk di kursi tengah bersama Eiji dengan Sanubari di antara keduanya. Sementara Abrizar di depan.
Baru saja mobil melaju tidak jauh dari stasiun Honjin, polisi lalu lintas menghentikan mereka. Pendeta itu berdebat dengan polisi. SIM, surat kendaraan sudah diperlihatkannya. Namun, polisi tersebut tetap menilangnya.
Damiyan yang mengikuti pun terpaksa berbelok dan mencari tempat parkir lain. Dia menyaksikan penilangan tersebut melalui ponselnya. Tak lupa, penerjemah otomatis diaktifkannya supaya bisa mengerti isi percakapan.
"Aku sedang buru-buru. Ada orang sakit di belakang. Bisakah Pak Polisi membiarkanku lewat?"
"Apa? Aku sudah menunjukkan SIM dan surat kendaraan. Bukankah itu tidak masalah? Aku juga tidak melanggar lalu lintas. Kenapa masih didenda?" Pendeta itu bersikukuh dengan pendapatnya.
Dia merasa sungguh sial bertemu dengan polisi di perjalanan kembali. Padahal, perjalanan sebelumnya lancar-lancar saja.
"SIM Anda memang masih berlaku. Surat kendaraan Anda pun sesuai dan baik-baik saja, tetapi Anda berkendara dengan kimono dan hakama. Itu melanggar peraturan lalu lintas."
"Memang apa salahnya dengan pakaianku? Kenapa pakaian bisa dianggap melanggar lalu lintas?"
"Pakaian itu bisa mengganggu saat berkendara dan menyebabkan kecelakaan. Misalnya, tersangkut di tuas perseneling, rem, kopling, atau gas," jelas polisi itu.
"Pak Polisi, coba lihat baik-baik! Aku sudah mengikat lengan kimonoku, ujung hakama pun sudah kuikat dan kunaikkan sampai di bawah lutut. Apa itu masih bisa dibilang mengganggu? Tidak, kan? Buktinya, aku bisa berkendara dengan aman sampai sini. Aku terpaksa memakai baju seperti ini karena sedang tergesa-gesa.
__ADS_1
Mosan diterbangkan, mencari sudut supaya bisa melihat penampilan pendeta itu dengan lengkap. Damiyan tertawa menonton penampilan sang pendeta yang menurutnya lucu itu.
"Darah!"
Mendengar seruan manis itu, Damiyan mengalihkan sorot kamera kembali ke bagian tengah mobil. Tampak Anki mengelap hidung Sanubari dengan kerudungnya.
"Lihatlah, Pak Polisi! Aku sedang membawa orang kritis di belakang. Jadi, biarkan kami melanjutkan perjalanan sekarang!"
"Jika Anda tidak mau membayar denda, maka SIM Anda akan ditahan untuk sidang. Sanksinya mungkin lebih berat."Polisi itu mengintip ke dalam sejenak.
Eiji membuka tasnya. Dia mengambil dompet, lalu mengeluarkan enam ribu Yen dari sana. Dia mengulurkan uang itu kepada pendeta.
"Paman, berikan saja ini padanya!"
"Tetapi ...." Pendeta itu menoleh.
"Tidak apa-apa. Yang penting, kita bisa segera pergi."
"Baiklah." Pendeta itu pun menerima uang Eiji dan memberikannya pada polisi.
Polisi itu pun tidak lagi menghalangi perjalanan mereka. SIM dan surat kendaraan telah dikembalikan. Mobil pun dilajukan.
"Maaf, seharusnya aku membawa uang. Nanti akan kuganti setelah sampai ke kuil." Pendeta itu sangat menyesal telah merepotkan Eiji.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu diganti."
Tak lama kemudian mereka sampai. Eiji dan pendeta itu dengan cepat memindahkan Sanubari ke ruangan yang disediakan. Anki melepas kerudung penuh darah di bagian depan. Dia menggandeng Abrizar mengikuti mereka.
Meskipun sudah menjadi muslimah, tetapi Anki sehari-harinya belum terbiasa memakai jilbab. Dia memakai jilbab hari ini karena Hana. Gadis itu juga menggelung serta menguncir rambut Anki dengan ikat rambut senada gamisnya.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan tradisional Jepang berlantai tatami, ternyata, sudah ada futon digelar di ruangan yang disiapkan. Anki mencari tambahan bantal. Dia menumpuknya supaya kepala Sanubari bisa sedikit ditegakkan saat dibaringkan. Darah masih mengalir dari hidung Sanubari.
"Ada apa denganmu, Sanu?" hatinya bertanya-tanya. Gadis itu duduk di sebelah Sanubari dan dengan telaten mengelap darah yang keluar.