Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pembeli Tanah


__ADS_3

Dari sudut pandang mata elang, Sanubari tampak ceria keluar dari rumah yang baru dibeli. Dia bercanda ria dengan Renji. Sementara Eiji terlihat tidak acuh mengikuti keduanya.


Mata elang itu kian meninggi dan menjauh sampai bayangan tiga pemuda tidak lagi terpantul di lensanya, terbang meninggalkan desa, merekam aktivitas kota yang mulai sibuk.


Jalanan yang seharusnya bisa dilewati dua mobil tampak penuh sesak. Beragam kendaraan terparkir di kanan dan kiri jalan. Entah itu motor dengan keranjang, motor dengan kandang ayam, motor dengan gerobak, Tosa, mobil bak, mobil keluarga, atau sepeda.


Tukang parkir terpaksa memberlakukan buka/tutup jalan supaya kendaraan bisa melewati gang sepanjang pasar. Makin ke tengah, orang hilir mudik bertambah banyak. Ada yang menyeret kambing, sapi. Ada pula yang menawarkan unggas, kelinci, dan binatang lain.


Lenguhan, embikan, kokokan, juga suara manusia meramaikan pasar hewan. Sangat kontras dengan kondisi desa-desa sekitar yang lengang. Ketika zona merah diwajibkan untuk isolasi mandiri, kota-kota dengan status hijau masih dibebaskan kumpul-kumpul.


Kicauan bergema nyaring seluas pasar, menambah bising. Kian ke tengah, kian nyaring pula kicauan-kicauan saling bersahutan. Lusinan burung dalam sangkar memenuhi balai tepat di jantung pasar.


"Para juri sudah mulai berkeliling. Kira-kira siapa yang akan menjadi juara dalam kompetisi burung kali ini?"


Suara pembawa acara timbul/tenggelam, meski sudah meninggikan suara dengan pengeras, kalah lantang dari seekor burung yang hanya sekepal manusia. Seorang pria berblangkon berdiri di pinggir balai, mendongak, matanya tajam memperhatikan burung yang tengah unjuk kebolehan. Di sebelahnya, berdiri pria berkumis dengan potongan rambut cepak. Dia adalah Burhan—wali kota Blitar.


"Ah, berisik sekali. Bagaimana kamu bisa memilah-milah suara ini dan menentukan pemilik yang tepat?" tanyanya sedikit mengeraskan suara.


Kicauan-kicauan ini membuat telinga berdenging. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Suara burung memang merdu dan menenangkan ketika didengar dari jauh.


Akan tetapi, efeknya sebaliknya ketika jarak terlalu dekat. Alih-alih menjadi melodi terapi jiwa, itu malah sangat mengganggu. Telinga Burhan terasa ingin meledak. Dia menyesali keputusannya mengunjungi pasar hewan hari ini.


"Setiap cuitan itu memiliki kekhasannya tersendiri. Sama seperti suara manusia. Bila menyimaknya baik-baik, maka mengenalinya bukanlah perkara sulit," jawab pria berblangkon.


Baron namanya. Pria itu memejamkan mata sesaat. Di tangannya tergenggam pena dan papan dada dengan lembaran yang terjepit di atasnya.


",Kau memang istimewa."


Burhan tersenyum melihat burung-burung yang bersemangat. Mereka menyenandungkan lagu yang variatif. Namun, bagi orang awam, suara mereka sama saja. Tidak ada yang bisa mereka bedakan kecuali lagunya.

__ADS_1


Orang-orang yang berkumpul di sekeliling balai sangat berisik. Mereka mendiskusikan akan bertaruh pada sangkar nomor berapa. Sementara yang lain sudah mengular di pos pendaftaran. Masih ada satu jam sampai waktu pendaftaran taruhan ditutup.


Suara elang terdengar nyalang di tengah kicau burung-burung kecil. Suaranya samar, tetapi sampai ke telinga Baron. Pada saat itu, Baron telah menuliskan angka terakhirnya. Dia mendongak lagi lebih ke atas. Seekor elang berputar-putar di langit biru, lalu pergi menjauh.


"Dia kembali," gumamnya dengan suara rendah.


Suaranya sangat lirih, sampai-sampai tidak tertangkap jelas di telinga Burhan. Dia pun bertanya, "Hah, apa katamu?"


"Pak Wali Kota, sepertinya, saya harus pulang sekarang juga. Apakah Anda berkenan mampir ke rumah saya?"


"Ah, itu ide yang bagus. Telingaku sudah tidak tahan dengan semua keberisikan ini," jawab Burhan.


Baron tersenyum. Dengan berjalan cepat, dia menerobos kerumunan, menyerahkan hasil penilaian pada panitia, lalu pergi ke tempat parkir sedikit jauh dari pasar. Tempat yang cukup sepi. Jadi, dia tidak perlu desak-desakan untuk keluar area pasar.


Memakai helm teropong, dia mengendarai motor hitam jantannya. Motor melesat cepat, menuju kabupaten, singgah di rumah klasik dikelilingi kebun.


Sanubari, Sai, dan Renji kini bertamu di rumah salah satu warga. Seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada apa pun yang disuguhkan. Penghuninya pun bermasker. Hanya rombongan Sanubari yang tidak.


"Kalian boleh tetap tinggal di sini jika mau. Tidak apa-apa. Tidak perlu membayar sewa," ucap Sanubari setelah Eiji mentransfer uang pada rekening orang tersebut.


Sanubari sedih menyaksikan fakta ini. Dia tidak lagi mendapat pengucilan. Namun, saat dia memutuskan kembali ke desa, orang-orang malah memutuskan untuk keluar dari desa.


"Terima kasih, tapi kami tidak bisa bertahan lebih lama di tempat ini. Kami tidak memiliki cukup uang untuk berobat jika lagi-lagi virus itu menyerang."


Begitulah alasan serupa yang diungkapkan setiap warga. Harapan hidup di desa ini telah mencapai titik terendah. Mereka yang takut mati tidak mau lagi bertaruh dengan takdir.


Tiba-tiba, ribut-ribut terdengar dari luar. Wanita tua meraung-raung dengan suara serak.


"Undakno regane!"

__ADS_1


Wanita itu meminta kenaikan harga. Dia mencegah dua pria yang hendak pergi.


"ORA ISO, Mbah! Seket Yuto itu Uwis mentok. Lemahmu iku ciut. Nak mongso koyo ngene ora bakal payu lak Dudu juragan sing Nuku. Kurang OPO tawarane juragan? Juragan Yo bakal ngutangi duit sing ISO dicicil."


Pria itu enggan menaikkan harga. Lima puluh juta merupakan harga maksimal yang bisa ditawarkan. Mengingat tanah berada di zona merah, tidak akan ada orang yang sudi membeli semurah apa pun harganya.


Fakta itu telak mengenai hati siapa pun yang mendengar. Mayoritas dari mereka saja ingin keluar desa.


Hanya bos para pria itu yang konon masih mau membeli dengan harga tinggi. Setiap hari, mereka berkeliling mencari warga yang ingin menjual tanah.


"Ada apa itu?"


Sanubari berbalik badan, mengintip yang terjadi di luar. Dua pria dan seorang wanita tua masih berdiri di halaman.


"Seperti biasa, anak buah Juragan Wongso selalu menetapkan harga tanah dan bangunan seenaknya. Harga yang mereka tawarkan bahkan tidak cukup untuk membeli serum itu."


Pono mendesah kesal. Dia gerah dengan kelakuan orang-orang itu.


"Memang kenapa nenek itu ingin menjual rumahnya? Dia terlihat baik-baik saja," tanya Sanubari. Perhatiannya masih tertuju pada perselisihan pendapat di seberang.


Rumah wanita tua itu sudah berdinding batako, tetapi lantai masih berupa tanah. Rumahnya tidak begitu luas. Terasnya pun bertiang bambu.


"Cucunya terinfeksi. Katanya, hari ini adalah hari terakhir. Kalau sampai nanti malam tidak mendapat penanganan, maka tidak akan ada lagi harapan untuk besok. Kasihan sekali Mbok Jum," terang Pono.


Istri Pono ikut menimpali, "Iya, percuma saja ada jaminan kesehatan dari pemerintah. Sama sekali tidak bisa digunakan untuk penyakit ini. Omong kosong yang namanya pengobatan gratis. Tetap saja serum harus ditebus dengan uang sendiri. Wabah ini benar-benar mencekik rakyat cilik seperti kami."


Sanubari bangkit dari kursi, melangkah keluar. Tanpa gentar, dia mendekati sumber keributan.


"Akan kubeli dua ratus juta."

__ADS_1


__ADS_2