Santri Famiglia

Santri Famiglia
Perlawanan


__ADS_3

Pengunjung restoran yang hendak keluar mengurungkan niatnya. Mereka berbalik, melangkah masuk kembali, menuju kursi mereka sebelumnya.


Seorang pramusaji sedang membersihkan meja bekas mereka. Ia segera memberi hormat begitu menyadari kedatangan mereka. Dengan sangat sopan ia berkata, "Bentornati! È rimasto qualcosi?"


(Selamat datang kembali! Apakah ada sesuatu yang tertinggal?)


Seorang perempuan menjawab, "No, ma fuori c'è una rissa. Alcuni portano armi. Abbiamo paura."


(Tidak, tetapi di luar ada yang sedang berkelahi. Mereka membawa senjata api. Kami takut.)


Pramusaji pria itu mempersilakan duduk sambil berkata, Oh veramente? Per favore, aspetta qui finché le cose non saranno di nuovo al sicuro! Contatteremo immediatamente la polizia».


(Silakan tunggu di sini sampai keadaan aman kembali. Kami akan segera menghubungi polisi.)


Pramusaji pria itu membawa Piring dan gelas kotor pergi. Ia berhenti ke meja kasir sejenak untuk melapor. "Signor Moreno, ha detto che c'è stata una rissa fuori. Sembra che dovremmo chiamare la polizia."

__ADS_1


(Tuan Moreno, di luar ada perkelahian, sepertinya kita harus menelepon polisi.)


"Lo so, ma non possiamo denunciare questo incidente alla polizia. Dopotutto, siamo noi che saremo in pericolo se lo facciamo. Lascia che lo scontro finisca da solo! Fai le tue cose!"


(Aku tahu, tetapi kita tidak bisa melaporkan insiden ini kepada polisi. Yang ada, kitalah yang akan berada dalam bahaya jika melakukannya. Biarkan perkelahian itu berakhir dengan sendirinya. Lakukan saja tugasmu!)


Moreno melihatnya, ketika Sanubari dibawa keluar oleh beberapa orang. Ia bisa mengenali logo yang terjahit pada punggung mantel orang-orang itu. Ada rasa takut yang tidak bisa ia ungkapkan ketika melihat mereka sampai tidak bisa berbuat apa-apa.


Moreno mengkhawatirkan Sanubari, tetapi tidak bisa menolongnya. Ia lebih khawatir mereka akan menghancurkan bisnisnya jika ikut campur. Kepala Moreno dipenuhi kegelisahan.


"Aku harus kabur dari sini. Perkelahian panjang bisa menurunkan predikat restoran paman Moreno. Kasihan paman Moreno kalau restorannya sampai sepi lagi, tetapi aku juga tidak mau menyerah dan ikut orang-orang asing ini," batin Sanubari yang kemudian memasukkan telapak tangan ke saku celana.


Sanubari ingat kata-kata Canda waktu itu. "Silet ini sangat tajam. Bisa menembus jantung jika kau arahkan ke dada, bisa membelah kerongkongan bila kau arahkan ke leher. Bahkan tempurung kepala juga bisa ditembus. Hindari organ-organ vital itu jika kau tidak ingin tanpa sengaja menjadi pembunuh. Jika kau mengaktifkan gelombang kejut pada silet maka orang yang terkena sayatannya akan pingsan."


Mata Sanubari terfokus pada satu titik. Sebelum orang-orang kekar itu menangkapnya, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Diarahkannya benda tersebut ke moncong pistol.

__ADS_1


Seketika penodong itu terbelalak. Bagian atas pistol terbelah menjadi dua. Tiba-tiba penodong terduduk sambil memegangi dada, mengerang akibat rasa nyeri yang menyerang secara mendadak. Jeritannya menyamarkan Bunyi dentingan yang tercipta bersamaan. Semua orang terkesiap.


Ketika semua orang sedang tercengang, Sanubari menyempatkan diri untuk mengatakan, "Porta subito l'uomo in ospedale se non vuoi che muoia!"


(Bawa orang itu ke rumah sakit jika tidak ingin dia mati!)


Selanjutnya, Sanubari memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Ia yakin siletnya tidak mengenai jantung, tetapi ia berharap supaya orang itu segera mendapatkan perawatan. Karena siletnya menembus dada orang itu, dikhawatirkan sayatannya mengenai organ vital lain.


Sanubari tidak tahu pasti bagian apa yang terpotong. Ia terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan diri. Jika tidak, mungkin saja orang itu yang akan menarik pelatuk lebih dulu dan membuatnya terbunuh.


Dengan napas tersengal, pria yang memegang pistol memberi perintah. "Inseguilo!"


(Kejar dia!)


Setelah itu, dia memuntahkan darah. Ia semakin kesulitan bernapas. Darah juga terus mengalir meskipun tidak deras.

__ADS_1


__ADS_2