
Angan Eiji masih tertinggal pada kitab suci di meja belajar Anki, meskipun raganya telah meninggalkan kamar itu. Menuruni anak tangga dengan perlahan, dia mengingat baris demi baris ayat yang dibaca sebelumnya.
"Ara—" Eiji mencoba mengucapkan kata Allah dalam benaknya, "Izanami dan Izanagi dianggap dewa pencipta Jepang. Ara pencipta seluruh alam semesta. Apakah itu artinya Ara ada lebih dahulu daripada Izanagi dan Izanami? Hm, mungkinkah ...."
Logika Eiji menghubungkan keduanya.
"Ah, mengapa aku jadi memikirkan ini?"
Eiji berhenti di anak tangga terakhir. Pikirannya masih mengambang. Dia hanya membaca satu halaman. Namun, lembar tersebut cukup untuk membuat Eiji mengakuinya. Dari segi bahasa, kitab tersebut terlihat seperti karya sastra berbobot. Bukan sekadar novel yang ditulis asal-asalan.
Satu halaman itu pula membuat Eiji merasa tersindir. Lelaki itu tersenyum ironis. "Apa aku ini orang yang sesat karena telah meminta pertolongan pada orang yang salah?"
__ADS_1
Eiji melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, masih dengan memikirkan kata 'Allah' dan 'Kamu' dari dalam kitab yang diasumsikan Eiji sebagai dewa umat muslim. Selama ini, dia tidak mengerti mengapa orang-orang suka menyembah dan berdoa pada sosok yang tidak jelas keberadaannya. Meminta bantuan pada manusia yang jelas ada di depan mata saja belum tentu mendapatkan pertolongan. Apalagi meminta pada 'mereka' yang entah di mana dan masih hidup atau tidak. Begitulah pemikiran Eiji.
Kakeknya mungkin memang seorang pendeta taat. Namun, itu tidak bisa membuat Eiji turut menjadi penganut kepercayaan yang sama. Hanya Anki yang menjadi penurut dan entah sejak kapan gadis itu mulai tertarik dengan kepercayaan lain.
Terkadang, Anki bercerita padanya ketika sedang berada di rumah. Eiji hanya mendengar tanpa ada ketertarikan sedikit pun. Namun, saat dia membaca buku tadi, entah mengapa dia merasa buku itu seperti menawarkan bantuan pada seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Buku itu memberi nasihat, pegangan untuk berbuat baik. Eiji tidak mengerti mengapa otaknya mendadak menganalisa semua ini. Melenceng sekali dari tujuan awalnya pulang ke rumah. Eiji mencoba mengosongkan pikirannya dan memakai sepatu kembali.
Keluar rumah, Eiji berlari. Dia hanya ingin segera melihat satu orang—adiknya yang paling dia sayangi. Labirin sakura yang mengingiringinya pun tak dapat mengalihkan pikirannya. Netranya memandang lurus, berharap akan bisa segera menangkap bayangan sang gadis.
Meskipun Eiji tidak bisa melihat wajahnya, tetapi dia yakin itu adiknya. Anki suka memakai baju itu ketika ke kuil. Selain itu, Anki menjadi gadis kuil satu-satunya di sini saat ini.
__ADS_1
Eiji merengkuh tubuh gadis itu dari belakang, lalu mendaratkan dagunya di ubun-ubun sang gadis "Hyakunin isshu?" ucapnya saat melihat catatan kecil yang tergantung di jari tengah Anki seperti cincin.
Anki mendongak. Dia agak kesulitan melihat, tetapi bisa mengenali suara pemeluknya. "Oh, hey, Kak! Tumben jam segini ada di sini."
"Kenapa membaca Hyakunin isshu di tempat seperti ini? Bawa-bawa sapu lidi pula," tanya Eiji basa-basi. Dia hanya ingin mendengar suara adiknya lebih lama.
"Ah, ini aku memang sedang menyapu halaman kuil sambil menghafal. Masuk goldenweek ada pertandingan."
Mendengar kalimat terakhir Anki, Eiji membelalakkan mata khawatir. Keramaian, festival akan menjadi momen yang mudah dimanfaatkan untuk menculik seseorang. Terutama mereka para profesional seperti SM, mudah bagi mereka mengelabui kerumunan dan membuat aksi mereka tidak diketahui.
Dengan serius, Eiji bertanya, "Di mana, dengan siapa?"
__ADS_1
"Hari pertama di Osu. Hari ketiga di Sakae. Aku sama Mitsuki. Kami satu tim."
"Mitsuki ... senior Yang menjadi teman sekelasmu karena harus mengulang itu?"