Santri Famiglia

Santri Famiglia
Dicari Polisi


__ADS_3

"Mungkin dua atau tiga bulan lagi selesai," kata Fanon mencomot singkong keju yang dibawa Sanubari.


Pandangannya tertuju pada bangunan bertingkat yang masih berpenyangga banyak. Material bangunan tertumpuk di sana-sini. Suasana begitu bising karena pekerja yang masih beraktivitas.


Beberapa rumah lama telah dirobohkan, digantikan satu bangunan besar dengan banyak kamar. Ruang rahasia pun ditambahkan. Termasuk ruang bawah tanah. Sanubari melihat cetak biru yang dibentangkan di atas meja. Ada lorong yang panjangnya sampai menembus sungai belakang rumah. Sai dan Eiji ikut memperhatikan.


"Apa tidak masalah melibatkan orang luar untuk membangun ini? Maksudku, apa gunanya membuat tempat-tempat rahasia bila diketahui orang lain? Mereka bisa saja menjual informasi pada orang lain, kan?" tanya Eiji yang merasa rancangan itu sia-sia. Sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia, tidak lagi rahasia karena keterlibatan orang lain


Sai pun sepemikiran. Dia memperhatikan Fanon. Pria itu tersenyum.


"Tenang saja! Mutsuki itu perusahaan konstruksi terbaik dan terpercaya. Mereka terdiri dari para tenaga ahli. Setiap cabang pun anggotanya terbatas dan disumpah untuk menjaga rahasia pelanggan. Aku juga memanfaatkan jasa mereka untuk membangun di Tanzania. Hasilnya selalu memuaskan."


"Tapi, seseorang bisa saja melanggar sumpah," kata Eiji.


"Reputasi mereka sangat bagus. Mereka memiliki cara tersendiri untuk mengatasi pegawai yang berusaha merusak citra perusahaan. Kita cukup beruntung bisa menemukan cabang Mutsuki di Indonesia."


Fanon dengan santainya makan singkong. Udara sore cukup panas. Dia menggunakan kertas lain untuk mengipasi diri. Mereka semua duduk di gazeba yang baru dibangun.


Pukul lima tepat, semua pekerja berhenti. Mereka menuju rumah yang tidak dirobohkan untuk istirahat. Bahan pangan pun sudah disediakan di rumah tersebut. Persediaannya cukup untuk sampai satu bulan. Penanggung jawab makanan pun ada sendiri.


Koki hanya bertugas memasak dan bergiliran menjaga portal. Mereka tidak ikut dalam pembangunan. Begitu makanan tersaji, mereka mengundang Fanon dan yang lain.


Sanubari dan teman-temannya paham mengapa Mutsuki terkenal dengan reputasi baiknya. Mereka sungguh pandai membaur. Perusahaan itu juga memiliki koki handal.


"Sepertinya, kita juga harus merekrut anggota yang bisa masak supaya bisa membuatkan makanan enak untuk kita setiap hari," celetuk Sanubari sepulang dari jamuan. Dia sungguh terinspirasi untuk melengkapi anggotanya.


"Kau sendiri 'kan bisa masak, Sanu," balas Abrizar, teringat bagaimana Sanubari selalu menghabiskan stok bahan makanan mentah dalam waktu singkat ketika masih bersembunyi di rumahnya.


Sanubari sangat boros bahan, tapi masakannya bisa dibilang enak. Pada akhirnya, Abrizar memaklumi itu. Cukup menyenangkan memiliki rekan serumah orang seperti Sanubari. Meskipun terkadang menyebalkan, tetapi berkatnya Abrizar bisa makan masakan rumah. Hal yang mustahil Abrizar lakukan selama tinggal di Italia sebelum kedatangan Sanubari.


"Aku mana bisa masak selezat makanan tadi? Kak Abri, kalian juga, jika punya teman koki, undang dia bergabung dengan kita!" ucap Sanubari bersemangat.


Perjalanan mereka sangat singkat. Hanya beberapa langkah saja. Sesampainya di rumah, mereka berdiskusi.


"Baiklah, Kawan-kawan! Misi pertama kita adalah memberantas mafia kuburan yang menjadi parasit desa ini sejak bertahun-tahun lalu, tapi aku tidak tahu caranya bagaimana."

__ADS_1


Sanubari menggaruk pelan kepala, berusaha tidak menimbulkan bunyi yang membuat risih. Seekor nyamuk hampir saja tergencet jari liar Sanubari. Namun, ia berhasil berpindah dan berpegangan pada helai rambut di sebelahnya.


"Apa tidak ada tugas yang lebih keren dari itu? Kita sudah menganggur terlalu lama. Masak lagi-lagi mengurus yang berkaitan dengan kuguran? Mereka pasti hanya sekumpulan preman kampung," protes Renji bersedekap. Alisnya naik sebelah, tampak sekali dia tidak menganggap serius masalah yang diutarakan Sanubari.


Sanubari berujar mantap, "Jangan meremehkan mereka! Kalian menyaksikannya sendiri, bukan? Gara-gara tari gila yang mereka terapkan, satu keluarga sampai mengakhiri hidup. Jelas, itu adalah masalah yang harus segera ditangani."


Di tengah mereka, beraneka ragam camilan bertumpuk. Susu satu setengah liter, air mineral satu setengah liter, teh botol enam ratus Mililiter berdiri di antara hamparan makanan ringan.


Sanubari mengambil sebotol kunir asam. Sudah lama dia tidak menikmati jamu Jawa. Namun, ketika tutup botol diputar, ledakan terdengar, isi botol muncrat ke muka Sanubari.


Sontak, Sanubari berteriak, "Uwa!"


Sai langsung berlari ke dapur. Semua yang duduk melingkar terkejut. Sementara tutup botol yang tidak dipegang erat oleh Sanubari mencelat. Benda kecil itu menghantam kening Eiji.


"Aku baru tahu kunir asam bisa meledak." Sanubari mengelap wajah dengan kaos.


"Jangan diminum! Buang saja yang masih tersisa! Termasuk beras kencurnya. Mungkin itu sudah terlalu lama. Bisa jadi sudah mengandung alkohol," ucap Abrizar segera setelah mendengar Sanubari.


"Mirip sekali minuman bersoda kalau dikocok, ya?" timpal Renji.


Sai kembali membawa sebaskom air bersih, tisu, dan kain lap. Dia membersihkan cipratan di sekitar dan menyuruh Sanubari mencuci muka dengan air itu. Namun, Sanubari memutuskan untuk mandi. Jadi, air itu pada akhirnya hanya Sai gunakan untuk mengelap lantai dan benda-benda yang terkena supaya tidak lengket.


Oke-oke, tidak kusentuh." Renji mengangkat dua tangan, "Padahal, aku penasaran bagaimana rasanya alkohol dari beras kencur. Tidak bisakah kau memberi keringanan sedikit saja? Sedikit saja!"


"Masih untung kalau hanya botolnya yang meledak, kalau perutmu?" Eiji menyeringai, memungut semua minuman tradisional untuk dibuang ke tong sampah di luar.


Sementara Renji meneriaki Eiji yang beranjak pergi, "Kelakarmu sama sekali tidak lucu!"


"Melepaskan diri dari candu memang sulit, tapi pasti bisa kalau mau berusaha."


Kata-kata dari Fanon membuat Renji makin cemberut. Renji merasa tidak ada yang memihak padanya.


Selagi Sanubari masih mandi dan ganti baju, mereka menjelaskan mafia kuburan yang Sanubari maksud pada Fanon. Hanya Fanon yang belum tahu di antara mereka.


"Kalau menurutku, cara paling cepat dan efektif, ya, eksekusi di tempat," pendapat Fanon usai mencerna semua.

__ADS_1


"Maksudmu langsung membunuh mereka?" tanya Renji memperjelas. Topik itu membuatnya bersemangat lagi.


"Itu melanggar poin kesepakatan kita. Aku tidak setuju," tolak Abrizar. Dia sangat menentang bila organisasi rintisan ini sampai berkembang menjadi organisasi pembunuh. Jika itu terbukti terjadi di masa depan, maka Abrizar akan mengundurkan diri.


"Tapi, berdiskusi dengan mereka kemungkinan sama halnya dengan membuang waktu. Belum tentu mereka mau mendengar," tutur Fanon.


Perselisihan pendapat terus terjadi. Sampai larut malam pun titik temu belum mereka dapatkan. Sanubari satu kubu dengan Abrizar.


Sai diam, tetapi jelas dia akan memihak Eiji. Sementara Renji dan Fanon selalu satu frekuensi. Sai diam-diam setuju dengan keduanya meski masih menunggu Eiji yang kadang sepaham, tapi kadang bertentangan.


Sai tidak peduli siapa pun mereka. Jika dia harus berperan sebagai malaikat maut, maka akan dia lakukan. Fanon pun lebih suka melenyapkan sumber masalah. Di sisi lain, Sanubari dan Abrizar selalu menyuarakan untuk menghargai HAM. Ketika Eiji mengusulkan untuk membuat cacat pun Abrizar menentang.


Malam itu, mereka terpaksa menutup diskusi tanpa mufakat. Sungguh sulit menyatukan kepala. Mereka menggelar karpet atau tikar ke lantai untuk tidur bersama.


Dinding temporer dipasang mengelilingi wilayah pembangunan. Hanya ada satu pintu keluar/masuk yang dijaga pihak kontraktor. Tidak ada penduduk yang bisa mengintip proses pembangunan. Tidak ada pula orang yang diizinkan masuk. Hanya mereka—pihak bersangkutan yang bebas melewati pintu.


Akan tetapi, siang berikutnya, dua polisi berdiri di depan jalan yang dipalang. Mobil polisi terparkir di salah satu jalan.


"Maaf, tapi kalian tidak boleh melewati jalan ini."


"Kami polisi."


"Saya tahu. Masalahnya, di area ini sedang ada pembangunan. Jika Pak Polisi sekalian ingin ke rumah seberang, sebaiknya mencari jalan lain. Jalan ini buntu karena tembusannya ditutup total untuk sementara waktu."


Tanpa mengurangi rasa hormat, penjaga palang itu berusaha menjelaskan. Sekalipun yang datang polisi, mereka tetap tidak berhak masuk. Sebab, polisi sama sekali bukan bagian dari pembangunan, bukan pula pemilik. Sudah menjadi tugasnya untuk menghalau mereka.


Palang dadakannya gukanlah palang yang bisa dilompati atau dilewati dengan merayap. Besi-besi horizontal berjajar ke atas. Tingginya sampai tiga meter. Kedua polisi itu mau tidak mau harus mendapatkan izin dari penjaga jika ingin masuk. Jika tidak memungkinkan, maka jalur paksaan akan ditempuh.


"Kami ada perlu dengan seseorang yang rumahnya dalam area pembangunan ini," kata polisi.


"Setahu saya, sudah tidak ada warga yang tinggal di sini. Lahan dan seluruh rumah di dalamnya sudah menjadi milik Sanubari." balas penjaga itu. Dia sudah diberi arahan tentang bagaimana menangani orang yang ingin masuk. Termasuk mengenali pemilik dan siapa saja yang diperbolehkan lalu lalang.


"Nah, itu dia. Kami ada perlu dengan Sanubari. Jadi, bolehkah kami masuk?" tanya polisi itu.


Tercipta hening sesaat di antara mereka. Dalam jeda itu, penjaga berpikir, tidak boleh sembarangan mengambil keputusan sendiri dan bertindak tanpa instruksi.

__ADS_1


"Tunggu sebentar! Akan saya panggilkan atasan saya!"


Penjaga itu menelepon mandor. Dia menyampaikan perihal kedatangan polisi yang enggan pergi dari depan portal. Mandor langsung mencari Fanon. Informasi disampaikan secara estafet pada Sanubari.


__ADS_2