Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tukar Kontak Istimewa


__ADS_3

Sai segera berlari lagi ke atas, menyusuri Tonbori River Walk, menuju pusat pariwisata terdekat. Memanfaatkan stagtusnya, dia meminta pemberangkatan river Cruise di luar jadwal. Tentu dia tidak meminta secara cuma-cuma. Sai membayar dua tiket dewasa—untuknya dan Sanubari.


Sai khawatir Sanubari tidak akan kuat berenang menyusuri kanal sambil menggendong seseorang. Sisi-sisi untuk berjalan kaki yang berada di sisi kanan dan kiri saja sekitar dua kilometer lebih panjangnya. Pasti melelahkan bila harus berenang sejauh itu sambil membawa beban. Sebelum kembali, Sai mengambil pesanan takoyakinya yang sempat dia tinggalkan.


Sementara itu di aliran sungai Tonbori, Sanubari telah memulai pengejarannya. Senyuman Hyun Jo memudar seiring terkikisnya jarak mereka dengan Jae Hyun. Sanubari berhasil melampaui Jae Hyun yang berangkat lebih awal. Bahkan, dalam lima belas menit, Sanubari telah berhasil menyusul untuk kedua kalinya.


Jae Hyun melambat. Dia memang seorang atlet. Akan tetapi, dia hanyalah atlet berpedang yang tak pernah dilatih berenang sampai satu kilometer lebih. Melatih kelincahan tubuh di darat jelas berbeda dengan menggerakkan tubuh dalam air.


"mueos?" batin Jae Hyun seakan tidak percaya, "geuga deo iljjig naleul jinachiji anh-assseubnikka? geuneun wae jigeum dasi jinagago issseubnikka?"


Dia yakin Sanubari telah melewatinya tadi. Dilewati Sanubari untuk kedua kalinya membuat Jae Hyun berhenti. Dia keheranan.


"ige sihab-i kkeutnangeo anibnikka? animyeon hyeonjoga myeoch laundeuleul dallago han geongayo?" Jae Hyun masih bermonolog dalam hati, seharusnya ini sudah selesai karena Sanubari menang. Namun, akan berbeda bila Hyun Jo meminta tambahan putaran lain.


Itu akan sangat melelahkan. Tidak ada jalan untuk naik. Jae Hyun harus berhasil mencapai titik semula bila ingin istirahat.


Andaikan dia bisa berhenti di tengah jalan, pasti Sudah dilakukannya sejak melewatinya di kali kedua. Tidak ada gunanya lagi kompetisi ini dilanjutkan.


Ketika Jae Hyun sedang berpikir demikian, seseorang memanggilnya dari belakang, "Jae Hyun Dolyeonnim!"


Itu Sina. Dia menaiki perahu bersama Sai. Penjelasan pemandu wisata tentang sejarah Dotonbori dan bangunan di sekitarnya pun berhentidetik itu juga.


Sai menyuruh menghentikan perahu sejenak. Dia membantu Jae Hyun naik. Kemudian, kapal Cruise kembali dijalankan, menyusul Sanubari dan Hyun Jo.


Jae Hyun meyakinkan Hyun Jo bahwa pertandingan telah usai. Akhirnya, kedua pemuda selisih satu tahun itu pun naik juga ke kapal. Sanubari berbagi takoyaki hangatnya dengan Hyun Jo. Jae Hyun ikut makan ketika Hyun Jo menyodorkan satu bola padanya.


Sina lega, tuan muda istimewanya telah kembali tenang. Kapal terus berlayar hingga dua puluh menit kemudian. Selepasnya, kelima orang itu menuju Kanidoraku—sebuah restoran dengan replika kepiting raksasa di atas pintu masuk.


"Asyik, makan gratis lagi!" seru Sanubari girang.


Sebenarnya, Sanubari dan Sai hendak memisahkan diri dari rombongan Korea tersebut setelah turun dari kapal. Namun, Hyun Jo mengajak mereka makan bersama. Sebagai pemegang keuangan, Sina pun mengucapkan akan mentraktir sebagai balasan bantuan mereka.

__ADS_1


"Maaf telah banyak merepotkan tadi. Tuan muda saya yang satu memang agak istimewa," ungkap Sina di sela perjalanan.


Sina sengaja beralih ke bahasa Indonesia supaya percakapan tidak diketahui Hyun Jo. Dia tidak ingin Hyun Jo mendadak berganti suasana hati karena tanpa sengaja menyinggung.


"Apa istimewa itu sama artinya dengan gila?" Spontan Sanubari mengernyit.


Bukannya tidak paham dengan makna istimewa, teetapi di negara asalnya tidak ada orang gila yang disebut istimewa. Masyarakat bahkan lebih sering mengolok-olok orang seperti mereka daripada memuji.


Hanya kali ini, Sanubari melihat seseorang memperlakukan orang gila dengan penuh kasih sayang. Dia menyaksikan bagaimana Sina dan Jae Hyun memperlakukan Hyun Jo dengan baik tadi. Keduanya juga tidak marah, tidak peduli apa pun yang dilakukan Hyunjo pada keduanya. Lebih dari itu, Sina dan Jae Hyun tidak merasa malu berjalan bersama Hyun Jo.


Sanubari terus memperhatikan Hyun Jo yang berjalan di depannya. Lelaki itu kini berjalan biasa. Jika dilihat dari belakang, memang tak ada yang aneh. Namun, siapa pun yang melihat ekspresinya pasti akan berpikir ada sesuatu pada diri Hyun Jo. Gerak-geriknya saat diam pun berbeda dengan orang biasa.


"Tidak. Tentu tidak begitu. Tuan muda ini memang istimewa dalam artian sesungguhnya. Dia mengidap autisme. Makanya, cara berkomunikasi dan berinteraksinya sedikit berbeda. Seperti kejadian tadi misalnya, begitulah tuan muda ketika terlanjur terobsesi pada sesuatu. Saya sudah menerapi supaya minat obsesif dadakannya itu bisa berkurang. Tapi, sampai sekarang belum ada kemajuan," jelas Sina.


"Jadi, autisme itu bukan gila?" tanya Sanubari. Dia belum begitu paham dengan istilah baru tersebut.


"Bukan. Anak autis tidak bodoh. Tidak pula mengalami gangguan mental atau sakit jiwa. Tuan muda ini sangat cerdas. Dia bahkan bisa memecahkan masalah yang tak bisa diatasi sarjana," terang Sina.


Sai dan Sanubari duduk bersebelahan. Pun dengan Jae Hyun, Hyun Jo, dan Sina.


"uliga meonjeo os-eul sass-eoya haess-eo." kata Sina yang artinya, 'seharusnya kita membeli baju terlebih dahulu' ketika mendengar Hyun Jo bersin.


"meogda." Satu kata—'makan' menjadi jawaban Hyun Jo sambil mengusap hidung.


Sanubari sama basahnya dengan Hyun Jo. Dia teringat menyimpan bajunya sendiri dalam tas. Remaja itu pun membungkuk, membuka resleting tas basah kuyup yang diletakkan di lantai. Walau luarnya basah, tetapi ada lapisan anti air yang melindungi isinya.


"igeo ib-eo!" Menyerahkan pakaian kering pada Hyun Jo, Sanubari menyuruhnya untuk memakainya.


Hyun Jo tidak langsung menerimanya. Dia melihat setelan tersebut, memikirkan bagaimana dengan Sanubari bila dia menerimanya.


"deo pil-yohan geos gatgun-yo. jeojeollo maleul ttaekkaji cham-eul su iss-eoyo. a, joesonghaeyo. hanabakk-e eobs-eoyo," imbuh Sanubari.

__ADS_1


Menurutnya, Hyun Jo lebih membutuhkan baju ganti daripada dirinya. Dia tidak masalah bila harus menunggu baju yang dipakainya kering dengan sendirinya. Karena hanya memiliki satu setel, Sanubari meminta maaf. Hampir saja dia lupa bahwa baju Jae Hyun juga basah.


"nan gwaenchanh-a." Jae Hyun mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Hyun Jo tersenyum. Tanpa sungkan, dia mengambil pakaian dari Sanubari. Ditemani Jae Hyun, Hyun Jo mengganti pakaiannya di kamar mandi.


Mereka hanya berinteraksi selama beberapa jam. Namun, kesan Hyun Jo terhadap Sanubari sudah sangat baik. Mereka bertambah akrab melalui obrolan di tengah makan.


Tanpa Sanubari, meja tersebut mungkin tak ubahnya kuburan. Sai yang sama pendiamnya dengan Jae Hyun, Sina yang penuh pertimbangan karena ada Hyun Jo, dan Hyun Jo sendiri yang hanya berkata sepatah, dua patah namun bisa ramai ketika dipancing. Bisa dibayangkan keheningan yang akan hadir bila hanya mereka berempat. Sina kagum dengan Sanubari yang bisa saling tersambung saat berbicara dengan Hyun Jo, hingga lelaki itu banyak berceloteh hari ini.


Selesai makan, Hyun Jo meminta ponsel pada Sina. Wanita itu pun memberikan ponsel milik Hyun Jo. Kemudian, Hyun Jo mengacungkan tangan pada Sanubari, meminta hal yang sama. "hyudaepon."


"o, jeowa yeonlag-eul gyohwanhasigessseubnikka? joh-eun saeng-gag-ibnida. ulineun ap-eulodo gyesog yeonlaghal su issseubnida." Sanubari mengasumsikan bahwa Hyun Jo ingin bertukar kontak dengannya. Itu ide yang bagus. Dengan begitu, mereka bisa tetap terhubung ke depannya.


Ketika Sanubari telah memegang ponselnya sendiri, Hyun Jo merebutnya. Detik berikutnya, Hyun Jo meletakkan ponselnya sendiri ke tangan Sanubari.


Sanubari menyalakan ponsel Hyun Jo sambil berkata, ""al-***-eo, ne jeonhwalo nae imeil-eul sseulge."


Yang artinya, 'Oke, akan kutuliskan emailku ke ponselmu.'. Namun, dahi Sanubari mengerut ketika melihat aksara pada layar.


"hajiman naneun hangeul-eul ilg-eul su eobs-seubnida," lanjutnya berterus terang tidak bisa membaca Hangul.


Hyun Jo mengambil kembali ponselnya. Membuka pengaturan, dia mengubah bahasa sistem, lalu mengembalikan ponsel pada Sanubari.


"jib-ega." Setelah berkata pulang, Hyun Jo berdiri, pergi begitu saja dengan membawa ponsel Sanubari.


"Terima saja! Tuan muda Hyun Jo akan marah bila kamu mengembalikannya. Beginilah cara tuan muda bertukar kontak. Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa," ujar Sina sebelum menyusul Jae Hyun dan Hyun Jo yang keluar terlebih dahulu.


"Daripada bertukar kontak, bukankah ini lebih tepat disebut bertukar ponsel?" Sanubari menatap bingung pada tiga orang Korea yang baru saja pergi.


Pengalaman baru yang cukup ganjil baginya. Ditambah lagi, ponsel Hyun Jo tampak lebih mahal. Layarnya lebih mulus disentuh dan layarnya lebih lebar. Orang normal mana yang mau menukar ponsel mahal dengan ponsel yang lebih murah, Sanubari masih tercengang di tempat sambil memegang ponsel Hyun Jo yang resmi menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2