Santri Famiglia

Santri Famiglia
Uang


__ADS_3

Lampu kamar Sanubari masih menyala. Namun, bocah itu sudah terlelap di ranjangnya. Aeneas tersenyum memperhatikan Sanubari yang tertidur.


Kelana memberi tahunya bahwa Sanubari takut tidur sendirian dalam kegelapan. Jadi, Aeneas membiarkan penerangan kamar Sanubari tetap menyala. Kemudian, dia meninggalkan kamar Sanubari. Ditutupnya pintu secara perlahan supaya tidak mengganggu bocah yang sedang bermimpi.


Aeneas berjalan ke kamar Sanum yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamar Sanubari. Dia berdiri di depan pintu kamar Sanum lalu mengetuknya. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, segera setelahnya Sanum langsung membukakan pintu.


*****


Pagi-pagi sekali Sanubari sudah sibuk di dapur. Hari sebelumnya, Sanubari merecoki Kelana untuk mengajarinya cara pakai semua alat-alat yang ada di dapur. Tidak peduli pria dewasa itu sudah kelelahan meladeni bocah hiperaktif itu, si bocah masih saja mengajaknya berkeliling rumah dan bertanya macam-macam.


Sekarang bocah itu menunggu dengan senyuman berapi-api sebuah microwave yang sedang bekerja. Dia memasukkan sebuah piza beku yang sudah ia tambah dengan banyak mozarella. Padahal sudah ada kejunya di piza instan tersebut.


Jantungnya berdebar-debar menanti proses penghangatan makanan beku tersebut. Dia sudah seperti pria yang sedang jatuh cinta saja. Padahal yang ditunggu hanya makanan. Sarung tangan tahan panas pun sudah dia pakai sejak tadi.


Akhirnya bunyi ting yang ditunggu-tunggu terdengar juga. Lekas dibukanya microwave. Seketika itu aroma sedap menguar.


"Hm, enaknya!" Sanubari menghirup dalam-dalam aroma lezat dari piza hangat yang baru dia angkat.


Beberapa siraman saus kemudian, Sanum dan Aeneas bersama-sama menuju dapur. Mereka terkejut melihat si Bocah yang sudah bangun lebih dulu. Awalnya Sanum mau turun memasak. Sementara Aeneas mengikuti Sanum karena tidak mau bermalas-malasan di kamar sendirian. Namun, dapur sudah dijajah duluan oleh si Bocah begitu mereka tiba.


"Apa yang kamu lakukan, Sanu?" tanya Sanum yang melihat dapur berantakan.


Sanubari mengangkat kepala lalu mengucapkan, "Buon giorno, Papa! Selamat pagi, Mamak!"


Sanubari sudah bertanya kepada Kelana sebelumnya sehingga dia bisa mengucapkan salam kepada ayahnya. Sanum dan Aeneas membalas salam Sanubari dengan bahasa masing-masing secara bersamaan. Mereka berdua berdiri di dekat meja makan dimana Sanubari sedang berkreasi.


"I made breakfast for Papa and Mama."


(Aku membuat sarapan untuk Papa dan Mama.)


Nilai bahasa Inggris Sanubari tidaklah buruk semasa sekolah. Jika bahasa Inggris tingkat dasar selevel pelajaran anak sekolah dasar saja maka Sanubari bisa menerapkannya. Ia pernah mendengar Jin yang berkomunikasi dengan Aeneas menggunakan bahasa Inggris. Jadi, Sanubari berpikir untuk belajar berkomunikasi dengan ayahnya menggunakan sedikit pengetahuannya tentang bahasa Inggris karena belum bisa berbahasa Italia.


Kemampuan Sanubari itu menjadi kejutan kecil bagi Aeneas. Rupanya Sanubari anak yang cukup cerdas. Dia tersenyum lalu duduk.


"What is these?"


(Apa ini?)


Aeneas melihat tiga makanan berbentuk bundar yang terhidang di atas meja. Semua permukaan makanan itu berwarna kecokelatan. Aromanya seperti piza tetapi ada aroma lain yang bercampur.

__ADS_1


"Piza with mayonaise, hot sauce, ee ... um ... aaa ... nut ... nut ... nut."


(Piza dengan mayones, saus pedas dan ee ... um ... aaa ... kacang ... kacang ... kacang ....)


Sanubari tersendat. Dia mengatakannya sambil berpikir. Nampaknya dia sedang mengubek-ubek isi otaknya untuk mencari frasa sambal pecel. Dia tidak tahu bahasa Inggrisnya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Sanubari dengan tidak yakin berkata, "nut sambal."


"Nut Sambal?"


Terserah apa pun itu, sepertinya Aeneas tidak lagi memikirkannya. Dia mengambil sepotong piza lalu mencoba menggigitnya.


"Tasty."


(Enak.)


Begitulah komentar Aeneas. Ia terus memakannya. Rasanya memang sedikit berbeda tetapi tidak terlalu buruk. Jadi, dia menghabiskan kreasi putranya itu.


"Mamak, ayo coba cicipi juga!" ajak Sanubari kepada ibunya yang hanya berdiri sambil melihat.


Sanum pun duduk lalu mulai mengambil sepotong juga. Di tengah-tengah acara sarapan itu, Kelana datang bersama empat orang. Dua orang pria dan wanita. Kelana memperkenalkan mereka kepada keluarga Sanubari.


Argentino, Moreno, Bela serta Natasha—mereka berempat adalah asisten rumah tangga yang akan membantu Sanum mengurusi rumah besarnya. Keempatnya sama-sama bisa berbahasa Italia dan Indonesia.


Sanubari menawarkan piza sambal pecelnya kepada mereka semua. Mereka semua pun makan bersama-sama lalu keempat pegawai baru itu mulai bekerja. Tidak banyak yang mereka lakukan di hari pertama. Para perempuan hanya membereskan kekacauan yang dibuat Sanubari dan mulai memasak. Sanum ikut membantu para pelayan memasak.


"Tuan Muda, mulai sekarang Anda harus belajar menguasai lima bahasa," kata Kelana sambil meletakkan beberapa buku ke atas meja.


"Aku sudah menguasai bahasa Indonesia, bahasa Jawa, terus masih belajar bahasa Inggris. Berarti tinggal dua bahasa lagi." Sanubari menghitung dengan jarinya.


"Bahasa asal Anda tidak dihitung. Bahasa wajib Anda adalah Inggris dan Italia. Sisanya tiga bahasa, Anda bebas memilih."


"Apa? Kenapa banyak sekali yang harus kupelajari?" Sanubari mengangkat alisnya.


"Anda masih muda. Belajar di usia Anda akan lebih mudah dan pasti akan tahan lama. Seperti halnya ketika Anda belajar bahasa Indonesia. Bukankah Anda dulunya tidak bisa berbahasa Indonesia tetapi sekarang menjadi fasih karena mempelajarinya di sekolah? Begitulah bahasa. Akan lebih baik bila diperkenalkan sejak dini. Saya yakin Anda pasti bisa."


"Tapi lima itu buanyaaak," keluh Sanubari dengan nada yang dibuat-buat.


"Semangat! Sayang potensi Anda bila disia-siakan. Jangan khawatir! Tetap ada waktu bermain untuk Anda. Hari Senin sampai Jumat kita adakan tatap muka selama tiga jam sehari. Saya akan memberikan target hafalan dan tes tertulis sekaligus lisan setiap harinya. Jam belajar akan lebih singkat bila Anda bisa menguasai materi pembelajaran per harinya dengan lebih cepat. Mau nambah jam belajar juga boleh," jelas Kelana kemudian tersenyum.


"Aku maunya nambah waktu bermain. Enaknya orang dewasa. Sudah pintar, tidak perlu belajar, bisa punya banyak uang pula!" Sanubari cemberut meluapkan rasa irinya.

__ADS_1


Kelana tertawa. Sanubari terlalu apa adanya. Bocah itu sudah tumbuh di lingkungan yang berat. Akan tetapi, jiwa anak-anaknya masih murni. Itu suatu hal yang patut disyukuri.


"Tidak ada yang instan di dunia ini. Orang jenius pun bila tidak mau belajar maka dia akan kalah dari orang yang berusaha keras dan bertekad kuat. Orang dewasa pun butuh proses panjang untuk meraih sebuah pencapaian. Dulu ayah Tuan, Ibu Tuan, saya pun pernah menjadi anak-anak seperti Anda."


"Oh, Paman juga pernah merasa sangat ingin belajar tetapi kemudian semangat itu hilang dan malas pun menyerang?"


"Ya, karena anak-anak masih belum bisa menyeimbangkan emosional. Mengatur mood itu memang sulit. Bahkan orang dewasa pun masih kesulitan menstabilkannya."


"Susah, ya? Tapi kurasa kita tidak akan cepat bosan dan merasa malas bila kerja dapat uang. Aku maunya langsung kerja saja tapi enggak usah belajar. Buat apa belajar? Cuma kejar nilai dan ijazah, dapat uang enggak, capek pikiran iya."


"Tuan Muda, hidup ini bukan tentang uang saja. Anda sama sekali tidak kekurangan uang. Anda mau apa? Tinggal minta ke papa Anda maka beliau akan memberikannya."


"Tapi dengan uang kita bisa hidup enak. Seperti saat ini. Dulu waktu aku sama mamak tidak punya uang, kami hidup susah. Mau menguburkan kakek susah, jualan dirusak preman, ditindas kalau tidak bisa memberi uang. Makan pun harus ngirit." Sanubari mencurahkan isi hatinya. Dia tertunduk dengan wajah sedih.


"Uang hanyalah sebagian kecil dari kehidupan. Uang memang bisa digunakan untuk membeli banyak hal tetapi uang tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan kepada Anda."


Penjelasan Kelana itu membuat Sanubari berpikir mengapa bisa demikian. Yang Sanubari tahu, orang kaya bisa membeli apa pun yang mereka mau, jalan-jalan kemana pun tanpa takut kehabisan uang. Siapa yang tidak bahagia bila bisa bersenang-senang sesuka hati seperti itu. Keterangan Kelana sungguh terdengar aneh bagi Sanubari.


Namun, Kelana masih dengan telaten memberi penjelasan kepada anak itu. Orang kaya masih bisa menjadi pencuri karena keserakahan telah menjadikan mereka sebagai budak uang. Keluarga kaya raya bisa tercerai berai karena masalah perebutan uang. Orang tua bisa menjual anak hanya karena ingin memperkaya diri.


Banyak masalah yang ditimbulkan ketika manusia terlanjur menjadi budak uang. Hanya tiga hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ketulusan, ketenangan dan nyawa.


Memiliki keluarga yang tulus tentunya akan berbeda dengan keluarga bayaran. Apalagi keluarga yang sering mengungkit-ungkit seberapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk seorang anggota lalu menanyakan terus menerus seberapa banyak uang yang telah anggota itu berikan kepada keluarga sebagai timbal balik. Memiliki keluarga semacam itu sama sekali tidak menyenangkan. Apa-apa diukur dari uang.


Keluarga tulus tanpa pamrih adalah kebahagiaan sesungguhnya. Bila kebetulan keluarga tulus itu memiliki banyak uang maka itu adalah sebuah bonus. Kelana memberi contoh keluarga Sanubari sendiri sebagai keluarga tulus itu.


Sanubari mengerti. Aeneas tidak pernah bertemu dengan Sanubari tetapi ayahnya itu rela mengeluarkan banyak uang demi dirinya. Dia juga tidak membatasi keinginannya. Ibu Sanubari juga selalu ada untuknya dalam kondisi apa pun. Sanubari merasa lebih berharga dari uang. Ia memiliki anugerah yang tidak bisa dinilai dengan nominal. Yaitu, keluarga yang utuh kembali.


Banyaknya uang tidak bisa menjamin seseorang bisa hidup tenang. Bahkan terkadang nyawa seseorang bisa terancam hanya karena uang. Tidak hanya penjahat, keluarga pun bisa menjadi musuh dalam selimut ketika uang telah resmi menjadi penguasa hati.


Uang juga tidak bisa menjamin seseorang bisa hidup abadi atau lolos dari maut. Sekali nyawa menghilang maka uang tidak lagi bisa menebusnya. Tidak peduli semahal apa pun dokter atau ilmuwan yang dibayar, nyawa yang telah dicabut dari raga tidak akan pernah bisa dimasukkan kembali ke raganya.


"Jangan Anda pikir orang dewasa tidak memiliki beban pikiran sama sekali! Setiap orang memiliki beban tersendiri sesuai usia masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyikapi beban itu. Orang yang selalu berpikir negatif akan merasa beban itu berat dan mudah terpuruk. Sedangkan jika kita berpikir positif maka beban akan terasa ringan. Manusia itu ditakdirkan untuk terus berharap sekalipun sering kali apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan," tutur Kelana.


Sanubari hanya manggut-manggut. Banyak nasihat yang bisa dia serap dari Kelana. Pemikirannya pun sedikit demi sedikit mulai terbuka. Namun, setengahnya Sanubari mulai bosan dengan ceramah yang terlalu panjang.


Kelana menyadari hal tersebut. Jika dia teruskan maka yang selanjutnya hanya akan dianggap siaran radio numpang lewat oleh anak itu. Ia pun berinisiatif memangkas penjelasannya.


"Oke, ini yang terakhir."

__ADS_1


"Apakah jam belajarnya dikurangi?" tanya Sanubari mendadak antusias lagi.


"Tiga jam itu sudah waktu yang lebih singkat daripada sekolah biasa. Hari Sabtu dan Minggu Anda juga libur. Ini hanya berlangsung selama enam bulan. Setelah itu, saya akan mencarikan tutor mata pelajaran lain untuk Anda dan waktu belajar Anda akan bertambah. Saya beri waktu satu Minggu untuk memikirkan bahasa apa yang ingin Anda pelajari. Semua materi yang saya kuasai, saya sendiri yang akan mengajari Anda. Namun, bila itu di luar kemampuan saya maka akan saya Carikan pengajar lain."


__ADS_2