Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kecepatan Perubahan


__ADS_3

"Coba periksa! Apa ada yang hilang?"


Petahana menyerahkan tiga tas, satu batang kayu, dan sebuah tongkat pada Fukai. Lelaki itu berterima kasih, menyerahkan milik Abrizar, lalu memeriksa tasnya yang rusak.


"Masih lengkap. Hanya sampah dan beberapa perlengkapan medis yang hilang," kata Fukai.


"Sebagian obat-obatan yang kau bawa ada di sini, Paman." Abrizar mengeluarkan beberapa kotak. Diletakkannya benda-benda itu ke meja.


"Terima kasih. Itu untuk mengganti plester Sanu."


"Tapi, kacamataku tidak ada. Buah kiwanonya juga hilang."


Abrizar sepertinya ditakdirkan kehilangan kacamata dalam setiap perjalanan. Kacamatanya patah ketika di Jepang. Sekarang, kacamatanya raib entah ke mana.


"Sepertinya, harus membeli yang baru lagi setelah ini," batinnya menghela napas.


Namun, itu lebih baik daripada kehilangan tongkat. Dia harus memesan dengan harga yang tidak murah pada BGA lagi bila tongkatnya sampai hilang.


"Oh, tunggu sebentar! Akan kucarikan di tas Sanu."


Fukai lekas mengambil tas Sanubari dan menggeledahnya. Dia membuka satu demi satu resleting, merogoh, mengintip isi di dalamnya.


"Maaf, barang kalian kami temukan berserakan di kamar. Jadi, asal kami masukkan saja karena tidak tahu yang mana milik siapa. Coba periksa jumlah uang kalian juga! Mereka mengambilnya, tapi kami rampas kembali. Mungkin kami menempatkan jumlah yang salah?" ucap Petahana sambil menunduk.


Fukai menatap perempuan yang duduk berjauhan dengan keduanya. Penampilan perempuan itu berbeda dengan hari sebelumnya. Saat ini, Petahana terlihat lebih feminim dengan gamis dan jilbab yang menutupi setengah badan.


"Um, jadi, kamu ini polisi wanita?" tanya Fukai.


Petahana tersenyum dan menggeleng. Mulutnya terkatup rapat. Lengkung tipis itu sungguh sedap dipandang bagi Fukai.


"Tapi, kemarin kamu memakai seragam seperti itu dan menyelamatkan kami."


"Saudaraku terlibat dalam kasus itu. Jadi, aku ikut dalam operasi kemarin," jawab Petahana.


Tiba-tiba sebuah ponsel berdering. Menyadari itu miliknya, Petahana meminta izin untuk keluar.


"Maaf, Bri, kacamatamu tidak ada," kata Fukai kemudian.


"Biarlah."


"Untuk apa sih kau selalu memakai kacamata hitam? Mau pakai atau tidak itu sama saja, kan?"


"Biar tidak dikira pura-pura buta."


"Alasan macam apa itu? Pakai kacamata pun kau tetap terlihat seperti orang normal."

__ADS_1


"Aku memang normal. Jika tidak, keluargaku mungkin sudah memasukkanku ke rumah sakit jiwa."


"Maksudku, normal secara fisik. Siapa yang akan percaya kau ini tuna netra kalau kelakuanmu seperti itu? Kau bisa berkelahi seolah melihat semuanya. Mungkin kau harus memperbaiki kelakuanmu itu supaya tidak dianggap normal," ucap Fukai.


Abrizar tertawa. "Apa salahnya menjadi diri sendiri, Paman?"


"Tidak ada, tapi jangan protes kalau orang-orang menganggapmu penipu ulung."


Menurutnya, Abrizar orang yang aneh. Ketika sebagian orang merasa malu dengan kekurangannya, Abrizar malah dengan percaya dirinya memperlihatkan kekurangan itu.


Tidak ada niat samasekali untuk pamer hanya karena ingin memperoleh perhatian. Fukai bisa melihat itu dari Abrizar. Pria tuna netra itu bahkan tidak mengumbar tentang kondisi fisiknya bila tidak ditanya. Dia membiarkan orang lain menilai dengan sendirinya.


"Mungkin karena sejak bayi Abrizar terlahir seperti itu. Jadi, dia sudah terbiasa. Mungkin itu pula yang mempengaruhi kepercayaan diri Abrizar," batin Fukai.


"Aw, punggungku. Kenapa tidur malam ini sama sekali tidak nyaman?"


Ketika Fukai menoleh, Sanubari sudah duduk sambil menepuk-nepuk punggung sendiri. Pemuda itu merasa sangat lelah. Padahal, dia baru saja bangun tidur.


"Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba ada infus? Kenapa pula dengan tanganku? Kok seperti mumi?" cerocosnya.


Cairan merah mengalir dari kantong yang tergantung ke selang infus. Ujung infus itu menancap pada lengannya. Sanubari bisa merasakan sesuatu mengalir di balik kulitnya.


Perban tebal melilit sepanjang tangannya. Bercak-bercak merah menodai kasa putih itu.


Saat dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan karena kejang. Dokter melepas plester tanpa tahu apa-apa, bermaksud melakukan perawatan pada luka-luka itu juga.


Lima belas menit sekali, tiga puluh menit sekali, sampai Sanubari dipindahkan ke kamar naratama, barulah penggantian perban dilakukan satu jam sekali. Perawat dan dokter secara rutin mengunjunginya.


"Kau ada di rumah sakit."


Fukai mendekat sambil membawa kotak plester khusus dan benda lain yang dibutuhkan. Dia berdiri di sebelah Sanubari, bermaksud mengganti perban dengan plester khusus. Sebab, hanya plester eksklusif itu yang mampu menghentikan pendarahan Sanubari untuk sementara waktu.


"Rumah sakit? Bagaimana bisa? Bukankah kita seharusnya sedang menginap di rumah nanas?"


Sanubari kebingungan. Matanya jelalatan, mengamati seisi ruangan.


"Itu dua hari yang lalu."


Fukai terbelalak setelah membersihkan lengan Sanubari. Luka-luka itu menghilang tanpa bekas. Lebam-lebam pun mulai memudar.


"Kok bisa? Jangan-jangan gempa besar terjadi, rumah nanas itu runtuh, lalu kita tertimbun. Makanya, kita ada di rumah sakit sekarang dan aku tidak ingat apa pun?"


"Imajinasi yang sangat realistis, Sanu."


Abrizar bertepuk tangan. Dia tersenyum.

__ADS_1


"Tapi, kok, kalian tidak terluka sama sekali?"


Sanubari menoleh pada Abrizar dan Fukai secara bergantian. Keduanya juga tidak lagi memakai baju bergambar nanas. Mereka memakai pemberian Petahana di hari sebelumnya, sedangkan Sanubari sendiri memakai baju pasien.


Sementara itu, Fukai masih tertegun menatap lengan Sanubari. Tiba-tiba, dia mencubit lengan itu.


Sontak Sanubari berteriak, "Aw, aw, aw, sakit, Paman!"


"Satu sampai seratus. Seberapa sakit yang kau rasakan?"


"Mana aku tahu? Seratus itu sakit yang seperti apa, satu itu sakit yang seperti apa, aku saja tidak paham."


"Katakan saja berapa! Kau bisa mengira-ngiranya." Fukai mencubit lagi.


"Aw, aw, oke, oke! Sebentar, biar kupikirkan dulu!"


Sanubari bersedekap. Fukai menyibak selimut Sanubari. Dia menaikkan celana panjang Sanubari, lalu melepaskan satu demi satu plester.


"Yang di sini pun sudah sembuh," lirih Fukai.


Luka-luka yang tidak mau menutup selama satu pekan lebih—semua lenyap dalam semalam. Yang lebih mengejutkan, tidak ada tanda-tanda pernah ada luka di sana. Saat dia mengelap bekas darah kering dengan cairan pembersih pun darah itu lekas luruh, menampilkan kulit Sanubari yang bersih.


"Hem, tidak tahu. Yang jelas, tidak sesakit sebelum-sebelumnya. Bagaimana, ya? Aku tidak bisa menjelaskannya. pokoknya begitu."


Sanubari menggaruk kepala. Dia melihat Fukai yang memperhatikan kakinya.


"Ada apa dengan kakiku?"


"Semua lukamu sembuh, Sanu."


"Oh, benarkah?"


Sanubari melihat kaki dan lengannya. Semua bersih. Rasa perih pun tidak ada. Dia tertawa riang.


Fukai mengambil uang kertas. Dia melipat-lipatnya sampai menjadi segitiga tajam. Dia meraih lengan Sanubari. Tanpa kata, Fukai menggores kulit Sanubari dengan uang kertas itu.


"Paman ini apa-apaan sih?" Sanubari melotot.


"Mengetes sensitivitasmu."


Fukai tidak melepaskan tangan Sanubari. Pandangannya tertuju pada garis horizontal seperti sayatan pada kulit Sanubari. Lengan itu berdarah.


Tiga tetes terjatuh. Namun, berhenti secara perlahan. Fukai memperhatikannya dengan seksama, lalu mengusapnya dengan tisu. Bekas lukanya hilang sama sekali.


Sesaat kemudian, Petahana masuk kembali bersama dokter. Fukai membiarkan petugas medis rumah sakit memeriksa Sanubari.

__ADS_1


"Setelah pemeriksaan ini, kita harus keluar dari pulau ini. Pemba bukanlah tempat aman untuk saat ini."


Penuturan dadakan Petahana itu membuat Fukai dan Abrizar kebingungan. Dari intonasinya, perempuan itu terdengar tergesa-gesa. Padahal, sebelumnya mereka bisa mengobrol santai.


__ADS_2