Santri Famiglia

Santri Famiglia
Terkubur Reruntuhan


__ADS_3

Eiji menunda pekerjaan karena pesan dari Sai. Dia memundurkan rekaman via satelit beberapa jam sebelum Sanubari keluar dari kapal, lalu mengikuti orang-orang yang membawa Sanubari. Setelahnya, dikirimnya koordinat keberadaan Sanubari pada Sai.


Dengan motor curian, Sai melaju ke lokasi. Namun, satu kilometer dari tujuan telah luluh lantak. Tidak ada jalan yang bisa dilalui sepeda motor. Sekali lagi, Sai menghubungi Eiji dengan ponsel yang baru dibeli.


"Sempai, kau yakin tidak salah mengirim alamat padaku?"


"Tentu saja tidak," jawab Eiji dari seberang.


"Tapi ini seperti kota yang baru dijatuhi bom atom." Sai berdiri di pinggir aspal yang ambrol.


Dia mengintip. Lubang dalam menganga lebar, tak ubahnya sebuah jurang. Kedalamannya mungkin lebih dari dua puluh meter. Beberapa bangunan yang masih berdiri mengalami kerusakan. Kaca-kacanya pecah.


Suasana begitu lengang. Tak seorang pun ada di sekitar sana. Itu membuat tempat itu seperti kota mati.


Jawaban dari Sai tentu menjadikan Eiji heran. Pasalnya, sesaat sebelum lokasi dia kirim pada Sai, segalanya tampak baik-baik saja. Ini baru tiga atau empat jam setelah koordinat dia kirim. Setelahnya, Eiji tidak memantau perkembangan rekaman satelit.


Untuk memahami perkataan Sai, Eiji kembali meminjam laptop Abrizar. Tempat Sai berdiri memang seperti bekas Medan perang. Kondisi hancur itu memanjang sampai lokasi Sanubari. Titik itu menjadi pusatnya. Eiji terus memperluas pencitraan nyata.


"Kabar buruk," kata Eiji setelah melihat rekaman lokasi dari satelit yang ditampilkan di monitor, "kau tidak akan bisa mencapai lokasi Sanu dengan kendaraan darat biasa atau jalan kaki."


Sai memandang lurus. Kerusakan begitu parah. Perang dunia seolah baru dimulai kembali atau bencana alam besar melanda negara ini. Entah berapa banyak korban yang jatuh karenanya. Pastilah butuh keberuntungan besar untuk selamat bila berada di pusat bencana sebesar ini .


"Bagaimana dengan Sanu?" Ekspresi Sai datar. Namun, dia mencemaskan anak itu.


"Kabar baiknya," kalimat Eiji terjeda cukup lama, "dia baik-baik saja atau kukira begitu."


"Kenapa Senpai terdengar tidak yakin?" Sai menuntut penjelasan. Kerusakan ini dan kalimat Eiji membuatnya berprasangka buruk. Jika prasangka itu benar, Sanubari mungkin telah terbaring tak bernyawa entah di mana di antara reruntuhan.

__ADS_1


Meskipun begitu, Sai akan tetap mencarinya. Bagaimanapun keadaan Sanubari, Sai akan membawanya pulang. Itu dedikasinya sebagai seorang teman.


"Dia terjebak di bawah tanah bersama beberapa orang. Tidak ada cukup cahaya di sana. Jadi, aku tidak bisa memastikan. Walau Sanu pingsan, mereka tetap membawanya. Kurasa itu bisa kita gunakan untuk menarik kesimpulan kalau dia masih hidup."


Eiji sendiri pun meragukan kesimpulan yang baru diucapkannya sendiri. Satelit mahacanggih Italia memang bisa diatur untuk mengikuti pergerakan seseorang. Eiji mengunci Sanubari sebagai target saat dia meninggalkannya. Satelit itu pun tetap dalam mode tembus pandang secara waktu nyata mengikuti Sanubari.


Namun, ketika semua menjadi gelap, tanda tanya besar dan kotak peringatan muncul. Satelit tidak bisa mendeteksi mana Sanubari. Hanya sesekali peringatan itu menghilang karena cahaya remang.


Kendati demikian, satelit tetap melanjutkan pengintaian dengan mengandalkan sensor panas tubuh manusia. Saat satu orang tertimbun bangunan, tanda tanya baru muncul lagi. Walaupun begitu, perekaman dilanjutkan dengan mengikuti rombongan semula yang telah bertambah. Satu lagi tanda tanya bertambah karena satu lagi orang terpisah.


Eiji mengepalkan tangan. Dia berharap salah satu dari dua orang yang mungkin telah meninggal itu bukanlah Sanubari. Begitu banyak mayat bergelimpangan dalam reruntuhan. Namun, satelit mengabaikannya. Ia tetap dalam prioritas mengikuti rombongan semula yang kini tidak jelas siapa saja. Rombongan itu terus bergerak hingga berhenti pada satu titik.


"Aku akan mencoba mencari bantuan di sini." Sai menutup panggilan.


Dia kembali melajukan motor menjauhi reruntuhan. Gemuruh baling-baling berpapasan dengannya di tengah kelengangan jalan bersama menjingganya cakrawala. Sebagian langit bahkan telah tampak menggelap.


Dari sudut pandang merpati, helikopter tampak terbang rendah menuju bagian tengah kota yang hancur. Bagian bawahnya terbuka. Sebuah ekskavator diturunkan perlahan dari capung metal raksasa tersebut.


"Kurasa bukan." Merpati dua terbang mendekat, memindai helikopter dan ekskavator dengan seksama, "hei, coba perhatikan, Alpha One! Itu milik Rusia."


"Kau benar, Alpha Two. Untuk apa helikopter militer negara tetangga ada di sini?"


"Haruskah kita interupsi mereka?"


"Sayangnya, kita tidak diberi wewenang untuk itu. Sebaiknya, kita awasi dulu apa yang mereka lakukan!"


"Live report. Hm, kurasa itu ide bagus."

__ADS_1


Dua merpati terbang lebih dekat ke titik pendaratan ekskavator. Seorang pria berambut putih mengendarai ekskavator yang telah dimodifikasi menjadi setengah robot.


Garis hijau pemindai menyala, mengobservasi area sekitar. Tidak ada lagi bom aktif di dekat sana. Hanya ada satu titik biru yang menyala hampir tumpang tindih dengan titik putih yang menunjukkan posisi excavator.


Titik biru itu adalah posisi Sanubari. Titik itu tidak bergerak karena mereka terjebak sempurna di bawah sana. Puing-puing besar yang tidak bisa dipindahkan mengurung mereka. Bahkan, ada yang kepala dan kakinya berdarah karena tertimpa reruntuhan. Sang menteri kehilangan satu ajudan. Queenza juga kehilangan satu anggota.


Mereka semua terduduk pasrah dalam kegelapan. Peluh membanjiri seluruh tubuh, bercampur dengan debu menempel pada kulit terbuka dan pakaian mereka.


"Sial! Ini sepertinya akan menjadi hari terakhir kita." Queenza membanting ponsel putus asa.


Mereka sudah berulang kali mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Namun, tak satu pun panggilan mereka terhubung, seolah ada pengacau sinyal yang menghalangi.


"Mati kehabisan napas karena terjebak reruntuhan. Konyol!" Sang menteri tersenyum getir.


Dia datang ke tempat ini untuk memperpanjang umur seseorang. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa. Usianya akan segera dipangkas, mendahului orang-orang yang ingin diselamatkannya.


"Maaf ...," batin sang menteri.


"Kita pasti akan selamat, Pak. Ledakan tidak terdengar lagi. Gemuruh pun telah berhenti. Kepolisian pasti akan segera bergerak untuk mengevakuasi korban," kata si dokter menengadah dalam kegelapan.


Napasnya Terengah. Sesak mulai menyerang setiap orang. Udara di sana cukup pengap. Oksigen mulai menipis.


"Itu bila mereka cukup cerdas dan berani mendekati area yang baru dihancurkan ini," balas Queenza."


"Mereka mungkin baru akan bergerak besok atau lusa. Itu pun bila mereka tidak bekerja sama dengan atau dihalangi Anak itu," timpal perempuan lain.


"Anak kurang ajar itu sungguh menginginkan kematianku." Queenza tersenyum pahit.

__ADS_1


Mereka terdiam. Entah bisa bertahan selama itu atau tidak, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya menunggu dalam keheningan yang bisa mereka lakukan. Tanpa makanan, tanpa minuman, mereka harus bisa bertahan lama dengan udara yang kian menipis. Itu bila mereka ingin tetap hidup.


Sementara itu di atas, ekskavator bergerak mundur empat meter dari posisi Sanubari. Sepasang merpati merekam peristiwa itu yang langsung disalurkan ke pihak lain. Tangan-tangan mekanik menyingkirkan puing-puing. Ketika menjumpai permukaan, benda itu meninjunya hingga retak dan hancur. Excavator membuka jalan baru untuk ke bawah. Dua merpati terus mengamatinya dari atas reruntuhan.


__ADS_2