Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pindah Haluan


__ADS_3

Parkiran lantai-lantai atas telah hancur. Puing-puing berguguran, menimpa jasad manusia yang mencoba melewatinya, mengubur kendaraan hingga ringsek. Bom-bom yang telah dipasang di beberapa titik meledak satu demi satu.


"Ledakan apa tadi?" Sang menteri berujar resah.


Elevator yang dinaikinya mendadak berhenti. Penerangan padam seketika setelah gemelegar yang memekakkan telinga. Mereka terjebak dalam kegelapan.


Seorang ajudan menekan tombol darurat. Tombol tersebut masih berfungsi. Namun, tidak membuat elevator kembali bergerak. Tombol itu hanya membuat pintu sedikit terbuka.


Si ajudan menyalakan senter ponsel. Celah yang terbuka tidak lebar, tetapi cukup untuk dilewati satu tubuh ideal rata-rata. Selain itu, mereka harus melompat ke atas untuk bisa keluar karena elevator setengah tenggelam.


"Nona, adakah jalan keluar selain memakai elevator ini? tanya si ajudan. Senter masih menyorot satu-satunya jalan yang mereka miliki.


"Setiap lantai setidaknya memiliki empat elevator rahasia dan empat tangga darurat rahasia, tapi aku tidak yakin elevator yang lain masih berfungsi dalam kondisi seperti ini," jawab perempuan satu-satunya yang turut serta dalam rombongan mereka.


Perempuan itu adalah bagian dari Labucona yang menjadi pemandu gedung. Selama transaksi, dia tidak ikut berinteraksi. Tugasnya hanyalah menunjukkan jalan. Di luar itu, dia tidak punya urusan.


"Sepertinya kita harus keluar dari sini sebelum terjebak, Pak," kata si ajudan


"Lakukan apa pun! Yang penting, kita bisa keluar dari sini dengan selamat!" tegas sang menteri.


Dua ajudan naik terlebih dahulu, disusul sang menteri, asisten, perempuan, lalu dokter. Ajudan terakhir yang masih di dalam menyerahkan Sanubari untuk ditarik sebelum dirinya sendiri keluar.


Sang perempuan berlari membimbing mereka menuju jalan lain. Sanubari digendong salah satu ajudan. Langkah mereka sempat terhenti ketika ledakan terdengar lagi. Atap-atap roboh, mengurung mereka di lorong.


Sang perempuan nyaris saja tertimpa puing. Andai tidak berhenti tepat waktu, dia mungkin sudah terkubur bongkahan bangunan.


Sang menteri dicekam kengerian. Saat menoleh ke belakang, jalan yang mereka lalui tertutup reruntuhan. Kanan dan kiri mereka dinding, sementara di hadapan mereka juga reruntuhan. Jalan mereka terblokir sempurna.


"Mari singkirkan puing-puing ini!" ajak sang perempuan.


Mereka tidak punya pilihan lain. Jika ingin selamat, mereka harus bisa memindahkan semua bongkahan yang menghalangi. Setidaknya sampai cukup memberi celah bagi mereka untuk lewat.


Bersama-sama, mereka menggotong satu demi satu bongkahan. Sang menteri memegangi ponsel sebagai sumber penerangan.


Saat bongkahan semakin berkurang, seleret cahaya menerobos dari celah puing. Sang menteri sempat mengira bahwa dirinya salah lihat. Dia mencoba mematikan senter ponsel.


Sang asisten pun spontan bertanya, "Kenapa dimatikan, Pak?"


Kegelapan menyelubungi mereka. Namun, sinar itu datang kembali, seolah sengaja disorotkan melalui celah yang ada.

__ADS_1


"Kalian lihat cahaya tadi?" tanya balik sang menteri.


Perhatian mereka tertuju pada segaris cahaya yang berkerlap-kerlip. Gerakan mereka terhenti sejenak.


"Siapa di sana?" tanya sang dokter. Dia berpikir mungkin ada yang tertimpa reruntuhan dan sinar itu dimainkan untuk memberi isyarat. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari seberang.


Sementara sang perempuan berpikiran lain. Ini adalah jalan rahasia yang hanya diketahui anggota Labucona. Mustahil orang lain bisa mencapai area ini.


Meskipun begitu, kondisi gedung yang sudah hancur sana-sini membuka kemungkinan orang biasa bisa sampai ke sini tanpa sengaja. Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan pula bahwa yang ada di seberang adalah musuh.


Sang perempuan pun berteriak, "Kawan atau lawan?"


Dia tidak bisa gegabah melanjutkan pemindahan bongkahan. Bagaimanapun juga, dia sangat tahu bahwa saat ini penyerangan sedang berlangsung. Karena tak kunjung ada jawaban, perempuan itu mengulang teriakan.


"Gaga, kaukah itu?" sahut wanita dari seberang.


"Queen?" respons balik perempuan yang dipanggil Gaga oleh perempuan di seberang.


"Iya, ini aku," sahut wanita yang ada di seberang lagi.


Gaga pun mengajak yang lain untuk melanjutkan pemindahan puing. Pergerakan dari dua sisi membuat jalan mereka lebih cepat terbuka.


"Queen, sebenarnya kami bermaksud menggunakan jalan yang baru kita buka. Tidak perlu lagi membuang waktu untuk menyingkirkan puing itu," ujar Gaga.


Queenza menggeleng. "Tidak ada jalan dari arah kami datang. Kami saja harus berjudi dengan kematian untuk bisa melompati lantai yang runtuh."


"Benar, tiga di antara kami bahkan ada yang gagal sampai ke seberang." Wanita lain menguatkan pernyataan Queenza.


"Cepat gerakkan tangan kalian sebelum bangunan ini benar-benar mengubur kita!" titah Queenza.


Perempuan itu datang bersama lima wanita lain. Mereka membantu para pria membuat jalan baru, sementara Queenza mengawasi.


"Kau harus mengubah regulasi transaksi setelah ini, Queen! Lihatlah! Kebijakanmu yang mengharuskan transaksi di gedung basis Labucona sedang berusaha membunuh seorang menteri. Aku tahu seharusnya tidak mendatangi tempat ini ketika sedang terjadi perpecahan dalam organisasimu," gerutu sang menteri.


Tempat itu sangat gelap. Minimnya pencahayaan membuat Queenza sulit mengenali siapa saja yang ada di sana. Dia baru tahu ada menteri pertahanan setelah pria itu berbicara. Andai dia tahu Sanubari ada juga di sana, dia mungkin akan meminta Sanubari dari tangan sang menteri setelah berhasil keluar.


"Basis ini seharusnya aman. Ini semua gara-gara anak sialan itu! Sudah dibesarkan dan diangkat derajatnya, tetapi malah berkhianat," ucap Queenza penuh kekesalan.


Dia menyesalkan keputusannya mengangkat anak. Sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, ketika Aeneas mendatangi dan menuduhnya membunuh salah satu anaknya, Queenza memutuskan untuk mengadopsi seorang anak mengikuti jejak Aeneas yang konon juga mengadopsi anak.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak sakit hati dengan tuduhan kala itu. Ancaman Aeneas justru memberikan informasi baru bagi Queenza. Dia mengira keluarga yang dibicarakan Aeneas sebagai anak adopsi. Walau Aeneas mengakui mereka sebagai anak kandung, Queenza tetap tidak percaya.


Meskipun begitu, Queenza membantu Aeneas mengusut tuntas peristiwa penembakkan liar di Saugerties untuk menarik perhatian Aeneas. Saat mengetahui Aeneas memiliki putra yang dianggapnya anak angkat, sebuah ide terbersit dalam benak Queenza.


L'Eterna Volonta sangat sulit digulingkan melalui beberapa aspek. Organisasi itu terlalu sempurna di berbagai bidang, seolah tanpa cela sama sekali. Siapa pun yang pernah bersinggungan, dengan segera mendapatkan balasan setimpal. Ulah dari luar tidak pernah bisa merugikan dan melunturkan pamor L'Eterna Volonta.


Rencana Queenza untuk melemahkan organisasi dengan mendekati Aeneas pun selalu berujung kegagalan. Pria itu selalu menolaknya. Padahal, Queenza memiliki tubuh menawan dengan lekukan indah yang konon bak gitar spanyol. Parasnya teramat cantik, seperti boneka.


Semua pria bisa Queenza taklukkan dengan mudah, tetapi Aeneas tidak. Itu membuat Queenza berpikir Aeneas merupakan pria yang tidak berminat dengan perempuan.


Untuk itu, Queenza mengangkat seorang anak perempuan. Dia ingin menjodohkannya dengan Sanubari. Siapa tau merger dua organisasi bisa terjadi bila anak-anak itu bersatu. Dengan begitu, Queenza bisa mengambil alih L'Eterna Volonta secara perlahan.


Anak angkatnya itu diberinya nama Evangeline Kingslay. Queenza mengajarinya banyak hal. Akan tetapi, siapa sangka keduanya malah bertentangan paham setelah Evangeline beranjak remaja.


"Anak itu sungguh berani menghancurkan rumahku. Menyesal rasanya membesarkannya," lanjutnya menggerutu.


Sampai akhirnya, jalan berhasil dibuka. Mereka bergegas berlari dengan penerangan seadanya. Namun, mereka tiba di lorong yang lantainya runtuh.


Sementara itu di Samudra Pasifik, Damiyan melepas earphone. Telinganya pengang pasca mendengar ledakan dadakan. Itu sempat mengejutkannya. Namun, dia cukup lega karena Sanubari masih baik-baik saja walau tidak sadarkan diri.


Tatapan pria itu tertuju pada ponsel. Benda itu menampilkan titik koordinat Sanubari serta jalur pelayaran. Dahinya mengernyit ketika menyadari garis pelayaran perlahan melenceng. Dia bergegas berlari menuju anjungan. Di sana, sang nahkoda tengah memegang kemudi.


"Kapten, apa kapal ini pindah haluan?" tanya Damiyan.


"Iya, Tuan. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan ini ke tujuan semula."


"Kenapa? Lanjutkan saja! Kita harus segera sampai ke sana," desak Damiyan.


Namun, sang nahkoda menggeleng. "Maaf, tidak bisa, Tuan! Saya baru saja mendapat kabar bahwa kapal kargo BGA baru saja dirampok bajak laut di depan sana dan bajak laut itu tengah berlayar kembali di sekitar perairan ini."


"Pengecut! Bukankah kau dan awak kapal ini orang-orang terlatih? Kenapa takut dengan mereka? Hadapi saja dan tetap maju!" bujuk Damiyan.


Sanubari dalam keadaan genting saat ini. Anak itu akan segera tiada karena tertimbun bangunan atau menjadi donor ilegal. Damiyan tidak ingin terlambat. Kecepatan laju mereka saat ini saja sudah cukup membuat Damiyan khawatir. Ditambah lagi, tujuan ternyata dibelokkan.


"Awak kapal sebelumnya saja bisa dikalahkan. Mereka bilang bajak laut itu cerdik. Kita sebaiknya berhati-hati untuk menghindari kerugian lebih besar."


"Lanjutkan ke tujuan semula!" bentak Damiyan, "Nyawa kita juga sedang menjadi taruhan sekarang jika perjalanan ini tidak dilanjutkan."


"Tapi, Tuan, akan lebih berbahaya bila kita tetap ke Los Angeles-. Peperangan sedang terjadi di sana."

__ADS_1


Sang nahkoda tidak mengerti bahaya yang dimaksud Damiyan. Oleh karena itu, dia bisa berkata demikian. Sang nahkoda malahan berpikir bahwa Damiyan itu aneh karena terus-terusan mendesak untuk menjemput bahaya.


__ADS_2