
[Peringatan! Hentikan usaha perusakan Anda! Sekali lagi Anda mencoba merusak properti, mode eksekusi otomatis akan diaktifkan.]
Suara sintesis itu menggema di ruangan sepuluh kali sepuluh meter. Laras-laras pun tertodong pada satu arah. Di sana, duduklah seorang pemuda dengan laptopnya.
"Ah, sial! Bagaimana bisa mereka menduplikasi rancanganku dalam waktu singkat? Mereka juga memodifikasinya."
Master mekatronika itu gusar. Dia memandang masam pada monitor tanpa bisa melakukan apa pun. Alat yang ditempelkan pada pintu pun belum dicabutnya.
"Kimbab ...."
Rangkaian kode itu. Meski sulit dipahami, tetapi dia mengenali polanya. Pria itu tersenyum getir. Peretas yang selama ini dilawannya untuk membantu Onyoudan, kini bersama Onyoudan mengurungnya dengan ciptaannya sendiri.
"Dunia ini lucu."
Lagi-lagi, dia tertawa karena merasa dibodohi. Betapa bodohnya dia, sampai bisa terjatuh dalam permainan ini. Rasa-rasanya, gelar magister yang diperolehnya Tidak membuatnya cerdas.
Pria itu berdiri, menoleh pada kaca beranda yang menampakkan langit malam. Tak ada bulan, tak ada bintang. Mereka seakan enggan memberi cahaya pencerahan padanya.
Tatapannya menerawang pada hamparan pemandangan kota malam di balik kaca. Kaca transparan itu terlihat seperti jalan keluar potensial. Namun, dia tahu, itu bukan kaca biasa. Dia tidak bisa menyentuhnya sampai waktu siaga berakhir.
"Aku tidak boleh gegabah dan mati di sini."
Diam tak berkutik membayangkan sang adikāitu yang hanya bisa dilakukannya saat ini. Pria itu mendesis, merasakan ngilu pada lengan kiri. Tangan kanannya secara refleks terangkat, menyentuh luka pada lengan kiri.
Luka yang didapatkannya pada malam sebelumnya. Ketika itu, dia tidak memiliki pilihan lain. Radio komunikasi dalam kokpit terus berisik, mengumandangkan peringatan yang sama.
[Albatros V99 menyerahlah dan kembalikan jet itu baik-baik!]
Tanpa menghiraukan ultimatum itu, dia memasukkan kode-kode manuver otomatis. Menyerahkan diri bukanlah opsi yang bagus. Misinya menyelamatkan sang adik bisa gagal bila dia tertangkap.
Dua jet tempur itu masih saja mendampinginya. Sementara dia hampir sampai ke Osaka. Pria itu buru-buru menyelesaikan pengkodeannya.
Begitu selesai, dia mencabut transmisi nirkabel dari IQ Potz. Tanpa alat itu, dia yang tak memiliki dasar ilmu penerbangan mustahil mampu menguasai fungsi-fungsi bagian dari pesawat.
Dia meninggalkan kopit, mencari-cari pelampung dan parasut yang mungkin disimpan di kabin. Setelah menemukannya, dia mengeluarkan pisau aifka yang dibuntal jas. Pisau yang sengaja dia ambil disela-sela waktu bersembunyi ketika menuju hanggar.
Dia mengikatnya pada pelampung. Kemudian, dibukanya salah satu pintu dan dilemparnya keluar benda tersebut. Jet masih terus terbang. Pada jarak yang ditentukan, dia melompat dengan ransel tersandang dan ponsel dalam genggaman.
Deburan keras tersamarkan oleh ombak. Dia membiarkan tubuhnya tenggelam dalam perairan dingin. Jet terus melaju tanpa awak sebelum akhirnya meledak menghantam perairan.
Dalam kegelapan, pria itu mengaktifkan ponselnya yang tahan air. Dia mengarahkan pisau aifka ke posisinya. Sialnya, ledakan puing terempas sampai ke tempatnya. Lengan kiri atasnya tergores cukup dalam.
__ADS_1
Darah menyebar di sekitarnya. Air asin membuat luka yang cukup dalam itu kian perih. Ponsel pun terlepas dari genggaman.
Benda logam itu tertarik gravitasi menjauh. Dia hanya memandang sekilas tanpa usaha untuk meraihnya. Dari pada itu, kepalanya tertoleh waspada, memantau barang kali ada puing lagi yang melesat padanya.
"Seharusnya, aku menjatuhkannya lebih jauh lagi," batinnya menyadari keteledoran yang diperbuat.
Lengan kirinya teramat perih. Dia mendongak, menatap langit dari bawah air. Dua jet yang mengejarnya sudah tidak ada. Lelaki itu pun naik ke permukaan, mengedarkan pandangan, mencari benda oranye yang dilemparnya.
"Di sana."
Dia menyambut benda jingga yang bergerak ke arahnya. Saat tangannya berhasil meraih benda itu, dia melepas pisau yang dijadikannya sebagai penggerak.
Dia menggigit tas untuk memakai pelampung sebelum mengembalikan ke posisi semula. Daratan masih jauh darinya. Kendati demikian, dia tidak berhenti berenang menuju tepian sambil menahan sakit luar biasa.
Perjuangannya masih panjang. Embusan angin laut tak mendinginkan kobaran dalam dada. Sesampainya di pantai, dia langsung berjalan tanpa menormalkan napas yang tersengal.
Darahnya masih mengalir, menuruni lengan. Tetesan-tetesannya jatuh ke pasir, tersapu pasang yang menerjang jejak langkah. Pepohonan hanya menyaksikan pemuda yang basah kuyup itu dalam bisu.
Pelampung ditinggalkannya begitu saja di atas pasir. Dia tidak peduli dengan larangan membuang sampah yang diajarkan padanya sejak kecil. Yang dibutuhkannya sekarang adalah penolong. Dia perlu seseorang untuk mengobati lukanya.
Lelaki itu terus mengayunkan kakinya, melewati taman, membaca papan peta yang dipajang di tempat umum. Dia menurunkan tas, mengambil pena dan catatan kecil. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri, memperhatikan garis-garis bercabang dan simbol-simbol yang menyertai.
"Rumah sakit ... rumah sakit ... Kaizuka City Hospital."
Lima puluh menit setelah melanjutkan perjalanan, dia sampai di rumah sakit. Resepsionis yang melihat pria berdarah itu langsung mengarahkannya ke UGD dan memanggil dokter jaga.
Sepuluh menit, lukanya selesai dijahit. Namun, dokter belum memperbolehkannya pergi. Karena kehilangan banyak darah, dia harus menjalani transfusi.
Lelaki itu sempat kehilangan kesadaran. Saat terbangun, seorang perawat tersenyum padanya.
"Ohayou gozaimasu, Shiragami Eiji sama!" Perawat tersebut mengucapkan selamat pagi.
Lelaki itu tidak menjawab. Sementara sang perawat menjalankan tugasnya. Kemudian, kembali berkata, "Osuwari ni tetsudaimasenka?"
"Iie, jibun de yarimasu." Eiji menolak tawaran perawat itu untuk membantunya duduk. Dia bisa melakukannya sendiri.
Perawat itu juga menawarkan diri untuk membantunya makan. Namun, Eiji tetap menolaknya. Lelaki itu malah menanyakan waktu.
"Ima, nanji?"
"Gozen hachi ji go fun desu."
__ADS_1
Pukul delapan lebih lima pagi. Eiji terbeliak. Dia mengusir perawat yang masih berusaha menawarkan bantuan.
"Astaga! Tidak kusangka aku pingsan selama itu. Anki, bagaimana dengan Anki?"
Ketika hati membuncah memikirkan sang adik, perutnya berbunyi. Aroma sedap dapat diciumnya di ruangan itu. Menoleh ke kanan, sepaket makanan lengkap telah tersaji di atas nakas. Lekas disantapnya makanan itu.
Dia hendak pergi Dari kamarnya ketika menyadari selang infus masih menempel. Itu sangat mengganggu pergerakannya. Eiji pun menekan tombol pemanggil perawat. Dia memaksa supaya infus yang belum habis itu dilepas darinya.
Berikutnya, Eiji mengganti baju pasien dengan celana dan kemeja hitam. Dia buru-buru ke Abe no Harukas setelah menyelesaikan administrasi.
Eiji berlari, menaiki elevator menuju ruangan yang dikerjakannya sebelumnya. Setibanya di depan ruangan, Eiji menempelkan transmisi nirkabel pada pemindai. Dia tahu, pintu itu tidak bisa dibuka dengan cara biasa.
Namun, baru saja Eiji menempelkan benda kecil itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Eiji terperangah.
[Bug terdeteksi.]
"Apa? Aku tidak menambahkan fitur semacam ini. Bagaimana bisa?"
Eiji menolah-noleh kebingungan. Jeruji besi jatuh dari langit-langit, mengurungnya di antara pintu. Dia lekas menarik benda kecil itu kembali.
Dia mundur, menjauh dari pintu. Tetap saja jeruji itu tidak terangkat. Dia mencoba menggerakkannya.
"Sial."
Eiji memukul jeruji itu, menimbulkan bunyi klang. Tak lama kemudian, beberapa orang datang. Eiji menatap nyalang pada salah satu dari mereka.
"Tuan Shima, kembalikan adikku!"
"Adikmu? Apa yang kau bicarakan? Kenapa menanyakan adikmu padaku?"
"Jangan banyak alasan! Anda mengurungnya di sana, kan?" bentak Eiji menunjuk pintu di sebelahnya, "Bebaskan dia!"
"Oh, jadi kau ingin menculik gadisku?" sahut pria berambut kemerahan.
"Tuan Kim, ini hanya kesalah pahaman. Bebaskan dia! Dia orang kita," mohon Shima menempatkan diri sebagai mediator.
"Hentikan omong kosong kalian!" bentak Eiji lagi. Dia muak dengan kepura-puraan Shima.
"Baiklah. Akan merepotkan jika dia tetap di sana. Menghalangi pintu saja. Akan kubukakan kurungan itu. Pindahkan dia ke ruangan lain! Aku tidak ingin pengganggu ini nekad merusak pintu lagi."
"Baik, Tuan!" jawab serempak para bawahan. Dua dari mereka meringkus Eiji. Lelaki itu meronta-ronta, berteriak-teriak pada Jong Hyun yang membuka pintu.
__ADS_1
"Kau, Pria Sialan, jangan sentuh adikku! Lepaskan Anki dari sana!"
Namun, Jong Hyun mengabaikan jeritan itu. Dia memasuki ruangan, lalu menutup pintu.