
Keluar dari ruangan perempuan yang dipanggil madam, dua perempuan lain menyusul. Mereka menghentikan Damiyan yang diajak masuk elevator.
"Kami akan menemani kalian," kata seorang perempuan tersenyum.
Yang satu lagi menimpali, "Akan lebih aman bila beramai-ramai. Sedang ada penjahat berkeliaran di sini."
Damiyan hanya menatap pantulan bayangan mereka pada dinding mengkilat elevator, sama sekali tidak berniat basa-basi. Dia hanya tersenyum dan menanggapi bila ada kalimat yang perlu dijawab. Jalan Damiyan sungguh mudah, lebih mulus dari perkiraannya.
Dia pikir, akan ada perkelahian, drama, atau apalah itu yang akan menyusahkanya. Nyatanya, para perempuan ini memperlakukan anak kecil dengan baik. Pipi Damiyan dicubit-cubit. Rambutnya diacak-acak. Mereka bahkan memuji Damiyan.
"Kau ini seperti pangeran salju. Kulitmu lembut seperti bayi."
"Tentu saja halus. Dia 'kan memang masih anak-anak. Tapi, kau benar. Rambutnya seputih salju. Oh, dan lihatlah matanya! Betapa jernih dan menyegarkan, seperti lautan yang membeku!"
Mereka sangat ceriwis saat bersama. Wajah Damiyan disentuh dan dimainkan seenaknya. Mereka ketawa-ketiwi.
Kewaspadaan Damiyan mengendor. Dia berpikir, "Mungkinkah papa sudah berbaikan dengan orang-orang ini?"
Keluar dari elevator pun mereka masih aktif mengajak berbicara. Tidak sedikit pun waktu perjalanan dibiarkan dalam keheningan. Dua penjahat yang berkeliaran tak luput menjadi topik pembicaraan.
"Mereka sungguh kejam."
"Aku terkejut saat melihat mereka muncul di kamera pengawas, lalu membantai setiap orang yang mereka temui."
"Mereka sungguh pembunuh berdarah dingin."
"Lebih tepatnya, yang rambut hitam sih. Si pirang hanya berjalan di belakangnya, melihat si hitam membantai tanpa banyak bergerak."
"Seharusnya, kau tidak ke sini, Adik Kecil."
"Benar, kau bisa menjadi sasaran dua penjahat itu."
"Teman-teman kami sedang berusaha melumpuhkan mereka, tapi mereka selalu saja bisa mengalahkan berapa pun yang datang."
__ADS_1
"Madam saat ini sedang memikirkan cara untuk melumpuhkan dua orang itu."
Mereka berjalan sangat hati-hati setiap kali melewati persimpangan. Rombongan baru melangkah maju ketika salah satu dari mereka sudah memastikan keamanan jalan.
Pembicaraan ini membuat Damiyan bingung. Dia teringat mayat-mayat yang dijumpainya sebelum bertemu perempuan yang menemaninya. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Kelanalah yang membunuh para perempuan di gerbang masuk.
Mayat-mayat setelah itu pun kemungkinan pastinya yang membunuh juga Kelana. Jadi, Damiyan paham yang mereka anggap dua penjahat pastilah Kelana dan Aeneas. Semua ciri yang mereka sebutkan sesuai dengan kedua pria itu.
Persepsi Damiyan tentang siapa yang jahat menjadi kacau. Sampai beberapa saat yang lalu, dia berbicara dengan Kelana yang ramah. Kelana dan Aeneas teman Fang. Fang teman Vladimir. Vladimir pergi untuk menyelamatkan kedua orang tua Damiyan yang mungkin disekap para perempuan.
Aeneas dan Kelana datang kemari untuk mencari Vladimir. Mereka hanya butuh Vladimir sehingga variabel lain disingkirkan. Beberapa malam sebelumnya, para perempuan menyerang keluarga Damiyan. Akan tetapi, para perempuan bersikap lembut padanya sekarang.
"Mungkinkah mereka perempuan yang berbeda? Tapi, kenapa paman-paman itu menyerang mereka?" batin Damiyan.
Dia tidak bisa mengingat wajah-wajah para perempuan yang menyerang keluarganya. Damiyan berusaha menghubungkan seluruh informasi yang dimilikinya.
Otak Damiyan bekerja sangat keras sampai mengepulkan asap kebingungan. Terlalu banyak premis. Damiyan tidak bisa menarik kesimpulan dari premis-premis yang saling tumpang tindih itu.
Hingga tanpa sadar, dia telah tiba di depan pintu. Seorang menekan sebuah tombol di pinggir gawang pintu.
"Ini gara-gara dua penyusup itu."
Kemudian, suara perempuan terdengar dari interkom. Perempuan itu meminta kata sandi. Pintu bergeser terbuka saat seorang perempuan yang bersama Damiyan mengatakan satu kata.
Perlahan, tapi pasti, pemandangan di dalam mulai terekspos. Bersamaan dengan itu, tangan Damiyan ditarik ke belakang. Damiyan terperanjat.
"Apa-apaan ini?" Damiyan menyentak tangan. Namun, tangannya tidak bisa direnggangkan. Keduanya merapat di belakang pinggang. Sebuah kalung besi melingkar ke lehernya. Selanjutnya, tangannya tertarik ke atas. Dia sama sekali tidak bisa menggerakkannya untuk meraih pistol di saku.
"Jalan, Adik Kecil!" Seorang perempuan cekikikan, diikuti yang lain.
Punggung Damiyan didorong. Dia terhuyung memasuki ruangan. Setiap kali Damiyan berusaha menarik tangan ke bawah, lehernya terasa sakit. Itu karena ada rantai yang menautkan borgol tangan ke kalung leher.
"Ternyata, mudah sekali memperoleh kepercayaan dari anak kecil."
__ADS_1
Pintu ditutup kembali. Celana Damiyan digeledah. Seorang perempuan berdecak-decak sambil mengeluarkan pistol dari saku Damiyan.
"AW, lihatlah, Teman-teman! Anak ini sepertinya berniat menipu kita."
"Menggemaskan sekali!" Seorang perempuan mencubit pipi Damiyan, lalu menggoyangkannya ke kanan dan kiri.
Damiyan jengkel melihat senyum munafik mereka. Dia menyesal telah meragukan insting sebelumnya. Seharusnya, dia tidak membuang kecurigaannya terhadap para perempuan ini.
Mereka berpindah dari hadapan Damiyan. Rambut Damiyan dijambak dan ditarik hingga terdongak. Sesuatu yang menggantung di atas membuat Damiyan terbelalak.
"Izias, apa kau terbangun di sana! Lihatlah! Putra tercintamu datang untuk menjemput!" teriak seorang perempuan.
Yang lain tertawa. Mereka sungguh senang mendapatkan bahan ancaman dengan mudah. Pintu telah ditutup kembali. Damiyan bisa mendengar suara pintu yang digeser.
Di langit-langit, ayah dan ibu Damiyan dirantai. Keduanya diikat pada besi bersilang. Karenanya, mereka terlihat seperti berbaring terentang di atap, menghadap ke bawah.
Yang lebih mengerikan, papan dengan runcingan-runcingan terbentang di lantai, tepat di bawah mereka. Rantai yang mengikat mereka terhubung pada roda katrol, memanjang ke salah satu sisi ruangan. Terlihat tuas yang sepertinya bisa digunakan untuk menarik ulur rantai. Sekali saja tuas pengulur lepas ditarik, dapat dipastikan sepasang suami itu akan meninggal seketika, tertancap pada runcingan-runcingan di bawah. Runcingan-runcingan itu seperti paku payung sebesar linggis yang dibalik.
Iziaslav membuka mata perlahan. Kondisinya sungguh mengenaskan. Pakaiannya koyak. Noda darah tampak menempel di beberapa bagian.
"Iyan, kenapa bisa sampai sini?" Ibu Damiyan berkata lemah. Air matanya luruh.
"Papa, Mama." Damiyan menatap nanar pada mereka.
"Nah, Izias, waktunya memilih. Bicara atau anak ini akan kehilangan matanya?" Seorang perempuan menodongkan pisau pada Damiyan.
Ujungnya menggores pipiDamiyan. Sedikit darah mengalir. Damiyan mengeraskan rahang, menahan diri untuk berteriak.
Iziaslav dan sang istri tetap mengunci mulut di atas sana. Mereka saling tatap dengan Damiyan. Kali ini, Damiyan berjanji pada diri sendiri. Dia tidak akan melonggarkan kewaspadaan. Kalau pisau itu sampai naik ke matanya, dia akan menghindar bagaimana pun caranya.
"Keras kepala sekali!" geram perempuan lainnya.
"Langsung habisi saja anak ini!" Seorang perempuan menarik rambut Damiyan lebih ke belakang.
__ADS_1
"Ah, benar juga! Mari kita lihat bagaimana reaksi dua kepala batu itu! Bila hati mereka tidak juga tergerak, itu tandanya kau tidak berarti apa-apa bagi mereka, Nak."