
Langit malam cerah tanpa gumpalan awan yang berarak. Bintang gemintang tampak jelas tersebar di sekitar bulan. Anki menatapnya. Teh Rosela hangat menjadi pewangi alami halaman rumah yang masih dibangun.
"Ah, begini rasanya dikucilkan. Eiji dan yang lain sungguh keterlaluan. Mereka mengusir kami begitu saja," keluh Fukai berjalan mendekati tempat para gadis duduk.
Anki melihat Fukai yang menendang-nendang kerikil. Helaan napas panjang nan kesal terdengar dari mulut dokter pria itu. Juma berjalan di sebelahnya.
"Memangnya, kenapa mereka mengusir Paman?" tanya Anki. Tatapannya masih tertuju pada wajah Fukai yang tampak suntuk.
"Katanya, kami bukan anggota. Jadi, harus keluar," jawab Juma. Kepala plontosnya berkilau memantulkan cahaya lampu teras.
Fukai mengangguk, membenarkan perkataan Juma. "Mereka bilang mau rapat eksklusif khusus anggota."
"Anggota apa? Jadi mau coba ke sana," kata Anki beranjak dari kursi.
Namun, begitu turun dari anak tangga, Fukai mencekal lengan Anki. "Jangan! Nanti Eiji bisa marah. Di sini saja! Kita ngobrol bersama."
__ADS_1
Pandangan Fukai tertuju pada Petahana. Senyumannya berbalas. Namun, secepat kilat, pandangan gadis itu tertunduk.
"Benar. Anki di sini saja. Biarkan para lelaki itu mendiskusikan apa pun yang mereka mau," kata Petahana yang kemudian menyeruput teh.
"Hm, ya sudahlah. Palingan mereka mau membicarakan tentang kafe singkong. Begitu saja main rahasia-rahasiaan."
Anki kembali ke tempatnya. Dia teringat pertama kali bertemu Abrizar dan Sanubari. Mereka mengatakan padanya bahwa ingin mengajak Eiji bekerja sama untuk sebuah bisnis. Sampai detik ini, Anki percaya yang sering mereka diskusikan adalah tentang bisnis peresingkongan.
"Fukai dan Juma mau teh?" tawar Petahana.
Fukai dan Juma menerima tawaran itu. Petamana mengambil dua gelas baru. Malam itu, mereka mengobrol banyak hal untuk lebih saling mengakrabkan diri dan mengenal. Mulai dari hal random hingga sesuatu yang bersifat personal tidak luput sebagai topik pembicaraan.
Aldin sangat ingin Sanubari mengalami hal serupa dengannya. Kepindahan Sanubari sembilan tahun yang lalu membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kembalinya Sanubari ke desa saat ini membuat Aldin nekad.
"Bagaimanapun caranya, Sanu harus mendapatkan balasan. Jika orang lain tidak bisa, maka aku yang akan melakukannya sendiri."
__ADS_1
Aldin menyeringai. Dia telah menemukan solusi untuk mewujudkan keinginannya.
Pagi itu, dia mengumpulkan pasukan. Mereka beramai-ramai menuju rumah Sanubari. Namun, mereka tertahan di depan gerbang temporer.
"Sanu, keluar kau!"
"Keluar!"
"Jangan sembunyi di dalam sana, Pengecut!
Mereka berteriak-teriak, berbuat gaduh di depan gerbang. Sebuah tembakan dilepaskan. Penjaga gerbang bersembunyi di balik pos. Dia gelisah. Lebih dari sebelas orang berkerumun di luar dan semua bersenjata. Mustahil bila dirinya menghadapi mereka sendiri.
Penjaga gerbang itu mengintip. Ada orang yang memukul-mukul gerbang dengan golok. Bunyi berdentang sangat berisik dan mengganggu. Namun, besi gerbang cukup kokoh untuk menahan sabetan golok.
Di antara orang-orang yang emosional itu, berdirilah Aldin di belakang. Pimes tersaku di celananya, siap dipakai ketika Sanubari menampakkan diri.
__ADS_1
Karena emas, sang penjaga gerbang pun menelepon. Dia terus mengintip sambil menunggu panggilan terhubung.
Preman-preman semakin brutal. Batu pun dilempar ke dalam. Akan tetapi, gerbang masih kokoh menahan dan triplek besar tidak pecah terkena timpukan batu. Ketebalan dan lapisan material pun mampu menghentikan peluru yang lagi-lagi ditembakkan.