
Sanubari melepaskan pelukan lalu memiringkan kepala. "Kenapa ke Italia?"
"Tentu saja untuk tinggal bersama papa Anda. Di sana, papa Anda punya rumah yang jauh lebih bagus," jelas Kelana.
"Aku tinggal di rumah papa? Bersama papa?"
"Ya."
Sanubari berbalik badan, memandang Sanum dengan senyum sumringah. "Mamak, kita mau pindah ke rumah papa. Yay! Akhirnya aku punya papa dan mamak. Aku bisa tinggal bersama papa dan mamak. Yeyeye!"
Setiap kata Sanubari mengandung antusiasme yang ekspresif. Luapan kebahagiaannya meluber kemana-mana tak terbendung.
Dengan senyum dipaksakan, Sanum mengatakan kepada putranya, "Sanu, sepertinya mereka hanya mengajakmu. Aku akan tetap di sini."
Ekspresi senang Sanubari mendadak berubah menjadi sedih. "Aku tidak mau ikut kalau tanpa Mamak."
"Jangan terlalu memikirkanku! Aku ikhlas bila Sanu mau ikut papa." Kelembutan Sanum kepada Sanubari tidak pernah berubah. Ia selalu menutupi luka hatinya dengan baik dan menampilkan lebih banyak kepositifan kepada Sanubari. Sedih pun ia tidak akan berlama-lama. Sebab, ia tidak ingin menjadi racun dalam perkembangan mental Sanubari. Begitulah cara Sanum mendidik anaknya.
Terlalu banyak kenegativan di luar sana yang menyerang Sanubari. Sanum harus bisa menjadi poros positif yang mampu menangkal segala pengaruh buruk supaya Sanubari tidak depresi. Sanubari tetap bisa ceria sampai sekarang pun berkat ibunya. Sanum menjadi ibu sekaligus sahabat satu-satunya yang Sanubari miliki.
"Apa yang Anda katakan, Nyonya? Tentu saja Anda akan ikut juga. Anda adalah istri tuan Aeneas. Tidak mungkin tuan Aeneas membiarkan Anda hidup serba kekurangan di sini," sela Kelana.
"Benarkah, Paman?" Sanubari memastikan.
"Ya." Kelana mengangguk.
Sanum lega. Kenyataan tidak seburuk prasangkanya. Namun, ia masih belum bisa menebak isi hati Aeneas. Tanpa disadari air mata menuruni pipinya.
"Mamak kenapa menangis?" Sanubari ikut sedih melihat ibunya seperti itu seolah perasaan mereka saling tertaut.
"Aku hanya merasa senang kita semua bisa berkumpul lagi." Sanum mengusap air matanya.
__ADS_1
Aeneas yang menyaksikan Sanum seperti itu pun kebingungan. Sebelumnya, Sanubari terlihat sangat ceria. Bocah itu juga memeluknya. Berarti bocah itu bisa menerima dirinya sebagai ayah.
Yang kurang bisa dimengerti Aeneas adalah Sanum. Sanum seolah menghindari tatap muka langsung dengannya. Kemudian tiba-tiba menatapnya dengan ekspresi yang sulit Aeneas deskripsikan. Selanjutnya, wanita itu tersenyum penuh kehangatan dan kini dia menangis. Aeneas tidak bisa menebak pola pikir wanita.
"Perché lei sta piangendo?"
(Kenapa dia menangis?)
"Va tutto bene. È solo felice di conoscerti, quindi sta piangendo."
(Tidak apa-apa. Dia hanya merasa senang bisa bertemu Anda makanya menangis.)
"Diglielo! Sono anche contento di rivederlo. Grazie per avermi dato UN bel figlio. Scusa se non sono stato in grado di essere con lui."
(Katakan padanya! Aku juga senang bisa berjumpa lagi dengannya. Terimakasih sudah memberiku seorang anak laki-laki yang tampan. Maaf bila aku selama ini tidak bisa bersamanya.)
Aeneas tidak ingin Sanum meragukannya. Bagaimanapun juga Aeneas harus bisa memboyong mereka berdua. Masa depannya tergantung pada dua keluarga Asianya itu.
"Aku lapar. Dimana makanannya?" Sanubari memegangi perut yang pengisiannya tertunda.
Sanum membuka tudung saji. Tidak ada lagi piring di bawahnya. Ia pun melirik piring di depan Aeneas. Piring itu kosong.
"Ketelanya sepertinya habis. Sebentar kubelikan dulu!" kata Sanum menoleh pada Sanubari lalu memandang Aeneas dan Kelana, "apa kalian mau juga?"
Sebenarnya Sanum tidak punya banyak uang. Hasil penjualannya hari ini hanya bisa untuk modal jualan serta jatah makannya dengan Sanubari. Namun, hari ini dia kedatangan tamu. Dia harus menjamu tamunya dengan baik. Tidak enak bila dia membelikan Sanubari makanan. Sementara dia membiarkan tamunya hanya menonton tanpa suguhan.
"Nyonya tidak perlu beli. Maaf singkongnya kami habiskan tanpa izin." Kelana malu mengakuinya.
"Tidak apa. Lagipula aku tidak punya apa pun yang bisa kusuguhkan untuk kalian. Kalau begitu aku beli untuk Sanu saja."
"Anda tidak perlu pergi sendiri! Sebaiknya Nyonya ambil surat-surat berharga seperti akta, kartu keluarga, KTP, buku nikah dan surat lain! Kemungkinan kita akan membutuhkannya untuk mengurus beberapa dokumen, jadi, pastikan tidak ada yang tertinggal! Mulai hari ini kita akan pindah. Untuk pakaian, tidak usah dibawa! Nanti kita beli baru sekalian beli makanan."
__ADS_1
"Pindah sekarang juga?"
"Ya, lagipula di sini tidak ada tempat untuk ditiduri. Kami sudah memesan tempat yang lebih layak untuk kita semua. Dan lagi, saya lihat tadi sepertinya lingkungan di sini kurang bersahabat untuk tuan muda Sanubari. Akan lebih aman bila kalian terus bersama kami sampai urusan surat menyurat selesai."
Sanum segera mengambil berkas yang dimaksud Kelana. Berkas-berkas tersebut tersimpan rapi dalam tas karung bekas tepung. Ia memeriksanya. Semua masih lengkap. Termasuk buku nikahnya dengan Aeneas dan KTP. Foto-foto yang termuat di sana memang foto Aeneas. Akan tetapi, nama yang tertera masih atas nama Bari. Akta kelahiran Sanubari pun masih atas nama Bari sebagai ayah.
Dokumen yang tidak tepat ini membuat Sanum khawatir. Ia takut ke depannya akan mempersulit Sanubari. Diletakkannya semua itu ke atas meja untuk ditunjukkan kepada Kelana.
"Semua ini masih atas nama Bari. Bagaimana ini? Bagaimana kalau ketidak sesuaian ini kelak akan membuat Sanubari disangka sebagai ******* atau dia jadi bermasalah dengan negara?"
"Jangan khawatir! Saya akan mengurusnya. Identitas itu hanyalah formalitas. Negara tidak akan menyelidiki satu per satu status warga negaranya asalkan tidak melakukan pelanggaran hukum. atau terjerat kasus. Bila Anda masih ragu dan khawatir, nanti kita buatkan identitas baru untuk tuan muda Sanubari. Kita juga bisa mengajukan permohonan secara resmi supaya dia terdaftar sebagai warga negara dan keberadaannya diakui negara."
"Memangnya bisa seperti itu?" Sanum membulatkan matanya.
Kelana tersenyum. Ia mengambil KTP Indonesia Aeneas. Ia menghadapkan KTP tersebut kepada Sanum.
"Anda lihat ini?" kata Kelana menunjuk nama Bari pada lembar persegi panjang berwarna biru muda dengan telunjuk, "Tuan Aeneas yang berkewarganegaraan Italia saja bisa mendapat identitas baru sebagai warga negara Indonesia. Kenapa Tuan muda Sanubari tidak?"
"Iya juga sih." Sanum tertunduk, menggaruk pipi yang tak gatal dengan telunjuk.
"Identitas itu hak perdata yang bebas dimiliki setiap orang. Setiap orang bebas memilih. Tentunya kebijakan pengurusan berbeda di tiap negara. Bila datanya benar, seharusnya Sanubari sekarang berkewarganegaraan ganda. Namun, di sini data tuan Aeneas yang salah dikenali sebagai orang Indonesia. Sehingga bisa dibilang Sanubari berkewarganegaraan tunggal sekarang. Untuk saat ini, biarlah tetap seperti ini lalu biarkan dia menentukan identitasnya sendiri begitu usianya sudah cukup!"
Data yang salah bisa dibetulkan. Nama yang tidak diinginkan bisa diganti. Kewarganegaraan pun bisa dipilih. Selama tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, negara tidak akan menghalangi permohonan seseorang untuk memperoleh haknya. Hukum ini masih berlaku di era ini.
Kelana merasa berbicara terlalu banyak. Lekas diakhirinya penjelasan itu lalu mengatakan kalimat yang lebih menenangkan. "Intinya semua ini tidak masalah. Tuan muda Sanubari akan tetap bisa mendapatkan pendidikan terjamin walaupun datanya salah. Tenang saja!"
"Sanubari bisa bersekolah lagi?"
"Ya, tapi dia harus belajar bahasa dan beberapa pengetahuan dasar dulu. Setelah cukup mampu, dia akan disekolahkan di sekolah umum. Ini semua sudah masuk perencanaan tuan Aeneas. Tuan muda Sanubari masih butuh belajar berinteraksi. Home schooling dengan pendampingan guru pilihan memang bisa membantunya menyerap teori. Namun, home schooling tidak akan banyak membantu dalam perkembangan sosialnya. Ilmu terapan butuh praktik untuk mempelajarinya."
Sementara Kelana berdiskusi serius dengan Sanum, Sanubari mengambil belati lalu berlari ke halaman belakang. Tidak lama kemudian, dia masuk kembali ke rumah dengan membawa sebatang pohon singkong.
__ADS_1
"Paman, Papa, Mamak, boleh ya, aku bawa batang pohon singkong ini ke Italia?" tanya Sanubari menggebu-gebu.