Santri Famiglia

Santri Famiglia
Terbakar


__ADS_3

Empat lelaki duduk mengitari gundukan baru. Batu besar diletakkan di salah satu ujung gundukan. Cat putih membentuk tiga huruf ‘RIP’ terlukis di permukaannya.


"Selamat jalan, Sobat! Semoga tenang di alam sana!"


Pria tertua memimpin doa. Mereka menunduk sedih, merasa teramat kehilangan. Upaya terbaik sudah mereka lakukan. Dokter pun telah dipanggil. Namun, ia tetap tidak terselamatkan.


Damiyan berdiri di belakang mereka yang sedang berkabung. Menurutnya, para lelaki konyol itu melakukan hal yang tidak perlu. Sikap mereka terlalu berlebihan untuk makhluk hidup yang sudah pasti bisa menemui kematian kapan pun. Dia menahan tawa, menatap tangkai-tangkai bunga yang tergeletak di depan batu sungai sebagai pengganti nisan.


Tiba-tiba, alunan musik terdengar. Semua orang menoleh pada Damiyan. Pria berambut putih itu menyengir singkat, lalu berlari menjauh. Dia mengambil ponsel dari jaket jin. Panggilan video dari Bos Lev terpampang di layar. Dia lekas mengangkatnya.


"Apa yang kau lakukan? Dasar tidak becus! Bagaimana bisa kau biarkan Sanu sampai meninggal?"


Baru saja Damiyan hendak mengatakan halo, tapi dia sudah dihadiahi makian keras penuh emosi sebelum melengkapi ucapannya. Dia memang pantas menerima cacian tersebut. Mau bagaimana lagi, dia lebih terbiasa sebagai eksekutor daripada pengawal selama ini. Sebagai eksekutor, dia tidak perlu memikirkan nyawa orang lain.


Pengalaman barunya menuntut Damiyan untuk selalu memikirkan nyawa orang lain setiap saat, sementara dirinya tidak boleh terlalu dekat dengan nyawa yang harus dijaga. Itu berkali-kali lipat lebih sulit. Belum lagi ketika Ada faktor tidak terduga seperti hari sebelumnya.


"Bos, tenang!"


Telinga Damiyan sakit mendadak diteriaki. Luka di punggung dan lengannya jadi terasa lebih nyeri. Ledakan waktu itu tidak meninggalkan luka parah. Akan tetapi, selain terhantam pintu, pecahan kaca menusuk lengan dan punggung Damiyan.


"Bisa-bisanya kau cengar-cengir setelah menghilangkan nyawa putraku! Kuharap, kau cukup berani mengantarkan nyawamu ke hadapanku sebagai pertanggungjawaban."


"Maaf, Bos. Aku tidak bisa mengantarkan nyawaku padamu sekarang."


"Orang-orang ku akan menemukanmu bila kau mencoba kabur."


"Bila aku pergi, siapa yang akan melindunginya?"


Damiyan membalik kamera. Kamera menyorot sosok pemuda berlarian mengejar anak lelaki yang menggendong tabung semprot. Mereka saling berteriak dan tertawa.


"Shawn, berikan itu padaku!"


"Tidak mau!"

__ADS_1


Tampilan diperbesar. Kamera terus mengikuti si pengejar. Wajah pemuda itu terlihat jelas di layar Aeneas.


"Ini bukan tipuan, kan?"


Saat Aeneas mengatakan itu, pemuda dalam video menoleh ke kamera. Pemuda itu berseru, "Kak Dami, bantu aku!"


Langit biru menjadi latar wajah eurasia beriris mata hijau. Sinar matahari membuat pemandangan itu sangat jelas. Kulit putih bersihnya tampak cerah diterpa sinar matahari walau tidak seputih Damiyan. Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja keluar dari mobil yang meledak.


"Ini nyata. Mau kupanggilkan dia?" tawar Damiyan.


Namun, pemuda beriris hijau itu berlari mendekat. Aeneas buru-buru mematikan kamera. Dia diam.


"Ngobrol sama siapa sih?"


Suara itu terdengar sebelum Aeneas memutus sambungan. Kelana yang duduk di sebelah Aeneas juga bisa melihat video tersebut meski tidak bisa mendengar audio dari seberang. Aeneas memakai earphone karena ada teman-teman Sanubari di sana.


Sai, Eiji, Renji, Fukai tampak bingung dengan perubahan ekspresi Aeneas. Setelah mendengar kematian Sanubari, dia tampak murka, lalu meminta ditelepon kan seseorang.


Namun, kini duda itu tersenyum. Mereka tidak tahu siapa yang dihubungi dan dilihat Aeneas. Sai dan Eiji lebih bingung lagi ketika Kelana mengatakan, "Tuan Muda Sanu masih hidup?"


"Aku juga melihatnya walau hanya dari kamera pengintai," timpal Eiji. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangan sejak pengejaran dimulai. Eiji sangat yakin sampai sesaat sebelum ambulans meledak, yang ada di dalam adalah Sanubari.


"Tuan Muda Sanu masih hidup. Dia segar bugar. Tuan Aeneas baru saja melihatnya," kata Kelana lagi. Dia sempat bingung juga karena keadaan yang baru dilihatnya bertentangan dengan keterangan para pemuda di hadapan. Namun, Damiyan tidak mungkin melakukan tipuan. Kesetiaan pria itu tidak perlu dipertanyakan.


"Anda menyuruh seseorang untuk mengawasi Sanu diam-diam, tapi masih meminta kami untuk melindunginya?" tanya Abrizar.


"Dia itu sedikit mengkhawatirkan, lebih baik bila dalam pengawasan banyak orang, kan?" balas Aeneas tersenyum.


"Rasanya, kami seperti sedang dimata-matai."


Perkataan Abrizar itu benar. Kini, mereka paham mengapa Aeneas seolah bisa serba tahu ke mana mereka akan melangkah berikutnya.


"Aku tidak akan ikut campur urusan kalian. Pengawasannya hanya terbatas untuk keselamatan Sanu. Kuharap, kalian tetap bisa bekerja sama dalam hal ini!" ujar Aeneas.

__ADS_1


Malam itu mereka bisa makan malam bersama dengan tenang meski Sai dan Eiji masih sulit percaya dengan kabar baru yang didengar. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk menganggap bahwa mereka telah mengikuti ambulans yang salah.


Faktanya, yang mereka ikuti itu benar. Namun, masih ada kelanjutan pasca ledakan. Damiyan bangkit dari pintu yang menindih. Luka robek di keningnya terbuka lagi. Dia memejamkan sebelah mata karena darah mengalir.


Tubuh Damiyan ngilu karena terbanting. Dia meraba lengan dan punggung sembari mencabut kaca yang menancap ke dagingnya. Navigasi pada jam tangan diaktifkannya. Dia bersyukur Mosan masih berfungsi walau terdampak ledakan.


Jantungnya berdebar kencang. Kehidupannya sedang dipertaruhkan. Navigasi pada Mosan terus mengarahkannya pada sesuatu yang terbakar.


"Habislah sudah riwayatku," desah Damiyan.


Api terus berkobar dibawah terik matahari. Kain telah menjadi abu yang tak bersisa. Sekujur tubuh yang terbujur gosong seperti arang.


"Di sini!"


Damiyan melambaikan tangan ke atas sambil mendongak. Dia menghadap ke heli kopter. Bola dijatuhkan dari helikopter. Damiyan mundur. Dia menjaga jarak dari raga yang terbakar.


Salju keluar dari bola. Api seketika padam. Tepat saat itu, Patrick berlari menghampiri Damiyan yang berdiri terbengong. Noda darah menempel pada baju Damiyan. Baju pinjaman itu juga robek.


"Kau terluka. Bagaimana dengan penyelamatannya?" tanya Patrick.


Damiyan hanya diam. Dia hanya menunjuk manusia yang sudah seperti kalkun bakar. Patrick langsung berlari menghampiri jasad yang ditunjuk Damiyan. Dia berjongkok di sebelahnya, lalu membaliknya tanpa rasa jijik.


"Dia masih hidup. Ayo angkat!" ucap Patrick.


Damiyan bersama Patrick mengangkat tubuh Sanubari. Damiyan pikir Sanubari sudah menjadi jasad. Itu cukup melegakan karena dugaannya salah. Namun, tetap saja kondisi Sanubari membuatnya was-was.


"Luka bakarnya sangat parah. Kita tidak punya pilihan selain membawanya ke rumah sakit," ujar Patrick setelah kembali duduk ke belakang kemudi.


"Yang penting, dia selamat, tapi jangan sampai ketahuan siapa pun!"


Damiyan tidak ingin melihat Sanubari yang mengerikan. Namun, mereka berada begitu dekat. Mau tak mau, dia melihatnya juga.


"Wajahnya rusak parah. Tidak akan ada yang bisa mengenalinya."

__ADS_1


"Jika bisa, sebenarnya aku ingin kau saja yang merawatnya di rumah Kakek Fang."


"Dia memerlukan perawatan tubuh intensif. Kita perlu memeriksa keseluruhan tubuhnya. Itu mustahil dilakukan bila hanya dirawat di rumah. Beberapa operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki jaringan dan membuang anggota tubuh yang mati."


__ADS_2