
"Apa itu artinya kami dipecat?" tanya Eiji.
Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pun Sai dan Renji. Selama ini, pekerjaan mereka lancar-lancar saja. Tidak ada teguran dari para atasan. Kesalahan pun tidak pernah mereka perbuat, tetapi mendadak diberhentikan seperti ini.
"Iya, ini gaji dan pesangon kalian. Sisanya sudah saya transfer ke rekening kalian."
Dantae mengeluarkan tiga amplop cokelat tebal dari tasnya. Diserahkannya amplop-amplop itu pada mereka bertiga.
"Tapi, apa alasan perusahaan memecat kami? Bukankah Anda bilang pekerjaan kami memuaskan?" protes Renji.
Dia tidak bisa menerima keputusan ini begitu saja, apalagi bila pemecatannya tidak jelas. Renji sudah cukup nyaman dengan pekerjaan barunya. Selain gajinya tinggi, dia tidak perlu membahayakan diri terjun ke medan pertarungan. Ini seperti piknik baginya.
"Pekerjaan kalian memang memuaskan, tetapi perusahaan akan mengalami kerugian besar bila kalian tetap di sini."
"Bagaimana bisa?" tuntut Renji.
Pernyataan kontradiktif Dantae menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Renji, Eiji, dan Sai. Di mana pun, pegawai yang kinerjanya bagus dan menguntungkan perusahaan pasti akan dipertahankan. Akan tetapi, fakta di depan mata mereka malah sebaliknya. Ketiga orang Jepang itu tertegun.
"Kalian ingat apa saja yang terjadi beberapa hari belakangan ini?"
Dantae memandang ketiganya dengan senyum ramah. Dia menyebutkan peristiwa-peristiwa yang berujung pada pengambilan keputusan ini.
Sejak sembuh, Sanubari sering datang ke pusat riset dan pengembangan BGA. Tidak jarang, dia membawa berkardus-kardus singkong keju, memaksa semua beristirahat, lalu mengajak makan bersama. Pekerjaan pun menjadi tertunda.
Dalam setiap sesi istirahat tambahan itu, Sanubari selalu berkata, "Kak Eiji, ayo membuat keluarga!"
Eiji ingat itu. Dia pun selalu menjawab, "Tunggu sampai kaucukup dewasa, mungkin akan kupertimbangkan."
Tentu, dia tidak bersungguh-sungguh. Eiji hanya risih dengan permintaan berulang Sanubari. Kelakuannya itu mengingatkan Eiji pada kakeknya sendiri yang tidak bosan memintanya berhenti dari Onyoudan.
"Aku sudah delapan belas tahun kok. Eh, apa sembilan belas, ya? Ah, pokoknya sekitar segitu. Aku sudah cukup dewasa, kan?"
Sanubari tersenyum lebar. Mata cerahnya menatap Eiji yang sedang menggigit singkong.
__ADS_1
Eiji melirik Sanubari. Dia menelan singkongnya, lalu membalas, "Kau masih kekanakan."
Sanubari mengangkat alis. Dia memegang wajahnya sendiri. Tidak ada kaca yang bisa dia gunakan untuk bercermin. Namun, dia teringat satu hal.
"Apanya dariku yang seperti anak kecil? Aku bahkan lebih tinggi dari Kak Eiji."
Dia menatap ke atas rambut Eiji. Dia sangat yakin, ketika sama-sama berdiri, Eiji hanya setinggi telinganya lebih sedikit.
Eiji mengakui itu. Sanubari benar-benar tumbuh dengan cepat. Padahal, tinggi mereka sebelumnya sama. Itu waktu masih di Jepang.
"Kaupikir tinggi saja cukup untuk membuat seseorang layak disebut dewasa?"
"Tuan Muda Sanu, saya memiliki anak perempuan satu atau dua tahun di bawah Anda. Jika Shiragami tidak mau, buat keluarga saja dengan putri saya!"
Ketua divisi Eiji terkadang ikut menyahut. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran Sanubari. Berbeda dengan Aeneas yang memberikan nuansa ketegangan setiap kali hadir, Sanubari sering tertawa dan bercanda.
Meski keingintahuannya yang tinggi sering mengganggu, tetapi kehadirannya mencairkan suasana. keakraban pun terjalin di antara mereka.
Sanubari menoleh. Dia menatap pria paruh baya itu, lalu menggeleng sambil tersenyum.
Setelah itu, dia mengalihkan pandangan lagi pada Eiji. Ekspresinya masih sama, penuh harap. Senyuman pun tidak lepas dari bibirnya.
"Ah, sangat disayangkan. Kauberuntung, Shiragami! Tuan Muda begitu kekeh ingin menjalin hubungan denganmu. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerimanya," ucap ketua itu.
"Jadi, apa yang harus kulakukan supaya Kakak mau menerima tawaranku?"
"Mungkin jika kausudah bekerja dan Anki setuju. Mungkin ...."
Eiji menggigit singkong lagi dengan pasrah. Sebenarnya, Eiji tidak keberatan Sanubari menjalin hubungan dengan adiknya. Itu lebih baik daripada adiknya jatuh ke tangan Kim Jong Hyun.
Anki akan lebih aman bersama Sanubari. Apalagi, mereka akan menjadi bagian keluarga Bos Besar seperti Gafrillo.
Mendengar jawaban Eiji itu, Sanubari berseru semangat, "Oke, sepakat!"
__ADS_1
Walaupun sesungguhnya 'keluarga' yang mereka maksud berseberangan makna. Namun, keduanya mmeyakini pemikiran mereka berjalan dalam satu garis yang sama.
Sejak saat itu, Sanubari tambah bersemangat ingin membantu merakit aifka. Akan tetapi, karena dia belum mahir menggunakan peralatan yang ada, tidak jarang bahan dasar menjadi sampah tidak berguna, meledak, konslet sampai nyaris membakar ruangan.
Sanubari berakhir diusir. Pasca pengusiran itu, Sanubari pergi ke tempat Sai. Kesalahan serupa terjadi. Dia kembali diusir dan tidak berani lagi masuk departemen Sai. Terlalu banyak benda berbahaya di sana.
Dia juga pergi ke tempat Renji. Tempat Renji lebih luas daripada tempat Eiji dan Sai. Saat melihat mobil terbang, Sanubari ingin mencobanya.
Semua orang pun mengizinkan karena mereka tahu bahwa Sanubari putra Gafrillo. Naas, kecelakaan terjadi akibat Sanubari tidak bisa menyetir. Mobil melesat ke atas, menghantam langit-langit. Karena panik, dia menginjak gas sangat dalam. Bumper depan menabrak dinding dengan keras sampai melesak. Ketika dia mencoba menggerakkan tuas persneling, mobil menjadi mundur secepat kilat.
Entah apa lagi yang dia sentuh sampai mobil berguling-guling, jatuh dari langit, menyambar apa pun yang ada di bawah secara brutal. Semua orang langsung kocar-kacir.
Salah satu dari mereka berseru panik, "Matikan total aliran listrik!"
Mobil yang dikendarai Sanubari menyeret kabel dalam posisi miring. Kabel-kabel putus, menciptakan percikan listrik sebelum sepenuhnya padam. Oli tercecer, lalu berkobar menjadi api akibat gesekan. Seseorang dengan sigap mengambil pemadam kebakaran karbon dioksida.
Dia dengan berani mendekati api, mengabaikan mobil yang belum berhenti. Api menjalar ke mobil. Renji memanfaatkan alat berat yang ada untuk menghentikan laju. Ruangan itu benar-benar kacau.
Hati mereka lebih kacau lagi. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Sanubari, maka matilah mereka. Semua staf berlari, membawa apar yang ada untuk membantu memadamkan api.
Renji menggunakan tangan robot raksasa untuk mematahkan pintu mobil. Seseorang langsung naik ke bagian mobil yang belum terbakar. Dia melepaskan sabuk pengaman dan menarik Sanubari. Mereka bahu membahu mengeluarkan Sanubari.
Begitu berhasil membawa Sanubari yang tidak sadar, mereka berlari ke zona aman. Sumber listrik dihidupkan kembali. Secara otomatis, sistem pemadam kebakaran aktif. Namun, ledakan terjadi sebelum sistem pemadam api bekerja.
Sanubari dibawa ke rumah sakit. Hari itu juga, Canda dipanggil kembali ke Italia.
Bangunan dibereskan dan diperbaiki dalam dua puluh empat jam. Mereka kembali bekerja keesokan paginya.
Tidak ada kata libur di hari kerja, meski kecelakaan besar baru saja terjadi. Bangunan-bangunan di pusat riset dan pengembangan BGA didesain supaya bisa bertahan dalam berbagai kecelakaan kerja sehingga tidak ada kerusakan berarti setelah musibah besar itu.
Tanpa kehadiran Sanubari, para staff bisa bekerja dengan damai lagi. Kecelakaan demi kecelakaan menginspirasi mereka hingga bisa menerobos inovasi baru yang lebih sempurna.
Dua minggu lebih, Sanubari tidak pernah datang lagi. Semua tampak baik-baik saja sampai tibalah hari ini. Sai, Eiji, dan Renji harus menghadap ke Dantae.
__ADS_1
"Tapi, semua itu bukan salah kami."
Renji berusaha membela diri. Kekacauan itu terjadi di luar kemauan mereka. Sanubari datang pun bukan atas permintaan mereka.