
Para perempuan tertawa. Ujung pisau ditekankan pada leher Damiyan. Sensasi dingin besi tajam menyentuh kulit Damiyan.
"Kami serius. Jika kalian tetap diam, akan kami putuskan leher anak ini!" teriak seorang perempuan.
Mata Damiyan jelalatan. Pedang dalam berbagai ukuran berjajar di dinding kirinya. Cemeti, senjata api, serta alat penyiksaan lainnya tertata rapi di rak. Damiyan memutar otak untuk menciptakan jalur perlawanan. Dengan tangan terikat, tentu itu tidak mudah.
Pisau lebih ditekankan pada leher Damiyan. Seketika, Damiyan merinding. Perih sedikit menggoyahkan keberanian. Darah mengalir. Namun, mata pisau belum sampai menembus kerongkongan.
"Kalian sungguh egois, lebih mementingkan itu daripada keluarga." Seorang perempuan memasang wajah sedih yang dibuat-buat, menyindir pasangan suami istri yang tergantung di langit-langit.
Terserah apa pun yang mereka katakan, Damiyan tidak peduli. Setiap hari, Vladimir selalu menceramahi ya tentang pengendalian emosi.
"Bila kau sampai termakan provokasi lawan, itu artinya kekalahan bagimu." Itu salah satu yang selalu ditekankan Vladimir.
Pisau ditekankan sedikit lebih kuat. Damiyan berkeringat dingin. Jantungnya berdebar tak karuan.
"Jangan lakukan itu!"
Suara Iziaslav dan sang istri melebur, bergema parau, lantang menyebar ke seluruh ruangan. Ibu Damiyan memohon-mohon supaya Damiyan dilepaskan. Suara serak mereka saling tumpang tindih, menyamarkan suara dari pintu.
Para perempuan tertawa, padahal tidak ada yang lucu. Mereka begitu menikmati sesi penyiksaan ini. Acap kali, mereka melontarkan satire dengan mimik wajah maupun kata-kata. Permohonan demi permohonan dari ayah dan ibu Damiyan sepenuhnya diabaikan. Para perempuan itu hanya peduli dengan informasi yang mati-matian Iziaslav rahasiakan.
Keadaan semakin gawat. Mereka tidak lagi sekadar melemparkan ancaman. Damiyan terus meyakinkan diri, ini tidak lebih buruk dari dikurung bersama binatang buas agresif selama satu pekan penuh.
Bermodal nekad, Damiyan menjatuhkan diri ke belakang, mendorong perempuan yang menjambaknya sambil menjegal. Tak pelak mereka terjatuh.
Bersamaan dengan bunyi berdebam, pintu menjeblak terbuka. Peluru-peluru menghujani ruangan. Perempuan yang hendak menggolok leher Damiyan jatuh dengan kening berlubang. Tubuhnya menimpa Damiyan. Para perempuan lain tumbang satu per satu.
"Kakek tidak ada di sini, Tuan."
Demi melihat pemilik suara itu, Damiyan mendongak. Tubuhnya terhimpit dua perempuan. Matanya terbelalak ketika mengetahui pistol diarahkan padanya.
Kelana berdiri di belakang perempuan. Perempuan itu tampak ketakutan. Di belakang Kelana, berdiri Aeneas dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
Spontan, Damiyan memejamkan mata bersamaan dengan bunyi letupan. Jantungnya tersentak. Dia pikir, peluru akan menembus kepalanya. Namun, dia salah. Jantungnya masih berdetak setelah tembakan itu. Paru-parunya pun masih bisa menerima pasokan oksigen. Damiyan mendengar suara Kelana.
"Kami tidak butuh dua pemandu jalan."
Kelana menurunkan pistol. Perempuan yang ditindih Damiyan tidak lagi bergerak. Tatapan Kelana dan Damiyan bertemu.
"Oh, Nak, kau pasti diam-diam menyusup ke mobil kami, kan? Bisa-bisanya kau melakukan itu untuk mendatangi tempat seberbahaya ini sendirian," tutur Kelana.
Damiyan tersenyum. Rupanya, dia sudah ketahuan sejak awal. Damiyan sangat berterima kasih pada Kelana dalam hati. Meski sudah tahu Damiyan ada dalam mobil, lelaki itu memilih untuk pura-pura tidak tahu, tidak pula menurunkannya di tengah jalan.
"Paman, tolong orang tuaku! Kumohon!" teriak Damiyan segera.
Mereka mungkin satu-satunya bantuan yang dimilikinya. Dia tidak peduli mengapa mereka menghabisi para perempuan. Yang jelas, mereka sepertinya tidak menjadi ancaman baginya. Nyatanya, mereka tidak lagi menembak setelah tiada lagi perempuan yang berdiri, kecuali yang dijadikan sandera.
Kelana mengikat sandera pada tiang, sementara Aeneas menyingkirkan papan runcing. Dengan perlahan, kedua orang tua Damiyan diturunkan. Kedua pria itu bekerja sama dengan sangat baik tanpa saling bicara.
Damiyan kagum melihatnya. Kelana sibuk mencari kunci yang pas untuk membuka ikatan kedua orang tua Damiyan. Aeneas menggeledah para perempuan, lalu mendekati Damiyan setelah menemukan kunci.
"Terima kasih," ucap Damiyan tulus.
Namun, tidak ada respons. Andai belum pernah mendengar suara Aeneas, Damiyan pasti sudah mengira pria itu bisu.
"Irit sekali bicara," batin Damiyan sambil melihat Aeneas.
Kemudian, dia berhambur ke kedua orang tuanya. Keluarga kecil itu berpelukan.
"Tuan, Anda sebaiknya tetap di sini bersama mereka. Biar saya sendiri yang mencari Kakek Vladimir!" Kelana melepaskan sandera dari tiang, lalu pergi.
Aeneas sungguh tetap bersama Damiyan dan keluarga. Dia tidak mengerti mengapa mereka mendadak memisahkan diri. Namun, Damiyan tidak ingin memikirkannya. Baginya, bisa berkumpul dengan keluarga sudah cukup.
"Tadi itu berbahaya. Jangan lagi bertindak gegabah! Terlebih lagi bila kau belum siap!" nasihat Iziaslav.
"Lihatlah! Tubuhmu jadi penuh luka!"
__ADS_1
"Hanya pipi dan leher, Ma. Ini tidak seberapa dibandingkan keselamatan kalian." Damiyan mengelap darah di pipi. Alirannya membuat Damiyan geli. Walau rasa perih berdenyut nyeri, Damiyan terkekeh.
Iziaslav beralih melihat Aeneas. Aeneas berdiri memunggungi. Pria Italia itu menatap pada pintu.
"Apa kau bantuan yang dipanggil ayah?"
"Bukan."
"Lalu, kenapa kau membantu kami? Kurasa kita belum pernah bertemu sebelumnya."
"Paman ini temannya teman kakek. Paman mencari Kakek di sini. Karena itulah, paman membantu kita. Iya 'kan, Paman?" Damiyan tersenyum sok akrab.
Akan tetapi, Aeneas tidak menanggapi. Pria itu malah melangkah ke jajaran senjata. Damiyan merengut.
Aeneas menolah-noleh. Dia seperti sedang mencari sesuatu.
"Dasar batu! Susah sekali diajak komunikasi. Kalau aku yang jadi asistenya, aku pasti sudah berhenti kurang dari satu minggu," begitu pikir Damiyan. Daftar keburukan Aeneas terus bertambah dalam catatan memori Damiyan. Berteman pun Damiyan tidak akan pernah mau bila orangnya setakacuh Aeneas. Damiyan tidak pernah menyangka waktu akan mematahkan seluruh pemikirannya hari itu.
Damiyan menajamkan pendengaran. Sesuatu yang sangat samar bergerak mendekat. Suara seperti banyak orang berlarian kian jelas.
"Ada yang datang kemari!" kata Damiyan berbalik badan.
"Aku juga mendengarnya," sahut Iziaslav.
"Kita harus segera pergi dari sini, Sayang!" Ibu Damiyan meraih tangan Damiyan.
Ruangan itu sangat luas. Namun, sama sekali tidak ada tempat untuk bersembunyi. Hanya ada dua pintu—pintu masuk Damiyan dan pintu yang baru digunakan Kelana. Sayang, pintu yang dilalui itu otomatis tertutup setelah dilewati. Tinggallah satu pintu yang terbuka.
Puluhan perempuan menyerbu masuk. Mereka berseragam lengkap. Rompi anti peluru serta pelindung kepala terpasang. Masing-masing membawa senjata api, teracung pada mereka.
"Jangan bergerak bila tidak ingin salah satu dari kalian kami tembak!" Peringatan klise itu mengudara.
Kedua orang tua Damiyan langsung berdiri di depan Damiyan. Mereka siap menjadi tameng bagi sang putra. Damiyan menatap punggung para orang dewasa. Damiyan tidak pernah meragukan kasih sayang kedua orang tuanya.
__ADS_1