
Zunta tidak melihat Sanubari. Ia hanya berjalan melewatinya lalu menuju kamarnya begitu saja. Tidak lama kemudian, persiapan pun selesai. Mereka berjalan ke gudang penyimpanan hasil panen yang ada di sebelah rumah.
Di lantai atas gudang tersebut, terparkir sebuah helikopter. Canda menekan tombol untuk membuka atap. Secara perlahan, langit-langit pun bergeser menepi.
"Wow!"
Sanubari sering memasuki gudang tersebut. Akan tetapi, ia baru tahu jika ada landasan helikopter di lantai atas gudang.
Area sekitar rumah memang mustahil dilalui kendaraan darat seperti sepeda, motor atau pun mobil. Mobilitas darat hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, jalan kaki akan memakan waktu lama untuk mencapai pemukiman.
Satu-satunya cara bepergian tercepat adalah dengan jalur udara. Begitulah cara Canda memenuhi kebutuhan rumah tangga yang tidak bisa didapat melalui bercocok tanam selama ini. Sesekali ia pergi ke kota untuk menjual hasil panen atau membeli stok kebutuhan sehari-hari.
Mereka bertiga menaiki helikopter. Canda duduk di depan sebagai pilot. Ia bersiap melakukan penerbangan. Zunta dan Sanubari duduk di belakang. Mereka mulai memakai headphone untuk meredam kebisingan.
Zunta yang tadinya merajuk telah berubah ceria kembali. Ia memeluk tas ransel kecilnya sambil senyam-senyum. Sesaat kemudian, helikopter pun siap tinggal landas.
Sanubari memperhatikan pemandangan perbukitan di bawahnya. Semakin lama, semakin banyak area yang tertutup kabut. Mungkin karena hari masih terlalu pagi.
Beberapa putaran baling-baling kemudian, helikopter mendarat di atap sebuah rumah mewah. Canda mematikan mesin. Mereka bertiga pun turun ke lantai bawah.
"¡Bienvenido, señor Broma, señorita Zunta!"
(Selamat datang, Tuan Canda, Nona Zunta!)
Seorang wanita paruh baya menyambut mereka ketika sampai di bawah. Ia adalah Narti—seorang pekerja yang menempati sekaligus merawat rumah Canda.
"Narti, pakai bahasa Indonesia saja! Kita kedatangan saudara dari Indonesia," ucap Canda sambil merangkul Sanubari.
Sanubari sudah bertambah tinggi semenjak mereka saling bertemu. Kini tingginya hampir menyamai Canda.
Narti melirik Sanubari lalu bertanya, "Wah, Aden ganteng ini siapa? Cucu lain Tuan Canda?"
"Iya dong! Sempurna sekali hidupku ini. Diberkahi cucu-cucu yang cantik dan ganteng," kekeh Canda.
Sanubari senang mendengarnya. Bukannya diperkenalkan sebagai orang asing tetapi ia malah diperkenalkan sebagai keluarga. Sanubari benar-benar telah bertemu orang baik tanpa syarat.
"Namaku Sanubari, Bi. Panggil saja Sanu!" Sanubari mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Mereka pun saling berkenalan. Hari itu mereka tidak kemana-mana. Mereka hanya beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga Narti.
Sanubari mendapatkan kenalan baru. Ternyata banyak juga warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Hari berbagi pengalaman pun berakhir, digantikan hari baru yang menyegarkan.
*****
"Siap jalan-jalan, Anak-anak!" seru Canda yang berjalan di depan.
"Siap, Kapten!" jawab kompak Sanubari dan Zunta sembari tertawa.
Zunta berlari kecil sambil melompat-lompat diikuti Sanubari yang berjalan di belakangnya. Canda masuk ke kursi kemudi lebih dulu. Baru saja Sanubari hendak membuka pintu kursi tengah, tiba-tiba deru mesin terdengar.
Brum.
"WAAAAAAAA!" Sontak Sanubari berteriak dan berlari ketika mendengar bunyi mesin mobil dinyalakan.
"SANu!" teriak Zunta yang spontan mengejar Sanubari.
Canda memandang heran kepada Sanubari yang mendadak berlari. Firasatnya mengatakan ada sesuatu pada anak itu setelah berpikir sejenak. Hatinya pun bergumam, "Mungkinkah dia ...."
Sanubari meringkuk di kamarnya. Ia menangis histeris, bersembunyi di balik selimut. Tubuhnya gemetaran mengeluarkan keringat dingin.
Napasnya terasa sesak dan berat. Bayangan kejadian hari itu kembali melintas. Rasa sakit ditusuk-tusuk serta dibanting-banting dalam kegelapan seakan-akan terjadi kembali.
"SANu, Sanu kenapa?" Zunta menghampiri Sanubari yang meringkuk di atas kasur.
Zunta mencoba menyibak selimut Sanubari tetapi Sanubari menolak. Sanubari semakin mengeratkan pegangannya.
"SANu!" panggil Canda yang mulai memasuki rumah.
Zunta yang mendengarnya pun berlari keluar kamar. Ia menggandeng tangan Canda lalu menyeretnya ke kamar Sanubari.
"SANu ada di kamar, Kek!" katanya.
Canda mengikuti Zuta sampai ke kamar. Ia langsung memeluk Sanubari yang masih dalam posisi seperti bersujud dalam selimut.
"Tidak apa-apa, Sanu! Semua sudah baik-baik saja. Semua telah berlalu. Yang kau rasakan saat ini hanyalah halusinasi," bisik Canda dengan lembut.
__ADS_1
"Sanu kenapa, Kek?" Zunta sedih melihat kondisi Sanubari.
Canda paham bahwa Sanubari sepertinya mengalami trauma. Kondisi Sanubari waktu itu sangat mengerikan. Tidak heran jika Sanubari bisa menjadi trauma.
Selama dalam perawatannya, Sanubari tidak menunjukkan adanya tanda-tanda trauma. Itu karena di sekitar mereka tidak ada sesuatu yang bisa memicu bangkitnya trauma itu sendiri.
Andaikan mereka tetap di rumah terpencil itu, Canda mungkin tidak akan pernah tahu bahwa Sanubari mengalami trauma. Akan tetapi, Sanubari masih muda. Tidak selamanya ia akan tinggal di tempat itu.
Canda memiliki tugas baru. Ia harus menyembuhkan Sanubari supaya bisa hidup normal. Dilihat dari gelagatnya, pemicu trauma Sanubari adalah bunyi mobil.
Rencana mengunjungi kantor kedutaan besar pun ditunda sejenak. Canda memulai jadwal terapi untuk Sanubari. Saat makan bersama, Canda menyuruh Mahatva—suami Narti untuk menyalakan bunyi mobil.
Alhasil, Sanubari pun bersembunyi di kolong meja sambil menutup telinga. Canda senantiasa meyakinkan Sanubari bahwa ia akan baik-baik saja. Ia juga mengatakan bahwa kecelakaan tidak selalu terjadi.
Saat berenang, pernah sekali Canda menyalakan bunyi mobil. Tingkat trauma Sanubari benar-benar parah. Ia sampai lupa cara berenang saking takutnya. Padahal Sanubari adalah pemegang medali emas pada olimpiade internasional cabang olahraga renang. Akan tetapi, dia masih bisa tenggelam hanya karena suara mobil. Akhirnya Canda yang harus menceburkan diri ke air untuk menyelamatkannya.
Kondisi psikologi Sanubari tidak memungkinkannya untuk menjelajah dunia luar. Terlalu banyak orang yang memanfaatkan mobil untuk bepergian. Bahkan di pedesaan sekalipun, mobil telah menjadi kebutuhan sekunder yang bisa dimiliki hampir seluruh kalangan. Dengan kondisinya saat ini, Sanubari tidak akan bisa hidup tenang jika menjejakkan kaki ke dunia luar.
Canda melakukan berbagai macam metode terapi untuk mengurangi dampak traumatis yang dialami Sanubari. Namun, hal tersebut tetap sulit dilakukan. Setiap hari Canda melakukan hipnoterapi kepada Sanubari. Sanubari hanya bisa tenang sesaat kemudian kambuh lagi.
Zunta selalu ada dalam setiap terapi Sanubari. Gadis kecil itu semakin mengagumi kakeknya. Selain seorang dokter hebat, ternyata Canda adalah seorang ahli hipnosis.
Ada suatu ketika dimana Sanubari mengalami amnesia temporer. Ia melupakan segalanya. Bahkan ia lupa tentang Zunta dan Canda yang jelas-jelas berada di depannya dari awal hingga akhir proses terapi.
Sanubari sampai mengalami transient global amnesia juga. Yang tentunya membuat kondisi psikis Sanubari semakin memburuk. Kegelisahannya semakin tidak terkontrol. Ingatannya pun hilang muncul secara acak.
Itu karena kesalahan Canda. Ia bermaksud menghapus ingatan Sanubari tentang peristiwa tragis hari itu. Namun, pola pikiran Sanubari terlalu unik dan sulit ditebak arahnya. Canda tidak bisa membidik memori yang ia inginkan dengan tepat. Ia pun tidak lagi berusaha menghilangkan ingatan Sanubari.
Hari ini, Sanubari dikurung dalam kamar. Bunyi mobil terus diperdengarkan. Ia berteriak-teriak meminta tolong tetapi tidak ada yang membukakannya. Sampai akhirnya ia jatuh pingsan.
Canda menggotong tubuh Sanubari ke ranjang. Ia menyelimuti Sanubari lalu berusaha memasuki alam bawah Sadar Sanubari dengan kata-kata lembutnya. Selesai melakukannya, Canda mengusap kening Sanubari dengan penuh kasih sayang.
Zunta menyaksikan nya. Ia tidak pernah absen dalam setiap tindakan kakeknya. Begitu keluar dari kamar Sanubari, Zunta pun mengutarakan keinginannya yang sempat tertunda sesaat.
"Kakek hebat! Ajari aku hipnotis juga dong!"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku mau mencuci otak semua orang jahat biar tidak ada lagi yang menjahati Sanu. Hehe."