Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pelepasan Anki


__ADS_3

"Jangan konyol! Usiamu saja belum genap delapan belas tahun. Aku tidak akan membiarkanmu menikahi adikku."


"Bukan begitu. Maksudku ...."


Eiji tidak ingin mendengarkan Sanubari. Apa pun alasan Sanubari sampai ke sini, yang terpenting bagi Eiji sekarang adalah sang adik. Dia lekas menyela, "Bantu aku membebaskan Anki!"


"Tanpa Kakak minta pun aku akan melakukannya. Tapi, bisakah Kakak menjadi keluargaku setelah itu?"


Permintaan berwujud pertanyaan itu tak berbalas. Eiji diam, sampai mereka tiba di depan sebuah pintu.


"Di sini," gumam Eiji..


"Aku mengerti."


Sanubari merogoh ponseldalam tas. Dia hanya mencabut benda kecil yang menempel pada rangka, lalu menempelkan benda itu ke otak sistem keamanan.


Eiji memperhatikannya. Sanubari sama sekali tidak menyentuh pintu. Hanya dalam lima menit, sebuah kode hijau muncul. Waktu yang lebih singkat daripada ketika mencoba membuka pintu kamar Eiji.


Keduanya memiliki sistem serupa. Sehingga, tidak dibutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya bagi Abrizar yang mengendalikan benda kecil itudari kota yang berbeda.


[Selamat datang kembali, Tuan Kim!]


Seperti sebelumnya, itu adalah tanda pintu boleh disentuh yang Sanubari ingat. Remaja itu mendorong pintu. Tidak terjadi apa-apa. Eiji langsung masuk mendahului Sanubari.


Sanubari mencabut alatnya, lalu menyusul Eiji.


Dalam ruangan gelap itu, Eiji menyalakan lampu. Betapa nanar tatapannya ketika melihat sang adik berbaring dengan rantai tertaut pada kedua tangan dan kaki.


"Anki!" Eiji berlari, mencium kening gadis itu, dan memeluknya.


Anki yang tidak pernah bisa nyenyak sejak dua malam ini pun tergeragap siaga. Dia terbangun dan secara refleks mendorong, menimbulkan bunyi gemerincing.


"Pergi!"


"Ini aku. Tenanglah!" Eiji mendekap erat tubuh adiknya. Dia bisa merasakan getaran tubuh gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


"Kak Ei ...." Anki terisak. Bulir bening luruh dari mata belonya.


"Tidak apa-apa. Kita akan segera pergi dari sini." Eiji mengusap lembut kepala Anki.


Dia lantas memegangi rantai yang membelenggu Anki, lalu membuka-buka laci untuk mencari kunci. Sanubari menyaksikan pemandangan memilukan itu. Netranya menyusuri panjang rantai dari ujung ke ujung.


"Ah, sial! Tidak ada apa pun di sini!"


Eiji sekali lagi memeriksa ujung rantai yang melingkar di pergelangan tangan Anki. Tidak ada celah pada besi selebar dua ruas jari itu. Tipe borgol yang tidak bisa dibuka dengan kunci T atau kawat. Dia kemudian memeriksa di mana pangkal rantai itu tertambat.


"Sial!" Eiji terus saja mengumpat sambil memukul dipan.


"Kak Eiji, biar aku yang melepaskan rantai itu! Kurasa aku bisa," tawar Sanubari ketika melihat Eiji kesulitan.


Eiji masih mengamati pangkal rantai. Titik merah yang terus menyala membuatnya curiga. Sementara itu, Sanubari mengeluarkan baksil super tajamnya.


"Maaf, ya Anki!" Sanubari mengatakannya karena takut dianggap tidak sopan. Dia memegang rantai pada kaki, bersiap membelah logam yang melingkar pada pergelangan kaki.


Namun, Eiji tiba-tiba mencekal lengan Sanubari. "Tunggu, Sanu!"


"Tapi Kak, kita harus segera melepaskan rantai ini supaya Anki bisa pergi dengan kita."


"Jangan potong sebelah sana! Kunci Otomatis akan langsung aktif jika kau melakukannya. Potong sebelah sini!" Eiji menunjuk mata rantai.


Setelah dijelaskan seperti itu, Sanubari tetap tidak mengerti. Kendati demikian, remaja itu tetap mengikuti saran Eiji. Mata silet tajam pun diarahkan pada mata rantai.


Jantung Eiji berdegup kencang. Dia berharap perkiraannya tidak meleset. Bila sensor sampai ditanam di mata rantai juga, matilah sudah mereka ketika logam tersebut terpotong dalam waktu kurang dari satu menit.


Dari luar ruangan, seseorang berjalan mendekat. Dia merasa aneh dengan kondisi pintu yang terbuka. Dengan sangat hati-hati, dia mengintip. Betapa terkejutnya lelaki itu ketika melihat siapa yang ada di dalam.


Alat komunikasi diaktifkan, lelaki itu melapor, "Tuan Shiragami kabur. Dia berhasil membobol sistem keamanan, dan sekarang berada di kamar gadis itu."


"Apa?" respons salah satu pria di sisi lain gedung.


"Bagaimana ini? Apa kita langsung ke sana, atau memberi tahu tuan Kim terlebih dahulu?"

__ADS_1


"Tetapi ini masih jam istirahat."


"Kita bagi tugas. Kalian berdua, bangunkan tuan Kim! Sisanya, ikut aku ke tempat gadis itu."


"Aku ke kamar mandi dulu," izin salah satu dari mereka.


"Baiklah. Ayo pergi!"


Mereka pun bergegas. Enam orang menuju kamar Anki. Sementara satu orang lain memisahkan diri ke kamar mandi. Dalam perjalanannya, satu orang itu menjumpai sosok yang familiar.


"Tuan Kim, sejak kapan Anda ada di sini?" tanya pria itu heran. Pasalnya, dia berjaga di depan kamar Jong Hyun dari tadi dan tidak melihat pria Korea itu keluar ruangan.


"Sejak pemadaman tadi. Aku sengaja keluar diam-diam karena ingin jalan-jalan." Raut muka pria itu tampak sangat tenang dan alami. Dari suaranya pun tidak terdengar kegugupan.


"Mungkinkah?" Pria itu mengernyit curiga. Namun, dilihat dari rambut dan wajahnya, orang di hadapannya ini tetaplah Kim Jong Hyun. Rasa ingin buang air kecil yang tak tertahankan membuatnya tidak bisa berpikir lebih jauh.


"Ah, kebetulan sekali, Tuan Kim! Tuan Shiragami berhasil keluar dan berusaha membawa kabur gadis itu. Yang lain sedang menuju ke sana. Ano, saya permisi ke toilet!" lanjutnya terburu-buru.


Pria berkacamata itu menatap kepergiannya. Dia tidak beranjak sampai punggung lelaki yang baru saja menyapanya itu menghilang dari pandangan.


Ketika memasuki kamar mandi, pria penjaga kamar Kim Jong Hyun itu menyadari keganjilan lainnya. "Ngomong-ngomong, sejak kapan tuan Kim memakai kacamata?"


Pria itu lekas menuntaskan hajatnya, lalu berlari keluar. Sosok yang dikenalinya sebagai Kim Jong Hyun sudah tidak ada.


Sosok itu berlari di tangga darurat sambil memasang masker. Waktu yang dimilikinya sangat mendesak. Dia tidak mempunyai waktu untuk berganti kostum.


Tawa keras memenuhi lorong telinganya, sampai-sampai dia ingin melepas earphone nirkabel yang tersemat. Suara itu terdengar menyebalkan.


"Lihatlah, Nikki!" Pria itu saja masih bisa tertipu. Apa kau masih meremehkan kemampuanku?"


"Berisik! Kalau kemampuanmu sehebat itu, aku tidak akan repot-repot ke lantai lain untuk mencoba menyanderanya, Nenek Lava."


"Hei, aku belum setua itu. Panggil aku 'kakak'! Bersyukurlah, kakakmu yang cantik ini mau jauh-jauh datang ke Jepang untuk membantu rencana konyolmu! Kau tahu betapa sibuknya aku dalam movi-movie yang harus kutangani di luar pekerjaan kita?"


"Cerewet!"

__ADS_1


Nikki mematikan sambungan. Dia bosan mendengarkan wanita yang selalu menyombongkan diri itu. Fencana awal tidak berjalan lancar. Rencana kedua pun terpaksa diurungkan karena ada hal yang tidak terduga. Oleh karenanya, dia harus pindah haluan.


__ADS_2