
"Hace tanto frío aquí."
(Disini dingin sekali.)
Suara Zunta bergetar, giginya gemeretak tidak kuasa menahan suhu yang amat rendah. Gadis kecil yang memakai baju operasi biru kehijauan itu memeluk dirinya sendiri yang menggigil. Ia lantas memasukkan tangannya ke lengan baju yang kedodoran. Tubuhnya tenggelam dalam baju yang terlalu besar. Padahal ia hanya memakai atasannya saja tetapi dia terlihat seperti sedang mengenakan baju terusan. Sebab, panjang baju yang dipakainya itu nyaris sampai mata kaki.
Canda seperti melihat malaikat kecil pembawa kehidupan ketika mendengar kedatangan Zunta. Pendonor yang ia harapkan ternyata berada di dekatnya. Sesaat yang lalu Canda sempat lupa bahwa Zunta bergolongan darah O. Yang artinya dia bisa memberikan transfusi darah kepada siapa pun.
Zunta berjalan mendekati kakeknya sambil terus menggerutu, "No hacía tanto frío antes. ¡Abuelo, enciende la calefacción! Este aire acondicionado está demasiado frío. Como en invierno."
(Perasaan tadi tidak sedingin ini. Kakek, nyalakan penghangat ruangan dong! Ini AC-nya terlalu dingin. Kayak musim dingin saja.)
Canda bersyukur bocah ceriwis ini bersikukuh mengikutinya tadi. Jika tidak maka kemungkinan Canda tidak akan ingat ada penolong di sisinya. Lekas ia menghampiri Zunta.
"Zunta, este lugar debe mantenerse a baja temperatura. Por lo tanto, ninguna bacteria puede multiplicarse rápidamente. Por lo tanto, no se permite la calefacción."
(Zunta, tempat ini harus dijaga temperaturnya supaya tetap rendah. Sehingga, tidak ada bakteri yang bisa berkembang biak. Jadi, tidak boleh menyalakan penghangat.)
"¿Por qué?"
__ADS_1
(Kenapa?)
Canda menggendong Zunta lalu menunjuk bocah lelaki yang terbaring tak sadarkan diri. Kemudian ia berkata, "Viste a ese niño, ¿no? Está muy lastimado. Tenemos que hacer esto para que la herida no se infecte."
(Kau lihat anak itu, kan? Dia banyak terluka. Ini harus kita lakukan supaya lukanya tidak infeksi.)
Zunta melihat tubuh anak kecil yang sudah ditelanjangi. Hanya bagian pusar ke bawah saja yang ditutupi selimut. Sementara baju berdarah telah dibuang ke tong sampah di dekat brankar. Canda membawa Zunta ke brankar satu lagi yang kosong. Ia mendudukkan gadis kecil itu ke sana.
Zunta masih terus memperhatikan bocah laki-laki yang memejamkan mata. Matanya memandang iba. Zunta Pun mengatakan, "Abuelo, ¿por quest lo dejan desnudo así? Debe tener frío. ¡Cúbrelo, abuelo! Pobre de él."
(Kakek, kasihan dia. Dia pasti kedinginan. Kenapa dibiarkan telanjang seperti itu? Selimuti dia, Kek!)
Canda meninggalkan Zunta setelah menurunkannya. Masih dalam ruangan yang sama, Canda mengambil kantong darah lengkap dengan infus set dan perlengkapan lainnya. Canda harus bergerak cepat dalam kondisi darurat seperti ini.
(Medichan sedang melakukan pemindaian pada tubuhnya. Nanti kalau sudah selesai pasti kakek akan memakaikan baju padanya dan menyelimutinya. Untuk saat ini, jangan banyak tanya dulu! Nanti pasti kakek jelaskan apa yang ingin kau ketahui. Sekarang kita harus menyelamatkannya. Zunta mau 'kan jadi anak baik dan membantunya?)
Canda berbicara sambil menuangkan etanol pada kapas putih. Selanjutnya ia mengusapkan kapas tersebut ke lengan bagian dalam tangan kanan Zunta. Tepat saat itu Zunta mengangguk.
"Zunta puede acostarse. ¡Usa esta manta si hace frío! El abuelo puede pedir un poco de tu sangre para salvarlo, ¿de acuerdo?"
__ADS_1
(Zunta boleh sambil tiduran. Pakai selimut ini jika kedinginan! Kakek minta sedikit darahmu untuk menyelamatkannya, ya?)
Tanpa menunggu persetujuan Zunta, Canda menusukkan jarum steril pada bagian siku dalam. Zunta menuruti Canda begitu saja. Ia berbaring lalu memakai selimut. Darah mengalir melalui selang menuju kantong darah yang berada di atas nakas. Canda berpesan kepada Zunta untuk tidak terlalu banyak bergerak kemudian berpamitan sebentar.
Lima ratus mililiter tetes darah kemudian, ia kembali ke ruangan dengan membawa susu kotak satu setengah liter, sandwich berisi ham serta telur. Ia juga membawa serta sebuah pisang. Sebelumnya, ia menyeterilkan semua benda-benda itu terlebih dahulu. Ia juga menyeterilkan dirinya sekali lagi.
Canda meletakkan makanan dan minuman itu ke atas meja, menyuruh Zunta memakannya lalu dengan cepat mencabut serta memplester bekas suntikan jarum. Zunta masih terlalu kecil untuk melakukan donor tetapi ini terpaksa dilakukan.
Cepat-cepat Canda membuang jarum dan selang bekas pakai ke tong sampah. Canda memasang infus set baru pada kantong darah dan segera menyalurkan pada pasiennya.
Medichan—robot cerdas asisten kesehatan juga telah selesai memindai. Robot tersebut melaporkan hasil pemindaiannya. Tidak ada cidera serius pada otak pasien. Hanya ada luka robek di bagian kepala belakang dan kening, sendi kaki kanan sedikit bergeser dan patah tulang di bagian kaki. Kerusakan paling parah terjadi pada perut pasien. Ujung payung yang lancip menembus usus halusnya.
Canda memperhatikan posisi tancapan payung pada hasil ronsen, memastikan bagian lain tidak terluka lalu mencabutnya dengan hati-hati. Canda mengambil pisau bedah dan dengan cekatan memulai operasi.
LED seratus lima puluh Watt menyala terang di ruangan, membuat Canda yang berada di bawahnya berkeringat dalam ruangan dingin sekalipun. Lelaki tua itu sedang berlomba dengan waktu, mengentaskan pasiennya dari masa kritis. Beberapa sayatan dan jahitan kemudian, usus yang rusak berhasil dipotong dan disambungkan kembali. Luka menganga pada perut pun sudah dijahit dengan benang terbaik yang tidak akan meninggalkan bekas jahitan.
Canda kemudian memiringkan tubuh bocah ke kanan, menjahit bagian belakang lalu menangani luka pada kepala dan mencabut tancapan kaca yang tersisa. Dengan sangat hati-hati, Canda membersihkan setiap luka yang tersisa menggunakan alkohol. Tidak lupa salep antiseptik dan pemudar bekas luka juga dioleskan.
Berikutnya, Canda menarik kaki bocah itu untuk membenarkan posisi tulang yang bergeser. Terakhir dia mengoperasi kaki anak itu untuk menyambungkan tulang yang patah lalu memasang gips.
__ADS_1
Zunta memperhatikan proses operasi tersebut sambil menikmati makanan yang diberikan Canda. Gadis kecil ini sepertinya bermental baja. Ia tetap bisa makan dengan santai walaupun di hadapannya ada banyak darah. Dia bahkan melihat dengan sangat jelas ketika potongan usus dikeluarkan dari perut lalu dibuang begitu saja. Bukannya merasa jijik, Zunta malah penasaran dan ingin tahu apakah isi perut manusia sama dengan isi perut ayam. Ia ingin mendekat tetapi tubuhnya sedikit lemas pasca darahnya diambil.
Operasi dan penanganan medis lain selesai dilakukan. Kini Canda memakaikan baju pada bocah yang ia rawat lalu menyelimutinya. Fase kritis telah lewat. Selanjutnya tinggal menunggu si Bocah tersadar.