
Canda dan beberapa orang keluar dari kamar Sanubari. Kelana dan Aeneas melihat pria tua yang berjalan mendekat. Sementara Bio dan pelayan lain menuju arah yang berbeda.
"Bagaimana kondisi tuan muda?" tanya Kelana.
Suasana mendadak menjadi lebih sunyi. Tidak ada lagi jeritan Sanubari.
"Dia pingsan. Pemeriksaan lanjutan kita lakukan setelah sadar saja," jawab Canda.
Dia duduk di kursi kosong. Melihat obat-obatan di atas meja, Canda bisa menebak. Sepertinya, mereka bersungguh-sungguh dengan rencana itu.
"Kalau begitu, kami mohon uundur diri!" pamit Abrizar mewakili teman-teman.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, apalagi Sanubari sedang istirahat. Mereka memang berencana pergi bersama. Semua kelengkapan telah di tangan, kecuali tiket pesawat dan visa. Namun, tampaknya, mereka harus menunggu lampu hijau sesungguhnya dari Aeneas.
Tentu, mereka tidak ingin membuat kondisi Sanubari kian memprihatinkan. Mendengar kondisi tubuh Sanubari yang bisa dibilang sangat kritis, mereka tahu bahwa mustahil membawa Sanubari dalam waktu dekat.
Namun, dengan diberikannya obat-obatan Sanubari pada mereka, Aeneas dan Kelana sepertinya tahu bahwa Sanubari akan ikut mereka hari ini. Kedua orang itu tidak mencegah, meski paham kondisi seperti itu. Seharusnya, itu bisa dibilang lampu hijau. Sambil berpikir, Sai mengambil semua obat di meja, menyimpannya ke tempat yang telah disediakan.
"Jangan terburu-buru! Tinggallah di sini sampai tuan muda sadar! Hari ini hari spesial. Mari kita makan bersama sebelum kalian benar-benar pergi!"
Kelana tersenyum ramah. Nada bicaranya tidak terdengar memaksa, tetapi dia akan memaksa jika para pemuda di hadapannya bersikukuh untuk pulang. Jika itu sampai terjadi, Sanubari pun pasti akan langsung pergi begitu sadar nanti.
Oleh karena itu, Kelana dan Aeneas harus menahan mereka supaya Sanubari mau duduk manis. Walau hanya sebentar, itu tidak masalah. Aeneas telah kehilangan banyak momen seperti ini. Setidaknya, kali ini, dia ingin melakukannya dengan benar. Kesempatan mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Abrizar, Sai, Eiji, dan Renji tampak bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa bila menunggu Sanubari sampai sadar. Berbincang dengan Aeneas tentu bukan pilihan bijak. Rasa canggung itu pasti akan hadir tanpa diminta lama kelamaan.
Kendati demikian, akhirnya, mereka memperpanjang obrolan juga. Canda ikut menginterogasi. Dia juga memberikan petuah bila mereka jadi pergi. Terutama tentang kesehatan Sanubari.
Jika boleh jujur, Canda sebenarnya lebih memilih Sanubari dirawat di rumah. Namun, tingkah anak itu sungguh membuatnya geleng-geleng. Apa-apa dikerjakannya sampai pernah juga ditemukan pingsan di rumah kaca sambil memegang cangkul.
Saat mendengar kabar Sanubari akan jalan-jalan ke luar negeri, Canda bertaruh. Dia berharap dengan begitu Sanubari bisa lebih tenang dan santai.
"Jadi, tidak masalah bila Sanu melakukan perjalanan bersama kami hari ini?" tanya Sai untuk menghilangkan keraguan.
Kelana dan Aeneas mengangguk. Setelah itu, Kelana mengingatkan, "Yang penting, jangan membuatnya kelelahan! Obatnya juga jangan sampai lupabarang sehari pun!"
Para pemuda itu mengangguk. Abrizar juga tidak berniat menggunakan fisik berlebih untuk menjalankan misi ini. Namun, mereka tidak bisa menebak kejadian tidak terduga yang akan menyambut di masa depan terdekat.
Benar saja, begitu tersadar, Sanubari keluar dengan menyandang ransel. Dia juga sudah mandi dan berpakaian rapi. Kaos lengan panjang dan celana panjang menyembunyikan luka pada tubuhnya.
Saat celana Sanubari digulung, Sai, Renji, dan Eiji tanpa sengaja melihat lebam di area sekitar kaki. Itu terlihat seperti bekas dipukuli. Seperti itu pula prasangka mereka. Namun, Sanubari terlihat cengar-cengir tanpa beban.
"Ini luar biasa! Tubuhku benar-benar terasa lebih ringan," katanya bahagia. Dia menggerak-gerakkan tangan yang plesternya telah diganti.
"Kalau begitu, tinggallah di rumah! Banyak-banyak istirahat supaya pemulihanmu lebih cepat!" tutur Canda.
"Oh, itu tidak bisa. Jadwal ekspedisi telah ditetapkan. Teman-teman sudah menungguku."
__ADS_1
Sanubari tersenyum pada Abrizar dan yang lain sambil sesekali meringis saat Canda mengoleskan salep. Itu terasa teramat perih. Akan tetapi, dia berusaha menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan di depan teman-teman.
"Lagipula, berdiam diri hanya akan membuatku lemas. Dengan banyak bergerak, tubuhku akan bertambah bugar lebih cepat dan staminaku pasti akan kembali," lanjutnya.
"Bodoh!"
Canda menanpar lutut Sanubari. Sontak, pemuda itu menjerit, "A!"
Lukanya berdenyut nyeri. Perih dan ngilunya tidak tertahankan, sampai-sampai air mata lolos dari pelupuk. Padahal, itu hanya luka kecil.
"Sakit, kan?"
Sanubari mengangguk menanggapi pertanyaan Canda itu. Dia menangis tanpa bisa dikontrol. Sanubari menutupi wajahnya, merasa sangat malu.
Sementara Abrizar berkata, "Teori macam apa itu? Olahraga memang bisa meningkatkan kebugaran. Tapi, di mana-mana, baik orang sakit maupun sehat pasti akan kelelahan. Mana ada orang yang bisa menambah energi dengan terus-terusan beraktivitas?"
Meskipun begitu, Abrizar agak meragukan kata-katanya sendiri. Dia pernah bertanding melawan Sanubari. Di saat dirinya mulai kelelahan, Sanubari malah mengeluarkan energi lebih besar dari sebelumnya seolah dia tidak memiliki rasa lelah. Andai Abrizar tidak unggul dalam teknik, mungkin dirinya sudah kalah dari Sanubari.
Canda mengangguk, menimpali, "Dalam kondisi normal itu benar. Tapi, dengan kondisimu sekarang, bukannya kebugaran yang kau peroleh, itu sama saja dengan bunuh diri. Kau tidak akan sembuh-sembuh bila terus bertindak sembrono seperti itu. Bukan hanya cepat lelah, kau bahkan mendadak lemas dan pingsan ketika terlalu banyak bergerak. Jadi, jangan memaksakan diri lagi!"
"Tapi, dengan banyak bergerak, tubuhku akan cepat sehat," sanggah Sanubari. Setidaknya, itu yang selalu diyakininya. Dia selalu bergerak untuk mengalihkan pikiran, mengabaikan rasa sakit supaya otaknya tidak berpikir sakit itu menyiksanya. Dengan begitu, segalanya akan terasa ringan dan kesembuhan cepat datang.
Dia tidak ingin terlalu memikirkan penyakit yang terkadang membuatnya terpuruk. Bila keterpurukan itu masih juga datang setelah dia menyibukkan diri dengan aktivitas, itu artinya dia kurang bergerak. Dia harus banyak bergerak apa pun yang terjadi.
__ADS_1
Canda melotot. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sanubari.
"Sanu, seperti kata ABRI, manusia itu bisa kelelahan. Dan untuk memulihkan tenaga, manusia butuh istirahat. Kondisi sarafmu tidak sesederhana itu. Bahkan lebih rapuh. Manusia normal saja bisa meninggal karena memaksakan diri untuk bekerja. Ketika saraf tidak mampu lagi menanggung beban lelah yang menumpuk, otot-otot yang tegang itu bisa berhenti bekerja seketika itu juga. Apalagi, saraf-sarafmu yang masih lemah. Mereka akan semakin melemah dan memburuk bila divorsir. Mereka butuh rilaksasi.