Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tak Ingin Dibenci


__ADS_3

Eiji langsung mengambil barang-barangnya tanpa kata. Jiwanya dikuasai kemarahan. Tanpa mengganti baju, dia bergegas melangkah ke pintu.


Tiga anggota timnya tampak kebingungan dengan sikap Eiji tersebut. Sanubari yang pertama kali menyerukan pertanyaan, "Kak Eiji mau ke mana?"


Namun, terlambat. Eiji telah menghilang di balik pintu yang digeser dengan kasar. Langkahnya lebar-lebar dan cepat.


Sanubari buru-buru menyusul. Sosok berperawakan tegap itu terus melangkah tanpa mau menoleh.


"Kak Eiji!" panggil Sanubari sekali lagi. Dia menarik lengan kiri lelaki itu. Cara yang cukup efektif untuk membuat sang ketua tim menunda perjalanannya sejenak.


Masih tanpa berbalik badan, Eiji berujar, "Tetaplah di sini bersama Sai dan Renji. Katakan pada mereka, tanggung jawab di sini kuserahkan pada Sai. Aku ada urusan mendadak."


Kekalutan membuat Eiji hampir lupa keberadaannya di prefektur ini untuk perjalanan dinas. Sejenak memejamkan mata dan menarik napas panjang, Eiji berusaha tenang. Dia menyingkirkan tangan Sanubari yang mencegahnya.


Namun, tangan itu mencengkeram kuat. Tak mau melepaskannya begitu saja. Lebihdari itu, sang remaja malah menuntut penjelasan.


"Urusan? Apa itu maksudnya Kakak akan mencari Anki?"


"Bukan urusanmu."


Mengabaikan perkataan Eiji itu, Sanubari kembali berucap, "Jika memang seperti itu, aku ikut!"


Eiji terdiam. Akhirnya, dia menoleh juga. Pikirannya menimbang-nimbang ucapan Sanubari. Jika dibandingkan dirinya, Sanubari memang lebih unggul dalam bela diri.


Namun, Eiji tidak berencana melakukan perkelahian. Bila memungkinkan, dia ingin menyelesaikan masalah dengan jalur diplomasi. Lagi pula, dia belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga belum tahu bagaimana caranya kembali ke Osaka selarut ini.


"Tidak, aku akan pergi sendiri. Sekarang, lepaskan tanganmu! Aku tak punya banyak waktu," putusnya kemudian dengan suara yang sangat tenang, walau hatinya bergejolak liar.


"Izinkan aku ikut! Aku juga mencemaskan Anki," paksa Sanubari memelas.


Cengkeramannya menguat. Tatapannya lurus, menembus iris gelap Eiji dalam keremangan koridor luar. Pandangannya itu berbalas tatapan tajam dari Eiji.


"Kumohon, Kak Eiji! Biarkan aku ikut denganmu!" pinta Sanubari lagi penuh penegasan.

__ADS_1


Memang, Sanubari tidak akan membantu bila ditinggal di sini karena dia tidak paham elektronika. Akan tetapi, Eiji tidak ingin terlalu melibatkan orang lain dalam urusan pribadinya. Terlebih lagi, resikonya bisa dimusuhi Onyoudan.


Mengingat cerita Sanubari sebelum berangkat ke Osaka, dia telah melibatkan Sanubari terlalu jauh. Dia berhutang budi besar pada Sanubari. Eiji pun menggeleng.


"Anki adikku. Aku yang akan mencarinya."


"Aku teman Anki. Boleh 'kan bila aku ...."


"Anki tidak suka aku masuk organisasi ini. Apa jadinya bila aku membahayakan temannya karena organisasi ini pula?" Eiji tersenyum retorik. Samasekali bukan pertanyaan yang menuntut jawaban dari lawan bicaranya.


Mengamati Sanubari yang tampak kebingungan, Eiji lanjut berkata, "Dia akan membenciku bila itu terjadi. Kuharap kau bisa mengerti ini, Sanu. Sebagai seorang kakak, tentu aku tak ingin adikku sendiri menjauhiku. Karena itu, aku tak bisa mengajakmu."


Cengkeraman Sanubari melemah setelah mendengar kalimat tersebut. Dibenci seseorang itu tidak menyenangkan. Dia pernah mengalaminya. Dia tidak ingin menjadi penyebab renggangnya hubungan antar saudara.


"Terima kasih atas kepedulianmu," ucap Eiji setengah berbisik.


Dia meninggalkan Sanubari yang berdiri mematung. Entah mengapa, perasaan Sanubari belakangan ini lebih sensitif dari biasanya. Peristiwa yang seharusnya tak berhubungan dengannya, lagi-lagi mengingatkan pada dirinya sendiri.


Dia tahu bahwa dibenci itu tidak enak, tetapi dia sendiri sempat membenci ayahnya sendiri. Sanubari menunduk pilu.


Walau kebersamaan mereka cukup singka, tetapi begitu banyak kebaikan telah Aeneas curahkan padanya. Hanya saja, peristiwa satu malam itu membuat hati Sanubari mengeras untuk Aeneas. Serangkaian peristiwa berikutnya membuat hati membatu Sanubari terombang-ambing tidak menentu.


Terkadang, dia ingin berbaikan. Terkadang pula, dia tidak ingin memaafkan. Perasaan-perasaan tersebut bagai roda yang terus diputar. Sampai saat ini, dia masih mempertanyakan kebenaran tindakannya.


Sai dan Renji pun bertanya-tanya akan kebenaran berita dari Sanubari. Kamar tradisional Jepang itu hening untuk beberapa saat, sampai Renji memutuskan untuk berbicara.


"Kenapa Sanubari lama sekali? Apa dia ikut kabur dengan Eiji dan meninggalkan kita?"


"Anki hilang. Kalaupun pergi, Eiji senpai pasti akan mencari Anki." Sai mengungkapkan pendapatnya.


"Aku juga sudah dengar itu. Ah, sial! Kenapa kabar buruk itu datang di saat seperti ini? Pada akhirnya, kita berdua yang harus membereskan pekerjaan yang terbengkalai," keluh Renji mengacak rambutnya kesal, "main pergi saja! Memangnya dia tahu Anki di mana?"


Sai hanya mengedipkan bahu pertanda tidak yakin. Dia tahu, Eiji selalu memiliki cara untuk memperoleh apa yang ditujukan. Kendati demikian, Sai tak bisa menerka ke mana Eiji akan pergi.

__ADS_1


Sama halnya dengan Anki, dia juga tidak tahu di mana tempatnya berada sekarang. Saat terbangun, dirinya telah berada di kamar yang asing menurutnya. Lebih luas dan mewah dari kamarnya sendiri.


Rantai panjang mengikat kaki dan tangannya. Tidak terlalu mengekang, tetapi dia tak bisa melangkah lebih dari satu meter dari ranjang. Dinding kamarnya juga aneh.


Dia sempat berteriak-teriak meminta tolong sambil memukul tembok sesaat setelah terbangun, berharap orang di luar bisa mendengar. Namun, sesaat setelah dia melakukannya, senjata ditodongkan padanya. Anki tak lagi berani menyentuh dinding. Gadis itu meringkuk ketakutan di atas ranjang.


"Kakakk ...."


Dia memeluk kakinya terisak. Tetesan air mata membasahi piyamanya. Dia berharap ini hanya mimpi atau kakaknya segera datang menjemputnya.


Detik berlalu lebih lambat baginya. Hingga akhirnya, bunyi pintu terbuka membuatnya tersentak. Kepalanya sontak terangkat, menoleh pada ketukan sepatu yang mendekat.


Pria berjas dengan rambut kemerahan berjalan elegan, diikuti seorang perempuan membawa nampan berisi makanan. Pria itu tersenyum. Wajahnya rupawan, tetapi tak bisa menghilangkan ketakutan Anki.


Wanita yang membawa nampan makanan meletakkan bawaannya ke atas nakas di sebelah tempat tidur. Setelah itu, dia berpamitan.


Sang Pria duduk di pinggiran ranjang, mengusap pipi basah Anki dengan tangannya. "Bagaimana tidurmu? Kenapa menangis? Apa kau baru saja mimpi buruk?"


"Jangan sentuh!" Anki menepis tangannya.


Dia beringsut menjauh. Namun, rantai yang membelenggunya membuat pergerakan gadis itu terbatas.


Sang Pria merengut. "Oh, maaf. Apa rantai ini yang membuatmu ketakutan dan menganggapku orang jahat?"


Pria itu mengangkat mata rantai. Anki tidak menjawab. Dia menatap waspada pada pria asing di hadapannya.


"Akan kuberi pelajaran orang-orang yang memperlakukanmu dengan buruk. Kemarikan tanganmu! Biar kulepas borgol yang mengikatmu," ucapnya tersenyum kembali sambil mengulurkan tangan.


Anki hanya menatapnya curiga tanpa bergerak sedikit pun. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Sekalipun pria di depannya baru saja menawarkan untuk melepaskan ikatannya, dia tetap ketakutan.


"Ayo kemarikan! Tenang saja! Aku bukan orang jahat."


Setampan apa pun pria di hadapannya, orang asing tetaplah orang asing. Tubuh Anki menolak untuk menurunkan kewaspadaan. Apalagi, dia sendirian dan dirantai. Posisinya sungguh tidak menguntungkan. Jantungnya berdentam tidak karuan.

__ADS_1


Karena Anki tak kunjung merespons, pria itu pun naik ke ranjang. insting bertahan Anki seketika menggerakkan kakinya. Telapak kaki itu mendarat dengan keras di wajah sang pria.


"Pergi! Jangan dekat-dekat!"


__ADS_2