
"Kakek Buyut!"
Kelana tersenyum lebar. Dia tertawa lepas. Segala ketakutannya sirna.
Sosok yang dikuntitnya berdiri di antara orang-orang yang datang. Kelana langsung berhambur ke pria tua itu. Dia memeluknya.
"Syukurlah bisa bertemu Kakek Buyut lagi!"
Di saat yang bersamaan, orang-orang asing berlari ke arah Aeneas. Mereka mendahului Gafrillo. Pria berpakaian sama itu menjauhkan Aeneas dari perangkat.
"Kau tidak boleh bermain-main dengan itu, Nak!"
"Untung saja gedung ini dibangun di atas magnet antigempa. Jika tidak, kau akan menghancurkan kita semua." Pria itu menoleh gelisah pada diorama.
"Itu benar-benar parah, Profesor!" Satu pria lain memperhatikan objek yang sama. Dahinya berkerut.
"Semoga saja mereka bisa memperbaiki kerusakannya." Pria itu mengencangkan cengkeraman pada lengan Aeneas.
Debar jantung mereka begitu cepat. Aeneas bisa mendengarnya. Detak-detak itu seolah mengatakan mereka sedang panik.
"Gafrillo, putramu telah membuat kerugian besar untuk dunia," kata sang profesor.
"Saya tidak punya uang jika Anda minta ganti rugi."
"Kau tidak perlu membayarnya dengan uang. Berikan saja kunci terakhir itu, lalu semua akan kuanggap lunas!"
"Berapa kali harus saya bilang," Gafrillo membuang napas kasar, "saya tidak tahu kunci yang Anda maksud, apalagi tahu di mana benda itu."
"Kau tidak bisa mengelak. Tanda di punggung tanganmu itu buktinya. Pria tua itu pasti telah menyerahkannya padamu." Profesor melihat tangan Gafrillo.
Gafrillo spontan menyentuh punggung tangan kirinya. Noda kecokelatan berbentuk burung tercetak jelas. Bentuknya terlalu sempurna untuk dibilang sekadar tanda lahir.
"Ini hanya tanda lahir biasa, sama sekali tidak ada kaitannya dengan apa pun itu."
"Kau pikir kami ini bodoh, tidak bisa membedakan tato dan tanda lahir alami?" Profesor menyeringai.
__ADS_1
"Sungguh! Saya mengatakan yang sesungguhnya."
"Bagaimana kalau kita melakukan pertukaran? Aku akan mengizinkanmu kembali ke permukaan jika kunci terakhir itu kau serahkan. Jika tetap menolak bekerja sama, duplikat kecilmu itu akan kukeluarkan ke dekat salah satu pasak yang bocor itu." Profesor menunjuk diorama.
"Profesor, Tuan Muda Gafrillo mungkin memang tidak tahu menahu tentang kunci itu," kata kakek buyut Kelana.
"Tuan Muda?" Kelana mendongak. Dia melihat air muka kakek buyutnya yang tampak risau. Kakek buyutnya itu menatap Gafrillo.
Kelana mengikuti arah pandangnya. Dia melihat Gafrillo yang bergeming. Kemudian, dia melemparkan pandangan pada Aeneas yang dipegangi dua pria.
"Kenapa kakek buyut memanggil Paman Gafrillo Tuan Muda?" pikir Kelana kebingungan.
Selama di lingkungan sekitar rumah, kakek buyutnya tidak pernah memanggil yang lebih muda dengan gelar kehormatan seperti itu. Dia selalu menyapa orang-orang dengan nama langsung. Itu kali pertama Kelana mendengarnya.
Karenanya, Kelana mulai beranggapan keluarga Aeneas sebagai keluarga bangsawan. Meski kemudian Kelana tahu keluarga Aeneas lebih miskin dari keluarganya, citra Kelana tidak berubah. Dia mulai mengubah cara bicara terhadap Aeneas sejak itu.
"Itu hanya keuntungan baginya bila kita mempercayainya begitu saja." Profesor menggeleng.
"Bisa juga Tuan Muda hanya lupa. Mari beri waktu padanya untuk mengingat-ingat! Dan kalau bisa, janganlah melibatkan anak-anak! Bagaimanapun, urusan kita hanya dengan Tuan Muda Gafrillo, kan? Selain itu, bukankah akan lebih baik bila anak-anak tumbuh, lalu menjadi sumber daya yang lebih bermanfaat?" Kakek buyut Kelana berusaha membantu Gafrillo.
Berkat upaya itu, Gafrillo dan Aeneas dibebaskan. Kakek buyut Kelana bersama beberapa orang yang mengantar mereka kembali. Sepanjang perjalanan, mata dan telinga mereka ditutup. Jadi, ketiganya tidak tahu jalan yang dilalui.
Mereka tidak bisa menjalani kehidupan tenang pasca bencana besar tersebut. Kejahatan di mana-mana, disusul peperangan berkelanjutan.
Gafrillo membangun bisnis di tengah-tengah kecamuk secara rahasia. Meskipun begitu, dia tidak jarang harus menjadi pelarian. Terkadang, dia juga harus membawa Aeneas dan keluarga lainnya.
Setelah Gafrillo meninggal, Aeneas melanjutkan perjuangan sang ayah. Aeneas masihlah remaja ketika memutuskan itu. Didampingi Kelana, dia berusaha menyudahi peperangan.
"Tuan Aeneas tidak segan-segan menebas atau menembak siapa pun yang menjadi lawannya waktu itu. Italia saat inilah hasilnya. Kekuasaan meluas. Perdamaian tercipta di negara-negara di bawah naungan Tuan Aeneas. Meskipun begitu, benih-benih pertikaian selalu ada saja yang bertunas di wilayah dan tahun yang berbeda."
"Dan kalian malah memfasilitasi dan menyirami benih itu hingga menjadi peperangan dan pengrusak berskala global. Untuk apa menciptakan perdamaian jika pada akhirnya kalian membiarkan kerusakan itu kembali terjadi?" ucap Abrizar.
"Daripada melindungi manusia-manusia keras kepala dan egois, lebih baik meraup keuntungan dari nafsu mereka itu, bukan?" Aeneas tersenyum.
"Jika dipikir-pikir, Sanu itu termasuk tipe orang yang keras kepala," kata Renji.
__ADS_1
"Jika kalian sampai keluar jalur, aku sendiri yang akan mengeringkan darah kalian." Aeneas menatap sengit pada Renji.
"Maaf. Sama sekali tidak ada maksud aneh-aneh kok." Renji lekas menunduk sambil melambaikan tangan.
"Saya mengerti. Kalau tidak salah, Sanu juga menginginkan tempat tinggal yang aman dan nyaman. Jika seperti itu, bukankah tujuan Anda sudah tercapai? Lingkungan di Italia sangat ideal untuk itu. Bukankah yang lebih baik menahan Sanu supaya mau tinggal di Italia daripada mengirimnya ke mana pun itu?" sela Fukai.
"Kau melupakan ambisi anak itu yang katanya ingin membersihkan kejahatan dengan deterjen kebaikan atau apalah itu, Paman Fukai," sahut Renji.
Di rumah yang mereka tempati, terpajang visi dan misi serta aturan dasar. Sanubari sendiri yang menulisnya di atas kertas karton, lalu menempelkan ke dinding. Semua orang tahu itu. Sekalipun mereka tidak membacanya, Sanubari sering membacanya lantang ketika semua orang telah berkumpul untuk sarapan.
"Ah, benar. Anak itu memang agak keras kepala. Tapi, aku belum menangkap hal mendesak yang mengharuskan Sanu menjauh dari kita, Ren," kata Fukai.
"Kalian ingat ular penyebab gempa dan kehidupan bawah yang kusebut tadi, kan?" Kelana memandang enam pria di hadapan.
Mereka mengangguk serempak. Sai menggerakkan telapak kaki. Dia memikirkan seberapa jauh rongga yang dimaksud. Teknologi pada zaman dahulu pastilah sudah sangat maju bila sampai bisa mengeruk dan mengangkat bongkahan tanah sedalam puluhan atau bahkan ratusan kilometer, lalu mengangkatnya ke langit.
"Itu bukan satu-satunya. Percaya atau tidak, terdapat banyak ranjau di bawah kita yang siap meledakkan bumi kapan pun."
"Maksudnya, mereka memasang bom nuklir di mana-mana untuk meledakkan bumi pada waktu yang telah ditetapkan?" tanya Eiji.
Mereka pernah menonton film, membaca, atau mendengar tentang kiamat. Fenomena tersebut selalu melibatkan bencana besar. Orang-orang religius mempercayai adanya campur tangan Ilahi pada hari yang telah diramalkan, sementara mereka yang tak ber-Tuhan menganggapnya sebatas fenomena alam yang mungkin saja terjadi. Para pria itu tidak menyangka kiamat yang akan mereka hadapi diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Kiamat memang sudah ditetapkan. Namun, tidak ada manusia yang tahu pasti bagaimana itu akan terjadi, kecuali hanya menduga-duga dalam ketidakpastian. Kitab suci hanya memberikan petunjuk-petunjuk metaforis yang bisa ditafsirkan sebagai apa pun.
Kelana menggeleng. "Mereka menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan."
Keterangan Kelana membuat Sai merasa bisa meraba sedikit keinginan Aeneas. Kemungkinan, Aeneas mengharapkan Sanubari dan teman-temannya bisa menghentikan penghancuran. Itu sebatas pemikiran Sai.
"Kalian tahu jalan ke bawah. Kenapa kalian tidak menghentikan mereka sendiri?"
"Tidak semudah itu, Abri. Kami memang pernah ke sana. Namun, jalan ke bawah yang pernah kami lewati itu sudah tidak ada ketika kami periksa kembali."
Kelana mulai menjelaskan penyelidikan pasca meninggalnya Gafrillo ayah Aeneas. Perlu bertahun-tahun hingga mereka menemukan jalan baru. Penyelidikan tersebut mengungkapkan berbagai fakta mencengangkan. Orang-orang dunia bawah ternyata mengendalikan sepenuhnya sumber daya alam yang ada di permukaan.
Mereka bisa menentukan wilayah mana saja yang kaya bahan tambang, lalu menunjuk oknum tertentu untuk mengelolanya di permukaan. Kesuburan tanah, kelayakan perairan, serta populasi fauna pun berada dalam cengkeraman mereka.
__ADS_1
"Bisa dibilang, mereka adalah pemegang kekayaan dunia sesungguhnya. Kesejahteraan di seluruh muka bumi bisa saja dilenyapkan bila mereka mau. Mereka menjadi kunci keberlangsungan planet ini," lanjut Kelana.
"Mereka menjaga kehidupan di permukaan, tapi juga memasang penghancur di bawah tanah. Bukankah itu tindakan yang saling bertentangan? Jika kekuatan mereka memang sebesar itu, bukankah mudah bagi mereka untuk melakukan pembumihangusan saat ini juga? Jika memang ingin membinasakan kehidupan, mengapa mereka menundanya begitu lama ketika kekuatan sudah di tangan?" sahut Sai.