
"A! Sakit! Sakit! Hentikan! Tidak mau!"
Jeritan Sanubari menyebar ke seluruh ruangan. Begitu keras, sampai tujuh pria tercenung. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
Rumah itu sangat luas. Akan tetapi, mereka yang berada di lantai dasar bisa mendengar sangat jelas suara Sanubari dari lantai dua. Suara itu sangat keras. Sanubari pastilah menggunakan seluruh tenaganya untuk melakukan itu.
Abrizar, Sai, dan Renji tidak menyangka bahwa mereka diundang untuk mendengar itu. Setiap orang yang mendengar pasti mengiba, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ditahan di lantai dasar.
Abrizar yang paling berani di antara mereka bertanya, "Apa yang Anda lakukan pada Sanu?"
Mereka tentu penasaran. Dari suaranya, jelas Sanubari tidak sedang baik-baik saja. Kondisi tersebut membuat mereka kebingungan. Ditambah lagi, sosok dihadapan mereka menyimpan kemisteriusan yang sulit dideskripsikan.
Untuk hal-hal sederhana semacam itu Aeneas tidak perlu membuka mulut. Lebih tepatnya, dia hanya akan bicara ketika ingin saja. Rekannya sudah hafal kebiasaan itu.
Sebagai perwakilan, Kelana menjawab, "Tuan muda sedang terapi."
Berbeda dengan para pemuda yang tampak khawatir, Aeneas dan Kelana memasang ekspresi ringan seolah tanpa beban. Reaksi itu cukup melegakan bagi mereka. Awal-awal keluar rumah sakit, Sanubari memasang raut muka datar saat dilakukan hal serupa. Bahkan, ketika Canda menyayat kulit Sanubari untuk mengeluarkan residu pun roman wajah Sanubari tetap polos.
Baru-baru ini saja, dia sampai histeris seperti itu. Tidak hanya satu atau dua kali, dia mencoba kabur.
"Terapi? Bukankah itu penyiksaan? Dia terdengar sangat menderita dan kesakitan."
Abrizar mengernyit. Pun yang lain, kecuali Fukai , Aeneas, dan Kelana. Teriakan Sanubari masih berlanjut. Suaranya sampai setengah parau.
Fukai tidak heran dengan kejadian yang sedang berlangsung. Dia salah satu dokter yang melakukan pemeriksaan harian pada Sanubari. Jadi, dia paham dengan kondisi tubuh Sanubari.
"Bagus bila dia bisa merasakan sakit. Itu artinya, ada perkembangan pada saraf sensoriknya. Sejak insiden waktu itu, sistem saraf tuan muda tidak berrfungsi dengan baik. Dia tidak bisa merasakan apa-apa. Tidak jarang, kekuatannya mendadak hilang begitu saja. Kalian mungkin belum tahu ini," ungkap Kelana.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak menutup-nutupi. Menurutnya, teman-teman Sanubari ini perlu tahu kondisi tubuh sebenarnya pemuda itu.
"Kupikir dia sudah sembuh. Dia selalu bersikap biasa setiap kali datang ke rumah," ujar Renji yang tidak menduga itu.
"Adikku juga menjadi korban wabah itu, tapi dia baik-baij saja sekarang. Jadi, kupikir ...."
Abrizar menunduk. Dia benar-benar tidak menyangka kondisi Sanubari separah itu. Mendadak, Abrizar mengkhawatirkan sang adik.
"Tuan muda dalam masa pengobatan, tapi kami tidak bisa melarangnya ini/itu. Dia terlalu keras kepala. Karena itu, kami ingin kalian mengawasinya. Jangan membuatnya beraktivitas berlebih atau membiarkannya terlalu kelelahan! Itu akan berdampak buruk pada tubuhnya. Pastikan dia meminum obat tepat waktu!"
Kelana mengangkat salah satu botol di atas meja. Sekitar sepuluh botol berisi kapsul berjajar di sana. Para pemuda itu baru mengerti bahwa semua itu adalah obat Sanubari.
"Dia mungkin akan lupa tentang obatnya sendiri jika tidak diingatkan. Dan untuk memantau kesehatannya, Fukai akan ikut ke mana pun tujuan kalian," lanjutnya.
Semua orang serempak menoleh pada Fukai yang duduk paling ujung, terkecuali Aeneas dan Abrizar. Aeneas masih duduk dengan tenang tanpa sepatah kata. Sementara bagi Abrizar, menoleh atau tidak itu sama saja.
"Bukankah Anda terlalu memanjakannya, Tuan Aeneas? Anda memberikan tantangan itu, tapi malah memfasilitasi kami. Jadi, apa tantangan itu masih berlaku?" tanya Abrizar.
Itu memancing Aeneas untuk berucap, "Aku salut pada kemampuanmu mengenali sekitar. Aku bahkan tidak berkata apa-apa, tapi kau bisa tahu aku ada di sini. Dari kacamata normal, kau ini terlihat mencurigakan, Abri."
"Aroma Anda berbeda. Itu cukup menunjukkan keberadaan Anda. Andai aku dalam posisi Sanu, mungkin itu sama artinya kematian bagiku. Itu seperti kehilangan mata, apalagi bila sampai pendengaranku yang bermasalah. Ah, itu tidak penting. Jawab saja pertanyaanku!"
"Sanu adalah harta berhargaku. Tentu aku ingin melihatnya selalu sehat. Selebihnya, aku tidak akan ikut campur."
Sementara itu, di kamar Sanubari, pemuda itu sedang dipegangi beberapa pria. Dia menangis. Ingusnya sampai keluar.
"Ini menyakitkan, Kek. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak mau," rengek Sanubari. Dia menggeleng-gelengkan kepala, mengentakkan kaki, tetapi pergerakannya dikunci.
__ADS_1
"Tahan sebentar lagi! Kau akan nyaman setelah ini," bujuk Canda sambil terus memijat.
Mereka yang menyaksikan hanya melihat Canda memijat pelan. Namun, itu sampai membuat Sanubari histeris. Cukup mengherankan bagi mereka.
Bio mengambil tisu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menekan lengan Sanubari. Dia mengusap ingus Sanubari dengan itu. Sanubari pun tanpa sungkan membuang ingus di sana, tanpa peduli Bio yang membantunya akan merasa jijik karenanya.
"Kakek, jika aku sampai mati karena ini, aku bersumpah akan menghantuimu. Juga kalian semua!"
Dengan susah payah, Sanubari mengatakan itu. Dia menatap sengit pada semua orang. Begitu sakitnya, sampai-sampai rasanya mau mati.
Sanubari tidak berlebihan tentang itu. Urat-urat di pelipis dan telapak tangan yang mencengkeram sprei sampai menonjol. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung pun bermunculan di kening dan menuruni pelipis. Sanubari mengerang. Napas sampai tersengal-sengal.
Canda tidak memedulikan itu. Dia tetap melakukan pekerjaannya secara profesional. Kakek itu hanya geleng-geleng, sedikit ingin tertawa melihat reaksi Sanubari.
"Siapa suruh keras kepala? Kau pikir, berapa kali kau terjatuh dalam sehari, hah? Andai kau ini penurut, mungkin tidak akan sesakit ini," tutur Canda geregetan.
Dia sendiri berusaha sangat berhati-hati saat melakukan perawatan. Akan tetapi, Sanubari si pasien malah bertindak seenaknya. Terjun dari lantai dua, berlarian ke sana ke mari sampai pernah terguling dari tangga. Beruntung, dia tidak gegar otak atau patah tulang. Hanya ada beberapa memar pada tubuh Sanubari.
Kulit bersih Sanubari membuat memar-memar tersebut sangat kentara. Karena kondisi tubuh Sanubari yang belum sepenuhnya sembuh, butuh waktu lebih lama untuk memulihkan luka. Canda berusaha sebaik mungkin mengobati luka-luka itu supaya tidak meninggalkan bekas permanen.
Yang lain merasa kasihan. Mereka bisa melihat lebam di sekujur tubuh Sanubari yang hanya mengenakan celana pendek selutut. Luka gores pada lutut dan tangan pun belum sembuh. Padahal, luka kecil seperti itu biasanya akan langsung sembuh dalam satu hari. Canda rutin membersihkan dan mengganti plesternya.
Di mata beberapa orang, kondisi tubuh Sanubari benar-benar mengenaskan. Orang-orang yang menemukan perusak saraf itu sungguh tidak termaafkan. mereka manusia yang kehilangan kemanusiaannya.
Canda melakukan sentuhan terakhir pada pijatannya. tepat saat itu, Sanubari kehilangan kesadaran.
semua pelayan serempak berteriak, "Tuan Muda!"
__ADS_1