Santri Famiglia

Santri Famiglia
Wanita Jemawa


__ADS_3

"Makan saja kalau kau ingin menjadi robot pemakan besi. Kau pikir eskalator itu es krim dengan remahan astor yang enak dimakan?"


"Heh? Kenapa Kakak bisa tahu isi kepalaku?" Sanubari terhenyak.


"Pikiranmu itu sangat mudah ditebak, Bocah."


Jin dan Sanubari menjadi peramai di antara kelimanya. Ada saja bahan obrolan yang mereka ciptakan. Kelana sesekali ikut berbaur dengan mereka. Hanya dua insan yang tetap membisu dalam kecanggungan—Sanum dan Aeneas.


Satu jam berlalu. Rodarik lapis yang dikenali Kelana dan Aeneas sebagai calzone bertumpuk telah habis mereka santap. Ayam geprek sambal hijau pun sisa tulangnya. Minuman masing-masing juga sudah tandas.


Mereka berencana melanjutkan perjalanan menuju lantai tujuh. Sanubari ingin melihat bioskop setelah diiming-imingi Jin. Kali ini Sanubari tidak diizinkan menaiki elevator sendiri untuk antisipasi kejadian seperti sebelumnya.


"Ayo Bocah, naik ke punggungku!" Jin berjongkok.


"Tidak mau. Aku bisa jalan sendiri."


"Menurut saja! Kau tidak lihat ayahmu dan paman Kelana? Mereka bisa memakan ku hidup-hidup kalau kejadian seperti tadi terulang lagi. Apalagi kalau sampai terjadi yang lebih buruk."


"Paman Kelana suka makan manusia?" Sanubari menatap Kelana.


"Itu hanya kiasan. Sebaiknya Anda menurut supaya kita bisa bergerak cepat. Kalau tidak, nanti kita bisa terlambat. Perhatikanlah baik-baik bagaimana Jin menaiki dan menuruni eskalator supaya di lain kesempatan Anda bisa sendiri!" jawab Kelana yang kemudian dituruti oleh Sanubari.


Jin menggendong bocah itu sampai ke lantai tujuan. Sebenarnya ada juga elevator di sana. Namun, elevator hanya diperuntukkan bagi penyandang disabilitas dan pengunjung berkebutuhan khusus lainnya. Yang sehat dan kuat diharapkan memakai fasilitas pada umumnya saja. Kendati demikian, terkadang ada pula pengunjung bandel yang memanfaatkan fasilitas khusus tersebut karena tidak mau repot.


Di lantai tujuh, Kelana mengantre untuk membeli tiket masuk. Sementara Jin membeli pop corn dan minuman. SSanubari membawa dua minuman terlebih dulu karena pesanan mereka terlalu banyak. Tanpa sengaja Sanubari menabrak seorang wanita. Tubrukan cukup keras karena Sanubari setengah berlari. Minuman pun menumpahi pakaian wanita itu. Air tercecer di lantai.


"Jalan sambil melek dong, ceroboh!" sungut wanita itu.


"Maafkan putra saya, Mbak!" Sanum mendekat.


"Oh, ini anak Ibu toh? Punya anak dijaga dong! Gara-gara anak Ibu bajuku jadi basah. Padahal aku mau nonton sama tunanganku. Kalau begini mana bisa nyaman nontonnya. Dasar bocah sialan!" caci wanita itu dengan nada judes.


"Sudahlah, Sayang! Sebaiknya kita pulang dan kembali besok," rayu sang Tunangan menenangkannya.


"Enggak mau. Kamu sudah janji untuk hadiah ulang tahunku hari ini kita akan menonton tayangan perdana movie ii. Aku tidak ingin rencana kita gagal gara-gara anak gembel ini!" Rajuk wanita itu sambil memeluk lengan kekasihnya dan menghentak-hentakkan kaki manja.


"Saya akan bertanggungjawab. Tunggu sebentar!" kata Sanum yang langsung mengambil sebuah baju terusan dan memberikannya kepada wanita itu, "(ini masih baru, Mbak bisa memakainya."

__ADS_1


"Baguslah!" kata wanita itu menyambar pemberian Sanum lalu memalingkan muka pada pasangannya, "Sayang, ayo segera beli tiketnya!"


Sepasang kekasih itu pun meninggalkan mereka menuju loket pembelian tiket. Jin memindahkan semua popcorn dan minuman mereka ke tempat Aeneas duduk menunggu.


Sanubari masih terdiam, tertunduk melihat genangan tipis minuman manis. Dua gelas plastik medium dengan sedotan tergeletak di atas lantai. Gara-gara dirinya dua minuman itu terbuang sia-sia.


Aeneas memperhatikan apa yang terjadi dari tempatnya duduk. Istri dan anaknya menampakkan raut muka yang rumit. Sanubari yang sedari tadi ceria mendadak murung setelah menabrak wanita ganjen. Wanita ganjen itu nampaknya menunjukkan rasa ketidak senangan terhadap Sanum dan Sanubari.


Aeneas pun bertanya perihal kejadian itu kepada Kelana setelah kembali dari membeli tiket. Seperti dugaannya, wanita ganjen itu marah karena Sanubari menumpahkan minuman pada pakaiannya. Kemurkaan Aeneas ikut tersulut ketika mendengar bahwa wanita ganjen itu tetap menghina dan mencaci Sanubari serta Sanum. Meskipun Sanum sudah minta maaf.


Aeneas nyaris saja memberi pelajaran langsung kepada wanita ganjen tidak tahu diri itu. Namun, Kelana lekas menahannya. Aeneas pun duduk kembali.


Jin menghampiri Sanubari dan menyentuh kepalanya. "Kenapa masih bengong di sini?"


"Lantainya ...." Sanubari ingin membersihkannya tetapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak sedang berada di rumahnya sendiri. Tempat ini terlalu luas. Sanubari tidak tahu dimana tempat penyimpanan peralatan bersih-bersih.


"Biarkan saja! Nanti ada petugas kebersihan yang akan membereskannya."


"Tapi ini kesalahanku. Aku harus bertanggungjawab. Kata Mamak, kita tidak boleh melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain."


"Kau tidak sengaja melakukannya. Itu artinya bukan murni kesalahanmu. Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau ganti baju! Lihatlah! Kau juga terkena cipratan minuman tadi," Jin menoleh pada Sanum, "Bibi, bisa berikan satu setel baju Sanubari?"


"Terimakasih!" ucap Jin menerima pakaian itu lalu mengajak Sanubari, "ayo ikut aku, Bocah!"


"Apa?!" teriak seorang wanita tiba-tiba ketika Jin dan Sanubari mulai melangkah menuju toilet.


Perhatian semua orang seketika terpusat pada wanita itu. Dia adalah wanita yang ditabrak Sanubari. Wanita itu berkoar-koar memarahi perempuan yang bertugas di loket penjualan tiket.


"Maafkan kami, Nona! Tapi, memang hanya inilah yang tersisa," ucap perempuan penjual tiket dengan nada yang sangat sopan.


"Alasan! Kau pasti ingin memisahkan kami karena cemburu, bukan? Dasar wanita picik! Kerja tidak profesional. Kalau aku jadi atasanmu, pasti sudah kupecat kau. Dasar perempuan hina, tidak tahu malu, pecundang! Wanita jemawa itu terus menjelek-jelekkan perempuan penjual tiket sambil menunjuk-nunjuknya.


Perempuan penjual tiket itu tertunduk menahan kekesalan harga dirinya diinjak-injak. Ia tidak boleh bertindak sembarangan bila tetap ingin bekerja. Andaikan dia tidak sedang bekerja, ia pasti sudah menyerang balik wanita itu. Siapa yang tahan dipermalukan di depan umum seperti itu?


"Sudahlah, Sayang! Lagipula cuma kursi yang terpisah. Tidak masalah, kan?" Tunangannya mencoba meredakan amarah wanita itu.


"Tapi aku maunya kita sebelahan."

__ADS_1


"Kalau begitu kita bisa coba lagi besok."


"Kubilang hari ini. Ya, harus hari ini titik! Jangan terus-terusan membela wanita ini dong! Mentang-mentang dia mantanmu." Wanita itu cemberut.


"Aku tidak ...."


"Mbak, Mas kalau mau bertengkar, cari tempat lain dong! Kami juga mau beli tiket nih. Sebentar lagi acaranya dimulai. Jangan membuat macet antrean!" Salah satu pengunjung memperingatkan mereka.


Jin dan Sanubari tidak memperhatikan pertengkaran itu. Tidak ada untungnya mereka mendengarkan urusan orang lain. Keduanya terus berjalan ke toilet.


Sesampainya di toilet, Sanubari masuk ke salah satu bilik. Jin menunggu di depan pintu bilik yang dimasuki Sanubari. Sesat kemudian, terdengar bunyi gebyuran beberapa kali.


"Bocah, apa yang kau lakukan?"


"Mandi!" teriak Sanubari sambil mengguyur badannya.


"Memangnya ada sabun di sana?"


"Enggak. Enggak apa-apa mandi bebek, mandi ayam, mandi kucing tanpa sabun. Yang penting mandi. Habisnya lengket ini tubuh. Enggak nyaman."


"Haduh, bocah ini ... kenapa pakai mandi di toilet mal segala sih?" gerutu Jin dalam hati.


Beberapa gebyuran kemudian, Sanubari keluar dari bilik dengan wajah sumringah. Ia merasa nyaman setelah mendapatkan siraman air merata ke sekujur tubuhnya.


"Huwaaaah, segarnya!" Sanubari menghela napas lega sambil menenteng baju kotor.


"Ada-ada saja kau ini! Seharusnya kau bawa sabun sendiri dari rumah. Sekalian sikat dan pasta gigi kalau mau numpang mandi," canda Jin.


"Mana kutahu kalau kita akan jalan-jalan sampai malam begini. Pasti aku sudah membawanya kalau tahu."


"Hadeh, malah dianggap serius sama ini bocah," pikir Jin.


"Ngomong-ngomong baju ini sangat nyaman. Jadi, seperti ini ya rasanya baju yang dijual di mal? Rasanya beda sekali dengan baju dua puluh lima ribuan yang dijual di toko bekas." Sanubari terus mengoceh.


Mereka pun berjalan keluar karena urusan Sanubari telah selesai. Keduanya mendengar suara teriakan yang familiar begitu mencapai gawang pintu. Lagi-lagi itu adalah suara wanita yang ditabrak Sanubari.


"Kak, ada yang teriak di sebelah," kata Sanubari.

__ADS_1


"Biarkan saja! Bukan urusan kita," jawab Jin dengan entengnya.


__ADS_2