Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mengambil


__ADS_3

Polisi menghentikan taksi yang baru saja melintasi rambu lalu lintas. Saat mobil berhenti, polisi mengamati, mengintip ke dalam melalui jendela depan yang dibuka. Polisi tersebut meminta kelengkapan kendaraan, lalu menyerahkan sesuatu pada sang sopir.


"Anda melakukan beberapa pelanggaran malam ini. Mohon hadiri sidang tepat waktu!" kata polisi.


Sopir taksi ingin mengelak. Namun, dia tidak memiliki bukti untuk melakukan pembelaan. Penumpang yang menjadikan mobilnya untuk kebut-kebutan telah pergi.


Pada saat itu, Damiyan berlari ke halaman pondok sederhana pertanian. Dia mengetuk pintu dengan tergesa. Ketukannya begitu nyaring hingga kuda-kuda di istal mendengus dan meringkik.


Anjing gembala menegakkan telinga. Seketika itu juga, ia berlari, menyalak galak menyongsong Damiyan. Mendengar gonggongan, Damiyan sontak menoleh. Si anjing gembala tampak akan menyerangnya. Maka dari itu, berlarilah Damiyan.


"Kakek Fang, suruh peliharaanmu ini berhenti mengejarku!" teriak Damiyan.


Dia berlari mengitari rumah, sengaja tidak menjauh supaya pemilik rumah mendengar teriakannya. Akan tetapi, suaranya tenggelam oleh gonggongan lantang tiada henti, entah bisa tertangkap telinga pendengar secara utuh atau tidak.


"Kakek Fang, bukakan pintu untukku!"


Keributan itu didengar oleh tukang kebun. Pria itu mengambil garpu penggaruk dengan sigap. Dia keluar dari tempat peristirahatan, lalu bersembunyi di balik pohon. Ketika Damiyan melintas, dia mengayunkan garpu. Besi itu mengenai pelipis Damiyan.


Pria berambut putih itu seketika mengerang kesakitan. Kepalanya ngilu tiada terkira. Darah mengalir akibat saking kerasnya hantaman.


Anjing terus menggonggong di dekat Damiyan yang terduduk. Saat kegaduhan terjadi, sang pemilik rumah sedang membaca buku di depan perapian. Dia lekas menutup buku, lalu berjalan ke jendela terdekat. Dia menyibak gorden untuk mengetahui apa yang terjadi. Saat melihat si rambut putih, dia merasa mengenali pemuda itu. Pria tua itu lekas membuka pintu samping. Damiyan dan tukang kebun menoleh secara serempak.


"Maaf, Tuan Fang. Saya pikir tadi pencuri. Jadi, saya memukulnya. Siapa sangka yang datang malam-malam begini adalah Tuan Damiyan." Tukang kebun membungkuk penuh sesal.


Si kakek memperhatikan darah yang menuruni pelipis Damiyan. Namanya adalah Fang Fang. Dia merupakan seorang veteran, mantan intelijen rahasia yang ditugaskan untuk memata-matai militer negara lain—khususnya negara yang berselisih maupun berpotensi menjadi musuh. Rambut dan kumisnya putih. Potongannya seperti kakek Kentucky.


"Bawa masuk, lalu panggilkan Dokter Patrick!"


"Baik, Tuan! Saya akan segera menelepon Dokter Chen." Tukang kebun itu menuntun Damiyan, lalu mendudukkannya ke sofa.


"Sumi!" Kakek Fang berjalan ke lorong menuju dapur.


Perempuan muda berusia sekitar 18 tahun keluar dari kamar. Rambutnya asal diikat dengan buru-buru. Dia hanya mengenakan piyama.

__ADS_1


"Iya, Kek." Sumiati menghadap dengan was-was. Tidak biasanya, majikannya ini akan memanggil di luar jam kerja.


"Buatkan minuman dan air hangat untuk membersihkan luka tamu kita!"


"Siap, Kek!" Sumiati bergegas ke dapur. Dia menyalakan kran air panas, lalu menampung airnya ke baskom. Saat hendak membuatkan minuman, dia tidak tahu harus membuat apa.


"Ah, aku lupa menanyakannya." Sumiati menepuk jidat. Dia berlari kecil, mencari handuk kecil bersih. Kemudian, membawa air panas yang dicampur dingin hingga suhunya suam-suam kuku ke perapian. Dia melihat pria muda sedang berbincang dengan sang majikan.


"Aku butuh bantuanmu, Kek."


"Begitu lama kau tidak muncul. Kini, kau mendadak muncul hanya untum minta bantuan?"


"Ini mendesak. Aku hanya perlu pakaian dan sesuatu yang bisa digunakan untuk menyembunyikan wajah serta rambutku yang mencolok ini."


"Oh, jadi, kau sungguh ingin mencuri?"


"Bukan, tapi menyelamatkan orang. Tenang saja! Kakek tidak perlu terjun langsung. Kakek hanya perlu menyediakan kendaraan dan menyopirinya untukku. Selebihnya, akan kukerjakan sendiri."


"Tidak perlu. Kami akan segera pergi lagi," tolak Damiyan.


"Sumi, bersihkan lukanya!"


"Siap, Tuan." Sumiati mencelup kain keair, lalu memerasnya. Dia mengelap darah dari wajah Damiyan.


Saat melihat Fang beranjak, Damiyan bertanya, "Kakek mau ke mana?"


"Mengambil pakaian untukmu."


Pria tua itu meninggalkan Damiyan berdua dengan Sumiati. Tak lama kemudian, bersama dengan kembalinya sang kakek, tukang kebun datang bersama Patrick Chen. Dokter muda tersebut memberikan perawatan lebih lanjut pada Damiyan.


"Tidak apa-apa. Hanya luka robek kecil," kata Patrick.


"Berhubung aku ini sudah tua, kalian yang lebih muda saja yang berangkat. Ini seragam pengintaian ku watu masih muda. Kurasa muat untuk kalian."

__ADS_1


"Pergi ke mana?" tanya Patrick.


"Aku tidak keberatan siapa pun yang bersedia menemaniku asalkan bisa merahasiakan ini. Kita akan pergi ke rumah sakit ...." Damiyan menjelaskan secara singkat tentang misi yang akan dikerjakan.


"Kalau ke rumah sakit, sebaiknya kita memakai baju perawat saja, lalu membawa ambulans," saran Patrick. Dia setuju untuk pergi bersama Damiyan.


Patrik bergegas meninggalkan rumah pak tua Fang. Dia kembali membawakan pakaian untuk Damiyan. Dengan berpenampilan seperti perawat, mereka pergi dengan mobil. Alis Damiyan diwarnai dengan pensil alis Sumiati. Rambutnya juga dicat cokelat kehitaman dengan semir semprot, lalu memakai kontam lensa gelap untuk menyembunyikan iris mata.


Dia telah memindai gedung rumah sakit. Didekat elevator, masih terjadi perkelahian. Namun, elevator khusus untuk mobilitas pasien tampk lengang. Sesampainya di gedung rumah sakit, mereka berpencar.


Patrick mengurus ambulans yang akan dipakai, sementara Damiyan naik ke atas setelah mengambil troli dengan obat-obatan asal. Begitu keluar dari elevator, seorang ajudan langsung mencegatnya.


"Mau apa kau?"


"Saya diminta untuk mengantarkan bius tambahan," kata Damiyan.


Dia pun dibiarkan lewat. Damiyan menggeser pintu dan buru-buru menutup kembali setelah masuk. Beberapa dokter dan asisten bedah menoleh padanya.


"Di luar ada yang ingin mengambil anak itu. Para pengawal sedang berkelahi dengannya. Pak Menteri menyarankan untuk menunda operasi lanjutan. Anak itu sebaiknya disembunyikan ke ruangan lain sebelum orang itu mendobrak tempat ini?" ujar Damiyan.


Di saat yang bersamaan, para dokter yang menangani putra sang menteri tertegun kagum. Jantung yang mereka letakkan pada raga baru bisa menyambung dengan sendirinya tanpa dijahit. Jantung tersebut tidak berhenti berdetak sejak diangkat dari raga asli. Itu adalah pemandangan di luar nalar yang pernah mereka lihat. Mereka mematung di posisi masing-masing.


"Kamar mana yang kosong?"


"Kamar jenazah saja! Pria itu pasti akan memeriksa setiap ruangan kalau gagal menemukannya di sini. Sedangkan kalau kamar jenazah, tidak akan ada yang mengira dia dipindahkan ke sana," saran Damiyan lagi.


"Benar juga."


"Biar aku yang melakukannya!" kata Damiyan.


Mereka melepaskan peralatan medis dari tubuh Sanubari. Raga itu mereka selubungi dengan kain putih. Damiyan mendorong brangkar Sanubari bersama seorang perawat pembantu. Sepeninggal Damiyan, putra sang menteri mengalami kejang. Tim bedah panik. Garis pada kardiograf membentuk garis acak yang terkadang datar, terkadang pula membentuk garis vertikal yang sangat kontras. Tekanan darah pasien naik dan turun secara labil.


Mereka sibuk melakukan upaya penyelamatan. Tidak ada lagi yang mengurusi Damiyan. Kendati demikian, tetap ada halangan yang menghadang langkah Damiyan.

__ADS_1


__ADS_2