Santri Famiglia

Santri Famiglia
Olimpiade Berakhir


__ADS_3

Wasit menghentikan pertandingan. Dia diam sejenak. Semua orang menunggu kepastian dengan berdebar-debar.


Lampu indikasi poin di meja penjurian menyala untuk Sanubari. Sedangkan lampu indikator untuk Kim Jae Hyun tidak menyala. Itu artinya Sanubari menjadi satu-satunya yang berhasil membuat tusukan.


Lampu putih tidak menyala sehingga dapat dipastikan tidak ada kesalahan, tidak ada serangan tepat sasaran dalam waktu bersamaan yang dilakukan kedua atlet anggar. Tidak perlu lagi mengulang pertandingan karena hanya satu atlet anggar yang berhasil mencetak poin. Perolehan poin Sanubari dinyatakan sah.


Pembawa acara langsung mengumumkan hasilnya begitu wasit mengucapkan putusan akhirnya. Semua orang masih tetap bersemangat sampai detik terakhir. Musik energik kembali diputar mengiringi penyebutan nama pemenang.


Pertandingan berakhir dengan hasil Sanubari meraih medali emas, Kim Jae Hyun meraih medali perak dan Andrean Montano meraih medali perunggu.


Mereka bertiga berbaris menaiki podium sesuai posisi. Medali dikalungkan ke leher mereka. Sanubari tersenyum lebar menunjukkan medali emasnya.


Usai rangkaian perlombaan foil tunggal putra tingkat pemula berakhir, Sanubari berhambur memeluk Kelana. Ini adalah pencapaian terbesar Sanubari yang pertama. Sanubari sangat gembira.


"terima kasih atas segalanya, Paman!"


Kali ini Sanubari menangis bahagia. Ia terharu dengan pencapaiannya sendiri. Tiga bulan yang lalu dia tidak tahu sama sekali tentang anggar. Namun, sekarang dia bisa berdiri sebagai pemegang medali emas dalam kompetisi bertaraf Internasional. Sungguh sesuatu yang sulit dipercaya.


Semua ini berkat Kelana. Kelana yang memperkenalkan anggar kepadanya. Kelana pula yang dengan telaten melatihnya secara fisik dan psikis.


"Kerja bagus, Sanu!" Kelana membalas pelukan Sanubari.


Sanubari tidak sabar untuk memperlihatkan medali emasnya kepada Sanum. Namun, beberapa jurnalis mencegatnya saat mereka berdua hendak keluar. Sanubari terpaksa meladeni mereka terlebih dahulu. Untuk wartawan Indonesia, Sanubari bisa berkomunikasi sendiri. Akan tetapi, Sanubari masih butuh pendampingan Kelana ketika berbicara dengan wartawan dari negara lain. Kemampuan bahasa asing Sanubari belum begitu bagus.


Setelah itu mereka berjalan ke ruang ganti. Sanubari melepas kostum anggarnya lalu memakai baju biasa. Di luar ruangan, keluarga Sanubari dan Kelana sudah menunggu.


Sanubari langshung dipeluk Kumbara dan Embara begitu keluar dari ruangan. Kedua anak kembar itu mengucapkan selamat kepada Sanubari. Sanubari pun mengucapkan terima kasih kepada mereka.


Kemudian, Kumbara merangkul Sanubari lalu berkata, "Akhirnya cita-citaku terwujud juga. terima kasih, Sanu!"


Kumbara cengengesan sambil menepuk-nepuk bahu Sanubari. Harapannya sempat pupus ketika Sanubari lari dari loper. Namun, harapannya bangkit lagi ketika Sanubari berhasil maju ke babak final.


"Cita-cita? Memangnya cita-citamu apa? Kenapa berterima kasih padaku?" Sanubari tidak mengerti hubungan cita-cita Kumbara dengan dirinya.


"Tentu saja aku harus berterima kasih padamu. Cita-citaku tidak akan terwujud tanpamu. Sebab, cita-citaku adalah menjadi pelatih anggar termuda yang lebih hebat dari peraih medali emas di olimpiade." Kumbara tertawa bangga.


"Oh, itu. terima kasih sudah menemaniku berlatih selama ini."


"Sama-sama. Tidak sia-sia aku melatihmu selama ini."


"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak ikut olimpiade? Aku yakin kau yang akan dapat emas kalau ikut."


"Bagaimana kalau kita makan-makan untuk merayakan kemenangan Sanu?" sela Kelana yang membawakan tas Sanubari.


"Setuju!" sahut Embara.


"Boleh," kata Asia yang baru bisa sedikit berbahasa Indonesia.

__ADS_1


"Berhubung nyonya Asia juga setuju, ayo kita cari restoran lezat terdekat!" ajak Kelana.


Mereka pun beranjak menuju tempat parkir. Sanubari masih memakai medalinya. Dia lupa menunjukkan kepada Sanum gara-gara serbuan kembar.


*****


Delapan hari olimpiade pun berakhir. Upacara penutupan juga sukses digelar. Hari berikutnya, asosiasi anggar internasional mengundang para peraih medali dalam kompetisi anggar beserta para pelatih secara ekslusif. Mereka mengadakan acara makan-makan dan ngobrol santai untuk menambah relasi.


Untuk anak-anak, kedua orang tua yang mendampingi juga di undang. Namun, Sanubari hanya datang bersama Kelana. Sanum tidak enak badan. Sedangkan Aeneas belum kembali ke rumah sejak pertama kali berpamitan untuk bekerja kepada Sanubari beberapa Minggu silam. Sudah dua bulan lebih ayah Sanubari itu tidak pulang.


Tiba-tiba seseorang menyapa, "Kelana!"


Kelana menoleh. "Mas Heru!"


"Tidak kusangka kau ternyata seorang pelatih tangguh yang tidak bisa diremehkan. Tidak salah aku menerima atlet di bawah bimbinganmu untuk maju ke olimpiade."


"Mas Heru bisa saja. Memang dasarnya anaknya berbakat saja makanya bisa maju sejauh ini. Mas sendiri bisa menelurkan atlet-atlet peraih emas."


Heru tertawa. "Aku cuma beruntung dapat anak emas. Jadi bisa numpang nama."


Heru adalah ketua umum IAI. Kebetulan dia juga menjadi pelatih Jin. Tidak banyak yang dia lakukan untuk mengasah kemampuan Jin karena pemuda itu belajar dengan cepat.


"Jin sepertinya memang terlahir multitalenta," ucap Kelana.


"Ngomong-ngomong, apa kalian akan ke Indonesia bersama kami?"


"Bukankah undangan dari presiden Wahono sudah sampai padamu?"


"Iya, aku sudah menerimanya. Lagipula acaranya masih dua Minggu lagi. Tidak perlu terburu-buru."


Kelana sibuk mengobrol dengan Heru. Sanubari tidak ingin ikut campur pembicaraan orang dewasa.


Sanubari kelayapan sendiri. Matanya terhipnotis aneka makanan yang menggoda lidah. Dia ingin mencicipi semuanya. Perburuan makanan pun dimulai.


Sanubari mencari-cari sosok yang dia kenal. Pada gladi bersih upacara pembukaan, Sanubari sempat melihatnya sekilas. Namun, dia tidak ada kesempatan untum menyapanya. Selesai gladi bersih dia mencoba mencarinya tetapi tidak bisa menemukannya.


Sanubari pun berpikir bahwa dirinya mungkin salah lihat. Namun, di upacara penutupan Sanubari melihatnya lagi. Saat itu dia bisa mengobrol sebentar. Walaupun sekadar tegur sapa saja.


Malam ini semua orang berpenampilan sangat rapi. Semuanya menggunakan setelan jas. Sementara para gadis kecil dan wanita memakai gaun yang indah. Sanubari mengambil makanan yang terhidang seperti prasmanan sambil mengedarkan pandangan.


Dia mencomot makanan dari meja satu ke meja lain tanpa rasa sungkan. Jika perihal makanan, Sanubari memang lebih sering mengabaikan rasa malu. Malu tidak bisa membuatnya kenyang. Dia tidak ingin menyesal tidak bisa makan enak hanya gara-gara gengsi.


Tiba-tiba manik mata Sanubari menangkap sosok yang ia cari. Sanubari segera memasukkan bulat-bulat arancini di tangan ke mulut. Buru-buru Sanubari menelannya.


Kemudian, dia menghampiri pemuda yang dikerumuni para wanita cantik. Sanubari memanggilnya, "Kak Penculik Baik Hati!"


Jin mengenali suara bocah yang memanggilnya. Hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu. Dia pun menoleh.

__ADS_1


"Bocah, rupanya kau di sini juga?" sapa Jin sedikit terkejut.


Pasalnya, yang Jin tahu pesta malam ini hanya diperuntukkan bagi para pemenang saja. Sedangkan di video terakhir yang dia lihat jelas sekali Sanubari kalah telak dari Andrean Montano. Setelah itu Jin tidak mengikuti perkembangan pertandingan lagi sehingga dia tidak tahu hasil akhirnya.


Berita tiga bocah tampan di olimpiade yang menjadi sorotan netizen memang berkeliaran di semua media. Tiga bocah itu adalah Sanubari, Kim Jae Hyun dan Andrean Montano. Tiga bocah tampan berbakat yang menjadi pemenang dalam olimpiade cabang olahraga anggar bernomor foil tingkat pemula.


Namun, Jin tidak berminat membaca artikel semacam itu. Menurutnya hal semacam itu tidak penting. Selain itu, sebagian besar artikel biasanya juga memuat tentang dirinya sendiri yang dipuji-puji para wanita. Jin tidak butuh membaca berita tentang dirinya sendiri. Wajar jika dia tidak tahu hasil akhir lombak untuk anak-anak.


"Kata paman Kelana ketua asosiasi anggar mengundang kami jadi kami datang kemari," kata Sanubari.


"Oh God, you are Sanubari the gold medalis of the boy individual novice foil, right?"


(Ya Tuhan, kau Sanubari pemenang medali emas di foil tunggal putra pemula, kan?)


"Oh Boy, you are cuter than in the photo!"


(Ya ampun, kau lebih imut daripada di foto!)


Wanita lain mencubit pipi Sanubari dengan gemas. Satu per satu dari mereka mendekati Sanubari. Ada pula yang mengabadikan momen dengan berfoto.


"How old are you?"


(Berapa usiamu?)


"Jin, do you know this boy?"


(Jin apa kau kenal anak ini?)


*****


Di benua yang berbeda, seorang anak sedang menonton televisi. Awalnya dia anteng menyaksikan kartun anak. Hingga akhirnya tanpa sengaja dia melihat sebuah berita ketika memindah saluran.


[Perkembangan anggar Indonesia semakin maju. Pada olimpiade musim dingin yang diselenggarakan di Italia tahun ini, Indonesia berhasil membawa pulang tiga medali emas, dua perak dan satu perunggu.]


Di layar televisi, dimunculkan gambar Sanubari yang mengangkat medali emas dengan wajah ceria. Saluran pun segera diganti. Namun, lagi-lagi berita serupa muncul.


[Bocah cilik asal kota kelahiran presiden pertama Indonesia berhasil memenangkan medali emas dalam perlombaan anggar kategori foil tunggal putra tingkat pemula di olimpiade musim dingin Milan. Usianya baru sepuluh tahun tetapi kemampuannya dalam bermain anggar sudah sangat luar biasa. Dia mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.]


[Ini pertama kalinya saya mengikuti kompetisi seperti ini. Saya tidak menyangka bisa maju sejauh ini. Ini semua berkat dukungan pelatih, keluarga serta teman-teman yang selalu mendukung saya. Saya persembahkan kemenangan pertama ini untuk mamak.]


Suara itu, mata itu, wajah itu—semuanya menyulut emosi seorang bocah yang sedang menonton televisi. Dia mendengus kesal lalu melempar remot ke monitor. Layar televisi pun pecah.


"Argh!" teriaknya frustrasi sambil mengacak-ngacak benda apa pun yang ada di dekatnya.


"Enak temen deke. Goro-goro deke moto tengenku wuto. Wayahe deke sing sengsoro. Tapi deke malah iso dolan menyang luar negeri. Mlebu tv Yo an. Aku ora Trimo iki. Ra trimo!"


(enak sekali dia. Gara-gara dia mata kananku buta. Seharusnya dia yang sengsara. Tetapi dia malah bisa jalan-jalan ke luar negeri. Bisa masuk tv pula. Aku tidak terima ini. Tidak terima!"

__ADS_1


Dia seperti kesetanan, terus-terusan menjerit-jerit dengan emosi yang meledak-ledak. Ibunya sampai datang untuk menenangkan amukannya. Namun, hal tersebut tidak bisa memadamkan api dendam dalam hatinya.


__ADS_2