Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tes Ingatan


__ADS_3

Burung-burung berkicau, seolah menertawakan drama yang terjadi di antara anak manusia. Sepoi angin tidak mampu menggoyangkan tiga insan yang terpaku dengan keterkejutan masing-masing.


Di teras sebuah vila megah, empat orang berdiri. Mata mereka tertuju pada satu pemuda—Sanubari.


Pemuda itu masih memegang tangan Aeneas. Sementara Zunta memeluk Sanubari. Mata Aeneas membelalak mengetahui putranya tidak mengenalinya. Zunta pun sama. Gadis itu mendongak, menatap wajah Sanubari yang kebingungan.


Tidak jauh dari mereka, duduklah Canda yang sedang menyeruput teh. Kakek itu mendengar interaksi singkat mereka. Dia meletakkan cangkirnya kembali, lalu berdiri. Dia menghampiri Sanubari dan membuat remaja itu duduk saling berhadapan dengannya. Aeneas dan Zunta ikut duduk di kursi kosong. Sementara mandor yang mengurusi bibit singkong dan kelengkapan berkebun disuruh Aeneas kembali ke pekerjaannya.


"Siapa aku?" Canda ingin mengetes ingatan Sanubari.


Dia sudah mendengar konflik Aeneas dan Sanubari. Masalah mereka berdua cukup rumit. Dia juga sudah mendengar bagaimana kondisi Sanubari sebelum tiba di Italia. Tidak ada kecelakaan maupun luka fisik yang membahayakan kepalanya.


Sanubari memperhatikan Canda. Lama dia berpikir. Semua belalang terlihat sama saja di matanya. Sementara Sanubari tidak ingat pernah berkenalan dengan belalang sebanyak ini.


Maka, dia memeras otaknya dengan keras untuk menemukan perbedaan di antara mereka, lalu memberikan jawaban, "Belalang berjenggot."


Zunta tertawa terbahak-bahak. Dia menoleh pada Canda. "Kakek mirip belalang."


Canda diam. Dia meresapi jawaban Sanubari. Sejenak, dia melirik Zunta, lalu menunjuk bocah itu sambil bertanya, "Kalau ini, siapa, Sanu?"


Pandangan Sanubari beralih ke belalang terkecil di antara ketiganya. Dia menjawab, "Belalang kecil."


Zunta langsung menatap Sanubari. Dia menunjuk-nunjuk Sanubari dengan lolipopnya. Dengan jengkel, dia berkata, "Kamu bilang apa? Belalang kecil?"


"Kamu memang kecil." Sanubari mengangguk polos.


Canda terus mengamati ekspresi Sanubari. Dia seperti sedang mencari-cari sesuatu dari Sanubari. Sekecil apa pun itu, tidak boleh ada yang dia lewatkan.


"Aku bukan belalang kecil. Aku Zunta. Z–u–n–t–a. Zunta. Apa kamu lupa itu?" Zunta memasukkan lolipopnya ke mulut. Saking kesalnya, dia meremukkan bola permen dengan gigi gerahamnya, lalu melempar tangkai permen ke kening Sanubari. Bunyi kemeratak dalam mulut Zunta sangat berisik.


Dia manyun, tidak terima disamakan dengan seekor serangga. Sedangkan Sanubari refleks mengedipkan mata karena ulah Zunta. Sanubari mengusap keningnya yang terasa sedikit lengket.

__ADS_1


"Namamu sama dengan seseorang yang kukenal, Belalang Kecil." Sanubari masih saja memakai panggilan itu.


"Memangnya ada berapa Zunta yang kamu kenal?"


"Kurasa dua. Zunta manusia dan kamu, Zunta Belalang Kecil."


Perkataan Sanubari itu menjadi awal mulainya perdebatan kusir di antara keduanya. Zunta tidak habis pikir, bisa-bisanya Sanubari menyematkan namanya pada seekor binatang dan sekarang menyebutnya sebagai binatang itu. Canda berusaha menengahi. Akhirnya, Zunta yang kesal melenggang ke tempat diletakkannya bibit-bibit singkong.


Sanubari mengikutinya. Canda sedikitnyq paham apa yang dialami Sanubari. Tidak ada kebohongan dari setiap jawaban Sanubari. Raut mukanya pun tidak menunjukkan bahwa anak itu sedang berpura-pura. Namun, remaja itu tidak amnesia. Hanya saja, matanya menciptakan dunia sendiri.


"Untuk sekarang, ikuti saja apa maunya! Jangan sesekali menolak, selama itu tidak membahayakan dirinya! Jangan pula menghakiminya! Tidak apa. Kita akan menyembuhkannya secara perlahan!" Canda memperhatikan dua generasi muda yang sibuk membawa bibit singkong ke dalam rumah kaca.


Sanubari tampak celingukan. Dia seperti kebingungan mencari sesuatu, lalu berlari ke tempat terkumpulnya perlengkapan berkebun.


"Tapi, bagaimana dengan itu?" Aeneas senang Sanubari bisa bersikap biasa lagi terhadapnya.


Akan tetapi, mengetahui sikap Sanubari itu dikarenakan dia belum seratus persen sembuh, Aeneas menjadi khawatir. Dia takut kerenggangan di antara mereka akan bertambah ketika Sanubari sembuh nanti.


Sanubari memegang pundak Zunta ketika gadis itu hendak menanam pohon singkong ke tanah yang telah digemburkan. Sanubari menggeleng. Dia menunjuk satu arah. Zunta pun tidak jadi menanam.


Jarak mereka sangat jauh. Mungkin sekitar dua kali panjang lapangan sepak bola. Canda dan Aeneas tidak bisa mendengar percakapan dua anak itu.


Vila yang ditempatinya kali ini berkali-kali lipat dari Vila danau garda. Dia bahkan sengaja membeli tanah-tanah milik warga untuk memperluasnya setelah Canda menyarankan rawat jalan di rumah.


Semua itu semata-mata supaya Sanubari bisa menjalankan hobinya dengan leluasa ketika sembuh. Aeneas tidak bisa melupakan bagaimana obsesifnya anak itu terhadap singkong. Gara-gara anak itu pula, seratus persen anak buahnya menjadi pelanggan tetap singkong goreng dan varian olahan lainnya.


"Itu?" Canda agak kurang mengerti arah pembicaraan Aeneas. Perkataannya sedikit multitafsir.


"Kesalahpahaman di antara kami."


"Oh, itu." Canda sedikit menghela napas. "Tidak semua kenangan buruk bisa dihapus. Tidak pula kebenaran pertama bisa diganti dengan kebenaran baru, meski kebenaran pertama itu sesungguhnya kesalahan. Masalah kepercayaan itu rumit."

__ADS_1


Canda mengakui hal itu. Seorang anak yang sejak kecil dididik bahwa membunuh itu baik, maka akan tumbuh dengan meyakini bahwa pembunuhan merupakan kebenaran. Satu atau dua tahun mungkin tidak akan cukup untuk meruntuhkan doktrin pertama. Seperti itulah yang dialami Sanubari. Butuh waktu lebih lama untuk menyingkirkan kebenaran yang salah itu.


"Yang penting, perbanyaklah hal-hal menyenangkan bersama Sanu! Akan kuusahakan sebisaku membuat Sanu melupakan hal-hal buruk sebelum ini," lanjutnya memandang langit biru. Sepertinya, dia harus menetap lebih lama di sini.


"Tuan Aeneas, ada tamu." Seorang pria datang.


Aeneas menoleh. Di belakang pria itu ada anak-anak muda yang dia kenali.


"Selamat pagi, Paman! Kami sedikit membawa oleh-oleh untuk Paman dan Sanu." Anki mewakili teman-temannya.


Aeneas tersenyum. Mereka tidak pernah absen mengunjungi Sanubari. Dia salut dengan solidaritas para pemuda ini.


"Jika kalian ingin menemui Sanu, dia ada di sana." Aeneas menunjuk rumah kaca.


Anki dan Hana tersenyum melihat Sanubari sibuk dengan ladang barunya. Mereka buru-buru meletakkan barang bawaan dan berlari ke tempat Sanubari.


"Sanu! Akhirnya kamu sembuh juga!" Anki ingin memeluk, tetapi Sanubari sedang sibuk menuang sesuatu seperti tanah dari karung.


"Senang melihatmu sudah sehat lagi, Sanu. Maaf, jika selama ini aku terlalu keras padamu." Eiji belum bisa menghilangkan kecanggungannya.


Renji merangkul Sanubari. "Kenapa tidak bilang-bilang kalau kaumemiliki rumah seluas ini? Tidak kusangka, kaubenar-benar kaya, Sanu!"


Sanubari kebingungan dengan kedatangan lebih banyak belalang. Mereka semua mengenalinya, tetapi hanya Sanubari sendiri yang tidak ingat mereka siapa saja. Dia meninggalkan karungnya.


"Kalian siapa?"


Pertanyaan itu membuat semua orang tercengang, kecuali Renji. Lelaki itu tertawa.


"Candaanmu itu tidak lucu. Lihatlah! Kau membuat mereka semua melongo."


"Aku serius. Kalian siapa?"

__ADS_1


Di mata Sanubari, mereka semua terlihat sama. Meskipun suara mereka masih sama seperti aslinya, tetapi Sanubari tidak bisa mengenali suara mereka. Ingatan tentang itu sepertinya terhapus, layaknya kawan lama yang bertahun-tahun tidak bersua.


__ADS_2