Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bulan yang Indah


__ADS_3

"Mau makan sandwich, nasi, onigiri, atau mie dulu?" Sanubari menaruh sekantung penuh makanan ke atas meja. Dia mengambil dua udon instan, mengeluarkannya, bersiap untuk menyeduh.


"Banyak sekali belinya?"


"Biar kenyang," kekeh Sanubari.


Dia membuka bungkus satu persatu, membuang plastik tepat di tempat sampah di sebelahnya. Secup udon telah terbuka, mendadak Sanubari terpaku. Dia tidak tahu bagaimana cara menuang air panas dari benda di hadapannya. Sanubari berdiri kikuk.


"Ah, mungkin sebaiknya kita makan na—"


Tepat saat Sanubari berpikir untuk membatalkan niat dan hendak meletakkan udon, pria kasir menghampirinya. Pria itu menyela, menawarkan bantuan, "Otetsudai shimashou kA?"


Sanubari menoleh. Pria kasir telah berdiri di sebelahnya, tersenyum ramah. Sanubari balas tersenyum. Dia merasa beruntung. Bantuan datang tepat saat dibutuhkan. Tanpa basa-basi, dia memberikan udonnya pada pria kasir.


"Hai, choudou ii Na." Sanubari mensyukuri kebetulan yang bagus ini.


Pria kasir itu menerima udon Sanubari, meletakkannya ke bawah tempat keluarnya air, lalu menekan sebuah tombol. Air panas mengisi cup pertama. Sanubari mengamati bagaimana cara melakukannya.


"Hai, douzo!" ucap pria kasir menyerahkan kembali udon yang telah diseduh.

__ADS_1


"Arigatou!" Sanubari berterima kasih seraya mengambil udon pertama.


"Iie iie." Pria kasir mengambil cup kedua.


Sementara Sanubari memberikan udon pertama pada Abrizar. Dia juga memegangkan sumpit pada lelaki itu sambil berkata, "Tunggu tiga sampai lima menit hingga mienya matang!"


Abrizar tidak membalas. Dia hanya membatin, "Untuk apa dia menawariku kalau pada akhirnya menyuruh makan mie terlebih dahulu? Dasar?"


Dia berkonsentrasi mendengar pria kasir yang hanya berjarak satu Sanubari darinya. Mendengar sedekat ini, dia kian yakin bahwa pria kasir adalah orang yang sama dengan pria pemandu dan pramugara.


Sebagaimana seseorang bisa mengingat seseorang dengan melihat wajah, Abrizar memiliki cara tersendiri untuk mengingat orang lain. Yakni, dengan suara. Dia yang mengenal kegelapan sejak lahir telah terbiasa dengan cara kerja memori seperti ini.


"Kyousuku de gozaimasu." Pria kasir tersebut membalas dengan sangat sopan, sudah merupakan kewajiban baginya sebagai karyawan toko untuk melayani pelanggan.


Tepat setelah udon terakhir diserahkan pada Sanubari, toserba menjadi lebih ramai. Beberapa anak muda memasuki toko. Mereka berbincang-bincang.


Salah satu dari mereka menoleh ke arah dimana Sanubari, Abrizar, dan pria kasir berada. Pria Jepang yang baru datang bersama gerombolannya itu memanggil, "Mitsuki!"


Pria kasir menoleh. Dia berpamitan pada Sanubari sebelum berlari kecil menghampiri keruman seraya menjawab, "Hai, kimasu!"

__ADS_1


"Mitsuki." Abrizar mengulang nama itu dalam hati.


"Nama yang bagus. Sebagus sifatnya." Sanubari menjatuhkan pantat ke kursi sambil memegangi mie.


"Nama?"


"Um, nama karyawan tadi. Mitsuki. Kata Paman Kelana, nama itu bermakna bulan yang indah. Bisa juga bulan ketiga alias Maret. Tergantung dengan kanji apa nama tersebut ditulis," jelas Sanubari sambil memutar-mutar sumpit.


"Hm ...," Abrizar hanya bergumam sambil bermonolog dalam hati, "jadi, Mitsuki memang nama pria itu ...."


"Dia sangat baik, komunikatif, dan banyak senyum. Dari tadi dia mengajakku mengobrol. Dia juga yang membantuku menemukan makanan tanpa babi. Maklum tidak bisa baca huruf Jepang." Sanubari tertawa mengingat kejadian sebelumnya.


Dia memang sempat bingung mau mengambil apa. Akhirnya, dia memutuskan untuk bertanya pada satu-satunya pegawai yang sedang mengisi ulang stok. Pegawai itu adalah si pria kasir—Mitsuki.


Selama memilih makanan, Mitsuki mendampinginya. Dia menjelaskan banyak hal dengan telaten dan sabar. Mitsuki pulalah yang menyarankan untuk mencoba calpis.


"Orang Jepang banyak yang baik, ya? Rasanya betah kalau tinggal di sini lebih lama." Kesan baik Sanubari terhadap penduduk lokal makin bertambah.


Selama tidak berhubungan dengan organisasi mafia mana pun, sepertinya Sanubari tidak keberatan menetap. Menurutnya, tempat ini cukup nyaman untuk ditinggali. Setidaknya, itu yang dipikirkan Sanubari setelah serangkaian peristiwa sejak pertama kali mendarat di negara ini. Tentunya, dengan mengecualikan kejadian kemarin.

__ADS_1


*****


__ADS_2