Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ambil Peran


__ADS_3

Sanubari tersedak kiwano. Dia terbatuk-batuk, sejenak mengalihkan ketegangan yang mendadak merangkak dalam ruangan. Fanonbergegas menuangkan air dan memberikan segelas itu pada Sanubari.


Abrizar memberi kejutan tidak hanya pada Fanon, Sanubari pun tidak menduga yang mereka cari seorang petani Kiwano. Sanubari lekas menenggak air hingga tandas.


Setengahnya, dia tidak siap. Akan tetapi, siap atau tidak, dia harus melakukannya seperti yang dikatakan Abrizar satu hari sebelum keberangkatan mereka.


"Mari kita uji kecepatan kemampuan berpikirmu!" Abrizar tersenyum. Duduk di ayunan, dia menggerakkan kaki maju dan mundur tanpa meninggalkan permukaan, membuat dudukannya terayun pelan.


"Memangnya pikiran bisa diukur kecepatannya? Kayak kendaraan aja."


Sanubari menggenjot kaki dengan keras, membuang tubuhnya terayun kencang. Angin senja menerpa wajah, menyegarkan sore yang hangat.


"Tentu bisa. Itu akan terlihat ketika kau bertemu dengannya nanti. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menaklukkannya—itulah kecepatan berpikirmu."


Mendengar kata 'takluk', Sanubari seketika menjejakkan kaki untuk menghentikan laju. Pada saat itu, dia tidak yakin menang bila harus beradu fisik dengan kondisi tubuhnya saat ini. Samubari jelas paham betapa terbatasnya pergerakannya gara-gara penyakit itu.


"Jadi, kita akan datang untuk menantangnya berkelahi?"


Sanubari menatap Abrizar. Cahaya jingga menyinari lelaki itu. Merpati-merpati berdekut, terbang merendah, berkumpul di salah satu sisi air mancur, mematuk-matuk ubin, memakan pakan yang disebar seorang wanita tua.


Lalu, seekor hinggap di tongkat Abrizar, seolah sedang menatap pria itu. Wujudnya terpantul pada kacamata hitam Abrizar. Burung itu seperti tidak memiliki ketakutan sama sekali.


"Tidak, Sanu. Sebaik-baiknya ksatria, masih lebih baik yang tidak berpedang daripada berpedang. Masih lebih baik yang menggunakan otak daripada otot."


"Mau pakai senjata atau tidak, berkelahi tetaplah berkelahi. Adu bacot pun tetap disebut pertengkaran."


"Ayolah, Sanu, gunakan otakmu!"


Dekutan merpati memotong percakapan mereka. Agaknya, si merpati tidak suka diabaikan terlalu lama. Abrizar pun merogoh saku celana.


"Oh, maaf, Kawan! Apa kau menginginkan sesuatu dariku?"


Pertanyaan Abrizar itu ditanggapi dengan dekutan oleh si merpati. Merpati itu sangat anteng, Sanubari memperhatikannya.


"Seperti biasanya?" lanjut Abrizar menggapit tongkat di antara pangkal paha.

__ADS_1


Dekutan kembali terdengar. Abrizar membuka sebungkus kuaci oven yang telah dikupas. Dia menuang kuaci ke telapak tangan. Merpati makan dari sana.


"Kakak bisa bahasa binatang?"


Sanubari menatap merpati yang lahap. Burung kecil itu benar-benar berani.


"Tidak. Aku memang terkadang datang ke mari. Duduk menikmati udara atau kehangatan matahari senja dan pagi sambil makan kuaci. Lalu, merpati ini datang padaku. Sejak saat itu, dia selalu menghampiriku setiap kali aku duduk di sini."


"Apa Kakak punya kuaci lagi? Aku mau juga."


"Hei, kita di sini bukan untuk membahas merpati atau kuaci. Mari kembali ke topik! Bila kau ingin kuaci, nanti kita bisa membelinya sambil pulang"


"Oke."


"Tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan fisik atau perdebatan. Kau tidak ingin menjadi pemicu perang, kan? Bila kau ingin pencipta perdamaian sesungguhnya, maka jadikanlah lidah sebagai pedangmu! Manfaatkan jalur dipomlasi sebaik mungkin tanpa pertumpahan darah, paham?"


"Maksudnya diskusi? Apa yang mau didiskusikan?"


"Apa pun. Yang penting, bisa untuk meyakinkan, merayu, mengajaknya supaya mau bekerja sama dengan kita. Untuk lebih mudahnya, akan kuberi sedikit petunjuk ...."


Dia dan organisasinya merampas harta para koruptor, lalu membagikannya pada rakyat kecil. Mereka mengeksekusi siapa pun yang dipandang tidak layak di mata mereka. Selain itu, mereka juga melakukan ekspor sumber daya secara legal.


Dibandingkan tiga penguasa lainnya, Enguswartin satu-satunya yang memiliki misi sepandangan atau lebih tepatnya mendekati keinginan Sanubari menurut Abrizar. Berdasarkan analisis nya, persamaan itu akan memudahkan mereka dalam menggaet Enguswartin.


Enguswartin juga organisasi yang sangat tidak ingin bersinggungan dengan L'eterna Volonta. Jika kemungkinan terburuk hadir, keduanya bisa memanfaatkan nama L'eterna Volonta untuk terhindar dari maut.


Bukan tanpa alasan mereka menamai organisasinya Malaikat dari Gurun Hitam. Mereka benar-benar menganggap diri mereka sebagai malaika pencabut nyawa yang berhak mengambil jiwa siapa pun. Kurang lebih, seperti itu yang ada dalam arsip kepolisian.


Mereka sangat buruk dalam sebagian besar catatan kepolisian. Namun, beberapa pihak menganggap mereka cukup baik. Membutuhkanwaktu lama bagi Abrizar untuk mencari kebenaran di antara fakta-fakta yang dipelintir.


"Kita mungkin akan bertemu denannya sebelum mencapai tempat itu, mungkin juga tidak. Aku akan memberimu tanda. Saat itu tiba, kau harus melaksanakan apa yang kita rencanakan!" pungkas Abrizar.


Merpati telah selesai makan sejak tadi. Abrizar membiarkannya pergi.


"Bagaimana kodenya?"

__ADS_1


"Aku akan bilang kalau kita mencarinya, menyebutkan namanya."


"Memang siapa namanya?"


"Kau akan tahu saat waktunya tiba nanti."


Penjelasan kala itu sangat panjang. Sanubari tidak bisa mengingat semua. Namun, dia cukup senang. Anggota Enguswartin yang akan mereka rekrut ternyata petani ceria yang ramah.


Itu cukup melegakan. Sanubari berpikir mereka bisa bercocok tanam bersama bila berhasil merekrutnya.


Sementara itu, Fukai di ruang depan masih berbincang dengan salah satu yang bertanggung jawab dalam tim penelitian untuk menemukan ramuan obat bagi Sanubari. Dia sengaja menjauh supaya tidak mengganggu obrolan mereka.


Fanon masih memandang Abrizar dan Sanubari penuh kewaspadaan. Dia menimbang-nimbang apakah ketiga orang ini akan membahayakannya atau tidak.


"Aku sama sekali tidak mengenal kalian. Untuk apa kalian mecariku?"


"Kami juga tidak mengenalmu, tapi kami cukup banyak tahu tentangmu—seorang ahli ekonomi yang telah meningkatkan taraf kesejahteraan Mafia, lalu menjadikan pulau itu paling makmur dan hampir menerobos posisi terkaya di benua ini, meskipun kealamian dan kesederhanaan masih terjaga di sana," jelas Abrizar.


Fanon tertawa mendengar itu. Bisa-bisanya ada sekelompok orang rela menembus belantara penuh binatang buas hanya untuk mencarinya karena mendengar rumor itu. Akan tetapi, tetap ada yang aneh di sini.


"Apa aku seterkenal itu? Kalian menantang bahaya untuk meminta tanda tanganku? Tapi, ada poin lebih penting di sini. Tidak ada yang tahu aku tinggal di tengah hutan. Kalian pasti bukan sekadar orang awam atau fan. Katakan, siapa kalian!"


Di akhir kalimat, ekspresi Fanon berubah serius kembali. Nada bicaranya penuh penekanan.


"Aku tahu biasanya kau tinggal dan bekerja di Nigeria, lalu ke sini setiap akhir pekan atau libur. Tapi, sejak merebaknya virus itu, kau meninggalkan Nigeria dan menetap di sini. Bagaimana bila dalam perjalananmu itu ada yang mengikutimu?"


Abrizar mengatakannya dengan sangat tenang. Dia terus mengulas senyum. Meskipun tatapannya kosong, senyuman itu jelas ditujukan pada siapa.


Fanon mengamati kedua pria itu. Mereka senyam-senyum, sama sekali tidak tampak seperti berandalan atau berniat buruk. Dia mencerna semua perkataan Abrizar, lalu tersenyum lagi. Saraf-sarafnya juga mengendur.


"Ini peringatan bagiku. Aku harus lebih berhati-hati lain kali. Terima kasih, Kawan! Kalian sungguh penggemar yang cukup gila. Kuharap kalian tidak lebih gila dari ini."


"Kami masih waras. Seribu persen waras. Sebenarnya, kedatangan kami ke mari untuk mengajak Pak Kora bergabung dengan kelompok kami."


Suara itu datang dari Sanubari. Abrizar telah mengucapkan kodenya. Sanubari harus mengambil peran agar lulus dari ujian Abriza.

__ADS_1


__ADS_2