
Kelana sama sekali tidak menyampaikan telepon ancaman yang dia terima beberapa hari lalu kepada Aeneas. Sebab, Aeneas sudah berpesan kepadanya untuk tidak mengganggu dengan urusan apa pun baik pekerjaan atau hal lain selama berada di Indonesia. Aeneas sama sekali tidak peduli sepenting apa pun itu. Ketenangannya di Indonesia tidak bisa diganggu gugat.
Kelana hanya bisa pasrah bila seperti itu. Masalah pekerjaan mungkin bisa di atasi oleh Dantae, Elfata atau Fauzio. Namun, masalah yang satu ini berbeda. Hanya Aeneas seorang yang bisa menyelesaikannya.
"Ini sudah lewat dua hari semenjak telepon hari itu," gumam Kelana dalam hati lalu menghela napas, "biarlah itu menjadi kejutan bagi bos setibanya di rumah nanti."
Sanubari dudukk di dekat jendela. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pemandangan yang disuguhkan alam. Dari ketinggian, malam menyajikan keindahan kerlap-kerlip iluminasi tanda kehidupan di daratan. Siang pun menyajikan pemandangan indah yang berbeda dan tidak kalah dari yang disuguhkan malam.
Pemandangan dari dalam pesawat terbang memang luar biasa. Sanubari bisa melihat lautan, jajaran pulau serta pegunungan yang nampak kecil di bawah. Kini perhatiannya tertuju pada hamparan awan putih yang seperti lapangan.
"Bagaimana rasanya jalan-jalan di atas awan, ya? Aku ingin mencoba berlarian dan bermain sepak bola di daratan awan putih itu," celetuk Sanubari.
"Sanu, kamu tidak bisa berdiri di atas awan. Awan itu tidak seperti tanah yang bisa dipijak," jelas Sanum yang duduk di sebelah Sanubari.
"Tapi awan itu terlihat padat dan bisa dipijaki."
"Kelihatannya memang begitu. Tapi kenyataannya awan itu hanyalah kumpulan gas yang sangat tebal. Jadi, kamu tidak bisa berdiri di atasnya," jelas Sanum lagi.
Setelah seharian penuh melakukan penerbangan, akhirnya Mereka sampai juga di bandara Verona. Mereka tiba pukul satu siang lebih sedikit waktu setempat. Dantae sudah menunggu kedatangan mereka dari satu jam yang lalu.
Dari bandara Verona, mereka meluncur ke vila mewah di dekat danau Garda. Waktu tempuh yang dibutuhkan kira-kira sekitar satu jam lebih. Dalam perjalanan itu, Dantae yang menyetir supaya Kelana bisa beristirahat.
Setelah cukup lama menyusuri jalanan, mereka pun memasuki halaman rumah yang cukup luas. Mobil berhenti di depan pintu. Kelana menurunkan barang-barang mereka. Termasuk bibit singkong milik Sanubari. Kemudian memasuki rumah bergaya klasik.
"Waoh, ini sangat luas!" Mata Sanubari membulat sempurna ketika menginjakkan kaki ke dalam rumah yang laksana aula.
"Benvenuto, Aeneas!"
__ADS_1
Seorang wanita muda berlari dan memeluk Aeneas. Dia mencium pipi kanan dan kiri Aeneas tanpa memedulikan orang-orang yang datang bersamanya. Dia bahkan melanjutkan ciumannya dan hampir mendaratkan kecupan pada bibir Aeneas.
Namun, pria itu menghentikannya. Dia menghalangi bibir wanita itu dengan telapak tangan lalu mendorong wajahnya menjauh.
"Uh, mi hai rifiutato di nuovo. Mi manchi davvero. Ma non importa. Presto sarò in grado di farlo qui."
(Uh, kau menolakku lagi. Padahal aku sangat merindukanmu. Tapi tidak masalah. Sebentar lagi aku pasti akan bisa melakukannya di sini.)
Wanita itu menyentuh bibir Aeneas dengan jarinya. Dia tersenyum penuh percaya diri.
Sanum syok menyaksikan pemandangan ini. Wanita itu terlihat sangat intim dengan Aeneas. Mereka terlihat seperti memiliki hubungan dekat.
"Apa maksudnya ini? Mungkinkah wanita ini juga istri Aeneas? Jadi selama ini dia sudah menikah lagi? Lalu, kenapa dia membawaku kemari? Untuk apa dia menjemputku?" kata hati Sanum bergetar.
Sanum cemburu dengan keakraban mereka. Wanita itu bisa dengan mudahnya bergelayut manja dengan Aeneas. Sedangkan Sanum sendiri masih agak canggung berinteraksi dengan Aeneas setelah sekian lama terpisah.
Sanubari tidak kalah syok dengan ibunya. Ada wanita lain yang bisa sedekat itu dengan ayahnya selain sang Ibu. Dia pun bertanya, "Paman, kenapa bibi ini mencium papa?"
Dengan tenang Kelana menjawab, "Itu hanya salam yang biasa dilakukan orang-orang sini, Tuan Muda. Seperti halnya orang Indonesia yang mencium punggung tangan saat berpamitan dengan orang tua atau yang dihormati, di sini mencium orang yang dikenal sebagai salam pun sudah membudaya."
Kelana tidak sepenuhnya berbohong. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menceritakan yang sebenarnya kepada Sanum dan Sanubari. Dia harus menunggu lampu hijau terlebih dahulu dari Aeneas. Barulah dia bisa menjelaskannya kepada ibu dan anak itu.
Mendengar Kelana yang berbicara dengan bahasa asing kepada seorang anak kecil, barulah wanita itu memperhatikan sekitarnya. Dia hanya mengenal Dantae dan Kelana.
"Perché ero troppo entusiasta di darvi il benvenuto, non mi ero reso conto che veniste con qualcun altro. Benvenuti a tutti!"
(Karena terlalu bersemangat menyambutmu aku jadi tidak sadar kau datang bersama orang lain. Selamat datang, semua!"
__ADS_1
Perhatian wanita itu tertuju pada Sanubari. Dia menyentuh pipi Sanubari dengan kedua telapak tangannya lalu berkata, "Oh mio Dio, chi è questo ragazzo che ti somiglia tanto, Aeneas? Hai un fratellino? Perché tua zia non me lo ha mai detto?"
Wanita itu benar-benar terlihat sok kenal sok dekat di mata Sanubari. Satu lagi pengalaman baru Sanubari. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh orang-orang di desa asalnya. Kelihatannya wanita inki juga ramah.
Sanubari pun dalam hati berkata, "Ternyata memang benar kata paman Kelana, ya? Orang luar negeri suka sekali menyentuh orang untuk menyambut. Bahkan bibi ini juga menyentuhku yang sama sekali tidak dia kenal."
Sementara itu, Aeneas menatap Dantae dan Kelana dengan muka masam. Dia kesal karena rencananya bocor kepada orang lain. Aeneas memiliki banyak vila dan rumah yang tersebar di kota yang berbeda-beda.
Tidak ada yang tahu dimana setiap harinya Aeneas akan tinggal kecuali para asisten pribadinya. Seharusnya vila yang berada di bagian selatan danau Garda ini kosong. Akan tetapi, saat ini wanita yang paling ingin dia hindari malah berada di dalam rumah, menunggunya pulang entah sejak kapan.
Baik Kelana maupun Dantae tertunduk. Mereka sama-sama merasa bersalah. Ini bisa dianggap pengkhianatan kecil. Namun, keduanya sama-sama tidak berdaya melawan dua orang yang sama-sama berkuasa.
Kelana berkata, "Non sono stato io a farla trapelare."
(Bukan aku yang membocorkannya.)
Dengan takut-takut Dantae mengaku, "Scusa, dovevo farlo."
(Maaf, aku terpaksa melakukannya.)
Aeneas murka mendengarnya. Rencana yang sudah disusun matang gagal begitu saja. Ini semua gara-gara salah satu asistennya memberitahukan keberadaannya kepada orang lain. Padahal dia berencana berlibur bersama Sanubari dan Sanum selama beberapa hari. Namun, kini malah datang seorang pengganggu.
Dengan Nada tinggi Aeneas berkata, "Chi ti ha detto di dire che stavo venendo da lui?"
(Siapa suruh kau mengatakannya kalau aku akan kemari kepada dia?)
"Gli ho ordinato."
__ADS_1
(Aku yang menyuruhnya.)