
Semua orang berdiri ketika hakim memasuki ruang sidang. Mereka duduk kembali setelah hakim duduk. Aldin, Burhan, dan Wongso menghadiri persidangan tersebut.
"Akhirnya, bocah itu kena karma juga."
Wongso tertawa di sebelah Aldin. Suaranya pelan ditahan, tidak ingin terusir karena mengganggu ketertiban.
"Kuharap dia divonis hukuman mati. Itu hukuman yang setimpal untuk satu mataku," ketus Aldin menyeringai sinis.
Melihat kesengsaraan Sanubari telah menjadi kesenangan bagi Aldin. Tidak pernah terlupakan ketika sembilan tahun yang lalu Sanubari membutakan matanya. Aldin menyentuh mata kanan yang ditutup sesuatu
Dokter berhasil menghilangkan bekas luka, tetapi mata itu telah kehilangan cahaya untuk selamanya. Ketika menatap bayangan sendiri di cermin, mata itu selalu kosong dan bergerak sendiri. Oleh sebab itu, Aldin selalu menutupnya.
Sakit hatinya telah mendarah daging. Setiap kali melihat kesuksesan Sanubari Di televisi, perasaannya bergejolak.
"Penuntut umum, panggil dan hadapkan terdakwa ke ruang sidang dalam keadaan bebas!"
Sanubari berjalan ke depan majelis hakim. Semua mata tertuju padanya, membuat pemuda itu makin tegang. Tubuhnya bergetar. Masih segar ingatannya tentang hasil sidang perdana kasusnya.
Saat tuntutan pertama dibacakan, Sanubari tidak bisa membela diri. Fakta yang diungkapkan penuntut umum benar adanya. Pengacara yang disediakan pihak pemerintah puj sama sekali tidak membantu. Semua saksi memberatkannya.
Saat itu, Abrizar berdiri dari kursi pengunjung. Dia berkata dengan lantang, "Jika Sanu dihukum hanya karena menyediakan lahan kuburan gratis baru, seharusnya saksi-saksi itu juga kalian hukum! Mereka telah melakukan pungutan liar yang merugikan warga. Bukankah mereka lebih pantas disebut penjahat daripada Sanu?"
"Saudara Pengunjung, harap tenang! Jika Anda sekali lagi melanggar tata tertib dan mengganggu jalannya persidangan, maka kami terpaksa mengeluarkan Anda dari ruangan ini."
"Saya hanya menyuarakan kebenaran."
"ABRI benar, Yang Mulia. Para saksi pernah berkata bahwa kuburan akan dibiarkan bila sejumlah uang dibayarkan kepada mereka. Jika begitu, bukankah para saksi itu seharusnya juga menjadi tersangka?" Eiji ikut berdiri.
Sai menyusul kemudian sambil berkata, "Saya juga menyaksikannya waktu itu."
__ADS_1
Lalu, Renji juga berdiri. "Aku juga. Sebaiknya, bebaskan Sanu! Hanya hukum bodoh yang memenjarakan orang baik."
Sanubari terharu mendengar teman-temannya. Hanya mereka yang mau memihak padanya. Hanya mereka pula yang bersedia satu pemikiran dengannya.
Namun, salah satu saksi berdiri dan berteriak, "Mereka pasti komplotan terdakwa. Mereka hanya ingin memutar balikkan fakta. Jangan percaya mereka, Yang Mulia!"
"Penjahat teriak penjahat, kalianlah yang sebenarnya mendramatisasi kebohongan untuk menjatuhkan Sanu," sergah Renji berkacak pinggang.
Suasana makin ricuh. Mereka saling serang kata. Teguran majelis pun terabaikan. Pada akhirnya, polisi maju. Sai, Renji, dan Abrizar diusir dari ruang sidang.
Sanubari merasa sendiri lagi. Raganya seakan-akan mengecil. Dia tertunduk dalam.
Kemudian, penuntut umum membacakan dakwaan kedua, "Terdakwa Sanubari diduhga menggunakan narkotika dan menyelundupkannya ke lapas. Barang bukti berupa sebotol kapsul ekstasi seberat seratus gram dan sampel darah yang menunjukkan bahwa terdakwa Sanubari positif memakai obat-obatan terlarang tersebut."
"BAgaimana, terdakwa Sanubari? Apakah itu benar?"
"Itu tidak benar, Yang Mulia! Saya tidak pernah mengkonsumsi barang terlarang."
Sanubari tidak memiliki tempat untuk sembunyi. Masyarakat pasti akan mengenalinya sebagai buronan bila dia melakukannya. Itu pun bila upayanya berhasil. Jika tidak, kemungkinan nyawanya akan berakhir di tembakan polisi. Pikiran Sanubari semrawut.
"Bukti sudah jelas. Kenapa masih mengelak? Dua rekan yang mengatakan itu pada polisi juga mengatakan bahwa itu milik Anda."
"Saya bisa menjamin bahwa terdakwa Sanu tidak pernah mengkonsumsi narkoba. Pemeriksaan itu pasti salah. Saya dokter pribadi Sanu. Jadi, saya tahu kondisi tubuhnya. Andai dia mendapat kiriman obat, itu pasti bukan narkoba. Itu obat herbal yang memang harus dikonsumsi Sanu karena kondisi fisiknya yang belum pulih seratus persen pasca sakit."
Fukai berdiri. Dia terus berbicara tanpa terputus meskipun penuntut umum berulang kali menyela. Petamana juga memberikan kesaksian untuk memperkuat argumen Fukai. Sebelum melakukan eksperimen pada Sanubari, Petamana membaca hasil tes kesehatan Sanubari.
Tubuh pemuda itu bersih. Hanya syaraf dan sel darahnya saja yang tidak normal. Namun, mereka berdua berakhir dikeluarkan dari ruang sidang.
Tidak ada lagi yang membela Sanubari. Dia semakin terdesak. Dia dipaksa mengakui kesalahan yang tidak dia perbuat. Tidak peduli berapa kali pun Sanubari menyanggah, tidak ada yang percaya padanya. Untuk kepentingan penyelidikan, sidang keputusan ditangguhkan sampai tujuh hari ke depan.
__ADS_1
Sanubari lesu. Nafsu makannya pun berkurang meskipun setiap hari Abrizar dan Eiji menjenguk sambil membawa makanan lezat. Pikiran Sanubari tidak bisa tenang, apalagi setelah mendengar bahwa dirinya akan dijatuhi hukuman mati.
Dua hari sebelum sidang, orang tidak terduga menemuinya. Dia tidak tahu harus senang atau melanjutkan kemurungan. Kata-kata orang itu pun terdengar sebatas hiburan bagi Sanubari.
Hingga hari sidang lanjutan tiba, orang itu berjanji menemani Sanubari. Akan tetapi, dia tidak datang saat sidang dinyatakan dibuka. Itulah hari ini. Sanubari berjalan tidak percaya diri. Romannya pucat. Rambutnya pun acak-acakan tidak disisir.
Tiba-tiba, seseorang dengan tergopoh memasuki ruang sidang. Dia berkata, "Maaf sedikit terlambat!"
Tanpa memedulikan perhatian orang-orang dalam ruangan, dia berjalan elegan mendekati Sanubari. Pria yang mendampingi Sanubari berpenampilan sangat rapi. Sepatu, celana bahan, jas, kemeja, dan dasi—semua serba hitam. Rambut klimis disisir ke belakang. Langkahnya penuh keyakinan. Senyumnya pun menguarkan kepercayaan diri yang luar biasa.
Wongso, Aldin, Burhan, serta beberapa pengikut mereka terbelalak. Majelis hakim pun mendadak tercekat.
"Kenapa Kak Jin hadir dalam sidang ini?" tanya Aldin heran.
"Mungkin dia ingin melihat orang yang menurunkan omset keluarga dihakimi," jawab Wongso pelan.
Kedatangan Jin itu sungguh tidak terduga. Mata mereka makin melebar ketika melihat Jin duduk di mana.
"Apa maksudnya itu? Kak Jin duduk di kursi pembela Sanubari?" Aldin tergagap.
Wongso dan Burhan pun melongo. Mereka dilanda kebingungan, tidak tahu lagi ke mana arah persidangan akan berakhir.
Jin mengeluarkan dokumen dari tas dan menata di meja miliknya. Dia tampak santai. Berpasang-pasang mata yang menatap sama sekali tidak membuatnya grogi.
"Sejak kapan pengacara Sanubari ganti?" tanya Burhan berbisik sepelan mungkin.
Sekretaris barunya menjawab, "Saya juga tidak tahu."
"Kalau orang itu berada di pihaknya, apa sidang ini sejak awal sudah salah?" gumam Burhan mulai berkeringat dingin.
__ADS_1
Kecemasan mendadak menyerangnya. Dia seakan-akan berubah menjadi terdakwa dalam ruang sidang. Dia takut mengikuti prosesi sidang sampai akhir karena kehadiran Jin yang memposisikan diri sebagai penasihat hukum Sanubari.
Namun, dia tidak bisa keluardari tempat itu. Burhan lebih khawatir bila gelagat anehnya tercium akibat mendadak meninggalkan kursinya